
Pendekar Tangan Seribu bersama Cakra Buana lalu mengajak tukang penjaga kuda itu ke kedai makan. Menurut Pendekar Tangan Seribu, kematian dua ekor kuda itu sedikit ganjil. Tidak mungkin kalau kuda mereka sakit, sebab sehari sebelumnya masih sehat-sehat saja.
"Pelayan, berikan aku nasi liwet satu lagi," kata Pendekar Tangan Seribu memanggil pelayan kedai.
Ketiganya lalu duduk di kursi sebelumnya. Sambil menunggu pesanan datang, Pendekar Tangan Seribu mengajukan beberapa pertanyaan kepada penjaga kuda. Masalah ketenangan dalam menghadapi masalah, Cakra Buana memang masih di bawah rekannya tersebut.
"Paman, aku mau tanya padamu. Kau jawablah dengan jujur, jangan takut. Kami tidak akan melukaimu," kata Pendekar Tangan Seribu.
"Ba-baik tuan," jawab penjaga itu sedikit ketakutan.
"Sebelumnya kuda-kuda kami sehat. Tapi kenapa bisa mati mendadak seperti itu? Bahkan kematian kuda kami terasa ganjil,"
"Saya pun tidak tahu tuan. Sungguh,"
"Apakah kau benar tidak tahu? Kau yakin bisa membohongiku?" Pendekar Tangan Seribu sedikit menekan perkataannya barusan.
Mendengar perkataan yang agak ditekan dan sorot mata semakin tajam, penjaga kuda itu menjadi semakin ketakutan. Wajahnya bertambah pucat bagaikan mayat. Pakaiannya sudah dibasahi oleh keringat dingin.
"Ba-baiklah, aku akan beritahu yang sebenarnya. Ta-tapi tolong jangan bunuh aku," katanya sambil memohon-mohon.
"Kau tenang saja paman. Kami berdua bukan orang jahat. Kami hanya ingin tahu kejadian yang sebenarnya," ucap Pendekar Tangan Seribu. Suaranya agak di perhalus lagi supaya si tukang jaga kuda tidak ketakutan.
"Tadi malam, aku sedang memberikan rumput kepada kuda-kuda yang di titipkan padaku. Tak disangka, aku bertemu dua orang tak di kenal. Mereka baru saja selesai memberikan serbuk racun kepada kuda milik tuan berdua. Waktu aku mengetahuinya, kuda milik tuan berdua sudah sekarat. Bahkan dua ekor kuda itu mati tanpa sempat bersuara. Mereka memojokkanku supaya tidak bicara apa yang sebenarnya terjadi. Mereka mengancamku, kalau sampai berani bicara, aku akan di bunuh. Alasan inilah kenapa tadi, aku tidak menceritakan hal yang sebenarnya. Aku takut mereka membunuhku. Tapi sekarang … hahhh …, mungkin memang beginilah akhir hidupku," kata penjaga kuda itu sambil menangis ketakutan.
"Jangan takut. Kami akan menjagamu. Kalau boleh tahu, ciri-ciri kedua orang tak di kenal itu seperti apa?" tanya Cakra Buana yang sedari tadi hanya diam saja. Suaranya masih terdengar jelas memendam kemarahan besar.
"Mereka … mereka memakai kain menutup wajah, sehingga aku tidak bisa mengetahui secara pasti siapa mereka itu. Tapi pakaian mereka semuanya hitam. Dan di belakang punggungnya, ada lambang ular sendok (kobra)," jelas si penjaga kuda.
"Bragg …"
Cakra Buana menggebrak meja makan di depannya. Tidak kencang, tapi membuat wadah makanan yang belum lama datang itu melayang di udara untuk beberapa saat. Orang-orang yang menyaksikan kejadian tersebut, tidak ada yang berani buka suara. Mereka tiba-tiba diam dan tidak berani menoleh ke arah Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu.
"Dugaanku ternyata benar. Mereka pelakunya. Paman, sehabis sarapan, kita cari mereka," kata Cakra Buana. Sorot matanya kembali tajam, bagaikan mata seekor harimau.
"Kita tidak tahu mereka di mana pangeran. Ah, paman, apakah kau tahu saat ini pelaku yang membunuh kudaku itu di mana?"
"Mereka … mereka di penginapan dekat gerbang ini tuan,"
__ADS_1
"Bagaimana kau tahu mereka ada di sana?" tanya Cakra Buana.
"Semalam mereka juga bicara, bahwa kalau aku sampai membocorkan kejadian ini, mereka bisa dengan mudah membunuhku karena saat ini, mereka sedang menginap di sana," kata si penjaga kuda.
"Keparat …" Cakra Buana menggeram cukup keras bahkan sampai menggetarkan beberapa meja di pinggirnya.
Tanpa banyak bicara, dia lalu pergi menuju penginapan yang di maksud tanpa mengajak Pendekar Tangan Seribu.
