
Setelah merasa cukup untuk istirahat, Cakra Buana lalu bersemedi untuk menyiapkan segalanya. Dia harus siap lahir dan batin. Karena hal yang akan dia hadapi sekarang, sudah pasti tidak semudah yang dibayangkan.
Dalam hal apapun harus siap. Apalagi seperti Cakra Buana sekarang, kalau dia tidak siap, bisa-bisa urusannya malah bertambah rumit.
Dia mulai bersemedi dengan tenang sambil menunggu tengah malam tiba. Semakin malam, Cakra Buana semakin memasuki alam bawah sadarnya.
Malam hari adalah waktu yang paling cocok untuk memperoleh ketenangan.
Setelah waktunya tiba, Cakra Buana segera memakai pakaian. Tak lupa juga dengan Pedang Naga dan Harimau warisan Pendekar Tanpa Nama yang kini dia pakai untuk nama dirinya.
Dia membuka pintu kamar lalu melangkah keluar dengan tenang. Tenang dan penuh percaya diri.
Kebetulan Cakra Buana melihat ada kasir penginapan sedang menghitung penghasilan hari ini. Karena itu, dia menanyakan di mana tempat Bukit Sabdo Dewo berada.
"Bukit Sabdo Dewa ada di pintu masuk Selatan den. Aden ke sana saja, nanti ambil jalan bagian kiri, setelah itu ada pertigaan ambil bagian kanan. Dari situ aden tinggal lurus saja. Nanti sudah terlihat bukitnya dari jauh," kata si kasir menjelaskan letak Bukit Sabdo Dewo.
"Baik kalau begitu. Terimakasih," jawabnya lalu pergi keluar dari penginapan.
Letak tempat tujuan sudah di dapat. Kini tinggal waktunya untuk ke sana.
Dia langsung menggunakan ilmu meringankan tubuh semaksimal mungkin. Setelah beberapa jarak, Cakra Buana mengambil jalan bagian kiri. Saat mendapat pertigaan, dia mengambil jalan kanan.
Menurut penjelasan si kasir tadi, kini dia tinggal lurus saja. Dan ternyata memang benar. Dari jauh sudah nampak sebuah bukit menjulang tinggi yang keangkerannya terlihat jelas.
Cakra Buana segera menuju ke sana. Setelah hampir seperempat jam menyusuri jalanan sepi dan hutan, akhirnya dia sampai di Bukit Sabdo Dewo.
Ternyata di sana memang ada sebuah lapangan yang sangat luas. Terlihat juga ada puluhan orang berkumpul di lapangan tersebut. Jumlah mereka tidak kurang dari lima puluh orang.
Lima di antaranya merupakan pendekar yang memiliki kepandaian lumayan menurut pengamatan Cakra Buana.
__ADS_1
Pemuda itu mulai berjalan dengan langkah ringan ke tempat orang-orang tersebut berkumpul. Tak ada keraguan, tak ada ketakutan. Yang ada hanyalah rasa percaya diri dan ketenangan tinggi.
Dari sini saja orang akan melihat lain. Memang kenyataannya begitu, andai kau berjalan di tengah kerumunan orang dengan langkah tenang dan penuh rasa percaya diri, maka orang-orang tersebut akan memandangmu secara berbeda.
Cakra Buana sudah sampai di hadapan puluhan orang tersebut. Terlihat orang-orang itu mengepungnya. Namun dia tidak menghiraukan sama sekali.
"Nuwun sewu (permisi), apakah sampeyan (kamu) yang mengaku Pendekar Tanpa Nama?" tanya seorang agak tua kepada Cakra Buana.
"Benar, aku sendiri. Apakah tuan yang mengirimkan surat untukku tadi?" tanya Cakra Buana.
"Benar. Aku yang mengirimkan surat itu. Tak disangka kau benar-benar datang," puji orang tua tersebut.
"Tidak ada persoalan, tentunya aku pasti datang. Bahkan kalau ada pun, aku akan tetap datang," katanya dengan tenang.
"Hahaha, hebat, hebat. Orang muda yang mengaku sebagai Pendekar Tanpa Nama memang tidak mengecewakan," katanya tertawa.
"Terimakasih. Maaf kalau boleh tahu, dengan siapa aku bicara?" tanya Cakra Buana masih memakai sopan santun.
Cakra Buana tertegun sebentar. Siang tadi dia mencari-cari informasi tentang dunia persilatan Tanah Jawa dan nama-nama tokoh aliran hitam yang mempunyai nama. Tidak disangka malam ini dia bertemu dengannya.
