Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Eyang Resi Patok Pati Vs Prabu Jati Sena Purwadadi


__ADS_3

Di sisi lain, para petinggi dan pendekar-pendekar pilih tanding pun sudah bertarung dengan sengit. Semuanya sudah mempunyai lawannya masing-masing.


Eyang Resi Patok Pati mendapatkan lawan yang sangat tangguh, yaitu Prabu Jati Sena Purwadadi. Karena dinilai hanya Eyang Resi saja yang mampu mengalahkan Prabu Jati Sena.


Sedangkan Prabu Ajiraga Wijaya Kusuma dan Prabu Karta Kajayaan Pasundan, masing-masing dari mereka menghadapi dua pendekar tanpa tanding yang dimiliki Kerajaan Sindang Haji.


Langlang Cakra Buana sendiri mendapatkan bagian untuk menyelamatkan para prajurit yang terluka dengan pemulihan tenaga dalamnya. Sisanya yang tidak terluka masih berperang dengan ganas.


Saat ini Eyang Resi Patok Pati sudah berhadapan dengan Prabu Jati Sena, keduanya memilih tempat yang agak jauh dari medan perang. Mereka saling menatap tajam sebelum dimulainua pertarungan hidup dan mati ini.


Jika dahulu sebelum ilmunya diwariskan kepada muridnya, Langlang Cakra Buana, maka bukanlah hal sulit untuk Eyang Resi melawan Prabu Jati Sena.


Tapi karean hampir semua ilmunya sudah diturunkan, maka ilmu yang dia miliki tidak sehebat dulu lagi dan tentunya untuk mengalahkan raja itu bukanlah hal mudah. Tapi meskipun begitu, Eyang Resi tetap akan bertarung hingga titik darah penghabisan.


"Tidak kusangka bahwa kita akan berperang mati-matian seperti ini eyang. Suatu kehormatan jika kau bersedia bertarung hidup dan mati denganku," kata Prabu Jati Sena, ucapannya itu mengandung tantangan yang halus.


Karena sedikit banyak dia sudah mengetahui bahwa orang tua itu tidak sehebat dulu lagi. Apalagi saat mendengar kabar bahwa hampir semua ilmunya sudah diturunkan.


"Semua ini karena keteguhan anda sendiri prabu. Dan terpaksa, perang saudara ini harus terjadi. Karena kekerasan hatimu, maka korban yang berjatuhan akan bergelimpangan bagaikan hewan yang mati kelaparan," kata Eyang Resi Patok Pati dengan menatap tajam.


"Hahaha … tentu saja aku tidak setuju dengan semua rencanmu orang tua. Bisa saja ditengah jalan kau berbelok dari niat awal, karena itulah aku menolak mentah-mentah tawaranmu," ucap Prabu Jati Sena sambil tersenyum mengejek.


"Ampun paralun, tidak ada sedikitpun dalam hatiku seperti apa yang kau ucapkan barusan. Semua ini demi rakyat yang berdaulat, demi kesatuan dan persatuan. Demi tanah Pasundan yang kita cintai ini. Tapi sayang … kau tetap bersikeras karena sudah dikuasai oleh hawa nafsu,"


"Hentikan omong kosongmu orang tua. Aku tetap tidak akan mempercayaimu. Sekarang, kita buktikan saja secara jantan, yang kuatlah yang akan menang," kata Prabu Jati Sena lalu mengambil sikap kuda-kuda.


"Memang, tidak ada gunanya juga untukku membahas hal seperti ini. Kau menyesalpun sudah tidak ada gunanya. Karena semuanya sudah terlambat," kata Eyang Resi lalu mengambil sikap kuda-kuda pula.

__ADS_1


"HIYAA …"


Prabu Jati Sena Purwadadi menyerang lebih dulu. Dia melompat lalu mencoba memberikan tendangan yang telak. Tapi dengan mudahnya Eyang Resi menghindari tendangan itu.


Orang tua itu menyerang balik, adu pukulan pun sudah terjadi. Keduanya memberikan serangan yang kuat dan berbahaya karena memang setiap serangan dari mereka dialiri tenaga dalam yang tidak sedikit.


Sehinga setiap serangan keduanya menciptakan deru angin yang tajam. Serangan dan tendangan sudah berkelebatan. Keduanya kini terkurung didalam cahaya dan angin dari masing-masing serangan keduanya.


Sekarang Prabu Jati Sena Purwadadi berada dalam posisi menyerang. Setiap serangannya mematikan dan tentunya sangat cepat. Sehingga jika lawannya bukan Eyang Resi, maka dipastikan bakal kerepotan.


