Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Tiga Iblis Gunung Waluh


__ADS_3

Kakek tua itu pun tak mampu lagi berkata. Dalam hatinya, dia merasa begitu senang karena ada yang akan menolongnya. Tapi dia pun sekaligus khawatir, apalagi yang akan membantunya adalah dua orang pendekar muda.


"Kapan mereka akan datang ke sini?" tanya Ling Zhi tak sabar.


"Sebentar lagi mereka pasti akan datang. Biasanya tengah malam, mereka datang bersama beberapa orang anak buahnya," jawab si kakek.


"Kalau begitu, kami akan menunggunya. Tolong siapkan juga kamar kek, kami ingin menginap di sini," ucap Cakra Buana.


"Baik den. Tapi hanya tinggal satu kamar saja yang masih kosong,"


"Tidak masalah,"


"Baiklah. Aku akan menyiapkan kamar untuk kalian, beberapa orang-orangku akan menemani kalian," kata si kakak lalu beranjak pergi.


Tak berselang lama, muncul lima orang berpakaian serba merah. Kelimanya membawa sebatang pedang di pinggang mereka. Di lihat dari penampilan, mereka pasti merupakan pendekar. Meskipun kemampuannya tidak begitu tinggi.


"Salam hormat dari Lima Pedang untuk para pendekar muda," kata seorang di antara mereka memberikan hormat kepada Cakra Buana dan Ling Zhi.


"Salam hormat kembali tuan-tuan pendekar. Terimakasih sudah sudi menemani kami," jawab Cakra Buana.


Semua pendekar yang ada di sana lalu bercerita hal-hal ringan untuk menghilangkan rasa bosan. Sudah hampir satu jam mereka menunggu, tapi yang ditunggu belum juga datang.


Cakra Buana pun sudah tidak sabar, dia ingin segera mengetahui siapa sebenarnya Tiga Iblis Gunung Waluh itu.


Tak berselang lama, yang ditunggu pun datang juga.


Dari jarak lumayan jauh, pendengaran Cakra Buana yang sangat tajam itu mulai menangkap adanya suara derap langkah kuda. Derap langkah itu terbilang banyak, bahkan dari jarak sedemikian jauh pun bisa terdengar dengan jelas.


Derap langkah kuda tiba-tiba terhenti. Kuda-kuda pun langsung meringkik dengan keras memecahkan kesunyian malam yang mencekam ini.


Di depan gapura, terlihat ada segerombolan orang dengan pakaian serba hitam. Di paling depan ada tiga orang, mereka lah yang di maksud Tiga Iblis Gunung Waluh. Yang satu memakai baju cokelat, orang itu berumur sekitar empat puluh tahun. Tubuhnya tinggi, bajunya sengaja ia buka sehingga kelihatan bulu dadanya yang lebat. Dia bernama Sugra dan orang-orang menjulukinya Tangan Maut.


Di pinggirnya ada seorang pendekar yang memakai pakaian hijau, di punggungnya tersoren trisula berwarna emas. Umurnya sekitar tiga puluh lima tahun, wajahnya cukup tampan. Hanya sinar matanya yang menandakan bahwa dia orang yang kejam. Namanya Lodra, dia mendapatkan julukan si Trisula Sakti.

__ADS_1


Sedangkan satu lagi ada yang memakai pakaian hitam agak longgar. Dia memakai ikat kepala berwarna hitam yang terbuat dari kulit ular sendok. Kumisnya lebat melintang, di pipi kanannya ada luka goresan lumayan panjang. Dia yang paling kuat dan paling tua di antara kedua rekannya. Dia berjuluk si Bayangan Hitam, namanya Jalabra.


Ketiga orang itu merupakan kakak dan adik seperguruan, mereka berasal dari Perguruan Gunung Waluh. Tempat perguruan tersebut berada di bawah kaki Gunung Waluh. Perguruan itu memang terkenal dengan sepak terjangnya yang kejam.


Tiga Iblis Gunung Waluh lalu menjalankan kudanya perlahan memasuki Desa Waluh. Sedangkan anak buahnya menunggu di pintu masuk.


"Kalian semua, keluar dari rumah masing-masing jika ingin selamat. Berikan jatahku sekarang," mata Lodra si Trisula Sakti.


Suaranya menggelegar bagaikan guntur. Ada pengerahan tenaga dalam saat dia bicara, sehingga para warga yang mendengar akan merasa ketakutan dan langsung menuruti perkataannya.


