Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Hukum Iris


__ADS_3

Setelah masing-masing dari ketua Kelompok Ucing Hideung itu tewas, kedua pendekar yang tak lain Langlang Cakra Buana dan Ki Jaya Wikalpa segera saling mendekat.


Sedangkan para anak buah Surapati, saat ini mereka dalam rasa ketakutan yang sulit digambarkan. Mereka tidak mencoba untuk melarikan diri, melainkan terus saja meringis meminta ampunan kepada Ki Jaya Wikalpa da Langlang Cakra Buana.


"Ampun tuan … ampun. Jangan hukum kami," ucap para anak buah tersebut sambil memohon-mohon.


Tapi meskipun mereka sudah meringis dan memohon-mohon, kedua pendekar itu tetap tidak memberikan jawaban yang membuat hati mereka lega. Justru sebaliknya.


"Diam dan jangan pernah keluar dari tempat ini selangkah pun. Jika ada yang mencoba untuk berusaha berani melarikan diri, maka aku pastikan nasib kalian tidak berbeda jauh dengan pemimpin kalian," kata Langlang Cakra Buana memberkan ancaman.


"Langlang, mari kita pergi mencari kepala desa itu. Kita geledah seluruh rumahnya dan cari sampai ketemu," kata Ki Jaya Wikalpa mengajak mencari kepala desa.


Langlang Cakra Buana mengangguk. Keduanya lalu pergi ke dalam rumah kepala desa dan akan mencarinya untuk dibawa dan diadili dengan hukum yang berlaku.


Dimana pada zaman itu, setiap pejabat ataupun 'rampok' yang merampas hak warga ataupun rakyat maka akan diadili dengan cara yang unik. Dimana sang pelaku akan ditangkap lalu dibaringkan dan diikat pada sebuah papan seukuran tempat tidur.


Setelah itu, sang pelaku akan diiris pada bagian perutnya, tidak besar. Tapi pastinya menyakitkan. Setelah itu, semua para warga akan dikumpulkan lalu disuruh berbaris dengan rapi.

__ADS_1


Kemudian setiap warga akan mendapatkan satu kali bagian untuk memeras jeruk nipis dibagian perut pelaku yang sudah diiris tadi.


Bisa dibayangkan betapa perih rasanya. Memang tidak sampai meninggal, tapi jika ada seratus warga yang mendapat giliran, maka entah seperti apa rasa perih yang akan dia derita. Apalagi kalau lebih daripada seratus warga, pasti sangat menyakitkan bukan? Dan hukuman seperti sudah lazim pada zaman itu, meskipun tidak diseluruh nusantara.


Hal ini bertujuan supaya sang pelaku merasakan betapa perihnya hati warga ataupun rakyat yang sudah mereka rampas hak-haknya.


Meskipun tidak bisa merasakan secara pasti, tapi hal itu dirasa lebih dari cukup pada zaman dahulu kala. Dan hukuman semacam ini bisa disebut dengan 'Hukum Iris'.


Dan setelah mencari seisi rumah, pada akhirnya Ki Jaya Wikalpa berhasil menemukan dimana keberadaan kepala desa tersebut. Ternyata kepala desa itu sedang ngumpat di kamarnya dengan rasa ketakutan yang sulit untuk dikatakan.


"Ampun ki … ampun," ucap kepala desa memohon ampunan sambil memegangi kaki Ki Jaya Wikalpa.


"Tidak ada gunanya kau demikian. Sekalipun kau menangis darah, aku tidak akan mengampuni dirimu. Yang berhak mengampunimu atau tidaknya dalam hal ini adalah para warga desa Karangpaningal ini," kata Ki Jaya Wikalpa dengan tegas.


Setelah berkata seperti itu, langsung saja Ki Jaya Wikalpa menyeret dengan paksa sang kepala desa tersebut. Langlang Cakra Buana yang dari tadi ikut mencari-cari pun langsung keluar setelah mengatahui bahwa pendekar tua itu sudah membawa kepala desa.


Ki Jaya Wikalpa lalu mengumpulkan anak buah Kelompok Ucing Hideung dan sang kepala desa dihalaman bekas pertarungan mereka. Para pelaku yang menyimpang dari kebenaran itu lalu diikat. Mereka akan menjalani hukum keesokan harinya.

__ADS_1


Hari yang ditentukan telah tiba, Ki Jaya Wikalpa dan Langlang Cakra Buana sudah membawa para pelaku ke tengah-tengah desa Karangpaningal dan segera mengumpulkan para warga setempat.


Tak butuh waktu lama, kini para warga sudah berkumpul disana. Melihat siapa yang diikat, para warga tersebut langsung menggambarkan ekspresi wajah yang teramat kesalnya.


"Tenang para warga sekalian, sekarang pemimpin yang tak berbeda jauh seperti halnya penjajah sudah ditangkap. Sekarang mari kita segera lakukan pelaksanaan 'Hukum Iris' kepada para penjajah ini supaya merasakan apa yang para warga rasakan selama ini," kata Ki Jaya Wikalpa kepada para warga yang terlihat sudah sedemikian gemasnya.


"Bakar …"


"Pasung saja …"


"Bunuh penjajah itu sekarang juga …"


Suara teriakan warga yang sudah kesal dengan perlakuan kepala desa selama memimpin desanya mulai terdengar tiada hentinya.


Karena melihat reaksi warga yang sudah tidak sabar, akhirnya Ki Jaya Wikalpa segera menyiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk melaksanakan 'Hukum Iris' ini.


Sedangkan kepala desa bersama anak buah Kelompok Ucing Hideung tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Mereka hanya bisa menangis dan menangis meratapi rasa sakit yang tak lama lagi akan mereka rasakan.

__ADS_1


__ADS_2