Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Pertarungan di Gunung Puteri


__ADS_3

Setan Baja Ireng menurut. Dia membatalkan niatnya, dia lalu berniat untuk pergi. Tapi sebelum itu, Setan Baja Ireng memberikan keterangan kepada lawan.


"Jika kau ada nyali, datanglah ke Gunung Puteri. Aku tunggu disana," kata Setan Baja Ireng lalu pergi dengan cepat.


Langlang Cakra Buana sempat ingin mengajarnya, tapi tidak jadi. Dia lebih baik memilih untuk memeriksa keadaan gadis yang saat ini tergeletak pingsan karena sebuah totokan.


Setelah diperiksa gadis itu tidak apa-apa, lalu dia pun membawanya ke dalam rumah dan memeriksa juga keadaan disana.


Dua orang pria dan wanita berusia 40-50 tahun pingsan. Sepertinya mereka merupakan orang tua dari gadis ini. Langlang Cakra Buana lalu menyadarkan mereka. Setelah sadar dan pulih, kedua pria dan wanita itu lalu mengucapkan rasa terimakasih.


"Terimakasih karena Aden sudah menyelamatkan kami semua. Kalau boleh tahu, nama Aden siapa?" tanya si pria.


"Sudah kewajiban manusia untuk tolong-menolong. Nama saya Cakra Buana, paman," ucapnya.


"Ah … sekali lagi terimakasih den Cakra,"


"Paman, kalau boleh tahu, bukankah pria tinggi besar tadi adalah Setan Baja Ireng?" tanya Langlang Cakra Buana.


"Benar den. Dia datang kesini untuk membawa anak kami. Beberapa waktu belakangan ini, dia memang telah menculik para gadis di desa Ciherang," ucap pria itu.


"Apakah belum ada pada pendekar yang menghalaunya?"


"Sudah. Tapi tak ada yang berhasil,"


"Hemmm … ternyata dia cukup merepotkan. Lalu … apakah paman tahu dimana letak Gunung Puteri berada?" tanya Langlang Cakra Buana.


"Tahu den. Gunung itu terletak sebelah utara, dari sini paling hanya membutuhkan waktu setengah hari saja untuk sampai kesana," katanya memberitahu.


"Oh … terimakasih paman,"


Selesai berkata demikian, Langlang Cakra Buana lalu segera menghilang dari hadapan keluarga itu. Bahkan dia tidak sempat bertanya mereka siapa.


"Pendekar sejati selalu tidak mengharapkan imbalan," kata pria tadi sambil memandangi arah kepergian Langlang Cakra Buana.


Mereka pun lalu membereskan barang-barang yang berantakan. Tak lupa juga kelima penjaganya yang tewas. Dia berniat untuk menguburkan mereka esok hari.


Langlang Cakra Buana saat ini sedang melesat menggunakan ilmu Saifi Angin miliknya ke arah utara dengan cepat. Dia berniat untuk menuju Gunung Puteri dan melakukan pengintaian lebih dulu.


Menurut perkataan pria yang dia tolong, dibutuhkan waktu setengah hari saja jika ingin sampai kesana. Itu berarti, jika berangkat malam seperti ini, maka dia akan sampai disana pagi-pagi buta.


Dan benar ucapan pria itu, Langlang Cakra Buana tiba di Gunung Puteri tepat ketika mentari pagi baru muncul sedikit.

__ADS_1


Saat ini dia sedang mencari-cari dimana kediaman Setan Baja Ireng. Beberapa saat mencari, akhirnya dia menemukan sebuah gubuk yang sudah lumayan tua. Di pinggir gubuk itu terdapat goa yang cukup besar dan sudah dipenuhi lumut.


Pemuda serba putih itu memperhatikan tempat disekelilingnya. Ternyata tidak ada siapa-siapa, kecuali ada dua orang pria. Salahsatunya Setan Baja Ireng.


"Hemmm … mungkin itu gurunya. Ya benar, tak salah lagi. Mereka adalah guru dan murid," gumam Langlang Cakra Buana ketika melihat ada pria paruh baya.


Pria paruh baya itu tak kalah seramnya, matanya mencorong. Seluruh pakaiannya hitam, dia memegang tongkat berkepala tengkorak serta memakai kalung jantung manusia.


Saat ini guru dan murid itu seperti akan melakukan sesuatu, keduanya sedang bicara didepan mulut goa. Lalu keduanya masuk ke dalam.


Melihat hal mencurigakan ini, Langlang Cakra Buana pun lalu meloncat dari tempat persembunyiannya untuk menuju kesana. Dia ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya.


Betapa kagetnya murid Eyang Resi Patok Pati itu ketika melihat puluhan mayat gadis yang hampir membusuk dengan tubuh telanjang bulat. Dada setiap gadis itu robek seperti ada organ tubuh yang diambil.