"Maaf, apakah paman yang disebut si Hantu Bertangan Enam, ketua cabang dari Organisasi Tengkorak Maut?" tanya Cakra Buana penuh selidik.
Hangkara Sanggana juga tertegun. Dia tidak menyangka bahwa namanya sangat terkenal sehingga orang baru seperti pemuda yang kini di hadapannya bisa tahu. Tetapi, orang tua itu tidak mau membanggakan diri, apalagi dia mengetahui bahwa pendekar muda tersebut bukan pendekar biasa.
"Ah tidak berani. Itu hanyalah candaan orang saja. Aku sendiri tidak berani menerima julukan tersebut, kalau tentang ketua cabang itu, benar," jawabnya berusaha menutupi rasa senang.
Cakra Buana sudah paham sekarang. Ternyata dia sudah mencari gara-gara dengan organisasi yang cukup mempunyai nama di Tanah Jawa ini.
Organisasi Tengkorak Maut ini adalah kumpulan orang-orang aliran hitam yang bersatu dalam satu kekuatan. Untuk saat ini, tujuan terbentuknya organisasi ini adalah mempererat tali persaudaraan di antara mereka.
__ADS_1
Sehingga siapapun yang mencari masalah dengan Organisasi Tengkorak Maut, maka dipastikan akan mendapat masalah yang rumit. Bahkan para pendekar aliran putih di Tanah Jawa pun berpikir dua kali untuk berani berurusan dengan organisasi ini.
Yang berani adalah mereka para pendekar yang tergabung juga dalam wadah Organisasi Pelindung Negeri. Yaitu organisasi yang dibuat oleh pihak kerajaan sendiri.
Sedangkan Cakra Buana tidak bergabung dalam organisasi apapun. Bahkan dia hanya sendiri, tapi kenapa berani mencari masalah? Andai kata orang lain mengetahui masalah ini, mungkin dia akan dianggap gila.
"Maaf kalau begitu, tapi tujuan tuan mengundangku kemari atas dasar tujuan apa?" tanya Cakra Buana masih berusaha sopan dan tenang.
"Hanya sekedar ingin bercengkrama. Karena kau sudah tahu siapa aku, bagaimana kalau lebih baik kita menjalin persahabatan? Bukankah banyak sahabat lebih baik? Biarlah masalah tadi siang lupakan saja. Asal kau bersedia untuk minta maaf, maka masalah tadi selesai sampai di sini saja," kata Hangkara Sanggana si Hantu Bertangan Enam.
Cakra Buana sudah paham maksud tujuan orang itu. Maka tanpa sungkan lagi dia segera angkat bicara.
"Terimakasih, terimakasih, kalau tuan Hangkara si Hantu Bertangan Enam ingin bersahabat denganku yang muda ini, tentu hal itu adalah anugerah besar. Aku tidak berani menolak. Tetapi untuk meminta maaf gara-gara masalah tadi siang, maaf, aku tidak bisa melakukannya," jawab Cakra Buana.
Si Hantu Bertangan Enam nampak mulai gusar. Perubahan di wajahnya sangat terlihat.
"Kalau tidak mau meminta maaf, itu sama saja artinya kau menolak ajakan persahabatanku," katanya dengan suara mulai berat.
"Aku tidak berani menolak persahabatan. Tetapi sungguh, kalau aku disuruh untuk meminta maaf, aku tidak akan melakukannya. Apalagi, yang bersalah bukanlah aku," kata Cakra Buana tetap pada pendiriannya.
"Anak muda," katanya dengan nada meninggi. "Sekali lagi aki tawarkan, minta maaf atau tidak?"
"Tidak," jawab tegas pemuda itu.
"Kalau begitu, berarti kau memang menolakku dan berniat untuk mencari masalah dengan Organisasi Tengkorak Maut, benar?" bentaknya.
"Kalau tuan terus menganggap seperti itu, terserah," ujar Cakra Buana mulai kesal.
"Baik, baik. Kalau begitu biarlah orang-orangku mencoba sampai di mana ketinggian ilmumu sehingga berani melawan Hantu Bertangan Enam," kata orang tua itu lalu memerintahkan lima orang anak buahnya maju ke depan.
__ADS_1
"Anak muda, biarlah kami Lima Serigala menguji sampai di mana kemampuanmu," kata salah seorang dari lima orang tersebut.
"Baik, silahkan," jawab Cakra Buana dengan santai.