Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Cerita Kakek Sakti


__ADS_3

Cakra Buana dan Ling Zhi lalu mengikuti penjaga itu di belakangnya. Dia di bawa ke sebuah ruangan besar dan cukup mewah. Setelah sampai, penjaga itu mengetuk pintu.


Ada seseorang yang menyahut dari dalam sana, setelah itu maka si penjaga pun undur diri. Kini yang ada tinggalah Cakra Buana dan Ling Zhi. Mereka sedang menunggu pintu di buka. Tak perlu waktu yang lama, pintu pun sudah terbuka dan muncul seseorang dari dalam.


Kedua pendekar muda itu buat terkejut bukan main. Mereka terperanjat. Apakah ini mimpi? Ah tidak, ini bukan mimpi. Ini nyata.


Cakra Buana sempat tercenung untuk beberapa saat. Bagaimana tidak? Sebab orang yang muncul dari dalam itu, merupakan orang yang sudah lama ia kenal. Bahkan sempat beberapa kali bertemu dengannya.


"Ka-kakek Sakti," kata Cakra Buana masih dalam keheranan.


"Hahaha … kita bertemu lagi Cakra. Kau ternyata menepati janjimu itu," katanya sambil tertawa.


"Mari, mari. Silahkan masuk," katanya.


Cakra Buana dan Ling Zhi masuk ke dalam. Keduanya masih keheranan dan belum mengerti tentang apa yang terjadi saat ini. Bukankah Sepasang Kakek dan Nenek Sakti merupakan pendekar beraliran merdeka? Tapi kenapa keduanya bisa ada di sini. Kini pikiran Cakra Buana dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan.


"Sudah-sudah, duduk saja dulu. Biar aku ceritakan yang sebenarnya," ucap Kakek sakti yang melihat raut wajah kebingungan dua pendekar muda itu.

__ADS_1


Cakra Buana dan Ling Zhi duduk. Kakek Sakti kemudian memanggil si Nenek Sakti. Nenek tua itu datang dengan membawa empat cangkir berisi teh. Di sampingnya ada juga satu kendi tuak. Kakek Sakti diam-diam ternyata suka mabuk juga.


Setelah menyediakan suguhan untuk tamunya itu, Nenek Sakti pun turut bergabung di sana. Keempatnya duduk di bangku dengan meja bundar yang terbuat dari pohon jati besar.


Mereka bersulam untuk minum dahulu sebelum memulai cerita. Setelah bersulam, Kakek Sakti pun membetulkan posisinya. Kemudian ia pun bercerita.


"Dahulu, sekitar lima tahun yang lalu, kami –Sepasang Kakek dan Nenek Sakti– memanglah pasangan pendekar beraliran netral. Kami tidak terikat dalam perguruan atau pun sejenisnya. Kami hidup bebas, bebas melakukan apa pun yang kami mau. Tapi meskipun golongan merdeka, kami sering melakukan perbuatan-perbuatan lurus. Terlebih lagi kami sering membela rakyat atau siapa pun yang tertindas. Dan atas semua itu, nama kami menjadi semakin berkibar di dunia persilatan. Baik kawan maupun lawan, semua segan terhadap kami berdua".


"Tapi namanya manusia, apalagi kita ingin menjadi orang baik, pastilah yang namanya rintangan akan datang menghadang. Begitu pun dengan kami. Di saat nama kami benar-benar berkibar, muncul para pendekar yang menginginkan nyawa kami. Hampir setiap hari, kami selalu terlibat dalam pertarungan hidup dan mati. Dan suatu ketika, kami bertemu dengan kesialan. Sekalipun mungkin kepandaian kami terbilang sukar di cari tandingan, tapi kamu juga manusia. Bukan Tuhan. Di atas langit masih ada langit".


"Saat itu empat orang pendekar datang secara tiba-tiba lalu mengeroyok kami. Mereka memakai pakaian serba hitam dan penutup wajah yang hitam pula. Mereka itu memiliki kepandaian yang bahkan di atas kami berdua. Atau mungkin jauh di atas datuk dunia persilatan yang sekarang. Mungkin mereka hanya bisa di sejajarkan dengan Ki Wayang atau pun Eyang Rembang. Kami bertarung mati-matian melawan mereka. Pertarungan itu berlangsung satu hari satu malam".


