Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Aku … Kekasihnya …


__ADS_3

Cakra Buana dan Ayu Pertiwi melakukan sarapan pagi disebuah kedai makan sederhana. Pada zaman ini memang jarang sekali ditemukan rumah makan mewah, lagi pula, makan sederhana saja sudah cukup.


Keadaan di kedai makan itu sudah ramai. Padahal kondisi masih pagi hari sekali. Maklum, orang zaman dahulu memang bangun berbarengan dengan kokok ayam. Meskipun belum ada jam, orang zaman dahulu bangun selalu tepat waktu.


Biasanya mereka langsung siap-siap untuk bekerja di sawah-sawah mereka sendiri ataupun milik orang lain.


Cakra Buana dan Ayu Pertiwi langsung memesan menu sarapan. Mereka makan dengan lahap sekali, tapi tanpa bicara sepatah kata pun. Bicara ketika makan memang tidaklah baik, tapi alasan mereka tidak bicara adalah lebih dari itu. Keduanya masih canggung karena perasaan masing-masing.


Setelah selesai sarapan, keduanya lalu membayar dan melanjutkan perjalanan lagi.


###


Hari terus berjalan tiada henti. Waktu bergerak tanpa terasa. Jika tidak diperhatikan, seolah waktu itu mirip sebatang anak panah yang melesat dengan kecepatan tinggi. Tapi jika kau perhatikan, maka sang waktu akan terasa bagaikan seekor siput. Entah kenapa, tapi memang itu kenyataannya.


Waktu adalah sesuatu yang abadi. Apapun bisa ditelan oleh waktu.


Enam hari sudah berlalu semenjak Cakra Buana terkena racun, selama enam hari itu perjalanan Cakra Buana bersama Ayu Pertiwi tidak menemukan hal berarti. Hanya saja kedekatan mereka sedikit lebih kaku semenjak peristiwa di gubuk tua tanpa penghuni itu.


Saat ini keduanya sedang berjalan di pinggir sebuah muara sungai. Di pinggir sebelah kanan mereka tentu saja hutan lebat. Kalau bukan hutan, apalagi?


"Ayu, apakah kediaman gurumu masih jauh?" tanya Cakra Buana memecah keheningan diantara keduanya.


"Tidak. Satu hari lagi akan segera sampai," jawab Ayu Pertiwi.


"Baiklah, kalau boleh … aku akan mengantarkanmu sampai ke kediaman gurumu,"


"Tentu saja kau boleh," katanya.


Ketika keduanya sedang berjalan sambil bicara ringan, tiba-tiba saja ada angin tajam yang menerpa keduanya.


"Wushhh …"


"Awas Ayu …" kata Cakra Buana lalu menubruk Ayu Pertiwi kemudian bergulingan.


Mereka berhenti tepat ketika angin itu sudah menabrak sebatang pohon.


"Duarrr …" pohon itu hancur berkeping-keping karena sambaran angin tadi.

__ADS_1


Cakra Buana dan Ayu Pertiwi masih dalam posisi tadi. Cakra Buana sedikit menindih Ayu Pertiwi, wajah mereka hampir menempel. Bahkan suara nafas mereka pun terdengar.


"Ah ma-maaf …" kata Cakra Buana sambil mencoba berdiri.


"Tidak papa kang …" kata Ayu Pertiwi sambil menundukkan wajahnya yang memerah.


"Ka-kakang katamu?" tanya Cakra Buana gugup.


Ayu pertiwi membuka mulut untuk memberikan jawaban, akan tetapi sebelum jawaban itu terucap, tiba-tiba saja terdengar suara tawa yang menyeramkan.


"Hahaha … ternyata kau disini ada gadis busuk," kata suara tawa itu.


"Siapa kau? Kalau memang ada nyali, tunjukkan batang hidungmu!!!" kata Ayu Pertiwi sedikit naik darah.


"Hahaha … lancang sekali mulutmu itu," kata suara itu.


"Pengecut …" maki Ayu Pertiwi.


Hening sejenak. Hanya desiran angin dan bambu bergesekan saja yang terdengar. Tapi tak lama kemudian, kembali ada angin tajam yang menerpa.


Ayu Pertiwi dan Cakra Buana berlompatan menghindari sambaran angin itu. Tapi kali ini bukan hanya sembarang angin. Setelah angin besar itu hilang, tiba-tiba didepan kedua pendekar muda itu, sekitar jarak sepuluh tombak, berdiri seorang pria yang kira-kira sudah berusia lima puluh tahunan.


Ketika dia berbalik, wajahnya terlihat angker karena sorot matanya mencorong tajam. Ada codet didahinya. Kumisnya tebal dan janggutnya sedikit panjang. Semuanya bercampur uban.


