Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Untuk Yang Terkahir Kalinya


__ADS_3

Setelah beberapa saat lamanya Cakra Buana menangisi kepergian Ling Zhi, kekasihnya, pada akhirnya dia sadar juga.


Cakra Buana sadar!


Dia sadar dari kesedihan. Dia sadar dari kehampaan. Dan dia telah sadar sepenuhnya sehingga kembali lagi ke dunia nyata yang fana.


Seseorang yang telah pergi, janganlah terlalu kau tangisi. Walaupun itu pasti, setidaknya jangan berlebihan. Mau bagaimanapun kau menangisi dia yang pergi, mau bagaimanapun kau meraung-raung untuknya, tetap saja dia tidak akan kembali.


Tapi kalau kau sadar, dia tidak pergi. Dia masih tetap ada dan akan selalu ada.


Di hatimu.


Dalam hatimu, dia ataupun mereka yang pergi akan tetap ada dan selalu ada selama kau masih mengingatnya.


Dan Cakra Buana sudah menyadari sepenuhnya akan hal ini. Dia sudah tidak menangis, lebih tepatnya menahan tangis. Cakra Buana bangkit berdiri perlahan. Memberikan senyuman kepada kekasihnya untuk yang terakhir kali.


Setelah itu, dia membopong untuk yang terakhir juga. Ini semua dia lakukan untuk bukti betapa besar cintanya.


Dia berjalan sendiri sambil membopong Ling Zhi. Cakra Buana berjalan bersama derasnya air hujan yang mengalirkan darah. Dia memang sedang berusaha menahan tangis sekuat mungkin, tapi sayangnya dia tidak sanggup.


Air matanya tetap saja keluar walaupun dia sudah menahannya kuat-kuat. Air mata itu menyatu dengan rintik air hujan.


Dia terus berjalan menuju Istana Kerajaan Tunggilis. Pemuda yang bernasib malang itu sengaja tidak mau menggunakan ilmu meringankan tubuh. Dia bahkan dengan sengaja berlama-lama dalam langkahnya. Selangkah demi selangkah dia buat selama mungkin.


Baginya, ini adalah terakhir kali dia bisa menghabiskan waktu bersama Ling Zhi, orang yang paling dia cintai.


Detik demi detik berlalu, hujan semakin deras membasahi bumi. Cakra Buana melepas bajunya. Dia menempelkan baju itu kepada jasad kekasihnya karena takut kedinginan.


"Kau pasti dinginkan? Aku pakaikan bajuku untukmu. Kau jangan khawatirkan aku. Asal kau tidak kedinginan, maka aku pun akan merasa hangat," gumam Cakra Buana sambil menyelimuti tubuh yang masih bersimbah darah itu.


Dia kembali berjalan dengan langkah pelan. Tak ada yang menemani dirinya. Karena memang Cakra Buana tidak ingin ditemani. Dia hanya butuh sendiri untuk menikmati waktu saat ini.


Semua pendekar yang tadi bersamanya, tidak ada yang bicara. Sekalipun ada, mereka hanya bicara secukupnya.


Perang sudah berakhir. Kemenangan diraih oleh Kerajaan Tunggilis. Kerajaan Kawasenan hancur dan terkubur bersama sejarah.


Tapi dalam perang ini, kalah atau menang rasanya sama saja.


Korban di pihak mereka walaupun tidak sebanyak musuh, tetap saja jumlahnya tidak bisa dikatakan sedikit.

__ADS_1


Prabu Katapangan menyuruh yang lainnya untuk segera kembali. Biarlah mayat-mayat para pahlawan itu di sana sebentar sebelum nanti dia kirim prajurit untuk menguburkan mereka semua.


Hujan masih turun dengan deras. Sepertinya langit murka. Sang Hyang Widhi seperti sengaja menurunkan hujan itu. Seolah dia ingin membersihkan noda darah di tanah akibat ambisi manusia.


Tempat yang tadinya ramai, kini lenggang. Tak ada satu orang pun manusia hidup di sana. Bahkan binatang pun tidak ada.


Yang ada hanyalah ratusan ribu mayat yang gugur di medan perang. Yang ada hanyalah bau amis darah tertiup angin dingin. Banjir terjadi, tapi airnya berwarna merah.


Darah!


Darah semua pendekar menyatu dalam satu genangan air. Seolah ini akan menjadi peringatan bagi manusia lainnnya bahwa dalam peperangan, tak ada menang tak ada kalah.


Yang menang jatuh banyak korban, apalagi yang kalah?


Bagi mereka mungkin jalan ini merupakan jalan yang terbaik. Padahal sebenarnya bukan. Jalan ini justru jalan terburuk dari sisi egois manusia.


Para pendekar lainnya sudah sampai di Istana Kerajaan tak lama setelah matahari terbenam digantikan rembulan sunyi. Mereka menunggu kedatangan Cakra Buana. Sayangnya yang ditunggu tak kunjung datang sekalipun sudah lama menunggu.


Semua cemas, para pendekar ingin mencari di mana keberadaan sang pangeran. Tetapi Prabu Katapangan menahan para pendekar itu.


