
Dua lawan yang diketahui termasuk tokoh kelas atas langsung mengubah serangan mereka. Keduanya mengubah gaya pertarungan dengan cepat. Bahkan sangat cepat.
Hanya dalam sekejap mata, Cakra Buana sudah berada dalam posisi sedikit terdesak. Serangan kedua lawannya begitu memburu. Kepakan tangan Burung Pemangsa membelah udara dengan desingan tajam cakar baja miliknya.
Sembilan jari lawan yang satu lagi terus membayangi ke mana arah menghindar Cakra Buana. Jari itu seperti mempunyai mata. Walaupun wajah orangnya memandang ke mana, tetapi jarinya mampu bergerak mengincar titik berbahaya di seluruh tubuh.
Hebat memang sepak terjang dua tokoh tersebut. Padahal Cakra Buana hanya melakukan sedikit kesalahan saja saat tadi menggempur. Dia hanya lupa menutup celah kosong, tapi celah itu hanyalah sedikit.
Sayang, yang sedikit itu justru mendatangkan kerugian besar.
Terkadang kesalahan sedikit saja memang sangat berpengaruh. Karena yang sedikit itu bisa berubah menjadi banyak. Yang kecil bisa berubah jadi besar.
Begitupun dalam hidup. Kesalahan yang menurut kita ringan, justru bisa jadi fatal. Karena itu, berpikir sebelum bertindak lebih baik daripada bertindak lalu berpikir.
Cakra Buana masih dalam posisi bertahan. Pedang Naga dan Harimau tidak bisa bergerak secara bebas karena dua lawannya mencecar dari segala arah. Mau tidak mau dia harus banyak bertahan daripada menyerang.
Pertarungan mereka sudah berlangsung puluhan jurus. Namun sampai sekarang, belum dapat dipastikan siapa yang akan keluar sebagai pemenang. Sebab yang pasti, walaupun Cakra Buana dalam keadaan tidak menguntungkan, tapi toh dia masih mampu menangkis semua gempuran yang datang.
Kepakan tangan si Burung Pemangsa bergerak dari sisi kanan dan kiri. Kadang kala dia berputar bagaikan gasing lalu menerjang tanpa diduga sebelumnya. Bahkan sesekali dia melancarkan tendangan dahsyat kepada Cakra Buana.
Bersamaan dengan serangan si Burung Pemangsa, Pendekar Sembilan Jari juga tidak mau kalah. Jurus Sembilan Jari Pengoyak benar-benar mengerikan.
Setiap kali jarinya bergerak, selalu tercipta sebuah aura yang menekan dan sinar merah berbahaya. Sembilan jari itu bagaikan sembilan pedang. Sebab semuanya begitu tajam. Bahkan sangat tajam.
Cakra Buana sudah berada dalam posisi bertahan selama kurang lebih lima belas jurus. Sama seperti kedua lawan sebelumnya, dia sedang mencari setitik celah kosong. Walaupun setitik, tapi baginya itu sudah lebih dari cukup.
Saat kedua lawan menggempur dengan ganas, Cakra Buana melihat bahwa arah bagian atas kosong. Hal ini bisa dia manfaatkan dengan melompat secepat mungkin. Dengan ilmu meringankan tubuhnya yang sekarang, melompat dua atau tiga tombak secepat kilat baginya bukan suatu masalah.
Burung Pemangsa menggerakan kedua tangannya berniat untuk mencakar tubuh Cakra Buana. Sedangkan si Pendekar Sembilan Jari sedang berusaha untuk melubangi tubuhnya memakai jari yang tajam itu.
__ADS_1
Di saat seperti itulah Cakra Buana menemukan titik terang. Ketika kedua serangan tiba dan hampir saja mengenai tubuhnya, dia menjejak tanah lalu melenting tinggi ke atas dan berjungkir balik.
Kesempatan seperti barusan mungkin hanya datang satu kali. Untung bahwa Pendekar Tanpa Nama tidak terlambat bergerak. Karena telat satu detik saja, sudah pasti sekarang tubuhnya penuh luka. Bahkan bisa dipastikan nyawanya sudah melayang.
Saat berjungkir balik, Cakra Buana langsung mengeluarkan jurusnya. Dia tidak ingin berlama-lama lagi. Karena itu, jurus terkahir dari Jurus 3 Pedang Kilat keluar dengan segera.
"Hujan Kilat Sejuta Pedang …"
"Wushh …"
"Gelegar …"
Ledaka halilintar terdengar keras sekali. Tubuh Cakra Buana meluncur turun ke bwah dengan sangat cepat. Cepat sekali. Saking cepatnya, yang terlihat hanyalah bayangan merah seperti tanpa wujud.
