Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Pendekar Sejati


__ADS_3

Keringat dingin mulai keluar membasahi punggung Eyang Batara Bodas. Kakek tua itu kebingungan setengah mati sebab jurus Ajian Curuk Dewa meluncur secepat kilat. Tak ada pilihan lain kecuali mengadu nyawa, pikirnya.


Maka tanpa berpikir panjang lagi, Eyang Batara Bodas berdiam di tempat dengan posisi kuda-kuda mantap. Tenaga dalamnya terus disalurkan semakin besar.


"Blarr …"


Benturan paling keras daripada semua benturan sebelumnya terjadi, tubuh kedua pendekar itu sama-sama terpental. Eyang Batara Bodas jatuh bergulingan cukup jauh. Telapak tangannya terasa remuk, bahkan telapak tangan itu gosong dan mengepulkan asap hitam.


Carka Buana sendiri terpental dan menabrak reruntuhan bangunan kerajaan. Pendekar Maung Kulon merasakan tubuhnya remuk. Untuk beberapa saat jari telunjuk tangan kanannya terasa lemas dan bergetar.


Dari sudut bibir Cakra Buana, terlihat ada darah kental. Ia menyusutnya dengan lengan kiri. Setelah itu, sekuat tenaga Pendekar Maung Kulon bangkit berdiri lagi. Begitupun dengan Eyang Batara Bodas.


Keduanya sama-sama memuji dalam hati. Menurut tebakan Cakra Buana, kekuatan Eyang Batara Bodas ini tidak berbeda jauh dengan datuk rimba persilatan yang pernah dia temui sebelumnya.


Saat keduanya sudah siap kembali, mereka lalu sama-sama menerjang ke depan. Cakra Buana dengan kepalan tangan dan cengkramannya. Sedangkan Eyang Batara Bodas dengan telapak tangannya.


Dua pendekar kembali melanjutkan pertarungan mereka.


"Plakk …"


"Bukk …"


Dalam waktu bersamaan, dada Cakra Buana terkena hantaman telapak tangan Eyang Batara Bodas. Di lain pihak, Eyang Batara Bodas juga terkena pukulan Cakra Buana di bagian ulu hatinya. Keduanya kembali terpental ke belakang.


Tapi begitu kaki mereka menginjak tanah, keduanya kembali menyerang lagi. Serangan demi serangan mulai terlihat. Pukulan dan hantaman telapak tangan terus beradu. Dua pendekar yang memiliki kemampuan tinggi ini menjadi tontonan menarik bagi para pendekar yang ada di sana.


Menurut mereka, pertarungan ini tidak lama lagi akan segera selesai. Sebab kedua pihak sudah sama-sama kelelahan. Hanya saja, siapa yang menang belum bisa ditentukan sekarang.

__ADS_1


Cakra Buana menjulurkan tangan kanan yang membentuk cengkraman. Niatnya mencengkeram leher Eyang Batara Bodas, tapi sayang, kakek tua itu ternyata gesit juga. Dengan gerakan sederhana, Eyang Batara Bodas mampu menghindari cengkraman tersebut.


Tapi siapa sangka, begitu kepalanya di tarik ke pinggir, Cakra Justru menggaet tengkuknya dengan cakaran juga. Mau tidak mau tubuh Eyang Batara Bodas ikut tertarik ke depan. Secepat kilat Cakra Buana mengirimkan pukulan dengan tangan kiri mengincar jantung kakek tua itu.


Namun belum sampai menemui sasaran, tangan Eyang Batara Bodas juga sudah bergerak. Tangan itu memapak serangan yang akan dilancarkan oleh Cakra Buana. Kedua tangan kembali bertemu. Udara di sana terasa semakin berat.


Keduanya sudah merasa kelelahan. Entah sudah berapa ratus jurus mereka berlangsung. Karena Cakra Buana sudah tidak kuat menahan diri lagi, maka dengan segera dia membentak nyaring.


"Telapak Tangan Dewa Es …"


"Wuttt …"


Sebuah tenaga sebesar gunung membawa hawa dingin datang menerjang Eyang Batara Bodas secara mendadak. Kakek tua itu sangat kaget. Sebisa mungkin dia mengeluarkan kembali jurus Tapak Guntur.


"Blarr …"


Cakra Buana memang memaksakan untuk mengeluarkan jurus tingkat tinggi pemberian Eyang Rembang Mangkurat Mangku Jagat. Karena tenaga dalamnya ia salurkan semua, maka hasilnya pun dahsyat.