"Mereka menyelamatkan kami dari kematian. Kami di rawat hingga kondisinya benar-benar pulih seperti sedia kala. Dan orang yang sudah menyelamatkan kami itu, ialah Gusti Prabu Katapangan Kresna. Semenjak saat itu, kami mengabdi kepadanya hingga saat ini. Belum banyak para pendekar yang tahu bahwa kami telah mengabdi di sini. Kami di angkat menjadi penasihatnya sampai detik ini," kata Kakek Sakti menjelaskan kepada Cakra Buana dan Ling Zhi.


Selama menjelaskan itu, wajahnya beberapa kali menampakkan ekspresi yang berbeda. Pikirannya seperti menerawang jauh ke masa lalunya tersebut. Begitu pun dengan si Nenek Sakti. Kedua pasangan dua itu bernostalgia bersama-sama.


"Maaf kek, apakah sekarang kau tahu siapa empat orang yang mengeroyokmu itu?" tanya Cakra Buana keheranan.

__ADS_1


Dia masih buta dalam dunia persilatan. Bagaikan seorang bayi yang baru lahir ke dunia. Jadi, tentu masih banyak tokoh-tokoh pendekar yang belum dia kenal. Apalagi wilayah Pasundan ini luas, pengetahuannya masih cetek.


"Pertanyaan yang bagus. Pada akhirnya kami memang mengetahui siapa pelakunya. Mereka berempat itu biasa di sebut Empat Dewa Sesat. Keempatnya merupakan satu guru satu ilmu. Menurut kabar, mereka memiliki seorang guru yang ilmunya sudah sangat tinggi. Bahkan guru mereka mendapat julukan Pengusa Kegelapan karena ilmu hitamnya hebat bukan kepalang," kata Kakek Sakti memberitahu kepada Cakra Buana.


"Aku baru mendengar nama-nama itu. Tapi apakah sampai saat ini Empat Dewa Sesat beserta Penguasa Kegelapan masih hidup?"


"Menurut kabar yang aku dengar mereka memang masih hidup. Hanya saja sekarang sedang mengasingkan diri di suatu tempat. Tapi aku sendiri pun tidak tahu di mana tempatnya. Namun aku sangat yakin, mereka akan kembali menampakkan diri untuk memenuhi ambisinya. Yaitu menjadi seorang penguasa, baik dalam dunia persilatan, maupun dalam pemerintahan,"


"Kalau itu semua benar akan terjadi, maka aku yakin Pasundan akan berada dalam masa kekacauan. Bahkan sangat kacau. Ah iya, apakah kau juga mengenal Ki Wayang Rupa Sukma Saketi dan Eyang Rembang Mangkurat Mangku Jagat?"


"Hahaha …," si Kakek Sakti tertawa lalu meneguk tuaknya sebelum melanjutkan bicara. "Tentu saja aku kenal. Siapa yang tidak kenal kepada kedua tokoh legendaris itu? Semua pendekar pasti mengenalnya,"


'Ternyata kedua guruku memang bukan orang sembarangan,' batin Cakra buana.


Untuk beberapa saat lamanya keempat orang itu melamun. Tak ada yang bicara di antara mereka. Keempatnya sedang bergelut dengan pikirannya masing-masing. Tak ada suara pula kecuali suara nafas dan detak jantung.


"Hei sudah-sudah. Mari kita temui Gusti Prabu. Aku yakin dia sudah menunggu kalian di ruangannya," ucap Kakek Sakti menyadarkan.

__ADS_1


"Aih aku hampir lupa saking asyiknya mendengarkan cerita kakek. Baiklah, baik, mari kita ke sana sekarang," kata Cakra Buana sambil berdiri.


Keempatnya pun lalu melangkahkan kaki ke luar ruangan. Cakra Buana dan Ling Zhi mengikuti Sepasang Kakek dan Nenek Sakti dari belakang. Sepanjang perjalanan menuju ruang utama, para punggawa kerajaan terlihat sangat menghormati pasangan tua itu. Sepertinya mereka benar-benar memiliki reputasi yang cukup baik di kerajaan.


__ADS_2