
Pendekar Tangan Seribu menyerang lima lawannya. Jurusnya mengandung tenaga dalam besar, dia seperti mendapatkan kekuatan berlipat ganda.
Lima lawannya merasakan tekanan lebih. Semua serangan mereka bisa dihalau oleh seorang pendekar, bahkan tanpa senjata apapun. Sebaliknya, walaupun senjata mereka di sabetkan ke segala arah, tetap saja tidak bisa mengenai tubuh Pendekar Tangan Seribu.
Pria itu lincah seperti seekor kera dan lebih licin daripada seekor belut. Satu kesempatan, ada sebuah pedang yang berhasil mengenai punggungnya dengan telak. Kelima lawan sudah yakin seratus persen bahwa dia akan tewas atau setidaknya terluka parah sebab serangan itu dilakukan dengan sekuat tenaga.
Tapi siapa sangka, justru keyakinan mereka sirna seketika saat melihat kenyataan. Punggung yang tadi kena sabetan pedang, masih utuh tanpa terluka sedikitpun. Jangankan mengalami luka goresan, bahkan bajunya sendiri tidak mengalami robek walau seujung kuku.
Seketika itu juga nyali mereka menjadi ciut. Kelima pendekar baru sadar betapa tingginya Pendekar Tangan Seribu.
Sebenarnya beberapa saat lalu, Pendekar Tangan Seribu mengeluarkan Ajian Bandung Bondowoso. Di mana si pengguna akan kebal terhadap semua senjata tajam. Jika sudah mencapai taraf sempurna, maka penggunanya bisa menundukkan berbagai jin untuk menjadi pembantunya.
Dan hal itulah yang membuat Pendekar Tangan Seribu bisa tidak terluka saat terkena sabetan pedang tadi. Itu juga alasan kenapa kekuatannya menjadi berlipat ganda. Satu kali pukulannya seberat satu gunung. Hembusan angin yang dihasilkan seolah mampu menerbangkan pepohonan.
Kelima lawan semakin tergetar hatinya. Mereka memutuskan mengeluarkan seluruh kesaktiannya untuk menandingi kesaktian Pendekar Tangan Seribu.
Kelima lawannya menyerang kembali dari segala sisi. Lima senjata pusaka bergerak mengusung dirinya. Desingan senjata itu terdengar begitu mengerikan. Tapi Pendekar Tangan Seribu masih tetap tenang tanpa rasa takut.
Tubuhnya terus memberikan serangkaian serangan di bawah kilatan senjata. Kedua tangannya di kepal keras sampai urat-uratnya menonjol. Dia membentak nyaring, detik berikutnya kedua tangan itu sudah menggenggam lima senjata pusaka lawan.
"Haaa …"
"Clangg …"
Entah bagaimana caranya, tahu-tahu lima senjata tersebut patah menjadi dua bagian. Tidak sampai di situ saja, Pendekar Tangan Seribu meneruskan serangannya memukul ke bagian penting di tubuh lawan.
Pukulannya seberat gunung, sehingga satu pukulan itu sudah cukup untuk mementalkan lawan sampai lima langkah. Mereka mengaduh menahan rasa sakit yang tiada terkira. Keringat dingin bercucuran membasahi pakaian.
Pendekar Tangan Seribu tersenyum dingin kepada lima lawannya. Dia melangkah perlahan sambil menghimpun tenaga dalam, berniat untuk mengakhiri pertarungan ini.
__ADS_1
"Tangan Neraka Seribu Bayangan …"
"Wushh …"
Udara di sana seketika berubah drastis. Yang tadinya saja sudah panas, sekarang terasa beberapa kali lipat lebih panas lagi. Kelima lawannya semakin merasa tidak sanggup lagi menghadapi amarah Pendekar Tangan Seribu.
Sekarang mereka bukan merasa sedang ada di dunia. Tetapi mereka merasa sedang di neraka. Panasnya belum pernah mereka rasakan seumur hidup. Bahkan sampai-sampai sebagian pakaian mereka tercium bau gosong.
Kejadian ketika bertarung melawan pendekar Kerajaan Kawasenan saat di hutan terulang lagi. Di mana saat itu Pendekar Tangan Seribu mengeluarkan jurus ini untuk mengakhiri pertarungannya. Begitupun yang terjadi sekarang.
Saat kelima lawannya sudah berdiri kembali, dia melesat secepat kilat. Tangan kanannya dia tarik ke belakang. Kaki kanan berada di samping atas lutut kiri. Tubuhnya meluncur deras.
