
Kecepatan tiga batang jarum itu sangat cepat sekali.
Bahkan sampai melebihi kecepatan seorang kekasih yang sedang merindukan kekasihnya dalam membalas pesan.
Tapi yang diserang juga bukan tokoh sembarangan. Dia datuk rimba hijau, kekuatannya jangan ditanyakan lagi.
Secepat luncuran tiga batang jarum, secepat lula Raja Tombak Emas dari Utara memutarkan tubuhnya.
Begitu kembali ke posisi semula, tiga batang jarum tersebut telah terjepit di antara jari telunjuk dan jari tengahnya.
Tanpa berlama-lama, Raja Tombak Emas dari Utara langsung mengembalikan jarum tersebut ke arah datangnya tadi.
"Heh bangsat, aku kembalikan jarummu. Tangkap ini!!!" teriak kakek tua itu.
Tiga batang jarum melesat. Melesat melebihi kecepatan sebelumnya. Tidak kelihatan sinar hitam lagi. Yang ada hanya hembusan angin secepat kilat.
"Ahhh …"
Terdengar suara tiga orang mengeluh tertahan. Detik selanjutnya, suara berdebum di tanah langsung terdengar pula.
Ternyata Raja Tombak Emas dari Utara melemparkan jarum tersebut sambil mengincar anggota Organisasi Tengkorak Maut.
Akibatnya, tiga orang nyawa lagi-lagi tewas menjadi korban.
Namun Raja Tombak Emas dari Utara tidak berhenti di situ saja. Secara tiba-tiba, dia mendadak melancarkan serangan jarak jauh lagi. Bahkan kali ini jauh lebih dashyat daripada sebelumnya.
Dua buah sinar hijau meluncur deras ke balik semak belukar. Di lihat dari segi mana pun, kecepatan serangan ini jauh lebih cepat dari pada tiga jarum tadi.
Namun sebelum sinar tersebut mengenai semak-semak, mendadak muncul dua buah sinar merah dari balik tempat tersebut.
Dua sinar berbeda bertemu di tengah jalan sehingga menimbulkan suara ledakan yang cukup keras dan menggetarkan tanah sekitar Hutan Larangan.
"Blarrr …"
Gelombang kejut yang tercipta akibat benturan itu menyebabkan beberapa pohon hampir roboh. Daun-daun berguguran dan sebagian lagi langsung kering.
Raja Tombak Emas dari Utara terdorong satu langkah. Tapi dia tidak mengalami luka.
Sedangkan dari balik semak-semak, terdengar suara keluhan. Tak lama kemudian, sepuluh orang tiba-tiba melompat dari balik tempat tersebut.
Saat ini, di depan lima tokoh utama tersebut berdiri sepuluh orang pendekar. Semuanya memakai pakaian serba hitam dengan lambang yang sama di punggungnya.
Menurut kelima tokoh, sepuluh pendekar yang kini di hadapan mereka ini, merupakan bagian dari dua puluh pendekar kelas atas yang dimiliki oleh Organisasi Tengkorak Maut.
Saat mereka saling bungkam, Nyai Tangan Racun maju dua langkah ke depan.
__ADS_1
"Kalian cari mampus?"
"Yang harus bicara seperti itu adalah kami, bukan kau nenek tua," jawab seorang pendekar sedikit mengejek.
"Bangsat benar kau ini. Belum saja aku robek mulut busukmu. Lebih baik panggil saja pimpinan utama kalian. Aku tidak ingin terlalu banyak membunuh nyawa manusia," ujar Nyai Tangan Racun Hati Suci menahan amarah karena ejekan pendekar tersebut.
Sepuluh pendekar itu saling pandang terlebih dahulu sebelum tertawa lebar. Tawa yang sangat jelas sekali mengandung sebuah ejekan.
"Hahaha, kau kira kalian siapa heh? Pemimpin kami hanya boleh ditemui oleh orang-orang penting. Sedangkan kalian? Hahaha … hanya segerombolan orang tua bau tanah …" kata seorang pendekar lainnya sambil tertawa lalu diikuti sembilan rekannya.
Kelima tokoh itu tentu merasa sangat marah. Hanya saja, kelimanya masih mencoba untuk bersabar menahan emosi.
Sepuluh pendekar tersebut memang sepertinya tidak mengetahui secara pasti kelima orang di hadapannya saat ini. Orang-orang itu tahu akan nama besar para datuk dan sejenisnya, hanya saja, mereka belum pernah bertemu sama sekali.
