Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Harimau dan Elang


__ADS_3

Dua belah pihak kini sudah saling serang. Lima Pedang mulai menggempur delapan lawannya dengan jurus-jurus pedang yang mereka miliki. Begitupun sebaliknya, lawan berusaha pula menyerang dengan semua kepandaian yang dimiliki.


Pertarungan berbeda jumlah pun tak dapat di hindari lagi. Dentingan logam bertemu memercikkan kembang api ke udara, teriakan demi teriakan mulai membahana.


Lima belas menit berlalu, tapi pertarungan masih berjalan imbang. Bahkan Lima Pedang mulai berhasil mendesak lawan-lawannya. Meskipun para anak buah Tiga Iblis Gunung Waluh bukanlah lawan sembarangan, tapi sepertinya mereka masih di bawah satu atau dua tingkat Lima Pedang.


Lima Pedang terus menggempur lawan dengan jurus-jurus yang beruntun. Kelima anggotanya terbungkus sinar putih dari pedang. Kadang-kadang, gulungan sinar itu mencuat keluar mengincar bagian tubuh lawan.


Semakin lama, kedelapan anak buah Tiga Iblis Gunung Waluh semakin terdesak. Beberapa anak buahnya sudah menerima luka sayatan pedang. Darah mulai merembes keluar membasahi bumi. Teriakan kematian mulai terdengar menyayat hati.


Empat orang anak buah tiga iblis itu meregang nyawa dengan luka mengenaskan. Keempat rekannya yang tersisa mulai merasa gentar karenanya. Serangan dan gaya bertarung mereka mulai kacau. Konsentrasinya buyar saat terbayang bagaimana rekannya tewas di depan mata.


Hal ini menjadi keuntungan tersendiri bagi anggota Lima Pedang. Mereka menyerang lebih ganas. Serangannya beruntun tanpa memberikan celah bagi lawan untuk mengelak. Mereka mulai mengeluarkan jurus pamungkasnya.


"Barisan Lima Pedang …"


"Wuttt …"


"Cringg … cringg …"


Jurus Barisan Lima Pedang adalah sebuah jurus yang harus digunakan dengan jumlah lima orang pula. Jurus ini terbilang baik, sebab kelima pelakunya akan bekerja sama bahu membahu untuk merobohkan lawan.


Dan itu semua terbukti sekarang. Keempat lawan Lima Pedang mulai kelimpungan. Beberapa bagian tubuhnya sudah menjadi sasaran pedang yang haus akan darah itu. Lima Pedang semakin menambah kekuatan serangannya, setiap ayunan pedangnya selalu membawa hawa dingin.


Tapi ketika Lima Pedang berniat untuk mengakhiri pertarungan ini, tiba-tiba saja gelombang angin menyambar mereka.


"Wuttt …"


"Clangg … clangg …" patah.


Lima Pedang terpental lalu muntah darah. Sedangkan senjata pedang mereka, patah menjadi dua bagian. Kelimanya tidak mengetahui secara pasti apa yang baru saja terjadi. Yang mereka tahu hanyalah adanya gelombang angin besar menyambar tubuh.


Di sisi lain, Cakra Buana pun tak tinggal diam. Begitu Lima Pedang terpental, Pendekar Maung Kulon itu langsung maju ke depan diikuti oleh Ling Zhi.

__ADS_1


"Iblis memang licik. Jika pihakmu tidak mau kalah, maka bawalah orang-orang yang lebih hebat. Jangan hanya bawa tikus-tikus seperti mereka ini," ejek Cakra Buana sambil melirik ke anak buah Tiga Iblis Gunung Wilis.


"Kau benar-benar sombong. Baik, aku mengakui kalau anak buahku kalah. Tapi belum tentu pemimpinnya akan kalah juga. Kalau memang ada nyali, mari kita selesaikan semuanya sekarang," ucap Sugra si Tangan Maut.


Ternyata, memang dialah pelakunya yang membuat Lima Pedang terpental bahkan sampai luka dalam. Golongan sesat memang sangat terkenal kelicikannya sejak zaman dahulu kala.


"Cihhh … nyalimu besar juga. Tapi maaf, kau bukan lawanku," kata Cakra Buana sengaja menyombongkan dirinya untuk memanasi lawan.


"Jangan membual. Kalau memang takut, terus terang saja *******," ucap Sugra memaki. Dadanya terasa panas ketika mendengar ejekan Cakra Buana sebelumnya.


"Takut? Cihhh … sekali pun ada sepuluh iblis sepertimu, aku tidak akan mundur walau satu langkah pun," katanya kembali memanas-manasi lawan.


