
Cakra Buana mulai memasuki alam ketenangan. Dia sedang mengobati luka dalam yang ia derita dengan caranya sendiri. Semua inderanya mulai dimatikan. Cakra Buana tidak lagi mendengar sesuatu apapun kecuali kesunyian.
Setiap manusia bisa memasuki alam kesunyian dengan caranya tersendiri. Di alam kesunyian, tak ada siapa-siapa kecuali ruangan hampa, Tuhanmu dan dirimu sendiri. Biasanya, di sana lah kau akan menemukan berbagai macam sesuatu.
Di alam kesunyian, sangat berbeda dengan alam nyata. Sama seperti namanya, kesunyian. Di sana sunyi sepi. Tak ada suara apapun dan tidak ada siapa pun kecuali dirimu dan tuhanmu. Di sana kau akan mendapatkan sesuatu ketika kembali ke alam nyata. Tapi bagi yang awam, memasuki alam kesunyian bukanlah perkara mudah.
Biasanya, alam kesunyian menjadi pelarian sebagian orang untuk melampiaskan semua perasaannya. Sebab ketika kembali dari alam kesunyian, kita akan merasakan ketengan lahir dan batin.
Cakra Buana semakin larut di alam kesunyian. Sementara Ling Zhi terus memperhatikan seluruh murid Perguruan Gunung Waluh. Sebagian murid ada yang membereskan mayat guru-gurunya.
Sebagian lagi masih diam di tempat dan menatap Ling Zhi seperti serigala yang sedang mengintai mangsa. Mata mereka memerah. Desah nafas menahan amarah pun semakin terdengar.
Tiba-tiba seseorang berumur sekitar tiga puluh tahun maju tiga langkah ke depan. Jaraknya sekitar empat langkah kepada Ling Zhi.
"Aku Rendra, mewakili semua murid Perguruan Gunung Waluh merasa tidak terima atas kematian guru-guru kami. Maka dari itu, izinkan kami untuk membalaskan dendam. Mati pun kami siap, asalkan mati bersama kalian berdua," kata seseorang yang mengaku bernama Rendra tersebut.
"Betul …"
"Bunuh dua manusia itu …"
Teriakan demi dari para murid yang membetulkan ucapan Rendra semakin membahana di kelamnya sang malam. Semua murid tersulut kembali emosinya.
Berbagai macam senjata sudah di acungkan siap untuk menebas Cakra Buana atau pun Ling Zhi. Ucapan Rendra barusan itu berhasil membangkitkan dendam dalam diri semua murid.
Padahal sebenarnya mereka sendiri tahu betul, bahwa walaupun maju bersama, belum tentu mereka dapat membunuh orang yang sudah menewaskan gurunya itu. Tapi apa daya, mereka sudah dikuasai oleh hawa nafsu untuk membunuh.
Rendra berkata demikian karena ia belum tahu siapa dan bagaimana kekuatan Ling Zhi. Karena memang sedari tadi, gadis itu hanya menjadi penonton saja.
Rendra menganggap bahwa kepandaian Ling Zhi jauh di bawah Cakra Buana yang saat ini sedang memulihkan diri. Karena anggapan itu lah dia berani berkata seperti tadi.
Sementara itu, setelah mendengar semua ucapan para murid Perguruan Gunung Waluh yang jelas menantang, maka Ling Zhi segera mengambil posisi siap siaga.
__ADS_1
Tangan kanannya sudah memegangi gagang Pedang Bunga. Apapun yang terjadi nanti, dia harus mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk melindungi Cakra Buana dan menyelamatkan dirinya sendiri.
Dia sendiri yakin bisa menghadapi semua murid ini jika minimal sepuluh orang yang menyerang. Tapi kalau murid yang jumlahnya sekitar seratus orang itu menyerang bersama, maka ceritanya lain lagi. Bagaimanapun juga, Ling Zhi hanyalah seorang manusia. Dia masih mempunyai batasan-batasan sebagai makhluk Tuhan.
"Sringgg …"
Pedang Bunga telah tercabut keluar dari sarungnya. Ling Zhi menggertakkan giginya untuk menguatkan tekad. Bertarung sampai mati.
"Majulah tikus kecil …," tantang Ling Zhi dengan penuh keyakinan.
"Serang …"
"Serbu …"
"Bunuh …"
Teriakan demi teriakan yang membangkitkan semangat dan dendam kembali terdengar lebih keras. Seratusan murid Perguruan Gunung Waluh menyerang secara bersama. Mereka mengepung terlebih dahulu secara ketat.
