
Dua serangan dari dua pendekar sesat itu datang. Keduanya menyerang dari sisi kanan dan kiri. Gerakan mereka begitu lincah dan juga sangat mematikan.
Di mana kedua tangan mereka sudah berubah warna dan mengandung racun yang hebat. Cakra Buana waspada, dia mengelak dari serangan pertama Sepasang Ular Kembar.
Hanya dengan melompat ke belakang, serangan saudara kembar itu luput. Tapi mereka tak berhenti sampai disitu, keduanya langsung menyerang lagi Langlang Cakra Buana.
Keduanya menyerang dengan tangan kanan dibentuk seperti paruh ular. Mereka menotok dengan berbagai cara, meliuk-liuk seperti kepala ular yang siap mematuk buruannya.
Cakra Buana mulai membalas serangan mereka. Satu tangan membentuk cakar, dan satu lagi membentuk tapak. Kombinasi ilmu yang tak kalah hebat lagi tentunya.
Ketiganya sudah terlibat dalam pertarungan sengit. Patukan dan pukulan sudah beradu. Hawa racun dari Sepasang Ular Kembar mulai memenuhi arena pertarungan.
Cakra Buana mulai merasa pusing karena selalu menghirup hawa itu. Hanya hawanya saja mengandung efek yang cukup hebat, apalagi jika terkena langsung patukannya. Sulit dibayangkan.
"Wuttt …"
Angin keras menyambar dari bagian sebelah kiri. Serangan itu dilancarkan oleh Rara Bodas mengincar lengan kanan Cakra Buana.
Dengan segera dia menggeser badannya, tapi segera saja Rara Belang menyusul serangan kakaknya. Cakra Buana mulai kewalahan, serangan pertama saja belum selesai, kini sudah datang lagi serangan baru.
Dia menjatuhkan tubuhnya lalu bergulingan diatas tanah ke belakang.
"Serangan mereka semakin hebat jika dilakukan secara bersamaan. Ini artinya aku harus mengincar yang lemah diantara keduanya supaya serangan mereka menjadi kacau," gumam Cakra Buana sambil mengamati kedua lawannya tersebut.
Pemuda serba putih itu merapalkan ajian lainnya. Kali ini dia tidak menggunakan Ajian Dewa Tapak Nanggala lagi.
__ADS_1
Tapi sekarang dia berniat untuk mengeluarkan ajian yang lebih hebat lagi.
"Jika seperti ini caranya, tidak ada cara lain. Aku harus menggunakan ajian itu," katanya.
Langlang Cakra Buana memejamkan matanya. Dia menghentakkan kakinya lalu berputar tiga kali.
"Wuttt …"
Tiba-tiba saja tubuh pemuda itu bertambah berubah menjadi tujuh. Inilah Ajian Pecah Raga. Sebuah ajian tingkat tinggi yang dia dapat dari Eyang Resi Patok Pati.
Dia jarang menggunakan ajian ini jika keadaannya tidak terdesak. Dan sekarang, ajian ini sepertinya memang cocok.
Melihat ini, Rara Bodas dan Rara Belang kaget. Keduanya merupakan pendekar tua yang tentunya sudah malang melintang dalam dunia persilatan.
Mereka mengenal Ajian Pecah Raga ini. Sebuah ajian yang sudah jarang ditemui. Melihat seorang pemuda bisa mengeluarkan ajian ini, ada rasa gentar juga di hati Sepasang Ular Kembar itu.
Tapi kali ini lebih seru lagi. Serangan sudah diluncurkan oleh masing-masing pendekar itu. Ketujuh Cakra Buana menyerang dengan buas layaknya harimau yang terluka.
Belasan jurus sudah berlalu. Rara Bodas dan Rara Belang mulai kewalahan. Keduanya beberapa kali terkena pukulan lawan pada beberapa bagian tubuh.
Luka dalam dan luka luar sudah mereka rasakan. Sehingga pada jurus ketiga puluh, Rara Bodas dan Rara Belang berhasil ditaklukan oleh Cakra Buana yang mengeluarkan Ajian Pecah Raga.
Keduanya terpental jauh ke belakang dan tak dapat bangun lagi dengan luka dalam yang parah. Mati.
Setelah kedua lawannya telah tewas, Cakra Buana mengembalikan dirinya dalam bentuk normal. Keenam raganya hilang dari pandangan.
__ADS_1
Melihat kedua anak buahnya terbunuh, Kapten Richard menjadi ketakutan.
"Berhenti di sana. Jangan mendekat! Atau aku akan membunuhmu," kata Darma Lokamemberikan ancaman.
"Jika memang kau mampu, silahkan saja," jawab Langlang Cakra Buana sambil terus melangkah perlahan ke arah orang itu.
"Kalau kau membunuhku, maka semua kawanku akan mencarimu dan akan membunuhmu," katanya sambil mundur secara perlahan.
"Baguslah jika demikian. Aku akan membunuhmu sekarang juga, karena memang itulah yang aku inginkan. Menghancurkan para penjajah busuk seperti kalian sampai ke akar-akarnya," ucap Langlang Cakra Buana lalu melesat dan memberikan serangan dengan telapak tangan kanannya.
Serangan yang terkandung dalam telapak itu tak lain adalah Ajian Dewa Tapak Nanggala. Sehingga tak ayal lagi, Darma Loka yang hanya besar mulut tapi tak memiliki kemampuan pun terpental ke belakang hingga sejauh dua tombak.
Mulutnya memuntahkan darah lalu memekik kesakitan sebelum akhirnya terkulai. Mati.
Setelah dipastikan semua musuh tewas, Cakra Buana lalu berjalan ke arah penjara. Dimana banyak orang-orang pribumi yang ditawan.
Jumlah para tawanan itu tak kurang dari lima belas orang. Rata-rata mereka itu masih muda. Hanya ada tiga orang pria tua saja. Sepuluh wanita muda yang cantik, dan lima lagi merupakan pria.
Langlang Cakra Buana lalu memutuskan rantai penjara itu dengan kedua tangan kananya sehingga para tawanan bebas.
"Terimakasih raden, terimakasih," kata mereka secara bergantian.
"Terimakasih kawan. Kau memang hebat, kepandaianmu sudah tinggi," kata seorang tawanan dengan baju serba hitam dan berpenampilan seperti pendekar.
Usia orang itu kira-kira tiga puluh tahunan. Memelihara kumis dan jenggot tipis, tapi meskipun wajahnya seidkit sangar, senyuman tak pernah hilang dari bibirnya.
__ADS_1
"Tidak perlu sungkan. Sesama manusia memang sudah sepatutnya untuk tolong-menolong," jawab Cakra Buana sambil tersenyum.