"Jangan pergi. Biarkan dia menghabiskan waktu bersamanya untuk yang terkahir kali. Dia bisa menjaga dirinya sendiri,"


Orang yang sedang berada dalam kesedihan hanya butuh kesendirian. Keramaian baginya hanya bisa menghibur untuk sesaat. Tpi kesunyian, bisa menenangkan jiwanya.


Malam telah tiba. Cakra Buana baru saja sampai di gerbang Istana Kerajaan. Para prajurit yang berjaga di sana ada sekitar enam orang. Mereka tidak menyapa Cakra Buana. Tidak sepatah katapun. Mereka hanya memberi hormat dan rasa duka karena kematian kekasih pangerannya.


Cakra Buana terus berjalan hingga pada akhirnya sampai di pintu utama kerajaan. Para pendekar menyambut kedatangan dia, hanya saja tidak ada yang bicara.


"Cakra, kau mau membawanya ke mana?" tanya Prabu Katapangan sambil memandang jasad Ling Zhi.


"Ke kamar. Aku ingin menemaninya untuk terakhir kali,"


"Baiklah. Silahkan," jawab Prabu Katapangan menahan air matanya.


Meraka yang tidak pernah merasakan hal ini, mungkin akan menganggapnya terlalu lemah. Tapi bagi mereka yang pernah ada di posisi Cakra Buana, mereka akan tahu bagaimana rasanya.


Ling Zhi sudah dibaringkan di kamarnya. Bahkan Cakra Buana juga masih memberikan selimut untuknya. Setelah itu, dia memandang wajahnya yang sudah semakin pucat.


Tapi di balik pucatnya wajah itu, kecantikan yang alami masih nampak jelas terlihat. Bahkan masih saja ada senyuman yang terlihat.

__ADS_1


"Kekasihku, tidurlah. Aku akan menjagamu," bisik Cakra Buana.


Saat dia sedang melamun, tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk orang.


"Siapa?" tanya Cakra Buana dengan suara serak parau.


"Ini paman. Makan malam sudah tersedia, mari kita makan bersama untuk merayakan kemenangan,"


"Ah maaf, maksud bersama paman supaya lebih terasa nikmat," kata Prabu Katapangan buru-buru meralat perkataannya.


"Nanti saja. Silahkan paman makan lebih dulu,"


"Cakra. Kau jangan membuat paman semakin sedih. Ayolah makan," bujuk Prabu Katapangan.


Walaupun dalam hatinya dia tidak mau pergi, dan masih merasakan kesedihan, tapi dia masih sadar serta menaruh rasa hormat kepada pamannya. Maka pada akhirnya, Cakra Buana pun keluar kamar dengan langkah lesu.


"Baiklah. Mari paman," katanya sambil memaksakan diri untuk tersenyum.


Puluhan pendekar sudah berkumpul di ruang makan. Hidangan mewah serta spesial sudah tersedia. Tapi tidak ada yang berani tertawa. Mereka takut melukai hati pangerannya.


Pada akhirnya, mereka mulai makan. Walaupun makan ini terlihat enak, tapi bagi Cakra Buana rasanya pahit. Lebih pahit dari apapun.


Orang-orang itu walaupun tidak kehilangan seorang kekasih atau sebagainya seperti Cakra Buana, tapi mereka bisa mengerti karena tali kekeluargaan. Bagaimanapun juga, Cakra Buana sudah mereka anggap keluarga sendiri, bukan hanya sebagai pangeran.


Setelah selesai makan, pemuda malang itu langsung kembali ke kamar tanpa bicara sepatah katapun.


Seorang pendekar, setinggi apapun ilmunya, tapi mereka tidak akan bisa menahan kedukaan di hatinya. Mereka tidak bisa menahan sakit di hatinya. Sebab tidak ada ilmu kependekaran yang bisa mengobati dan melindungi hati.


###


Note: kalau di cerita ini banyak bicara ini itu atau bagian sebagian pembaca disebut bertele-tele, mohon maaf ya. Ini ceritanya wuxia, atau kalau dulu biasa disebut cerita silat (cersil). Kisahnya menceritakan kehidupan nyata.


Semuanya rasional. Adapun kata-kata yang berlebihan, itu hanyalah 'bumbu' pelengkap saja supaya bisa lebih hanyut di dalamnya.


Apalagi suka ada kata bijak, mau dibilang so bijak atau apa bebaslah persepsi kalian. Tapi harus ingat, bahwa penulis zaman dulu, selalu menyematkan kata bermakna untuk kehidupan tanpa ada maksud menggurui siapapun.


Dan saya berusaha mengikuti jejak para guru walaupun belum bisa seperti mereka.


Bagi para pembaca baru mungkin kesannya boros kata atau apalah itu, bebas. Tapi bagi mereka yang sudah membaca cerita silat penulis zaman dulu, seperti KPH, Khu Lung, Jin Yong, SH Mintardja, dll pasti akan tahu maksudnya.

__ADS_1


Oke gengs, semoga bisa mengerti apa yang author katakan ya.


__ADS_2