Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Harimau Bertempur Liar


__ADS_3

Dari benturan barusan, keenam pendekar segera sadar bahwa pemuda yang kini menjadi lawannya bukanlah pendekar sembarangan. Awalnya mereka memang sempat merasa ragu tentang nama besarnya, tetapi setelah melihat kejadian barusan, keenam pendekar tersebut akhirnya percaya.


Lawan yang tadi terpundur segera mendapatkan keseimbangannya kembali. Dia sempat menyalurkan hawa murni karena bekas benturannya menyisahkan rasa sakit dan ngilu.


Keempat tokoh utama di sampingnya memperhatikan juga kejadian barusan. Dan dalam hatinya, secara tidak langsung mereka juga mengagumi Cakra Buana.


"Anak muda, sepertinya kau memang mempunyai bekal yang lebih dari cukup," kata seorang pendekar.


"Terimakasih. Kau terlalu memujiku," kata Cakra Buana merasa tidak enak karena pujian barusan.


"Bersiaplah, kami mulai …" bentak salah seorang.


Keenam pendekar kembali menerjang memberikan serangan hebat kepada Cakra Buana. Mereka memberikan tendangan dan pukulan yang hebat dalam gebrakan itu.


Serangan gabungan tersebut mengandung tenaga dalam cukup tinggi. Kalau lawannya pendekar biasa, sudah pasti orang itu akan segera menemui ajalnya.


Tetapi tidak bagi Cakra Buana. Hanya dengan beberapa kali tangkisan tangan dan kaki, keenam serangan kembali berhasil dia gagalkan.


Namun sekarang berbeda dengan yang tadi. Kalau tadi keenam pendekar berhenti sejenak, sekarang justru langsung kembali menyerang. Keenam pendekar itu tidak berlaku sembrono, karenanya tubuh mereka sudah dilindungi oleh hawa tenaga dalam yang berguna sebagai pelindung badan.


Sehingga walaupun serangannya gagal, keenamnya tidak memperlihatkan rasa sakit seperti sebelumnya.


Serangan berikutnya mulai jauh lebih hebat. Keenam pendekar terlihat mengeluarkan jurus dahsyat untuk menggempur Cakra Buana.


Pukulan dan tendangan kembali menerjang membawa sebuah kekuatan besar. Cakra Buana tidak mau kalah, dia turut mengeluarkan pula jurusnya.


Dengan jurus Ajian Dewa Tapak Nanggala, Cakra Buana berusaha untuk memapak semua jurus lawan. Tubuhnya berkelit ketika serangan dari belakang menyambar. Dia melompat sambil menghentakkan telapak gangannya.


Dari telapak tangan itu keluar sebuah tenaga dalam dahsyat membentuk sebuah tapak berwarna merah membawa. Cakra Buana menyusupkan hawa panas dalam jurusnya.


Sehingga kekuatan yang ditimbulkan pun lebih hebat lagi.


Tapi keenamnya juga pendekar sembarangan. Dengan jurus yang mereka keluarkan, Ajian Dewa Tapak Nanggala milik Cakra Buana berhasil ditangkis.

__ADS_1


Gabungan kekuatan enam pendekar ternyata cukup membuatnya sedikit kerepotan. Tetapi kejadian itu terjadi saat Cakra Buana belum mengeluarkan kekuatannya yang sekarang.


Sedangkan selanjutnya, Pendekar Tanpa Nama segera mengeluarkan tenaga dalam dahsyat yang sudah dia latih selama beberapa waktu di lembah tak bernama.


Dua hawa berbeda langsung dia keluarkan lewat kedua tangan. Hawa panas di tangan kanan. Hawa dingin di tangan kiri.


Kalau sudah seperti ini, sudah pasti kekuatan sebenarnya mulai keluar.


Enam pendekar terus mengelilingi dirinya dengan mengirimkan berbagai macam serangan. Enam lawan, berarti enam variasi dan enam jurus juga yang harus di hadapi oleh Cakra Buana.


Namun dia sama sekali tidak takut. Justru malah bertambah semangat. Karena kalau sudah begini, berarti pengalamannya dalam bertarung akan meningkat lagi.


Enam lawan menyerang dengan jurus maut. Sinar merah dan hijau menerjang dari segala arah. Hawa panas bercampur dengan hawa lainnya. Keenam pendekar menggempur Cakra Buana kembali. Bahkan kali ini lebih hebat lagi.


Kecepatan mereka ditingkatkan sampai ke titik puncak. Kekuatan serangan mereka dikeluarkan sepenuhnya. Enam jurus dahsyat sudah tiba di depan mata.


