Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Kondisi Tatar Pasundan


__ADS_3

Saat ini hari sudah malam hari. Suara burung hantu dan jangkrik terdengar menggema didalam hutan. Rembulan bersinar terang memancarkan seluruh cahayanya ke bumi. Bintang-bintang bertaburan diatas cakrawala.


Seperti biasanya, setelah seharian Cakra Buana berlatih, maka malamnya dia pasti akan diberikan wejangan-wejangan tentang kehidupan oleh ki Wayang.


Selama ki Wayang Rupa Sukma Saketi memberikan wejangan, maka Cakra Buana takkan mau bicara. Dia diam seribu bahasa hingga kakek tua itu selesai dalam bicaranya.


Setelah selesai, barulah Cakra Buana mau berbicara kembali. Akan tetapi belum sempat Cakra Buana angkat suara, ki Wayang sudah memotongnya kembali.


"Cucuku Cakra Buana, waktu yang dinantikan telah tiba. Besok kau harus turun gunung. Kau harus mengamalkan apa yang kau dapatkan selama disini," kata ki Wayang dengan serius.


"Ah … ta-tapi eyang guru. Aku baru saja berguru padamu dua tahun. Lagi pula, kalau aku turun gunung, berarti disini tidak ada yang menemanimu lagi. Tidak ada yang membuat kopi hitam dan singkong rebus lagi," ucap Cakra Buana sedikit meragu.


"Kau jangan bodoh cucuku. Untuk apa gunanya kau belajar bertahun-tahun dan menyiksa dirimu bertahun-tahun pula, tapi kau tidak mengamalkan apa yang kau dapatkan itu? Ingat cucuku, ilmu yang baik adalah ilmu yang bermanfaat untuk orang lain. Jika kau tidak bisa mengamalkan ilmu itu kepada orang lain, maka jangan pernah menyebut hebat pada dirimu. Salahsatu orang hebat adalah dia yang mengamalkan ilmunya," kata ki Wayang memberikan penjelasan kepada Cakra Buana, dia berhenti sebentar.

__ADS_1


Lanjutnya, "Ingat, tujuanmu kesini untuk apa? Aku sudah biasa hidup sendiri. Jadi jangan kau pikirkan aku, wujudkanlah mimpi semua orang. Sekarang keadaanmu sangat dibutuhkan,"


Mendengar semua ucapan eyang gurunya, lagi-lagi Cakra Buana tidak bisa menjawab sama sekali. Gurunya benar, dia harus mewujudkan mimpi para pendekar yang berjiwa ksatria untuk menyatukan tatar Pasundan.


"Semua yang dikatakan eyang memang benar. Mohon maaf atas kesalahanku eyang," kata Cakra Buana sambil menyembah.


"Tak ada yang harus dimaafkan cucuku,"


"Cakra Buana muridku, aku ingin berbicara padamu terkait keadaan diluar sana saat ini. Selain itu, aku juga ingin membicarakan suatu hal yang sangat penting bagi dirimu sendiri. Bahkan mungkin rahasia terbesarmu, aku harap kau siap mendengarkannya," ucap ki Wayang Rupa Sukma Saketi.


Entah kenapa jantung Cakra Buana tiba-tiba berpacu dengan cepat dan tidak karuan. Tapi buru-buru dia menutupi rasa itu.


"Silahkan eyang. Aku akan selalu mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh eyang,"

__ADS_1


"Bagus cucuku. Begini, selama kau berada disini, di hutan belantara ini selama kurang lebih dua tahun, sudah banyak perubahan-perubahan yang terjadi dalam sendi kehidupan tatar Pasundan, terutama yang berada dalam pimpinan Raja Ajiraga Wijaya Kusama. Para pejabat pemegang kekuasaan semakin lalim, mereka lupa terhadap rakyat. Mereka tertawa bersama diatas tangisan rakyatnya. Rakyat sudah tidak diperhatikan, desa-desa dan kota-kota yang dahulu maju, kini menjadi terpuruk. Banyak orang-orang tewas karena kelaparan, keadaan rakyat sungguh memprihatinkan. Apalagi yang benar-benar rakyat bawah. Hanya mereka yang memaksakan diri saja yang terlihat tidak apa-apa. Padahal dibalik itu semua, bebagai penderitaam hidup sedang menderanya,"


"Raja Prabu Ajiraga Wijaya Kusuma sudah lalim. Raja itu sama sekali tidak memikirkan bagaimana pekerjaan pejabat-pejabatnya sendiri. Dia sama sekali sudah tidak memikirkan akan hal tersebut. Yang penting dia bahagia, masalah rakyat yang sengsara masa bodoh. Raja Ajiraga berbahagia diatas penderitaan rakyatnya sendiri. Keadaan seperti ini dimanfaatkan oleh para iblis yang berkedok manusia. Mereka melakukan perampokan, pembunuhan, penculikan, bahkan pemerkosaan. Disaat rakyat sudah terhimpit ekonomi karena beban yang diberikan pihak kerajaan, disaat itu pula rakyat harus bertahan dari ancaman orang-orang yang tidak berprikemanusiaan. Bisa dibayangkan betapa pedihnya nasib rakyat kita saat ini Cakra,"


Cakra Buana mengepal tangannya dengan keras, bahkan urat-uratnya hingga nampak seperti akan keluar. Giginya sudah gemurutuk. Dari pandang matanya, jelas bahwa dia saat ini sedang marah besar.


Apalagi ketika dia mendengar nama Raja Ajiraga Wujaya Kusuma disebut-sebut. Kembali terngiang bagaimana gurunya dulu, Eyang Resi Patok Pati bercerita tentang atas apa yang sudah dilakukan raja itu padanya. Suatu saat aku akan membunuhmu raja biadab, batin Cakra Buana.


"Tapi eyang, memangnya tidak ada para pendekar lurus yang mau membantu dan meringankan penderitaan semua rakyat?" tanya Cakra Buana memperlihatkan wajah kebingungan.


"Ada cucuku, ada. Bahkan banyak. Tapi ingat, jumlah musuh lebih banyak daripada jumlah para pendekar yang membantu. Selain itu, kesaktian mereka juga tak kalah hebat dari pendekar lurus. Ini saja sudah menjadi bukti kenapa semakin jarang para pendekar lurus yang kesana. Mereka juga tidak bodoh. Nanti kau yang sudah mencapai tingkatan seperti ini pun, bakal mengalami kesusahan dalam menghadapi lawan. Nah, jika kau yang sudah mencapai tahapan tinggi saja masih ada kemungkinan bakal kewalahan, lalu bagaimana dengan mereka yang masih memiliki kepandaian rendah?"


Cakra Buana termenung sesaat. Sekarang dia baru menyadari semuanya. Memang biasanya seperti itu, yang jahat selalu lebih banyak dan lebih hebat daripada yang baik.

__ADS_1


"Ah … aku faham eyang, aku faham sekarang," ucap Cakra Buana.


"Bagus kalau kau sudah faham. Berarti kau tahu apa yang harus yang lakukan Cakra. Tapi sebelum kesana, ada satu hal lagi yang ingin aku ceritakan, seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, mungkin ini merupakan rahasia terbesarmu," kata ki Wayang dengan ekspresi muka yang serius.


__ADS_2