Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Punggawa Kerajaan


__ADS_3

Enam punggawa kerajaan dibuat geram dengan perkataan Cakra Buana barusan. Darah terasa naik sehingga muka keenam punggawa itu memerah seperti kepiting rebus. Sedangkan Cakra Buana dan Ling Zhi hanya tersenyum mengejek saja.


"Benar-benar sombong. Pantas saja kau menjadi buronan kerajaan bahkan kaum dunia persilatan. Ternyata lagakmu memang berandalan," kata salah satu punggawa kerajaan.


"Tidak usah berkelit. Terus terang saja supaya warga di sini tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bukankah aku memang sengaja di jadikan buronan oleh raja kalian? Karena aku merupakan murid Eyang Resi Patok Pati dan membawa Pedang Pusaka Dewa, benar seperti itu?" tatapan Cakra Buana ke para punggawa menjadi dingin setelah berkata demikian.


"******* …" maki seorang punggawa.


"Aku memang *******. Tapi tidak sebangsat raja kalian yang tidak tahu terimakasih. Di kasih hati minta jantung. Guruku rela mengabdikan diri kepada kerajaan, tapi yang didapat bukanlah kemuliaan. Melainkan sebaliknya. Dasar manusia iblis," kata Cakra Buana menahan amarah saking geramnya jika mengingat kematian Eyang Resi Patok Pati.


Suara pemuda serba putih itu pelan, tapi karena menggunakan tenaga dalam, semua orang yang ada di situ bisa mendengarnya dengan jelas.


"Mulutmu memang pantas untuk di robek. Kau sudah kelewat batas menuduh raja kami yang sebenarnya seorang bijaksana,"


"Maaf, apakah aku tidak salah dengar?" Cakra Buana tersenyum simpul sebelum melanjutkan. "Kau mengatakan rajamu bijaksana? Apa kau buta? Apa kau tuli? Lihat kenyataan, banyak rakyat menjerit. Banyak rakyat meminta hak mereka, apakah rajamu mendengarkan? Apakah kau tidak melihat kehidupan rakyat yang begitu sengsara ini? Omong kosong," kata Cakra Buana dengan marah.


Kali ini dia sudah tidak bisa menahan kesabarannya lagi. Semakin lama mendengar ucapan para punggawa yang mengagungkan rajanya, semakin muak Cakra Buana.


"Keparat jahanam …"


Enam orang punggawa kerajaan itu langsung melompat dari kuda mereka masing-masing. Tanpa menunggu lama, mereka kemudian mencabut pedang lalu menyerang Cakra Buana secara bersamaan.


"Hiattt …"


Enam punggawa maju. Pedang yang tajam sudah terhunus dan siap untuk mencabik pemuda bernama Cakra Buana.


Cakra Buana tak tinggal diam, apalagi ketika amarahnya memuncak. Dia mundur selangkah lalu mengibaskan tangan kannya ke arah enam punggawa tersebut.


"Wuttt …"


Serangkum angin yang lumayan besar tiba-tiba menerjang enam punggawa. Hanya satu kali kibasan, mereka semua terpental tiga tombak.


Keadaan di sana semakin ramai. Para warga yang berkumpul pun semakin banyak hingga membentuk sebuah lingkaran lumayan besar. Mereka berbisik-bisik membenarkan ucapan Cakra Buana. Selain itu, sebagian ada juga yang diam-diam mengutuk enam punggawa tadi.


"Kalian bukan lawanku. Jangan harap bisa menyentuh tubuhku, pergila," kata Cakra Buana menyuruh para punggawa pergi.

__ADS_1


Tapi sebelum mereka beranjak, tiba-tiba dari kanan kiri ada dua orang melompat ke arena dan langsung menyerang Cakra Buana.


"Haittt …"


"Hiyaa …"


Tendangan dan pukulan datang begitu cepat. Tapi Cakra Buana tak kalah cepat, dia mundur dua langkah ke belakang untuk menghindari sedangan tiba-tiba tersebut.