"Tapak Naga Dewa …"


Cakra Buana berteriak lalu bergerak. Kedua tangannya dia mainkan membentuk sebuah tapak guna menangkis semua jurus lawan. Dua hawa segera keluar menangkis enam jurus.


Ledakan keras terdengar beberapa kali karena Cakra Buana terus menerus melemparkan Tapak Naga Dewa.


Mereka sudah bertarung lebih dari empat puluh jurus, tetapi keadaan masih tetap berjalan dengan imbang. Baik Cakra Buana maupun keenam pendekar, sama-sama belum mampu mendesak lawan.


Sementara di sisi arena pertarungan, Pendekar Sembilan Jari dan tiga rekannya menyaksikan pertempuran itu dengan decak kagum. Mereka menjadi semakin girang melihat kehebatan Cakra Buana.


Keempat tokoh tua itu senang karena pada akhirnya mereka bisa bertarung dengan seorang pendekar muda yang sakti. Tidak ada rasa khawatir Cakra Buana akan memenangkan pertarungan ini, justru memang hal itulah yang mereka inginkan.


Karena kalau dia menang, itu artinya mereka akan mendapatkan bagian untuk mengeluarkan jurus-jurusnya yang menggiriskan hati.


"Bukkk …"


Tiba-tiba telapak tangan kiri Cakra Buana menghantam telak dada sebelah kanan seorang lawan. Pendekar yang terkena hantaman tampaknya langsung terpental enam langkah. Bahkan darah segera keluar dari mulutnya.

__ADS_1


Wajahnya memucat. Dia mengigil karena tidak kuasa menahan hawa dingin yang menusuk tulangnya.


Kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh Cakra Buana. Dengan menjejak kaki ke tanah, tubuhnya sudah meluncur deras mengarah ke lawan yang terluka berat itu.


Gempuran telapak tangan mulai dia lancarkan. Enam jurus kemudian, lawan berhasil dia lumpuhkan karena tapak tangan kanan bersarang tepat di ulu hatinya.


Pendekar itu kembali terpental. Bajunya koyak dan bagian ulu hatinya gosong. Kali ini, dia tidak dapat bangkit kembali karena nyawanya sudah melayang.


Kematian salah satu pendekar menjadi tamparan keras bagi lima pendekar lainnya. Mereka mencecar langsung Cakra Buana tanpa memberikan waktu untuk bernafas.


Jurus pamungkasnya mulai keluar. Baru beberapa gebrak, Cakra Buana sudah berada di bawah angin. Dia merasa terdesak karena kelima pendekar menyerang tanpa ampun.


Pukulan dan tendangan sudah banyak bersarang di tubuhnya. Walaupun tidak terlalu berarti, tetapi tetap saja tubuhnya merasa nyeri juga.


"Harimau Bertempur Liar …"


"Grrrr …"


Dia mengaum keras bagaikan seekor harimau marah. Jurus keempat dari Kitab 7 Jurus Naga dan Harimau keluar.


Ini adalah pertama kalinya dia mengeluarkan jurus dahsyat tersebut. Sebelumnya dia hanya sempat mengeluarkan hingga jurus ketiga, tapi kali ini Cakra Buana ingin mencoba sekaligus melihat sampai di mana hebatnya.


Aumannya terdengar sangat menyeramkan bahkan mampu menggetarkan sukma. Bukan hanya kelima pendekar yang merasa ngeri, bahkan empat tokoh utama pun merasakan hal yang sama.


Mereka segera melindungi telinganya dengan tenaga dalam supaya tidak terpengaruh oleh suara auman yang menggelegar tersebut.


Efek yang ditimbulkan belum lenyap, serangannya sudah datang. Kedua tangannya membentang keras seperti cakar seekor harimau. Kedua tangannya mencecar lawan secara bersamaan.


Entah bagaimana caranya, padahal dia hanya mempunyai dua tangan. Tetapi sersnganmua terasa menggempur kelima lawan dalam satu serangan.


Akibatnya mereka pun mulai terdesak. Semua tangkisan tidak ada gunanya. Sebab tangan itu kerasnya bagaikan baja.


Cakra Buana masih bergerak. Bahkan lebih deras lagi dalam mengirimkan pukulan. Tubuhnya menerjang mengincar berbagai titik penting di tubuh. Tangannya berkelebat mencakar atau menghantam semua musuhnya.

__ADS_1


Dia benar-benar mirip seperti seekor harimau perkasa yang bertempur dengan liat melawan singa yang ganas. Seumur hidup, kelima pendekar baru mengalami hal seperti sekarang ini.


__ADS_2