
Mereka pun lalu pergi dari markas Organisasi Golok Setan. Ada rasa bangga di hati para pribumi itu karena telah lahir seorang pendekar muda yang memiliki kepandaian tinggi.
Terlebih mereka para tawanan wanita, rasanya baru kali ini melihat seorang pemuda yang begitu tampan dan gagah. Tapi tentunya mereka tidak berani mengucapkan secara langsung. Mereka tidaklah bodoh.
Setelah semua tawanan kembali, kini yang tersisa hanyalah Langlang Cakra Buana dan pendekar yang tertawan tadi. Keduanya masih diam. Hingga akhirnya Cakra Buana memulai pembicaraan.
"Maaf, kalau boleh tahu, siapa nama kisanak?" tanya Cakra Buana.
"Ah … sungguh tidak sopan, aku bahkan tidak memperkenalkan diri kepada penolongku. Perkenalkan, aku Andi Lumut, aku berasal dari timur, Gowa (Makassar)," katanya memperkenalkan diri.
"Ah, salam kenal Andi. Perkenalkan, aku Langlang Cakra Buana. Panggil saja Cakra," ucapnya.
"Nama yang bagus. Sekali lagi terimakasih Cakra, aku berhutang padamu,"
"Tidak ada hutang piutang dalam hal ini. Memang sudah kewajiban bagi yang mampu untuk menolong siapapun yang membutuhkan. Ngomong-ngomong, kenapa kau jauh-jauh bisa sampai kesini?" tanya Cakra Buana.
"Sebenarnya aku memang ditugaskan oleh guruku untuk membantu mengusir organisasi jahat yang ada di seluruh nusantara. Tapi aku memilih ke tanah Pasundan dulu, karena itulah aku bisa sampai kesini," katanya menjelaskan.
"Hemmm … itu artinya, kau akan pergi mengembara lagi jika orang-orang jahat di tanah Pasundan ini sudah musnah?"
"Bisa dibilang begitu. Kau sendiri, tujuanmu ke mana?"
"Aku memang disuruh guruku untuk menumpas kejahatan. Aku diberikan tugas, kalau begitu, bagaimana jika kita mencari markas utama organisasi ini? Aku yakin pasti ada," kaya Cakra Buana memberikan usul.
"Ide yang bagus. Baik, mari kita menuju markas mereka," kata Andi Lumut.
__ADS_1
"Tapi … apakah kau tahu dimana markas organisasi busuk itu?"
"Tentu saja, tapi kita harus berhati-hati. Karena di sana banyak pendekar yang memiliki kepandaian tinggi menjadi antek-antek organisasi,"
"Tidak masalah. Aku yakin kita bisa melawan mereka, karena menurutku kau memiliki kepandaian tinggi. Dan sebetulnya kau memang sengaja menyerahkan diri supaya bisa memahami situasi mereka bukan?"
"Hahaha … kau cerdas Cakra. Kurang lebih seperti itulah, mari kita segera berangkat ke sana," ajak Andi Lumut.
Kedua pendekar itupun lalu pergi meninggalkan desa tersebut untuk menuju ke markas utama Organisasi Golok Setan.
###
Langlang Cakra Buana dan Andi Lumut akhirnya sampai ditempat tujuan mereka ketika sudah terang hari. Ternyata markas utama itu cukup jauh letaknya.
Markas utama Organisasi Golok Setan merupakan sebuah bangunan yang tiga kali lebih besar daripada markas sebelumnya. Para tentara yang ada di sana tak kurang dari lima puluh orang dengan panah di tangan sebagai senjata mereka masing-masing.
Andi Lumut dan Langlang Cakra Buana belum bergerak. Keduanya masih mengamati keadaan sekitar. Meskipun belum kehitung siang hari, tapi keadaan di markas utama itu sudah ramai.
Setelah mengamati situasi cukup lama, keduanya kini bersiap untuk segera bergerak dengan sebuah rencana.
"Cakra, kita berpencar. Kau menyerang sebelah kiri, aku sebelah kanan. Kita usahakan supaya menghabisi para tentara itu secepat mungkin. Jadi ketika para pendekar lain mengetahui hal ini, kita bisa melawan dengan leluasa," kata Andi Lumut kepada Langlang Cakra Buana.
"Ide yang bagus. Baik, aku akan menghabisi semua tentara itu secepat mungkin. Semoga berhasil. Kita mulai sekarang," kata Cakra Buana lalu melesat dengan cepat untuk memulai aksinya.
Bersamaan dengan Cakra Buana, Andi Lumut pun ikut bergerak. Kedua pendekar itu siap mengobrak-abrik markas besar organisasi tersebut.
__ADS_1
Terdengar seperti bunuh diri memang, tapi lain ceritanya jika sudah mengetahui kehebatan mereka berdua.
Para pasukan yang sedang berkumpul bersama rekan-rekannya kaget ketika mengetahui didepan mereka tiba-tiba saja ada seorang pemuda berpakaian serba putih.
Belum sempat mereka bertindak lebih jauh, tahu-tahu pemuda itu sudah bergerak hingga tak lama kemudian, satu-persatu dari para tentara yang berjumlah sekitar sepuluh orang itu mulai tewas bersimbah darah karena luka pada leher dan dada mereka.
Mendengar ada keributan, para tentara lain mulai berdatangan. Kira-kira jumlahnya dua puluh lima orang, masing-masing dari mereka memegang panah yang sudah ditodongkan kepada pemuda asing yang tak lain Cakra Buana.
Melihat ini, Pendekar Maung Kulon itu langsung bergerak lagi tanpa memberi ampun. Pemuda itu bergerak ke sana kemari seperti seekor burung walet yang menyambar-nyambar.
Perlahan tapi pasti, semua pasukan tewas ditangannya tanpa perlawanan berarti.
Di sisi lain, Andi Lumut pun sudah bergerak. Separuh dari semua tentara yang menghadapinya sudah tewas secara mengenaskan. Tubuh mereka gosong seperti terbakar.
Andi Lumut berdiri dengan tenang sambil memegang sebuah badik di tangan kanannya. Meskipun ukurannya hanya sejengkal, tapi badik itu bukanlah badik biasa.
Badik yang dipegang oleh pendekar dari timur itu merupakan badik pusaka. Dimana sesuai adat di Goa (Makassar) badik disebut juga sebagai saudara.
Baik pria maupun wanita, pasti memiliki badik sendiri-sendiri. Badik takkan bisa terpisahkan dari budaya Goa sana.
Semenjak di kandungan dalam usia tertentu, orang tua akan menyiapkan sebuah besi yang nantinya akan dijadikan badik. Ketika bayi dalam kandungan lahir, maka badik sudah ada dipinggir bayi itu.
Para tentara lain mulai berdatangan mengepung Andi Lumut hingga menjadi sebuah lingkaran dan pemuda itu tepat berada ditengah-tengah.
Pasukan Organisasi Golok Setan mulai menembaki Andi Lumut dengan panah, tapi dengan tenangnya pemuda itu berputar sambil mengayunkan badiknya.
__ADS_1
Sinar keperakan muncul menyambar semua pasukan hingga beberapa saat kemudian, mereka tewas dengan kondisi yang sama. Yaitu seperti terbakar.