
"Kau benar paman. Apakah cinta itu memang menyakitkan?" tanya Cakra Buana.
"Anak bodoh, hahaha. Tentu saja tidak. Cinta itu indah. Hanya orang-orang tidak waras yang bilang cinta itu menyakitkan. Hanya orang tidak mengerti yang bilang seperti itu. Kau pikir dunia ini tercipta karena apa? Dunia ini tercipta karena cinta. Kau lahir saja karena dasar cinta dari ayah ibumu. Apakah itu menyakitkan? Tidak."
"Segala keindahan berada dalam cinta. Hanya saja, banyak orang yang belum paham cinta itu apa. Karena itulah mereka bicara sepertimu barusan. Cinta terbaik mencintai dirimu sendiri. Mencintai tuhanmu. Mencintai apa yang dia berikan. Orang hidup bahkan atas dasar cinta,"
"Terkait kematian kekasihmu, kau relakan saja dia. Jalani hidup dengan baik. Memang tidak akan ada lagi orang sepertinya, tapi yakinlah akan ada saja yang sanggup menggantikannya. Tugasmu hanyalah percaya saja dalam hal ini. Kelak jika sudah waktunya tiba, kau akan bertemu dengan pengganti kekasihmu itu,"
"Sampai di sini paham?" tanya Orang Tua Aneh.
"Paham,"
"Bagus. Berarti kau pintar hahaha," kata si Orang Tua Aneh kembali menenggak kendi arak.
"Kalau menyangkut peperangan, memang begitu. Manusia makhluk yang paling ambisi. Siapapun dia. Mungkin menurutnya benar, tapi menurut pandangan orang lain belum tentu. Perang selalu saja menimbulkan korban jiwa yang tidak terhitung banyaknya. Belum lagi rakyat yang tidak tahu menahu pun turut menjadi korban. Kenapa itu bisa terjadi. Karena sebuah ambisi. Kekuasaan. Duniawi. Manusia di beri tiga gunung emas juga bakal nambah lagi. Karena memang begitulah sifat manusia sejak zaman dahulu kala,"
"Lalu apa yang harus aku lakukan?"
"Menahan ego dan nafsumu,"
"Bagaimana caranya?"
"Kelak kau akan tahu sendiri jawabannya," jawab si Orang Tua Aneh.
"Baiklah. Terimakasih atas semua pelajaran paman," kata Cakra Buana sambil menghormat.
"Memangnya kau mau mendengarkan segala apa yang aku ucapkan?"
"Tentu saja, karena aku tidak memandang siapa dirimu dan bagaimana penampilanmu. Aku memandang apa yang kau ucapkan. Kalau itu benar, maka akan aku dengarkan dan sebisa mungkin aku terapkan,"
"Bagus. Hanya orang tolol yang lebih memandang siapa yang bicara daripada apa yang dibicarakan, hahaha …" tawa si Orang Tua Aneh kembali membahana ke seluruh gunung tersebut.
"Mungkin, hahaha …"
Keduanya tertawa lagi sambil terus minum arak sampai habis.
Sepanjang hari itu, Cakra Buana terus bicara dengan si Orang Tua Aneh. Mereka bicara apa saja, termasuk tentang kisah orang tua itu sendiri.
Ternyata orang tua itu dulunya merupakan pendekar yang tersohor. Bahkan waktu mudanya dia terkenal gagah berani membela kebenaran. Hanya saja karena suatu masalah, dia berubah menjadi sekarang ini.
Dulu yang bajunya biasa mewah, kini menjadi lusuh. Wajahnya yang bersih, kini lumayan dekil. Tapi harus Cakra Buana akui bahwa kegagahan waktu mudanya masih tampak terlihat jelas.
__ADS_1
"Aku berada di sini sedang mengasingkan diri. Sepanjang hidup, musuh selalu saja mengejarku. Aku tidak bisa hidup tenang, sehingga beberapa kali aku sering pindah tempat tinggal. Dan di sinilah aku tinggal cukup lumayan lama,"
"Memangnya apa yang mereka cari?" tanya Cakra Buana penasaran.
"Entah, ada orang yang memfitnahku bahwa katanya aku membawa sebuah kitab pusaka dan kitab tentang cara melatih tenaga dalam hebat. Tapi aku sendiri bahkan tidak tahu di mana dua benda pusaka itu berada," kata si Orang Tua Aneh.
"Tapi apakah dua benda itu memang ada?"
"Dulu kabarnya memang ada dan beritanya sempat beredar luas. Tapi kabar itu sudah puluhan tahun lalu,"
"Sepertinya masalah di dunia persilatan memang tidak akan ada habisnya," kata Cakra Buana sambil menghela nafas.
"Begitu pula dalam kehidupan," jawab Orang Tua Aneh.
"Eh paman, apakah kau tahu Penguasa Kegelapan dan Empat Dewa Sesat yang merupakan muridnya?" tanya Cakra Buana.