Tendangan dan pukulan sudah diberikan tanpa henti. Sehingga walau baru sebentar ssja, keduanya sudah bertarung lebih dari tiga puluh jurus.


Eyang Resi Patok Pati terus menghindari serangan dan sesekali mencoba menahan serangan yang diberikan oleh Prabu Jati Sena.


Tapi setiap orang tua itu menahan serangan yang datang, kedua tangannya selalu terasa panas. Ini menandakan bahwa lawannya mempunyai tenaga dalam yang setara atau setidaknya diatasnya sedikit.


Prabu Jati Sena mengubah serangannya. Kali ini dia lebih banyak memberikan serangan pukulan daripada tendangan. Satu kali pukulannya terlihat seperti puluhan.


Karena ilmu ini, Eyang Resi perlahan dibuat terpojok dan dipaksa untuk selalu dalam posisi bertahan tanpa diberikan waktu untuk membalas serangan.


Waktu terus berjalan, hingga pada suatu ketika, orang tua itu buyar juga konsentrasi. Akibatnya dia semakin terdesak karena kini, pukulan raja Kerajaan Sindang Haji itu seperti tidak terlihat.


Eyang Resi hanya bisa merasakan banyaknya deru angin yang terus menyerang dirinya. Tak lama Eyang Resi semakin kewalahan dan akibatnya, sebuah pukulan yang begitu kuat dengan telak menghantam ulu hatinya.


"Ughhh …"


Orang tua itu terpundur ke belakang sambil memegangi ulu hati yang kini terasa sakit bukan main hingga Eyang Resi kesulitan untuk bernafas.

__ADS_1


Dengan segera Eyang Resi Patok Pati menyalurkan hawa murni ke seluruh tubuhnya. Lalu dia perlahan berdiri kembali dan siap mengeluarkan ilmunya yang tak kalah hebat.


###


Di sisi lain, pertarungan Prabu Ajiraga Wijaya Kusuma melawan Angga Reksapati dan Saka Lintang pun tak kalah hebat dengan pertarungan Eyang Resi Patok Pati.


Saat ini raja itu sudah bertarung dengan sengit melawan keduannya. Mereka bertarung menggunakan senjatanya masing-masing.


Angga Reksapati dan Saka Lintang menggunakan pedang pusaka yang mereka miliki. Prabu Ajiraga menggunakan sebilah pedang juga, tapi pedang ini berbeda dengan kedua pendekar itu.


Pedang yant dipakai Prabu Ajiraga adalah sebuah pusaka turun temurun. Setiap raja pasti akan memegang pedang tersebut. Pedang itu bernama Pedang Cakrawala.


Sebuah pedang yang terbuat dari baja pilihan dan gagangnya bergambar kepala harimau yang sedang membuka mulut dengan kedua bola matanya berwarna merah darah.


Sinar-sinar senjata sudah terlihat dibawah langit malam. Suara beradu senjata yang menimbulkan percikan api pun nampak indah. Ketiga pendekar itu sudah bertarung puluhan jurus.


Tapi kedua pendekar dari Kerjaan Sindang Haji belum bisa melukai Prabu Ajiraga. Tentu saja, karena seorang raja pasti memiliki kepandaian yang tidak diragukan lagi.


Meskipun keduanya sudah menyerang dari sisi kanan dan kiri, tapi tetap saja sangat sulit untuk menembus pertahanan Prabu Ajiraga itu.


Yang ada malah sebaliknya, Prabu Ajiraga Wijaya Kusuma secara perlahan mulai membalikan keadaan. Raja itu mulai menyerang masing-masing dari mereka sehingga keduanya kembali bersatu di satu titik.


Kini giliran Prabu Ajiraga yang menyerang, dia memainkan pedang pusaka itu dengan gagah. Sinar-sinar pedangnya berkelebat menyerang ke setiap bagian rawan dari lawannya. Sehingga hanya beberapa saat saja, luka goresan pedang sudah nampak diseluruh tubuh Rangga Reksapati dan juga Saka Lintang.


###


Mohon maaf baru sempat up ya teman-teman. Author sangat disibukan oleh novel yang utama karena akan tamat. Tapi tetap, in shaa allah novel ini tidak akan hiatus.

__ADS_1


Kalo novel utama udah tamat, in shaa allah Cakra Buana bisa up seperti biasanya. Dan mungkin kalau sempat bakal up dua chapter setiap hari. Jadi, tetap jadikan favorite ya🙏🙏🙏


Minal aidzin walfaidzin🙏


__ADS_2