Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Satu Kamar Bersama


__ADS_3

Cakra Buana sendiri tidak tahu bagaimana bisa mulutnya berkata sepolos itu. Jangankan Cakra Buana, penulisnya pun tidak tahu kenapa dia bisa menulis seperti itu.


Kalau saja yang bicara orang lain, sudah pasti Bidadari Tak Bersayap akan merobek mulutnya. Tapi yang bicara adalah Cakra Buana, si Pendekar Maung Kulon ataupun Pendekar Tanpa Nama. Bagaimana mungkin dia berani merobeknya?


Bukan karena takut ataupun tidak berani. Tapi karena seperti ada alasan lain di balik ketidakberanian itu.


Padahal, sudah jelas bahwa ucapan Cakra Buana barusan terdengar sedikit tidak sopan. Bahkan mungkin kurang ajar. Alasannya tentu karena mereka belum lama kenal. Bahkan di antara keduanya pun terkadang masih canggung.


Hanya saja, di balik rasa canggung tersebut tersimpan lagi rasa lainnya.


"Emmm ii-i…"


Baru saja gadis itu mau menjawab, Cakra Buana langsung segera memotongnya. Padahal kalau dia tidak memotong bicaranya, mungkin pemuda itu akan mendapatkan jawaban yang sangat membahagiakan hatinya.


"Maksudku, kita mengembara bersama dan bergabung," ujar Cakra Buana buru-buru meralat bicaranya.


Bidadari Tak Bersayap hanya mengangguk. Ekspresi wajahnya berbeda dengan tadi. Sekarang, entah dia malu, sedih, ataupun senang, tidak ada yang tahu.


Cakra Buana sendiri meralat ucapannya karena dia sadar bahwa di antara mereka, belum ada yang mengenal lebih lanjut. Walaupun hatinya memang menyukai gadis itu, tapi dia tidak berani lancang.


Ada rasa takut dalam hatinya.


Benar, takut ditolak. Terkadang dalam hal ini, ucapan yang paling menusuk telinga adalah "maaf, aku tidak bisa menerima", atau "maaf, aku tidak pantas untukmu," dan yang paling sakit adalah ucapan "maaf, kau tidak pantas untukku. Lebih baik kita berteman saja".


Hampir semua manusia mungkin pernah mendapat jawaban itu. Baik pria, maupun wanita. Hanya saja, yang paling banyak mengalami, tentu saja pria.


Tapi pria juga harus tahu, bahwa kalau seorang wanita bicara gugup saat berhadapan, ada perasaan lain di dalam hatinya. Pria harus tahu ilmu ini.


Kalau perlu, kau mencatatnya supaya tidak lupa. Terkait perasaan apa itu, tidak ada yang tahu. Tapi jangan berpikir wanita seperti itu sudah pasti suka terhadapmu, bisa saja dia justru benci kepadamu.


Ya, tergantung wajah dan nasib saja.


"Bagaimana kalau kita mencari rumah makan sekaligus penginapan? Aku lapar, bahkan juga ngantuk," kata Cakra Buana mengajak gadis itu.

__ADS_1


Bidadari Tak Bersayap hanya mengiyakan tanpa banyak bicara.


Keduanya segera pergi mencari tujuan, setelah mendapatkan rumah makan sekaligus penginapan, mereka segera melakukan sarapan.


Setelah sarapan, Cakra Buana dan Bidadari Tak Bersayap masing-masing melakukan istirahat di kamar yang sudah mereka sewa.


###


Perjalanan keduanya sudah mencapai enam hari. Hubungan mereka pun semakin akrab, bahkan, keduanya sudah berani untuk bercanda. Kadang-kadang mereka saling mengerjai.


Selama lima hari belakangan, mereka pernah bertarung beberapa kali membasmi orang-orang yang menurutnya memang pantas untuk mati.


Berita tentang Pendekar Tanpa Nama dan Bidadari Tak Bersayap semakin menyebar luas. Nama kedua pendekar muda itu semakin harum di mana pun. Bahkan setiap kali bertemu dengan warga, keduanya mendapatkan hormat dan perlakuan istimewa.


Begitupun saat bertemu dengan orang-orang dunia persilatan. Terlebih lagi mereka yang satu haluan, semuanya memberikan hormat dan rasa kagum yang sama kepada dua muda-mudi itu.


Cakra Buana sebenarnya ingin segera pergi ke Kerajaan Manunggal Jagat Segoro untuk bertemu dan meminta bantuan langsung kepada Prabu Bagus Putra Brajawaringin, hanya saja waktunya belum sempat.