"Tentu saja tahu. Bahkan dari dulu mereka adalah musuh bebuyutanku, memangnya ada apa?"
"Kekasih yang tadi aku ceritakan di bunuh oleh muridnya, Dewa Trisula Perak. Selain itu, tiga pusaka legenda juga kini berada di tangan mereka,"
"Gawat," ucap Orang Tua Aneh sangat khawatir.
"Apanya yang gawat?"
"Kalau begitu dunia persilatan pasti akan dikuasai oleh mereka?"
"Bukan hanya dunia persilatan, bahkan semuanya akan mereka kuasai," ucapnya menjadi lebih khawatir.
"Tapi kau tahu pusaka apa yang aku maksud?"
"Tentu saja, anak bodoh. Sebelum kau hidup, aku telah lahir lebih dulu hahaha. Bukankah yang kau maksud adalah Pedang Pusaka Dewa, Tongkat Dewa Batara dan Panah Raden Arjuna?"
"Benar sekali paman. Kau bisa mengalahkan mereka?"
"Tentu saja tidak. Paling aku hanya bisa mengalahkan satu atau dua muridnya. Sayangnya aku telah mundur dari dunia persilatan sejak lama. Aku sudah tidak mau lagi berurusan dengan hal-hal rimba hijau. Hanya saja seperti yang aku ceritakan tadi, orang-orang selalu mencariku," kata Orang Tua Aneh.
"Jadi, apakah tidak akan ada cara untuk mengalahkan mereka?"
"Tentu saja ada,"
"Apa itu?"
__ADS_1
"Dua kitab yang aku sebutkan tadi," jawab orang tua itu.
"Ke mana kita harus mencarinya?"
"Mana aku tahu. Dasar anak bodoh hahaha,"
Keduanya kembali minum hingga sore hari. Karena belum kenyang, Orang Tua Aneh meminta Cakra Buana untuk kembali memberi arak. Pemuda itu menurut, dia pun segera turun gunung dan pergi untuk membeli arak kembali ke kedai sebelumnya.
Saat Cakra Buana pergi, hari sudah mulai gelap. Matahari baru saja menghilang di balik bukit.
Hanya beberapa saat saja, Cakra Buana sudah jauh dari gunung dan mulai memasuki perkampungan. Jaraknya memang cukup lumayan jauh, sehingga setidaknya membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk kembali lagi ke tempat kediaman Orang Tua Aneh.
"Ternyata aku kedatangan tamu tak diundang. Baiklah, anak itu sudah tidak ada. Keluarlah, percuma kalian bersembunyi dariku," kata Orang Tua Aneh dengan tenang.
Seklias memang tidak terlihat adanya hal lain, tapi tak berapa lama setelah dia berucap demikian, dari balik semak belukar, dari balik pohon rimbun dan dari atas goa, muncul tiga orang tak di kenal secara bersamaan.
Ketiganya memakai baju yang sama, yaitu warna hitam. Wajah mereka lumayan tua, tapi masih tetap menyeramkan. Masing-masing dari mereka membawa sebatang pedang di punggungnya.
"Hehehe, Elang Pemburu Mangsa memang memiliki kepandaian yang tinggi," kata salah seorang kepada Orang Tua Aneh yang ternyata mempunyai julukan lain ketika mudanya.
"Ternyata Tiga Setan Timur. Ada keperluan apa kalian kemari? Apakah menyangkut dua kitab itu?" tanya Elang Pemburu Mangsa atau yang kini dikenal dengan Orang Tua Aneh.
"Pintar. Hahaha, serahkan saja kitab itu sekarang. Lebih cepat lebih baik," kata seorang lainnya.
"Bukankah kalian sendiri sudah mendengar perkataanku tadi? Bahwa aku sama sekali tidak pernah memegang dua kitab itu. Jangankan pegang, melihat pun belum,"
"Jangan samakan kami dengan bocah ingusan itu,"
"Terserah kalian percaya atau tidak. Yang jelas aku sudah mengatakannya dengan jujur," kata Orang Tua Aneh dengan nada dingin.
"Sepertinya kau memang harus sedikit dipaksa,"
Selesai berkata, senjata rahasia berupa jarum meluncur dengan deras ke arah Orang Tua Aneh. Kecepatannya sulit dibayangkan. Tapi dengan santainya dia menangkap jarum-jarum itu tanpa perlu menggerakan badan.
Bahkan posisinya masih seperti tadi, dia masih duduk dengan tenang di saungnya.
Begitu jarum-jarum tertangkap, dia langsung melemparkannya kembali ke tempat asal.
"Wushh …"
Luncuran jarum itu melesat kebih cepat daripada sebelumnya.
__ADS_1
###
Jangan lupa untuk likenya ya. Tanda bahwa kita saling menghargai😀☕