Hanya dalam satu kedipan mata, dia tiba di hadapan semua lawan. Belum sempat mereka memberikan perlawanan, Pendekar Tangan Seribu sudah melancarkan jurus mautnya.
"Blarr …"
Pendekar Tangan Seribu tidak langsung mencari sasaran lainnya, dia mengambil posisi bersila terlebih dahulu untuk menghimpun tenaga dalam.
###
Pertarungan antara Cakra Buana melawan tujuh belas pendekar sudah berlangsung lebih dari enam puluh jurus. Kedua belah pihak sama-sama kuat. Jurus terkuat dari ketujuh belas lawannya sudah keluar mewarnai pertarungan hidup dan mati tersebut.
Tapi Cakra Buana tetap masih bisa bertahan di bawah gempuran jurus sakti itu.
Kilatan Pedang Pusaka Dewa berkelebat ke segala arah. Tubuh Cakra Buana berubah menjadi bayangan putih yang menari di bawah badai serangan. Bentakan demi bentakan terdengar, Cakra Buana memutarkan pedangnya.
Pedang itu bergerak menusuk ke satu lawan. Begitu dekat, Pedang Pusaka Dewa berubah gerakannya. Kalau tadi tusukan, sekarang berupa sabetan. Kalau tadi sasarannya hanya satu, kini menjadi tiga sekaligus.
Perubahan gerak itu terjadi sangat singkat. Sehingga lawan mereka tidak mampu menebaknya. Menghindar pun sudah terlambat karena Cakra Buana sudah mulai melancarkan serangannya.
__ADS_1
Akibatnya adalah Pedang Pusaka Dewa berhasil merobek kulit mereka di bagian dada. Robekan itu cukup panjang, dari sisi dada kiri sampai ke sisi dada kanan. Tanpa perlu di jelaskan lagi, ketiganya tentu langsung roboh ke tanah.
Cakra Buana tidak berhenti sampai di situ saja. Pedang Pusaka Dewa terus dia mainkan. Semakin lama semakin cepat. Hingga pada satu waktu, Cakra Buana berteriak nyaring. Suaranya menggetarkan sukma semua pendekar.
"Murka Sang Dewa …"
"Wushh …"
Jurus terakhir dari Kitab Dewa Bermain Pedang akhirnya keluar juga. Pemandangan yang lebih mengerikan akan terjadi sebentar lagi.
Lawan yang kini berjumlah tujuh belas orang, merasa semakin ketakutan untuk melawan Cakra Buana. Walaupun mereka merupakan pendekar kelas pilih tanding, tapi di hadapan Cakra Buana semua itu seperti tidak ada apa-apanya.
Gerakan Pedang Pusaka Dewa semakin tidak terlihat. Yang nampak hanyalah bayangan hitam kecil bergerak ke segala penjuru. Tubuh Cakra Buana terbungkus dalam jurusnya sendiri.
Kekuatan yang keluar pun lima kali lebih hebat lagi. Semua lawan terasa semakin tertekan hebat. Jangankan untuk melawan sekuat tenaga, berdiri dengan benar pun rasanya sangat sulit. Tubuh mereka tergetar hebat. Keringat dingin sebesar biji kacang kedelai mulai bercururan dari alis mereka.
Hanya dalam dua puluh tarikan nafas, Cakra Buana langsng berada jauh di atas angin. Semua serangan lawan tidak ada yang bisa menghalaunya. Senjata meraka patah menjadi dua bagian.
Kalau memakai senjata saja tidak ada artinya, bagaimana jika sudah tidak menggunakan senjata?
Sepuluh tarikan nafas berikutnya, Pedang Pusaka Dewa telah memakan korban kembali. Lima pendekar tewas bersamaan.
Cakra Buana tidak berhenti memberikan hujan serangan. Jurus Murka Sang Dewa memang sangat dahsyat. Hanya dalam waktu sekejap, sembilan pendekar telah menemui ajal mereka.
Tidak ada yang tahu bagaimana Cakra Buana melakukannya. Yang jelas, dua puluh pendekar telah berubah menjadi mayat yang tiada artinya.
Pemuda serba putih itu berhenti menyerang setelah semua lawannya tewas mengenaskan. Darah masih terus menetes dari pedang pusaka tersebut. Tubuh Cakra Buana sudah tidak bersih lagi, sekujur tubuhnya dipenuhi dengan keringat yang bercampur darah.
Dia tersenyum dingin sebelum akhirnya melesat mencari korban berikutnya.
__ADS_1