Melihat ini, Ayu Pertiwi langsung terperanjat. Matanya memandang sedikit ngeri, jelas bahwa dia ketakutan.


"Ja-jagal Patenggang si Raja Biruang …" desis Ayu Pertiwi.


"Jagal Patenggang? Maha guru Padepokan Biruang Kidul yang kau ceritakan kemarin bukan?" tanya Cakra Buana.


"Iya, dia adalah orang yang aku maksudkan. Celaka, aku tidak akan bisa menang melawannya. Dia pasti datang untuk menuntut balas kematian tiga muridnya dan untuk merebut kembali selendang guru yang kini sudah aku pegang," kata Ayu Pertiwi. Wajahnya terlihat sedikit memucat. Bagaimanapun juga, dia tahu bahwa dirinya bukan tandingan Jagal Patenggang.


"Hemmm … jadi dia orangnya,"


"Hahaha … bagus bahwa kau masih mengenalku murid murtad. Kau pasti sudah tahu apa maksud kedatanganku ini bukan?"


"Murid murtad? Siapa yang sudi menjadi muridmu. Kalau aku tidak mendapatkan perintah dari guruku, mana sudi aku berguru pada orang semacam kau. Untuk mengambil kembali selendang guruku dan membalas kematian murid kesayanganmu?"

__ADS_1


"Hahaha terserah apa katamu. Bgus kalau kau sudah tahu, sekarang … berikan kembali selendang itu padaku!!!" pinta Jagal Patenggang kepada Ayu Pertiwi.


"Tak sudi. Lebih baik aku mati daripada harus menyerahkan selendang guruku kepadamu,"


"Hahaha … dasar bodoh. Apa kau pikir bisa mrngalahkanku?"


Ayu Pertiwi langsung tertegun. Dia sadar diri dan dia tahu akan hal itu. Benar apa kata Jagal Patenggang bahwa dia bukan tandingannya. Meskipun melawan mati-matian, itu hanya akan mengantar nyawa saja.


"Maaf ki dulur, kiranya apakah benar bahwa ki dulur ini bernama Jagal Patenggang yang berjuluk Raja Biruang?" tanya Cakra Buana tiba-tiba angkat suara.


"Hemmm … kau siapa anak muda? Itu memang nama dan julukanku. Aku tidak punya urusan denganmu, kecuali jika kau ada hubungannya dengan murid murtad itu," ucap Jagal Patenggang sambil menudingkan jadinya ke Ayu Pertiwi.


"Hemmm … kiranya apa dulu urusan ki dulur?"


"Bukankah kau sudah mendengarnya barusan dia bicara?"


"Kalau begitu, hanya itu saja?"


"Benar. Sekaligus aku ingin nyawanya untuk menebus kematian muridku,"


"Kenapa begitu? Muridmu memang pantas mati karena dia sudah berlaku kurang ajar," kata Cakra Buana.


"Tutup mulutmu!!! Sebenarnya kau siapa? Jangan ikut campur jika tidak ada hubungan dengan gadis itu," ucap Jagal Patenggang dengan marah sambil kembali menuding ke arah Ayu Pertiwi.


"Aku Langlang Cakra Buana. Ketahuilah ki Jagal Patenggang, urusan Ayu Pertiwi merupakan urusanku juga," kata Cakra Buana.


"Cakra, jangan. Kau tidak perlu ikut campur, ini masalahku," tutur Ayu Pertiwi mencegah Cakra Buana.


"Diamlah Ayu. Aku tidak akan diam berpangku tangan jika melihatmu dalam bahaya selama kau disisiku,"


Kembali Ayu Pertiwi merasakan perasaan yang hangat. Wajahnya memerah dan dia langsung malu-malu, apalagi saat melihat senyuman yang tersungging di bibir Cakra Buana. Ah … senyuman itu.


"Aku memutuskan bahwa Ayu Pertiwi tidak akan menyerahkan selendang kepada ki Jagal. Apapaun yang terjadi. Sekarang, apa mau ki Jagal?"


"Sombong. Sebenarnya kau siapanya dia sehingga berani menantang Raja Biruang heh?"


"Aku … kekasihnya …" kata Cakra Buana.

__ADS_1


Seketika itu juga Ayu Pertiwi membelalakan matanya mendengar ucapan pemuda itu. Jantungnya semakin berdebar kencang. Bahkan Cakra Buana pun seperti itu, seolah dia merasa bahwa bibirnya berbicara sendiri. Mau ditarik ulang kata-katanya, bukanlah perkara baik. Maka terpaksa dia harus menutupi kegugupannya dengan bersikap berani.


__ADS_2