Sehingga wajar kalau ucapannya seenak jidat.
"Sepertinya kalian memang cari mampus," bentak Raja Tombak Emas dari Utara.
Si kakek tua yang kadang tidak jelas sudah merasa geram tak kepalang. Kalau saja dia itu banteng, mungkin hidungnya sudah mengeluarkan asap putih.
"Wushhh …"
Sebuah sinar hijau kembali meluncur deras ke arah sepuluh lawan.
"Blarrr …"
Si Raja Tombak Emas masih berdiam dengan tenang di tempatnya. Sedangkan orang yang melancarkan sinar kuning, terdorong dua langkah karena kalah tenaga.
"Kemampuan rendahan seperti ini sudah berani lancang terhadap kami? Sungguh tidak tahu diri," kata Pendekar Belati Kembar dingin sambil melipat kedua tangan di dadanya.
Kali ini gantian, giliran sepuluh pendekar yang merasa tidak terima atas ucapan Pendekar Belati Kembar barusan.
Suara gigi gemurutuk mulai terdengar. Dua tangan masing-masing para pendekar di kepalkan dengan kuat. Mereka saling pandang untuk beberapa saat sebelum bertindak.
Detik selanjutnya, sepuluh orang tersebut tiba-tiba bergerak.
Tubuh mereka melesat cepat ke arah lima tokoh utama. Dua orang dari pihak mereka menyerang satu tokoh.
Serangan pertama datang secepat kilat.
Sambaran angin dari pukulan dan tendangan terasa membawa hawa panas.
Lima tokoh sudah siap sejak tadi.
Sehingga sebelum serangan lawan mengenai tubuh mereka, kelimanya sudah menunjukkan reaksi.
__ADS_1
Kakinya bergeser untuk menghindari serangan, kedua tangannya langsung bergerak menangkis pukulan dan tendangan.
Sepuluh pendekar tidak ada yang sanggup menembus pertahanan lima orang tua.
Mereka sedikit terkejut karena ternyata kelima orang tua itu mempunyai daya tahan kuat. Hanya saja, rasa terkejut tersebut segera digantikan dengan rasa penasaran.
Serangan kedua datang lagi.
Kali ini lebih hebat dari yang pertama sebab sepuluh pendekar tersebut telah mengeluarkan sembilan puluh persen kekuatan mereka.
Pertarungan yang seru dan menegangkan akan segera dimulai.
Sepuluh pendekar sudah melancarkan jurusnya masing-masing.
Pertarungan baru dimulai, tapi ketegangan sudah terasa sejak tadi.
Benturan pukulan dan tendangan sudah terjadi. Hawa di sekitar tempat pertempuran mulai berubah drastis.
Hawa ingin membunuh terasa kental.
Pendekar Belati Kembar meladeni dua lawan yang bersenjata pedang. Keduanya menyerang dengan ganas seperti dua ekor serigala kelaparan.
Sepak terjang mereka terbilang tangkas dan cepat. Setiap serangannya mampu melayangkan nyawa seseorang.
Tentu saja, sebab mereka merupakan pendekar kelas atas.
Sayangnya, saat ini sepuluh pendekar itu sedang mengalami nasib sial.
Yang mereka hadapi bukan pendekar kelas teri. Bagaimanapun serangannya dilancarkan, walaupun dibarengi berbagai macam tipuan, tetap saja kelima tokoh dapat menangkis dengan mudah.
Kali ini Pendekar Belati Kembar tidak tinggal diam. Yang tadinya dia berada dalam posisi bertahan, sekarang balik menyerang.
Dua tangan itu berkelebat membelah malam. Cahaya merah berpijar saat kedua tangannya diayunkan untuk memberikan pukulan ataupun hantaman.
Kedua tangannya di dorong ke depan. Sebuah sinar merah meluncur ke arah lawan.
Dua pendekar tidak mau kalah, mereka turut melancarkan serangan gabungan untuk menangkis serangan tersebut.
"Blarrr …"
Benturan dua tenaga dalam kembali terdengar.
Namun kali ini mereka tidak diam saja. Pendekar Belati Kembar langsung kembali melancarkan serangan susulan lainnya. Kedua tangan itu bergerak cepat memberikan pukulan ke arah dada dan alis.
Sambaran anginnya cukup keras. Dua pendekar memapak dengan masing-masing tangan mereka. Namun akibatnya hebat, keduanya terdorong dua langkah dan merasakan tangannya ngilu.
__ADS_1