Saat ini kondisi sudah hampir larut malam. Cakra Buana dan Sinta Putri Wulansari sedang mencari penginapan di sekitaran desa yang mereka singgahi saat ini.


Terutama Cakra Buana, dia harus bisa istirahat karena besok sore, dirinya akan pergi ke hutan sebelah Timur Kotaraja untuk bertemu dengan sahabatnya Pendekar Pedang Kesetanan.


Hanya saja, seluruh penginapan yang mereka datangi, semuanya sudah penuh terisi orang. Hanya satu penginapan yang menyediakan kamar masih kosong, yaitu penginapan yang mereka kunjungi saat ini.


Namun masalahnya, di penginapan tersebut hanya tersisa satu kamar kosong. Cakra Buana dan Bidadari Tak Bersayap dibuat bingung.


Bagi Cakra Buana, tentu saja dia tidak menjadi masalah untuk tidur di mana pun. Bahkan kalau di atas pohon sekalipun, baginya bukanlah masalah.


Justru yang menjadi masalahnya karena saat ini dia sedang bersama seorang wanita cantik. Bahkan maha cantik. Bagaimana bisa dia mengajaknya tidur di hutan? Bisa-bisa dedemit membawanya untuk dijadikan permaisuri.


"Bagaimana kakang, apakah tidak keberatan kau tidur satu kamar denganku?" tanya gadis itu.


"Justru aku yang seharusnya bertanya seperti itu padamu. Aku sendiri tidak jadi masalah, bahkan kau tidur di penginapan dan aku tidur di hutan pun tidak jadi masalah,"

__ADS_1


"Tidak, kalau kau tidur di hutan, aku juga akan ikut. Kita sudah berjanji untuk bersama-sama. Baiklah, tidak masalah kita tidur sekamar untuk malam ini saja," kata Bidadari Tak Bersayap.


Cakra Buana hanya mengangguk. Ada rasa senang dan bingung dalam hatinya.


Keduanya kini sudah masuk kamar. Pembaringan yang ada di sana terbilang sederhana. Hanya berlantaikan papan kayu, tapi sangat kokoh dan kuat.


Bidadari Tak Bersayap sudah tertidur lelap. Mungkin dia sangat kelelahan. Sedangkan Cakra Buana, dia masih melamun dalam posisinya yang berbaring.


Udara sangat dingin. Bahkan terasa sampai menusuk tulang, alasannya karena ini musim kemarau. Biasanya, jika puncak musim kemarau, memang udara malam sangat dingin sekali.


Lebih dingin dari pada sikap dia kepadamu.


Saat seperti itu, Cakra Buana mendengar suara gemerutuk gigi. Dilihatnya bahwa gadis cantik itu kedinginan, bahkan sedikit menggigil.


Cakra Buana bingung harus berbuat apa. Dipeluk? Kalau dia sendiri yang dipeluk, tentu tidak menjadi masalah. Tapi kalau dia yang memeluknya? Bisa-bisa Pedang Cantik Dari Kahyangan menembus lehernya.


Namun siapa sangka, di saat seperti itu justru tangan Bidadari Tak Bersayap menariknya. Bahkan hingga menempel. Mendengar hembusan nafasnya saja, membuat jantung Cakra Buana terasa hampir copot.


"Kakang, aku kedinginan. Kau tidak mau memelukku?" tanyanya setengah sadar.


"Ma-ma …"


Belum selesai ucapannya, gadis itu sudah mendahului memeluk. Pelukan yang erat dan hangat. Rasa dingin terasa sirna dalam sekejap digantikan dengan perasaan hangat yang menggelora.


Cakra Buana tidak mampu menahan diri, dia juga manusia. Bukan malaikat.


Tangannya segera membalas pelukan, tak disangka, si gadis juga melakukan hal yang sama. Bahkan bibirnya semakin mendekat.


Kucing diberi ikan? Kucing mana yang akan mau menolak? Apalagi ikan yang sangat diidamkan.


Tanpa terasa kedua mulut mereka bersentuhan. Lidah yang sangat lembut bahkan manis, bermain di rongga mulut Cakra Buana.


Saat itu Bidadari Tak Bersayap langsung membuka matanya. Dia seperti terkejut atas apa yang terjadi. Namun, keduanya masih berada dalam pelukan yang sama.

__ADS_1


__ADS_2