
Melihat reaksi kedua orang tersebut, sontak saja Cakra Buana menjadi terkejut. Sebab itu artinya, dua orang yang ada di hadapannya kali ini berarti memiliki hubungan dengan ki Baya yang beberapa waktu lalu sudah dia bunuh.
"Maaf ki dulur, kenapa kalian menjadi seperti berbeda dalam melihatku? Apakah ada yang salah?" tanya Cakra Buana sedikit kebingungan.
Kedua orang tersebut tidak langsung menjawab. Mereka terdiam beberapa saat lalu mengambil sikap siap untuk menyerang.
Angin berhembus kencang mengibarkan rambut Cakra Buana yang panjang. Baju tiga pendekar itu berkobar-kobar tertiup angin. Deburan air sungai yang menghantam bebatuan hitam menjadi semakin keras terdengar karena suasana saat ini menjadi sunyi.
Burung-burung dan binatang penunggu hutan langsung terdiam tanpa suara. Seolah mereka sudah merasakan dan sudah tahu apa yang akan terjadi selsnjutn.
"Apakah kau tahu siapa aku?" tanya balik si pria tua kepada Cakra Buana setelah beberapa saat terdiam.
"Tidak, bagaimana aku akan mengetahui jika bertemu saja baru dua kali. Di sini dan tadi pagi di kedai. Pula, ki dulur sekalian belum memperkenalkan diri kepadaku," jawab Cakra Buana.
"Hemmm … aku Ki Laya, kakak seperguruan Ki Baya, dan ini muridku Surajaya," kata pria tua yang mengaku bernama Ki Laya itu.
Dalam nada bicaranya, seolah dia sedang memendam lahar yang sudah memuncak. Suaranya seperti tersendat ketika mengingat kembali kematian adik seperguruannya yang terbilang mengenaskan.
Cakra Buana semakin kaget. Firasatnya ternyata tidak salah, benar saja bahwa dua orang yang di depannya masih ada hubungan dengan Ki Baya.
Mau tidak mau Cakra Buana harus menghadapi segala kemungkinan yang akan segera terjadi. Sebenarnya dia sendiri menyesalkan, sebab tenaganya belum pulih secara sempurna. Tapi masalah yang harus dia hadapi sekarang, tak mungkin lagi dapat di hindari.
"Hemmm … lalu, apa maksud ki dulur berdua menghalangi jalanku?"
"Ternyata kau masih berlagak bodoh meskipun sudah tahu siapa kami,"
"Kalau maksud kalian menyangkut kematian Ki Baya, semua itu hanya sia-sia. Sebab kematiannya sudah beberapa waktu lalu, lagi pula dia memang pantas mendaptkan ganjaran apa yang sudah dia lakukan,"
"Kau mudah bicara seperti itu sebab tidak mengerti bagaimana perasaanku. Andai kata kau yang berada di posisiku, mungkin kau juga akan merasakan hal yang sama,"
"Tidak. Aku tidak akan membalas dendam, apalagi jika rekan ataupun keluargaku salah. Mau bagaimanapun aku harus menerima takdir yang sudah ditentukan. Kematian manusia sudah ada yang menentukan kapan harus terjadi, dan kita tidak mungkin dapat menghindarinya," kata Cakra Buana.
Tiba-tiba saja pemuda serba putih itu teringat akan Eyang Resi Patok Pati yang tewas karena di racun. Sebenarnya perkataan itu bukan hanya untuk Ki Laya, melainkan termasuk juga untuk mengingatkan dirinya sendiri supaya tidak menjadi budak nafsunya sendiri.
__ADS_1
"Omong kosong,"
"Tidak, aku bicara yang sebenarnya. Tidak ada gunanya aku membalas dendam, apalagi hal itu merupakan menuruti hawa nafsu saja. Aku tidak mau menjadi budak nafsuku sendiri,"
"Bedebah. Jangan sok suci di depan Ki Laya, Surajaya …" kata Ki Laya sambil memberikan perintah kepada muridnya.
Meskipun ucapan gurunya tidak di selesaikan, namun sepertinya Surajaya pun sudah faham apa yang dimaksudkan. Sehingga begitu gurunya selesai berkata demikian, tanpa di perintah dua kali, Surajaya langsung menyerang Cakra Buana.