Di depan Cakra Buana, ada dua orang berpakaian serba hitam dan memakai cadar. Di punggung keduanya tersoren pedang yang sarungnya berwarna hitam pula.


"Siapa kalian? Kenapa tiba-tiba menyerangku?" tanya Cakra Buana.


"Kau tidak perlu tahu siapa kami. Yang jelas, kami harus menyerangmu karena mulutmu telah lancang menghina Prabu Ajiraga," kata salah satu dari orang berpakaian hitam tersebut.


"Oh … kalian mata-mata kerajaan? Baguslah. Ayo sini, biar sekalian aku hajar," tantang Cakra Buana.


"Jangan banyak tanya, segera meminta maaf sebelum kesabaran kami habis," kata orang serba hitam itu.


Cakra Buana diam saja, dia tidak menjawab perkataan mereka karena Ling Zhi langsung angkat bicara.


"Kau tenanglah Ling Zhi. Aku memang berencana untuk mengacaukan situasi di sini. Setelah berhasil, kita pergi melarikan diri. Kita buat situasi di sini ricuh karena kehadiranku. Aku ingin sedikit bermain-main,"


"Tapi tindakanmu ini sangat berbahaya kakang,"


"Aku tahu. Tapi kau jangan khawatir, jika sudah ricuh karena ulahku, kita langsung pergi begitu saja,"


"Hmmm … baiklah," jawab Ling Zhi.


Melihat bahwa perkataan mereka tidak dijawab, kedua orang itu semakin geram. Keduanya lalu mengambil posisi siap siaga.


"Mau bertarung denganku? Baiklah, silahkan di mulai," tantang Cakra Buana.


Mendengar tantangan tersebut, dua orang serba hitam yang diduga mata-mata itu pun langsung menerjang Cakra Buana dengan jurus-jurus mereka.


Serangan datang dari sisi kanan dan kiri. Gerakan mereka yang begitu cepat, menandakan bahwa keduanya memiliki tenaga dalam yang lumayan. Tapi di hadapan Cakra Buana sekarang, dua orang itu bukanlah apa-apa.

__ADS_1


"Wuttt …"


"Wuttt …"


Pukulan yang mengincar dagu dan tendangan yang mengarah ke tulang rusuk datang secara bersamaan. Tapi dengan mudahnya kedua serangan itu bisa ditahan oleh Cakra Buana.


"Bukkk …"


"Bukkk …"


"Ughhh …"


Kedua mata-mata itu langsung mundur empat langkah dan meringis menahan sakit. Mereka merasakan tangan dan kakinya seperti menghantam sebuah baja.


"Sakit ya? Kasihan," kata Cakra Buana memberikan ejekan kepada keduanya.


Mendengar ejekan tersebut, dua mata-mata menjadi geram kembali. Tanpa menghiraukan rasa sakit, keduanya kembali menyerang. Kali ini dengan pedang yang menjadi senjata andalan keduanya.


"Sringg … sringg"


Dua sambaran pedang dari kanan dan kiri siap mencabik Cakra Buana. Tapi lagi-lagi keduanya dibuat terkejut ketika pemuda serba putih itu menggengam pedang mereka.


"Mainan anak-anak,"


"Trangg …"


Semua orang yang ada di situ dibuat semakin terkejut ketika melihat Cakra Buana dengan mudahnya bisa mematahkan dua batang pedang secara bersamaan. Terlebih lagi mereka si pemilik pedang.


"Bukkk …"


"Ahhh…"


Dua buah telapak tangan Cakra Buana dengan telak menghantam dada lawan. Kedua mata-mata itu langsung terpental lalu muntah darah. Mereka tewas seketika itu juga.


Orang-orang yang hadir di sana bergidik ngeri, tapi di sisi lain mereka juga senang bahwa ada pendekar yang berani membela rakyat secara terang-terangan. Tanpa banyak bicara, Cakra Buana dan Ling Zhi langsung pergi dari situ tanpa memberikan sepatah kata pun.

__ADS_1


__ADS_2