Ling Zhi dan Cakra Buana di kepung lautan manusia. Mereka berdua ibarat dua ekor harimau yang akan mempertahankan diri dari kepungan pemburu. Tak ada jalan keluar. Tak ada celah dan tidak ada cari lain untuk lari. Satu-satunya cara adalah … bertarung sampai mati.
Ling Zhi langsung menyalurkan seluruh tenaga dalamnya ke Pedang Bunga. Sehingga membuat pedang itu berwarna merah muda. Ada energi besar yang kini tersalurkan dalam perang itu. Bukan hanya pedang, bahkan seluruh tubuh gadis itu pun menyala diselimuti perisai yang ia ciptakan.
Seratusan murid sudah semakin dekat jaraknya. Ling Zhi langsung bergerak cepat. Pedangnya ia putarkan sekali sebelum dirinya berlari menyambut lautan manusia itu.
"Wuttt …"
"Wuttt …"
Gadis itu berubah menjadi sosok bayangan. Tubuhnya melesat ke segala arah menyerang siapa pun yang dekat dengannya dan Cakra Buana. Suara dentingan senjata terdengar memekakkan telinga.
Ling Zhi menambah daya kecepatan. Para murid Perguruan Gunung Waluh pun sudah mengeluarkan ilmu-ilmu yang mereka dapatkan selama belajar di perguruan ini.
__ADS_1
Tekanan energi dari semua murid cukup untuk membuat suasana semakin mencekam. Angin berhembus membawa hawa dingin dan kematian.
Ling Zhi mengeluarkan serangkaian jurus-jurus maut. Jurus dari Kitab Tujuh Jurus Bunga Kembang mulai ia lancarkan dari jurus pertama sampai jurus terkahir.
Pertarungan baru berjalan lima belas menit. Tapi Pedang Bunga milik Ling Zhi, sudah berubah warna menjadi merah darah. Gadis itu bahkan tidak terlihat seperti manusia. Wajah cantiknya berubah jadi menyeramkan. Ling Zhi bagaikan seekor harimau betina yang sedang marah.
Ke mana pun dirinya bergerak, maka dipastikan ada nyawa yang melayang.
"Trangg …"
"Trangg …"
"Slebbb …"
"Crashhh …"
Satu persatu nyawa murid Perguruan Gunung Waluh tewas meregang nyawa secara mengenaskan. Pakaian Ling Zhi saat ini sudah berubah warna menjadi kemerahan karena darah yang menciprat. Bahkan wajahnya sekali pun, penuh dengan darah.
Pertarungan semakin menegangkan saat murid-murid senior mengeluarkan ajian tingkat tinggi. Gelombang energi dan serangan gelap terus menghujani Ling Zhi. Gadis itu mulai kewalahan. Sekuat apa pun dirinya, dia hanyalah manusia biasa. Sama seperti manusia pada umumnya.
Pedang Bunga ia putarkan secepat mungkin. Pedang pusaka itu seolah berubah menjadi kincir yang terus berputar cepat untuk melindungi dirinya dari serangan yang datang bagai air bah itu. Kadang kala, Ling Zhi berhenti memutarkan pedang jika serangan gelap tidak ada. Setelah itu, maka dia akan melesat kembali mencari korban nyawa berikutnya.
Teriakan kematian menyayat hati bergema tiada henti. Tapi Ling Zhi tetap bergerak bahkan semakin lama semakin cepat. Dia tidak berhenti sama sekali. Baginya para murid ini merupakan manusia yang bosan untuk hidup.
Padahal sejatinya, Ling Zhi tidak akan tega membunuh manusia sebanyak ini. Apalagi hal ini adalah kali pertama dalam hidupnya. Tapi karena dia terancam akan dibunuh, maka dengan sangat terpaksa Ling Zhi harus mengakhiri nyawa para murid Perguruan Gunung Waluh.
Tiga puluh menit sudah berlalu. Para murid yang tersisa kurang lebih tinggal enam puluh orang. Ling Zhi mulai merasa kelelahan. Nafasnya tersengal-sengal. Keringat sudah membanjiri tubuhnya. Tapi, belum ada tanda-tanda bahwa Cakra Buana akan segera tersadar.
###
Btw ada yang bosen gak ni😀maaf ya kalau kadang satu chapter cuma pertarungan, sebab genre ini wuxia. Cerita silat yang masih masuk di akal manusia. Jadi kemungkinan memang bisa terjadi dalam kehidupan nyata.
__ADS_1
Ditambah lagi, novel ini sama seperti novel-novel jadul. Jujur, referensi saya memang penulis dulu. Jadi pertarungan harus detail supaya pembaca bisa meradkssn sensasinya ketika darah berdesir😀😀
Sampai jumpa lagi. Tunggu chapter selanjutnya ya😘