"****** kau …"
"Wuttt …"
Dengan gerakan yang tanpa diduga, Surajaya tiba-tiba melompat menyerang Cakra Buana. Kaki kanannya di julurkan ke depan. Dia mengincar dada sang Pendekar Maung Kulon.
Untung saja Cakra Buana sudah siap. Dia sudah tahu apa yang akan terjadi, maka ketika ada serangan tiba-tiba, pemuda serba putih itu langsung bisa menghindarinya dengan cara melompat mundur ke belakang.
"Berani menghindar berarti sama saja menerima tantangan," kata Surajaya dengan sorot mata yang tajam.
Kemudian dia mencabut dua buah kapak berukuran sedang yang disimpan di belakang punggungnya. Walaupun dua kapak tersebut terlihat berat, tapi Surajaya mampu menggerakannya dengan cepat seolah kapak tersebut begitu ringan.
"Wuttt …"
Dia berdiri dengan tenang, seolah hatinya sangat yakin bahwa Surajaya mampu mengalahkan Cakra Buana. Dia belum tahu saja siapa itu Pendekar Maung Kulon.
Sepuluh jurus sudah berlalu. Tapi dua buah kapak Surajaya belum mampu melukai Cakra Buana. Bahkan dua kapak tersebut belum bisa memotong rambut pemuda serba putih itu.
Setiap kali dia berniat mencincang Cakra Buana, setiap saat itu juga lawannya bisa menghindar. Sehingga pada akhirnya Surajaya dibuat geram karena menyadari semua serangan yang dia lancarkan hanya mengenai udara hampa.
"******* busuk,"
"Kapak Maut Mengibas Ular …"
"Wuttt …"
__ADS_1
Surajaya mengubah pola serangan. Kali ini jurus kapaknya dikeluarkan dengan harapan bisa segera melumpuhkan atau bahkan membunuh Cakra Buana.
Tapi di sisi lain, Cakra Buana juga sudah muak untuk membuang-buang waktu. Maka ketika lawan mengeluarkan jurus, dia pun ikut mengeluarkan.
"Telapak Tangan Dewa …"
"Wuttt …"
Kedua pendekar yang terbilang masih muda itu melompat bersamaan. Keduanya siap memberikan serangan berbahaya demi untuk memenangkan pertarungan.
"Haittt …"
"Patahh …"
"Trangg … trangg …"
Baik Surajaya maupun Ki Laya tercengang. Mata mereka melotot dan mulut mereka terbuka untuk beberapa saat.
Ini adalah kali pertama guru dan murid itu dibuat kaget oleh lawan. Pusaka yang diberi nama Kapak Maut, patah terbelah dua ketika beradu dengan telapak tangan Cakra Buana. Meskipun kapak itu bukan senjata pusaka tingkat tinggi, tapi tetap saja Kapak Maut tidak bisa dipandang sebelah mata.
Kapak itu sudah membunuh lawan tidak terhitung banyaknya. Tapi hari ini, Surajaya dan Ki Laya harus menerima kenyataan bahwa senjata pusaka tersebut terbelah di depan mata mereka sendiri.
"Bukkk …"
Cakra Buana berhasil memberikan serangan tapak yang telak menghantam dada Surajaya ketika dia masih dalam keadaan terkejut.
Murid Ki Laya itu langsung terlempar ke belakang beberapa tombak. Surajaya menghantam batu hitam yang terdapat di pinggiran sungai. Dia langsung muntah darah karena dadanya terasa remuk.
"Pemuda keparat. Berani sekali kau menghancurkan senjata sekaligus melukai muridku," kata Ki Laya dengan marah.
Dia langsung melompat dan mendarat tepat di depan Cakra Buana.
"Karena muridmu berniat membunuhku, maka aku harus membela diri. Pula, aku yakin kedatangan kalian juga memang ingin membunuhku bukan? Jadi aku rasa, apa yang aku lakukan itu memang merupakan kewajiban," kata Cakra Buana dengan tenang.
__ADS_1
"Setan alas. Memang aku kesini sengaja mencarimu dan ingin membunuhmu supaya adik seperguruanku tenang di alam sana," ucap Ki Laya, wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus karena amarah yang sudah memuncak.
"Silahkan bunuh aku jika memang kau mampu," tantang Cakra Buana.