"Mo*yet buduk. Lihat serangan …"


"Wuttt …"


Tanpa banyak berkata lagi, Sugra langsung melesat memberikan serangan kepada Cakra Buana. Tangan kanannya di kepal siap memberikan pukulan dengan telak. Sedangkan tangan kirinya membentuk cakar yang tajam.


Cakra Buana sudah memperkirakan semua ini. Jadi begitu musuh menyerang tiba-tiba, Pendekar Maung Kulon itu tidak panik. Sebaliknya, dia bahkan bisa mengelak serangan itu dengan mudahnya.


"Plakk …"


"Plakk …"


Sugra terpundur hingga berputar satu kali. Kedua tangannya terasa nyeri saat mendapat tangkisan dari lawan. Segera dia menyalurkan hawa murninya untuk menghilangkan rasa sakit itu.


Sementara itu dari arah belakang, tiba-tiba Lodra si Trisula Sakti meluncur dengan deras bagaikan lesatan anak panah. Trisula emas miliknya sudah terjulur ke depan. Siap untuk menusuk lawan. Salah satu dari Tiga Iblis Gunung Waluh itu menyerang Ling Zhi.


"Wuttt …"


Sama seperti Cakra Buana sebelumnya, gadis ini pun sudah menyadari kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Begitu melihat lawan tiba-tiba menyerang dirinya, secara refleks tangan yang mulus itu mencabut Pedang Bunga dari sarungnya.


"Sringg …"

__ADS_1


"Trangg …"


Dua pusaka bertemu. Percikan api membumbung tinggi ke udara. Lodra dan Ling Zhi adu tenaga dalam lewat benda pusaka untuk beberapa saat. Namun tak lama, keduanya mementalkan lawan masing-masing.


Ling Zhi terpundur dua langkah ke belakang setelah sebelumnya bersalto dua kali di udara. Sedangkan Lodra terpundur tiga langkah. Tangannya sedikit ngilu. Dari serangan awal saja, bisa terlihat bahwa kepandaian Ling Zhi masih ada di atas Lodra sekitar satu atau dua tingkat.


Dalam hatinya, Lodra mau tak mau harus mengakui bahwa dia masih kalah tinggi. Tapi untuk berkata terus terang, rasanya tidak mungkin. Segera saja si Trisula Maut itu menguatkan tekad untuk mengadu nyawa dengan lawan.


"Kenapa berhenti? Mari kita selesaikan semua ini. Aku tidak memiliki banyak waktu untuk bermain-main bersama kalian. Hei kau orang tua, kemarilah! Bantu rekanmu ini untuk menghadapiku," ucap Cakra Buana sambil menunjuk ke arah Jalabara.


Iblis itu sedari tadi memang masih berdiri dengan tegak. Kedua tangannya dia lipatkan di depan dada. Jalabra yakin bahwa kedua adik seperguruannya mampu mengalahkan dua pendekar muda itu. Apalagi, mereka bertiga merupakan tiga dari lima murid utama Perguruan Gunung Waluh. Tentu saja kepandaiannya tidak bisa di anggap enteng.


"Jangan kau lancang mulut setan. Kita belum bertarung, jadi kau tidak bisa berkata seenaknya. Kakak seperguruanku tidak pantas untuk bertarung dengan pendekar sepertimu," kata Sugra tidak mau kalah.


"Baiklah. Terserah apa katamu. Yang penting aku sudah memberikan kesempatan," tutur Cakra Buana acuh tak acuh.


"Omong kosong. Lihat serangan …"


"Wuttt …"


Sugra bergerak kembali. Kali ini kedua tangannya membentuk cakar. Serangan ini bukan serangan sembarangan. Sebab ini adalah salah satu jurus andalan miliknya.


"Cakar Elang Hitam …"


Kedua tangan yang mirip dengan cakar elang itu, bergerak mengincar leher dan pelipis Cakra Buana. Gerakannya sungguh cepat, persis bagaikan elang memburu mangsa. Cepat, tangkas. Tentunya berbahaya.


"Plakk …"


Kedua tangan Cakra Buana membentuk tamparan untuk menahan serangan Sugra. Dengan gerakan cepat, Pendekar Maung Kulon itu mengubah posisi.


Dia mulai menyerang dengan jurus-jurus maut dari Kitab Maung Mega Mendung.


"Menyambar dan Menerkam Mangsa …"

__ADS_1


"Wuttt …"


Dua pendekar mulai terlihat petarungan. Walaupun baru berjalan sebentar, tapi pertarungan itu langsung sengit. Bagaikan seekor harimau dan seekor elang yang bertarung merebut kekuasaan.


__ADS_2