Kakek tua itu terlempar sejauh enam tombak. Tubuhnya bergulingan dan berhenti saat menabrak puing-puing bangunan. Dia muntah darah. Semua tulangnya terasa patah.


Cakra Buana segera menghampiri kakek tua itu. Ternyata, dia melihat bahwa Eyang Batara Bodas sedang menemui detik-detik ajalnya yang akan segera tiba.


"Kau menang bocah … hahaha, ak-aku sangat bahagia bisa mati di tangan pendekar sejati sepertimu," kata Eyang Batara Bodas agak tersendat-sendat.


"Terimakasih. Kau pergilah dengan tenang, maaf kau harus mati olehku," ucap Cakra Buana.


"Hahaha, aku akan merasa sangat tenang. Anak baik, anak baik. Selamat tinggal pendekar sejati," katanya lalu tak lama dia menghembuskan nafas terakhirnya.

__ADS_1


Walaupun menahan rasa sakit yang teramat sangat, tapi Eyang Batara Bodas tewas dengan sebuah senyuman. Terlihat bahwa dia memang mati dalam keadaan bahagia.


Tak lama, semua pendekar yang tadi menonton pertarungan Cakra Buana, kini mereka satu-persatu menghampirinya. Tak kurang jumlah pendekar itu sekitar tujuh puluh orang. Semuanya dalam keadaan baik, kecuali hanya luka ringan saja.


"Pangeran, kau tidak papa?" tanya seorang pendekar kepada Cakra Buana.


"Aku tidak papa, hanya luka dalam sedikit. Kalian jangan khawatir, di maja Ling Zhi?" tanya balik Cakra Buana.


"Pangeran tenang saja. Dia sudah berada di tempat aman,"


"Baguslah. Sekarang mari kita segera pergi dari sini. Fajar sebentar lagi akan tiba. Kita pergi ke hutan yang ada goanya supaya aku bisa memulihkan tenaga dalam. Setelah itu, barulah kita berkumpul dengan pasukan yang lainnya," kata Cakra Buana kepada semua pendekar.


"Baik pangeran. Kami mendengarkan perintah,"


Tak lama mereka pun segera pergi dari sana. Dua orang pendekar memapah Cakra Buana. Tujuh puluhan lebih pendekar tersebut segera melesat secepat mungkin. Sebelum itu, mereka telah membagikan harta jarahan tadi kepada semua rakyat yang sebelumnya dipisahkan. Sisanya akan digunakan sesuai perintah Cakra Buana.


Fajar telah datang. Puluhan pendekar sedang merayakan kemenangan mereka secara sederhana di sebuah hutan dekat dengan goa tua. Mereka membakar beberapa kelinci dan dua ekor kijang hasil buruan. Cakra Buana saat ini masih bersemedi untuk memulihkan tenaga dalamnya.


Kerajaan kecil yang megah itu kini telah hancur menjadi debu. Semuanya rata dengan tanah. Ribuan mayat bergelimpangan memenuhi semua tempat sekitar. Burung-burung gagak terbang mengitari bangunan tersebut. Lalat hijau yang mencium bau anyir dan bangkai, mulai mengerumuni mayat-mayat tersebut.


Cakra Buana menyuruh kepada para pendekar untuk kembali lagi ke sana. Para pendekar tersebut ditugaskan untuk menguburkan para korban. Yang bergelar pendekar, di kuburkan dengan layak. Yang hanya seorang prajurit, dikuburkan dalam satu buah lubang besar.


Awalnya mereka menolak perintah Cakra Buana yang ini, tapi dengan senyuman berwibawa, Cakra Buana berkata, "Meraka juga sama seperti kita, mereka manusia. Maka sudah sepantasnya mereka mendapatkan perlakuan layak walaupun sudah menjadi mayat. Yang salah hanya orangnya, bukan jasadnya,"


Hanya satu kalimat yang terlontar. Tapi satu kalimat itu mampu meruntuhkan tembok terkuat dalam hati para pendekar. Tanpa banyak bicara, mereka segera pergi menjalankan perintahnya.


Tepat saat matahari sudah hampir tepat di atas ubun-ubun, mereka baru saja selesai menguburkan semua mayat. Sehingga di sana tak ada lagi apa-apa kecuali reruntuhan bangunan yang kelak akan menjadi sejarah.

__ADS_1


__ADS_2