
Cakra Buana termenung untuk beberapa saat lamanya. Sungguh, dia tidak menyangka bahwa Ajian Rengkah Gunung begitu mengerikan. Padahal dia hanya mengeluarkan tenaga setengahnya saja dan itupun tidak benar-benar serius, ia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika dirinya mengeluarkan seluruh tenaga dan berlaku sangat serius.
Membayangkan hal ini, bulu kuduk Cakra Buana pun bergidik ngeri. Dia tidak lagi menggunakan ajian ini secara sembarangan, selain melelahkan, juga efeknya yang mengerikan.
Karena menurut ajaran ki Wayang Rupa Sukma Saketi, membunuh orang bukanlah perbuatan yang baik kecuali benar-benar dalam keadaan terdesak.
Tapi meskipun begitu, Cakra Buana yakin jika saja Cukrak Luta mengetahui apa yang akan dia lakukan, tentu saja Cukrak Luta akan melakukan persiapan lebih dulu sehingga besar kemungkinan dia tidak akan langsung tewas begitu saja.
"Hahhh … Irma, dimana kau saat ini?" Cakra Buana bergumam sendiri bertanya-tanya. Entah kepada siapa. Kepada alam mungkin.
"Kemana aku harus mencarinya? Sedangkan aku sendiri tidak tahu secara pasti daerah ini. Ah sudahlah, lebih baik aku mencari di beberapa desa sekitar saja." gumam Cakra Buana sambil melangkahkan kaki mendekati kuda yang ditinggalkan Munding Aji dan rekan-rekannya tersebut.
Cakra Buana memilih seekor kuda berwarna putih. Kuda itu berpenampilan tinggi gagah serta kekar pula. Terlebih dia memilih kuda tersebut alasannya karena warna kuda dengan warna pakaiannya sama. Dengan perasaan yang tidak karuan, Cakra Buana pun meninggalkan hutan tersebut.
Kuda itu meringkik keras sebelum berlari dengan kencang.
Waktu berjalan lambat tapi tetap. Malam sudah datang, rembulan sudah muncul disebelah barat. Sinarnya terang benderang menyinari semesta. Kelelawar beterbangan mencari makan. Suara jangkrik berbunyi dengan ramai mewarnai gelapnya malam.
Disebuah goa ditengah hutan, seorang nenek tua renta sedang duduk menanti seorang gadis yang masih dalam keadaan pingsan. Nenek tua itu tak lain adalah Nini Hideung, seorang tokoh tua yang membawa pergi Irma Sulastri, seorang pendekar tua yang memiliki kepribadian aneh.
Dia tidak jelas menganut aliran mana. Dia tidak peduli aliran hitam dan putih. Nini Hideung selalu bertindak sesuka hatinya. Tapi jarang dia mengganggu seseorang tanpa alasan pasti. Mungkin alasan dia membawa Irma Sulastri karena dia tahu bahwa gadis tersebut berada dalam bahaya.
Setelah beberapa saat lama pingsan, akhirnya Irma Sulastri pun mulai bergerak. Perlahan matanya terbuka dan tangannya bergerak-gerak.
__ADS_1
"Ahhh … dimana aku, apakah aku sudah mati? Ah … kepalaku sakit," gumam gadis itu sambil mencoba bangun. Keadaan disana memang remang-remang karena hanya diterangi oleh obor minyak tanah saja.
"Tenang cucuku. Kau berada di kediamanku, kau sudah aman sekarang," kata Nini Hideung sambil membantu Irma Sulastri duduk.
"Nenek siapa?"
"Panggil saja aku Nini Hideung,"
"Bagaimana dengan lima orang yang tadi membawaku itu nek?"
"Tenanglah cucuku. Mereka sudah pergi, jangan khawatir lagi. Sekarang tidak akan ada lagi yang berani menggangumu," kata Nini Hideung sambil tersenyum.
"Terimakasih karena nenek sudah menyelamatkanku. Tapi aku harus kembali nek, kasihan ayahku," ucap Irma yang tiba-tiba teringat akan nasib ayahnya.
Irma Sulastri mengangguk. Entah kenapa, seolah ucapan nenek itu sangat berwibawa sehingga dia tak kuqsa untuk menolaknya.
"Anak baik, anak manis. Sekarang makanlah ini, kau pasti lapar," kata Nini Hideung sambil memberikan sepiring nasi dengan lauk ayam bakar bumbu seadanya.
Irma Sulastri memandangi makanan itu sebentar kemudian dia memandang Nini Hideung. Nenek tua itu mengangguk sambil memperlihatkan senyuman dengan giginya yang sudah ompong.
"Terimakasih nek,"
"Sudah, kau makan saja dulu. Habiskan ya, aku pergi dulu. Sebentar lagi aku segera kembali." kata Nini Hideung yang dibalas anggukan oleh Irma Sulastri.
__ADS_1
Sementara itu ditempat lain disebuah bangunan kosong tak jauh dari hutan tadi, Lima Setan Darah sedang duduk mengaso. Mereka semua masih belum terima dengan kematian Cukrak Luta, teman mereka.
"Kakang, aku tidak terima atas kematian rai Cukrak Luta. Aku harus membalasnya," kata Kedung Reja dengan marah.
"Tenanglah rai. Akupun sama, tapi kali ini kita mundur dulu. Kita harus segera menguburkan rai Cukrak Luta dan segera kembali ke kadipaten. Kanjeng adipati pasti sudah menunggu kedatangan kita," ucap Munding Aji.
"Tapi apakah dia tidak akan marah?"
"Lihat nanti saja. Setidaknya kita berhasil membawa harta rampasan meskipun gadis itu hilang," kata Munding Aji.
"Baiklah kakang. Aku bersumpah akan mencari pemuda keparat itu sampai dapat," ucap Kedung Reja dengan geram.
"Tenanglah. Kita berempat suatu saat nanti akan membalaskan kematian rai Cukrak Luta, sekarang mari kita kuburkan jasadnya dan segera kembali ke kadipaten." ujar Munding Aji.
Ketiga rekannya mengangguk. Mereka kemudian menguburkan Cukrak Luta dibelakang bangunan tua tersebut. Setelah selesai, keempatnya segera meninggalkan tempat itu.
###
Btw maaf ya, jika Cakra Buana kalah atau terluka, wajar, tolong fahami, semakin tinggi pohon semakin tinggi juga angin yang menerpa. Semakin hebat manusia, semakin hebat pula ujiannya. Begitu juga dengan Cakra Buana.
Dan lagi, tidak setiap ajian bisa dikeluarkan seenak hati. Perlu diketahui bahwa dalam ilmu kanuragan kita tidak bisa sembarangan mengeluarkan sebuah ajian, kita juga harus memikirkan beberapa hal penting lainnya. Dan itu memang sesuai fakta😄
Oh iya, sedikit informasi, Kisah Pendekar Tongkat Naga bukan gaada lanjutannya ya. Ada kok, tapi bukan disini. Di rumah baru. Di nvlm3. Kenapa dipindah thor? Sebagian dari kalian pasti tahu alasannya ya, karena alasannya sama dengan author lainnya. Jika penasaran atau pecinta cersil china jadul, mampir kesana ya😄🙏
__ADS_1
Tapi tenang, Cakra Buana ttep stay disini😘dukung terus ya🙏