Di ujung goa terdapat batu berbentuk meja, di pinggirnya ada beberapa gadis yang masih hidup. Tapi kondisi mereka pun mengkhawatirkan. Badannya kurus kering, dan dari raut wajahnya tersirat rasa ketakutan.


Setan Baja Ireng dan gurunya mendekati gadis itu lalu mengeluarkannya dari sebuah kurungan yang terbuat dari kayu keras. Setelah dikeluarkan, kemudian gadis itu ditelanjangi tanpa belas kasihan.


Karena geram melihat kelakuan kedua guru dan murid ini, Langlang Cakra Buana pun lalu menampakkan dirinya dibelakang mereka.


"Jahanam!!! Guru dan murid sama-sama iblisnya," bentak Langlang Cakra Buana.


Guru dan murid itu kaget, mereka lalu membalikkan badan dan ternyata, seorang pendekar muda sudah berdiri menatap mereka dengan tajam.


"Benar guru …" jawabnya.


"Hemmm … berani sekali kau mendatangi kandang macan dan mengganggunya. Jangan harap bisa keluar dengan selamat," kata pria paruh baya itu lalu maju melesat Langlang Cakra Buana.


Pemuda serba putih itu mundur dan keluar dari goa. Dia mencari lapangan yang lumayan luas.


"Sekali lagi aku peringatkan, pergi sebelum aku berubah pikiran," bentak pria paruh baya itu.


"Aku akan pergi jika kau dan muridmu sudah tewas jadi santapan anjing hutan …"


"Keparat …"


Dengan marah pria paruh baya itu menerjang Langlang Cakra Buana. Kakinya diayunkan kesamping kanan dan kiri mengincar kepala. Tapi dengan mudahnya pemuda itu menghindari hujan tendangan yang datang.


Pertarungan pun sudah berjalan dengan seru, adu pukulan dan tendangan sudah dilancarkan. Ternyata walaupun sudah tua, pria paruh baya itu masih lincah bagaikan seorang pemuda. Umur bukan menjadi halangan baginya.


Pria paruh baya itu mulai menyerang menggunakan tongkatnya, tongkat itu disabetkan kesana-kemari hingga menimbulkan bunyi berdengung.

__ADS_1


Sinar-sinar hitam terus keluar ketika tongkat itu digerakan. Langlang Cakra Buana masih menghindari serangan lawan, dia ingin mengukur sampai dimana kepandaiannya.


"Wuttt … wuttt …"


Tongkat itu semakin lama semakin bergersk cepat dan sukar dilihat mata. Buru-buru Cakra Buana mencabut Pedang Pusaka Dewa dari sarungnya.


"Trangg … trangg …"


Tongkat dan pedang mulai beradu dengan keras. Keduanya terpundur ke belakang. Mereka saling memperhatikan satu sama lain, pertarungan berhenti sejenak.


"Darimana kau bisa memiliki Pedang Pusaka Dewa?" tanya si pria paruh baya.


"Itu bukan urusanmu, yang jelas aku datang kesini untuk membunuhmu," jawab Langlang Cakra Buana.


"Sombong … haitt …"


Pria paruh baya itu kembali menyerang dengan tongkatnya. Kali ini kedua kakinya pun turut andil. Gerakannya tangkas dan mematikan, tapi lawan yang dia hadapi saat ini bukanlah seorang pendekar kacangan.


Langlang Cakra Buana mulai mengeluarkan jurus-jurus Dewa Bermain Pedang.


'Sang Dewa Memburu Iblis'


Dengan gerakan cepat dan tidak diduga, pemuda serba putih itu balik menyerang dengan ganas. Pedangnya dia ayunkan secara cepat dan sulit ditebak. Kemana pun lawannya menghindar, maka pedangnya ada disana.


"Utsss …"


Pria paruh baya itu mundur ke belakang. Hampir saja perutnya jadi korban keganasan Pedang Pusaka Dewa.


"Keparat!!!"


Tiba-tiba Setan Baja Ireng ikut menyerang saat melihat gurunya hampir jadi korban. Dia menerjang dengan kakinya yang kekar menuju ke arah dada Langlang Cakra Buana.


"Wuttt …"


Pemuda serba putih itu mundur ke belakang dan tendangan Setan Baja Ireng Pun luput.


###


Kalau cerita ini beda dari yang lain maaf ya, karena ini bukan seperti kebanyakan yang ada kompetisi dan lain-lain.


Cakra Buana ini menceritakan tentang perjuangan untuk menyatukan kerajaan, selain itu, disini juga menceritakan pembebasan para penduduk pribumi dari penjajah.

__ADS_1


Karena zaman kerajaan ini para penjajah sudah berdatangan dari berbagai penjuru seperti sejarah yang ditulis. Jadi bukan mengisahkan menjadi yang terkuat atau apa, tapi mengisahkan tentang perjuangan rakyat nusantara yang saat itu belum bersatu padu. Khususnya ditanah Pasundan🙏


Semoga terhibur🙏silahkan tinggalkan tanggalan di komentar🙏


__ADS_2