"Tuan, bagaimana ini?" si penjaga kuda semakin panik.
"Diamlah. Terimakasih atas informasi yang kau berikan, kau makan saja semua makanan ini. Nah, ini ada upah sedikit untuku," kata Pendekar Tangan Seribu lalu segera bergegas pergi menyusul Cakra Buana.
Jarak dari penginapan tadi ke penginapan di mana anggota Perguruan Ular Sendok berada tidaklah terlalu jauh. Paling hanya tiga puluh tombak saja. Sehingga baru sebentar, Cakra Buana sudah tiba di depan penginapan tersebut. Tak lama di belakangnya Pendekar Tangan Seribu baru saja sampai.
"Pangeran, tenanglah. Jangan gegabah, kita tidak tahu daerah ini bagaimana. Nanti aku carikan kuda putih lagi untukmu," kata Pendekar Tangan Seribu berusaha menenangkan Cakra Buana.
"Tidak perlu paman. Aku hanya ingin memberikan pelajaran kepada mereka. Jika tidak suka kepadaku, kenapa harus menewaskan kudaku," kata Cakra Buana lalu segera masuk ke penginapan tersebut.
Suasana di sana cukup ramai saat Cakra Buana masuk, mata pemuda serba putih itu memandang tajam ke sekeliling ruangan. Tepat di pojokan sana, Cakra Buana melihat ada dua orang yang memakai pakaian serba hitam berlambangkan ular sendok.
"Tak salah lagi, mereka pelakunya. Tapi, ke mana yang tiga lainnya," gumam Cakra Buana masih terlalu di tempatnya berdiri.
"Apakah benar kalian yang sudah membunuh kudaku?" tanya Cakra Buana.
"Apa maksudmu? Datang-datang sudah cari perkara. Kenal saja tidak, untuk apa aku membunuh kudamu?" kata salah seorang.
"Kau kira aku akan percaya?"
"Bragg …"
Cakra Buana menggebrak meja makan keduanya hingga hancur berkeping-keping. Orang-orang yang sedang sarapan satu persatu langsung berhamburan ke luar.
"*******. Kalau memang iya aku yang membunuh kudamu, kau mau apa?" tantangnya kepada Cakra Buana.
"Bagus, akhirnya kalian mengakui. Atas dasar apa kalian membunuh kudaku hah?"
"Karena kau telah menguping obrolan kami,"
__ADS_1
"Persetan dengan ucapanmu,"
"Lancang …"
"Hihhh …"
Keduanya menyerang Cakra Buana menggunakan pedang yang mereka simpan di pinggang sebelah kanan. Cakra Buana segera menghindari dua sabetan pedang itu. Dia melompat ke belakang. Serangan pertama gagal, ketiganya lalu keluar penginapan dan berdiri berhadapan di halaman.
"Bocah kemarin sore sudah berlagak," katanya kepada Cakra Buana.
"Jangan banyak bicara kau. Nyawa kudaku, harus diganti dengan nyawamu," ucap Cakra Buana.
"Kalau memang mampu, silahkan,"
"Haittt …"
"Hiyaa …"
Keduanya menyerang Cakra Buana kembali secara bersamaan. Mereka menyabetkan goloknya ke pinggang kanan dan kiri Cakra Buana. Tapi dengan mudah Pendekar Maung Kulon itu menghindari serangan tersebut ntuk beberapa jurus berikutnya Cakra Buana hanya menyerang tanpa membalas. Dia memang sengaja melakukan hal itu, Pendekar Maung Kulon tersebut sengaja membuat tenaga dalam lawan habis.
Menurut penilaiannya, dua penyerang ini bukanlah pelaku yang sebenarnya. Di lihat dari cara mereka bertarung saja, sudah bisa dipastikan bahwa keduanya merupakan murid biasa di perguruan.
Kedua anggota Perguruan Ular Sendok semakin geram. Semua serangan yang mereka lancarkan, bisa dengan mudah di patahkan lawan.
Cakra Buana mulai bergerak. Kedua tangannya di pakai untuk menangkap kedua batang golok yang mengarah ke dirinya.
"Tappp…"
"Tappp …"
Dua Batang golok sudah ia genggam dengan erat. Dua orang lawannya berniat untuk menariknya secara paksa, tapi sayang semua usahanya itu sia-sia. Justru Cakra Buana semakin mempererat pegangannya.
"Clangg …"
Dua batang golok itu bisa di patahkan oleh Cakra Buana dengan mudahnya. Melihat bahwa lawan sungguh memiliki kepandaian tinggi, maka dua orang murid perguruan itu langsung berlutut meminta maaf kepada Cakra Buana sambil sedikit memohon-mohon.
"Berani berbuat, berani bertanggungjawab," kata Cakra Buana dengan tegas.
__ADS_1
"Berdirilah. Aku ingin bertanya kepada kalian berdua, jawab dengan jujur," kata Cakra Buana.