Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Jagat Sukma Pati


__ADS_3

Kelima belas pendekar itu langsung keluar bersamaan. Setelah mereka tiba di luar Istana Kerajaan, mereka lalu pergi berpencar mencari-cari informasi. Untuk orang-orang seperti mereka, mendapatkan informasi bukanlah perkara sulit. Mereka sudah terbiasa menjalankan tugas-tugas tumit yang diberikan oleh junjungannya.


Di Istana Kerajaan, Prabu Ajiraga masih saja merasa sangat penasaran. Hatinya berkata bahwa pelakunya adalah Cakra Buana, sudah pasti dia. Tapi di sisi lain, dia pun merasa sangsi. Untuk beberapa saat raja itu berpikir demikian. Pikirannya terus dihantui oleh tanda tanya besar.


Namun pada akhirnya dia memutuskan untuk tidak memikirkan hal itu lagi. Yang terpenting, saat ini orang-orangnya sudah bergerak mencari informasi. Dan biasanya, dalam waktu kurang dua hari saja, mereka sudah kembali sambil membawa apa yang dia inginkan.


###


Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu tiba di kotaraja Kerajaan Kawasenan tepat saat matahari tenggelam. Keduanya memilih untuk beristirahat terlebih dahulu di sebuah penginapan dan memesan makanan. Pendekar Tangan Seribu memutuskan bahwa lebih baik menemui Prabu Ajiraga besok pagi. Karena kalau sekarang, dia takut mengganggu ketenangan pihak kerajaan dan akan menimbulkan masalah.


Keduanya lalu memasuki penginapan yang ada di sana. Seorang pelayan wanita berumur sekitar tiga puluh lima tahun menyambut kedatangan kedua pendekar itu. Kuda mereka seperti biasa, di titipkan kepada penjaga kuda.


Cakra Buana segera memesan makanan sekaligus dua kamar untuknya. Suasana di tempat tersebut cukup ramai, orang-orang yang berasal dari berbagai macam kalangan ada di situ.


Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu memilih untuk duduk di meja paling belakang supaya bisa lebih leluasa melihat-lihat keadaan. Sambil menunggu makanan, Cakra Buana mengatakan sesuatu kepada Pendekar Tangan Seribu.


"Paman, besok apakah aku harus ikut ke istana?" tanya Cakra Buana.


"Terserah kau saja pangeran. Aku tidak akan memaksamu untuk ikut ke dalam. Tapi kalau kau mau, aku pun tak bisa melarang. Asalkan kau bisa menutup identitasmu supaya mereka tidak mengenali dirimu," jawab Pendekar Tangan Seribu.


"Baiklah kalau begitu, besok aku akan pergi bersamamu ke istana. Namun sebelum itu, aku harus membeli pakaian dulu supaya mengubah penampilan,"


"Ide yang bagus. Aku rasa memang seharusnya demikian pangeran. Jadi besok sebelum berangkat ke istana, kau harus pergi dulu mencari pakaian yang cocok,"


"Baik paman. Aku akan mendengarkan saran darimu. Tapi … apakah besok kita akan langsung bertindak?"


"Maksudmu?" tanya Pendekar Tangan Seribu masih belum faham apa yang diucapkan oleh Cakra Buana.


"Iya, maksudku apakah besok kita akan membuat keributan di kerajaan. Atau jangan membuat onar dulu?"

__ADS_1


"Untuk masalah itu kita harus melihat situasi dulu. Kalau mereka menjual, maka kita akan membelinya tanpa sungkan," jawab Pendekar Tangan Seribu.


"Baiklah kalau begitu. Aku ikut apa katamu,"


Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu berhenti bercerita karena makanan yang mereka pesan sudah datang. Ayam bakar nasi liwet dan ikan bakar sudah sedia. Tanpa berlama-lama, keduanya lalu makan dengan lahap karena sudah merasa lapar sejak tadi.


Setelah selesai makan, Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu segera menuju ke kamarnya masing-masing. Mereka tertidur lebih awal dari biasanya karena besok akan ke Istana Kerajaan. Keduanya sengaja menyiapkan energi kalau-kalau sesuatu yang tak di inginkan terjadi.


Pagi harinya, saat setelah selesai membersihkan diri dan sarapan, Cakra Buana beserta Pendekar Tangan Seribu pergi ke toko pakaian. Cakra Buana membeli pakaian berwarna abu-abu di sebuah toko pakaian yang ada di sekitar kotaraja.


Setelah selesai, keduanya kembali lagi ke penginapan untuk membawa persiapan.