Dan benar saja, tak berselang lama, satu persatu para warga mulai keluar dari rumahnya masing-masing. Sebagian dari mereka ada yang sudah membawakan buntelan berupa sesuatu yang mungkin berharga.


Para warga itu lalu duduk berlutut di depan Tiga Iblis Gunung Waluh. Terlihat di sana ada juga beberapa orang anak gadis.


Tiga Iblis Gunung Waluh lalu memerintahkan para anak buahnya untuk menjalankan tugas. Tak menunggu perintah dua kali, sepuluh orang anak buah langsung bergerak. Mereka mulai mengambil barang-barang dan beberapa anak gadis.


Namun belum sempat menyelesaikan semuanya, tiba-tiba satu orang anak buah Tiga Iblis Gunung Waluh terkapar dengan darah keluar dari keningnya.


"*******. Tunjukan batang hidungmu, jangan jadi pengecut," teriak Lodra sambil memaki.


"Ada apa adi Lodra?" tanya Jalabra penasaran.


"Ada orang yang mencoba mengganggu kita kakang," jawab Lodra.


"Hemmm …" Jalabra hanya mendengus sambil melihat sekeliling.


"Werrr …"


"Takkk …"


"Ahhh …"


Kejadian terulang kembali. Satu anak buah Tiga Iblis Gunung Waluh tewas lagi dengan luka yang sama. Para warga semakin panik, yang merupakan keluarga mulai berpelukan untuk menenangkan diri.

__ADS_1


"Sialan. Kalau memang kau pendekar, keluar!!! Jangan hanya jadi pengecut," Lodra Kembali berteriak lebih kencang sambil terus memaki.


"Werrr …"


"Tappp …"


Sebuah kerikil dengan ukuran sama melesar ke arahnya. Dengan kecepatan luar biasa. Namun dia bukanlah pendekar abal-abal, sehingga Lodra bisa menangkap kerikil itu dengan mudah lalu menghancurkannya.


"Prokk … prokk … prokk …"


"Bagus, bagus, pantas kalian berani membuat kekacauan. Ternyata memiliki ilmu yang lumayan juga," kata seseorang dengan pakaian serba putih sambil terus bertepuk tangan. Di belakangnya ada lima orang pria dan satu orang wanita.


Tak lain dan tak bukan, dialah Cakra Buana. Memang, yang dari tadi melemparkan batu kerikil pun adalah dirinya sendiri.


Tiga Iblis Gunung Waluh kaget ketika melihat ada seorang pendekar muda datang. Semua anak buahnya yang sedang merampas barang-barang pun langsung berhenti. Mereka lalu berdiri sejajar di depan pemimpinnya.


"Siapa kau?" tanya Lodra. Tatapan matanya mencorong tajam bagaikan mata kucing di kegelapan.


"Aku malaikat maut bagi kalian," jawab Cakra Buana dengan santai.


"*******. Maish muda tapi berlagak sombong," maki Sugra yang langsung melompat turun dari kudanya diikuti Jalabra.


"Hahaha … memang kenyataan seperti itu. Aku akan menjadi malaikat maut bagi kalian. Pergi sebelum kesabaranku habis, kalian bukan lawanku," kata Cakra Buana sengaja memancing amarah lawan.


"Pemuda tak tahu diri. Justru yang harus berkata seperti itu adalah kami. Pergilah sebelum pikiranku berubah," kata Jalabra dengan tenang. Namun dalam ucapannya terdengar jelas ada penekanan.


"Diam kau orang tua. Pergi sana! Cukur kumismu itu. Aku jijik melihatnya," maki Cakra Buana.


Mendengar ejekan itu, bukan main marahnya si Jalabra. Kedua tangannya dikepalkan kuat-kuat. Bahkan dari kepalan tangan itu, keluar asap putih.


"Kenapa kalian hanya diam? Sedang dia bodoh!!!" teriak Jalabra kepada semua anak buahnya.


Mendengar perintah dari tuannya, serempak anak buah yang kini hanya delapan orang itu langsung maju menyerang. Di sisi lain, para pendekar yang mengaku sebagai Lima Pedang pun langsung maju. Sedangkan Cakra Buana dan Ling Zhi, masih terdiam dengan tenang.

__ADS_1


__ADS_2