Begitu kakinya kembali menjejak tanah, kejadian yang sama sekali tidak pernah di bayangkan oleh Burung Pemangsa dan Pendekar Sembilan Jari segera terjadi.
Tubuh Cakra Buana melesat langsung mengirimkan serangan dahsyat. Sangat dahsyat. Karena kedua lawannya merasakan tekanan yang hebat dan melihat ribuan kilat menyambar ke arah mereka tanpa ampun.
Ledakan keras bagaikan guntur terus terdengar di telinga keduanya. Sebenarnya itu hanyalah sihir yang terkandung dalam jurus tersebut. Sehingga siapapun yang menerima jurus ini dan belum kuat kekuatan batinnya, maka jangan pernah berharap untuk bisa bertahan lebih lama.
Burung Pemangsa dan Pendekar Sembilan Jari tergetar hatinya. Serangan mereka menjadi kacau balau. Jurusnya menjadi tidak efektif sama sekali. Sebaliknya, justru mereka diliputi oleh kengerian.
Gempuran pedang yang dilancarkan Cakra Buana bagaikan sejuta kilat. Begitu menyilaukan dan sangat menakutkan. Kecepatannya pun mustahil dapat di lihat oleh mata telanjang.
Semua titik penting di tubuh lawan mendapatkan jatahnya masing-masing.
Saat gempurannya mencapai jurus ke dua puluh, satu orang telah tewas.
Si Burung Pemangsa.
__ADS_1
Dia tewas dengan luka tusukan di berbagai titik penting tubuhnya. Saking dahsyatnya jurus Cakra Buana, di semua luka itu tidak nampak ada noda darah. Yang terlihat hanyalah sesuatu menyeramkan.
Sepuluh jurus kemudian, Pendekar Sembilan Jari juga tidak mampu bertahan lebih lama lagi. Terlebih karena Pendekar Tanpa Nama berhasil memotong empat jarinya.
Saat mulutnya berteriak kesakitan, saat itu juga sebuah benda yang dingin terasa di tenggorokan hingga tembus ke belakang.
Pedang Naga dan Harimau menembus tenggorokan orang tua itu. Sekejap kemudian, tubuhnya ambruk ke tanah dengan membawa rasa tidak percaya ke alam baka.
Di sisi lain, berbarengan dengan gempuran Cakra Buana tadi, si Pendekar Pedang Kesetanan juga berhasil menggempur Singa Ekor Lima dengan jurus hebatnya.
Setelah melewati puluhun jurus dan berhasil imbang, pada akhirnya Pendekar Pedang Kesetanan menemukan kelemahan lawannya.
Dengan kekuatan penuh dan semangat yang berkobar, dua ujung cambuk telah ditebas putus oleh Pedang Haus Darah miliknya.
Hal tersebut tentu membuat Singa Ekor Lima marah. Bagaimana tidak? Pusaka yang dia sayangi seperti menyayangi nyawanya sendiri, harus putus ditebas senjata lawan, siapa yang tidak akan marah? Kau pun mungkin akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi Singa Ekor Lima.
Karena itulah, dia berteriak kencang dengan suaranya yang menggelegar bagaikan auman raja hutan. Selanjutnya, tubuhnya melesat mencecar Pendekar Pedang Kesetanan dengan pukulan dan pecutan cambuk saktinya.
Tetapi Pendekar Pedang Kesetanan juga bukanlah orang bodoh. Dia sudah tahu bahwa hal seperti ini akan segera terjadi. Sehingga saat Singa Ekor Lima marah besar, dia sudah menyiapkan jurus terbaik untuk menghadapinya.
Dengan jurus Mencari Cahaya di Kegelapan, dia meladeni semua gempuran Singa Ekor Lima. Pertarungan dengan pengerahan jurus kelas atas yang jarang terlihat, kini sedang terjadi.
Dua pendekar berkelit dan berusaha menggempur lawan dengan kelebihannya masing-masing. Namun kalau di lihat lebih teliti, terbukti bahwa pertarungan tersebut tidak berimbang dan akan segera berakhir.
Pemenangnya sudah tentu Pendekar Pedang Kesetanan. Sebab saat mencapai sepuluh jurus lebih, dia semakin unggul dari lawan. Dengan gerakan pedang yang sangat cepat dan berbahaya, Giwangkawa Baruga berhasil menembus benteng pertahanan lawannya.
Tepat pada jurus kedelapan belas, Pedang Haus Darah berhasil meminum kembali darah lawannya. Sebuah luka robekan dari dada kanan hingga ke dada sebelah kiri terlihat.
Singa Ekor Lima ambruk ke tanah dan langsung meregang nyawa saat itu juga.
__ADS_1