Cakra Buana menyimpan Pedang Pusaka Dewa di balik jubahnya. Dia sendiri kembali mengenakan topeng ukiran kayu serta mengubah suaranya supaya tidak ada yang mengenali.


"Paman, nanti saat tiba di istana, kau panggil aku Jagat Sukma Pati," kata Cakra Buana mengubah namanya untuk sementara.


"Kenapa kau ingin menggunakan nama itu pangeran?" tanyanya keheranan.


"Kalau begitu, baiklah pangeran. Jika semua persiapan sudah siap, mari kita segera berangkat," ajak Pendekar Tangan Seribu.


Cakra Buana membalas dengan anggukan. Keduanya lalu berjalan berdampingan menuju ke Istana Kerajaan Kawasenan. Di sepanjang jalan orang-orang sudah ramai berlalu-lalang. Teriakan sahut-menyahut dari para pedang sekitar terus terdengar di sepanjang jalan.


Beberapa orang prajurit keamanan juga terlihat bolak-balik mengontrol. Hanya membutukan waktu sepeminum teh, Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu sudah tiba di gerbang kerajaan. Gerbang itu di jaga oleh sepuluh orang penjaga. Seorang penjaga gerbang lalu maju saat melihat dua orang yang datang tersebut.


"Sampurasun …" kata Pendekar Tangan Seribu mendahului.


"Rampes. Siapakah kalian ini ki dulur, dan ada perlu apa kemari?" tanya penjaga gerbang.


Pendekar Tangan Seribu maju satu langkah. Dia tidak menjawab pertanyaan tersebut. Sebaliknya, dia langsung memberikan lencana Kerajaan Tunggilis. Melihat tanda tersebut, si penjaga gerbang tidak mau lagi banyak bicara. Dia kemudian menyuruh rekannya untuk membukakan pintu gerbang.

__ADS_1


"Silahkan masuk tuan-tuan," ucap penjaga gerbang tersebut sambil memberikan tanda menggunakan tangan kanannya.


Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu lalu masuk ke dalam setelah sebelumnya sudah menganggukkan kepala tanda terimakasih.


Keduanya mulai berjalan menuju ke istana. Cakra Buana melihat ke sekelilingnya. Ternyata tidak ada yang banyak berubah di kerajaan itu kecuali hanya pemandangan taman yang nampak lebih indah.


Hati Cakra Buana terasa perih saat mengingat kejadian beberapa tahun lalu ketika gurunya –Eyang Resi Patok Pati– masih tinggal di sini. Tak disangkanya bahwa orang tua itu akan meninggal akibat kebusukan orang-orang kerajaan.


Sebisa mungkin Pendekar Maung Kulon itu menahan amarahnya yang sudah memuncak. Dadanya sudah naik turun tidak karuan karena gejolak dalam dirinya begitu besar. Cakra Buana berusaha untuk menekan semua perasaan itu meskipun tidak bisa.


Tak terasa keduanya sudah tiba di pintu utama kerajaan. Seperti sebelumnya, seorang penjaga menanyakan siapa mereka. Tapi Pendekar Tangan Seribu memperlihatkan kembali lencana Kerajaan Tunggilis.


Setelah mengetahui dua orang itu merupakan utusan Kerajaan Tunggilis, maka si penjaga tersebut mengantarkan mereka ke ruangan utama di mana terdapat Prabu Ajiraga beserta yang lainnya.


"Hormat Baginda Raja. Ada dua orang yang ingin bertemu dengan baginda," kata penjaga tersebut memberikan laporan.


"Siapa orang itu?" tanya Prabu Ajiraga.


"Keduanya merupakan urusan dari Kerajaan Tunggilis baginda,"


"Baik, suruh mereka masuk," ucap Prabu.


Tak lama Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu pun segera masuk. Mereka segera memberikan hormat untuk raja itu.


"Salam hormat untuk Yang Mulia Raja. Semoga kebahagiaan selalu menyertai baginda," ucap Pendekar Tangan Seribu sambil memberikan hormatnya dengan cara menundukan kepala dan berlutut dengan satu kaki kanan. Tangannya di taruh juga di atas lutut kanan.


"Terimakasih, silahkan berdiri,"


"Bisakah kalian perkenalkan nama?"

__ADS_1


Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu segera berdiri setelah mendapatkan perintah. Kemudian mereka segera memperkenalkan dirinya.


"Hamba biasa disebut Pendekar Tangan Seribu. Dan ini rekan hamba, Jagat Sukma Pati si Pendekar Bertopeng. Kami di utus oleh Prabu Katapangan Kresna untuk menemui Yang Mulia Raja," katanya memperkenalkan diri.


__ADS_2