
"Sekali lagi aku ingatkan kepada kalian. Pergilah sekarang juga. Beri aku muka di hadapan tamu-tamuku, setidaknya untuk saat ini saja," ucap Gagak Bodas.
Namun perkataan Gagak Bodas barusan itu malah mendapatkan jawaban berupa serangan. Keempat lawannya menerjang berbarengan sambil mengeluarkan jurusnya masing-masing.
Sebelum keempatnya tiba, Jalak Putih segera memberikan perintah kepada Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu untuk menyingkir terlebih dahulu.
"Pendekar, kau menyingkirlah dulu. Biar orang-orang tidak tahu sopan santun ini kami bereskan. Kami bertanggungjawab atas keselamatan kalian," ucap Jalak Putih tanpa menoleh.
Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu mengerti apa yang diucapkan oleh Jalal Putih. Oleh sebab itu keduanya tidak lagi membantah.
"Baiklah kalau begitu. Maafkan kami karena sudah merepotkan kalian berdua," ucap Pendekar Tangan Seribu lalu melangkahkan kakinya dan duduk di bale-bale bambu tadi bersama Pendekar Maung Kulon.
Tepat saat keduanya melangkahkan kaki, keempat lawan telah tiba. Tangan mereka mengandung tenaga dalam tersendiri dan siap untuk melancarkan serangan.
Serangan datang berbarengan dari empat sisi. Gagak Bodas dan Jalak Putih menahan semua serangan itu hanya menggunakan dua tangannya. Tanpa bergeser dari tempat berdirinya sedikit pun.
Serangan pertama pun gagal. Keempat pendekar berdiri terpaut lima langkah dari dua saudara seperguruan itu.
Kali ini tidak ada lagi yang bicara. Yang terdengar hanyalah detak jantung dan suara burung hantu di dalam hutan.
Melati Hijau dan Pelempar Maut kembali bergerak. Kali ini sasaran dua orang itu adalah Gagak Bodas. Serangan kedua pendekar tersebut menimbulkan angin yang cukup besar. Sebelum serangan kedua tiba, angin besar sudah menyerang Gagak Bodas.
"Wushh …"
Dia berkelit menghindari serangan angin tajam. Tubuhnya meliuk seperti ular, dan tangannya dengan sigap memberikan serangan balasan secara tiba-tiba.
"Wushh …"
"Plakk …"
"Plakk …"
__ADS_1
Dua tangan Gagak Bodas berhasil menampar tangan kanan kedua lawannya yang sudah terjulur. Begitu tangkisannya berhasil, Gagak Bodas lalu memberikan serangan lain.
Kedua tangannya ia tekuk perlahan dan di rapatkan untuk mengambil tenaga dalam. Tangan Gagak Bodas bergerak. Kedua pangkal lengan lawan, terkena tamparannya. Melati Hijau dan Pelempar Maut terpental lima langkah.
Pangkal langan mereka merasa ngilu sekali saat di tampar oleh tangan milik Gagak Bodas.
"Gila, ilmunya sudah naik pesat ternyata. Tak kusangka dalam waktu kurang dari dua tahun, dia sudah memiliki tenaga dalam setinggi ini," si Pelempar Maut bergumam sambil menyalurkan hawa murninya.
Sementara itu, Jalak Putih saat ini sudah mulai bertarung melawan si Paku Emas dan seorang pemuda bernama Bagas Sora. Kedua lawannya menggempur Jalak Putih dengan jurus-jurus tangguh mereka.
Bagas Sora sudah mengeluarkan senjatanya yang berupa dua batang trisula mata tiga. Walaupun usianya masih terbilang muda, tapi kecepatan serangannya tak bisa dipandang remeh.
Dua trisula kuningan itu melesat membelah gelapnya malam. Sinarnya berkelebat menyambar tubuh Jalak Putih. Setiap serangan yang ia lancarkan, mengandung tenaga dalam lumayan tinggi.
Sedangkan si Paku Emas, menyerang menggunakan kedua tangannya yang berotot. Ada dua batang paku terselip di antara jari tengahnya. Gerakan orang ini lebih hebat daripada Bagas Sora. Sinar kecil melesat ke sana ke mari mengincar mencari sasaran tepat.
Namun dengan gerakan tertentu, kakek tua itu berhasil menghindari serangan maut tersebut. Pertarungan baru berjalan sebentar, tapi debu dan kerikil sudah beterbangan menyelimuti arena.
Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu hanya duduk menjadi penonton. Keduanya menikmati pertarungan ini sambil menyantap ubi rebus dan teh manis yang mulai dingin.
Kali ini Gagak Bodas bergerak lebih dulu. Tangan kanannya mulai mempermainkan ilmu pedang mereka yang terkenal sangat cepat dan berbahaya. Setiap angin akibat sabetan pedangnya mampu membelah dedaunan.
Namun lawannya pun tak jauh berbeda dengan dirinya. Melati Hijau bertarung hanya mengandalkan kuku-kuku yang memanjang sebagai senjatanya. Si Pelempar Maut mengandalkan dua pisau terbang berwarna hitam pekat.
Walaupun ayunan pedang Gagak Bodas sangat cepat, nyatanya gerakan itu masih bisa di lihat oleh dua lawan. Beberapa kali terdengar bunyi nyaring akibat logam beradu. Percikan kembang api berpijar mengiringi benturan tersebut.
Saat ini pedang milik Gagak Bodas tertahan oleh dua pisau Pelempar Maut. Kedua senjata itu seperti menempel. Seolah dua pusaka tersebut mengandung magnet. Melihat keuntungan ini, Melati Hijau tidak tinggal diam. Ia merangsek ke depan memberikan serangan dengan kukunya yang mengandung racun.
"Wushh …"
Dua buah cakaran dari dua tangannya menyambar mengincar perut dan dada. Tapi sayangnya gerakan itu terlambat sedikit. Sebelum kedua tangannya menemui sasaran, kaki Gagak Bodas sudah menendangnya tepat mengenai ulu hati.
__ADS_1
Melati Hijau terpental tiga langkah. Mulutnya langsung mengeluarkan darah segar. Untuk beberapa saat ia tidak dapat berdiri akibat rasa sakitnya yang mulai menjalar.
Saat seperti itu, entah bagaimana tiba-tiba saja pedang milik Gagak Bodas terlepas dari genggaman dua pisau Pelempar Maut. Orang tua itu memutar tubuhnya sambil sedikit merunduk.
"Brett …"
Suara kain robek terdengar. Pelempar Maut mematung untuk beberapa saat. Pisaunya lepas dari genggaman. Dia menoleh ke bawah, ternyata darah sudah mengucur dari perutnya.
Ia langsung jatuh telungkup ke tanah. Darah menggenang karena terus keluar dari perutnya. Gagak Bodas tidak berniat untuk membunuhnya, tapi dengan cara ini saja, jika si Pelempar Maut tidak segera di tolong, maka ia akan tewas juga.
Pertarungan Jalak Putih sama hebatnya dengan Gagak Bodas. Kakek tua itu sudah mengeluarkan senjatanya yang berupa kipas putih. Walaupun hanya terbuat dari kain dan terlihat seperti kain biasa, tapi di tangan Jalak Putih, kipas itu bisa berubah menjadi senjata yang mengerikan.
Setiap kali ia mengibaskan kipasnya, serangkum angin beliung kecil selalu muncul. Bagas Sora dan Paku Emas mulai kewalahan karena mereka tidak dapat mendekati lawan.
Dengan tenaga dalam tinggi dan jurus mematikan, kedua pendekar itu berlaku nekad. Mereka menerjang sambil mengacungkan senjatanya masing-masing ke arah Jalak Putih.
Tapi kakek tua itu terlihat santai. Bahkan seulas senyuman terlihat mengiringi pertarungannya. Begitu kedua senjata lawan tinggal berjarak lima jengkal darinya, Jalak Putih mengambil tindakan.
Tangan yang memegang kipas ia julurkan. Tangan kiri ia gunakan untuk perisai.
"Putaran Angin Puyuh …"
"Wushh …"
Jalak Putih berputar cepat. Tubuhnya lenyap tertutup serangkum tenaga dalam yang menyerupai pusaran angin. Bagas Sora dan Paku Emas terkesiap. Keduanya tidak menyangka bahwa lawan bisa mengeluarkan jurus maut secepat ini.
"Brett …"
"Brett …"
"Ahhh …"
__ADS_1
Bagas Sora dan Paku Emas terlempar sebelum serangan mereka mencapai tubuh Jalak Putih. Keduanya jatuh bergulingan.
Bagas Sora mulai meringis menahan sakit karena tangan kirinya buntung. Darah mengucur deras dan wajahnya memucat. Si Paku Emas tak jauh berbeda. Ia memegangi pundak kanannya. Ada luka robekan besar yang sudah menganga di pundak itu.