Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Bidadari Tak Bersayap


__ADS_3

Pertarungan dahsyat dari tujuh pendekar tersebut masih terus berlanjut. Tujuh macam senjata pusaka memberikan serangan yang mampu mementalkan kepala kapan pun itu.


Cakra Buana masih bertahan dengan jurus pedang terkuat yang dia miliki. Jurus Hujan Kilat Sejuta Pedang memang dapat diandalkan oleh Pendekar Tanpa Nama.


Jurus dahsyat itu selalu mampu menembus pertahanan lawan dan bahkan membantu dirinya terbebas dari kurungan serangan.


Andai kata Cakra Buana tidak memiliki jurus tersebut, mungkin sejak dari tadi dia tewas. Dan tewasnya bahkan berulang kali.


Sebab keenam tokoh tua ini, kekuatannya sangatlah digdaya. Dua atau tiga datuk dunia persilatan sekalipun mungkin akan kewalahan menghadapi keenam tokoh ini.


Di saat Cakra Buana membenturkan pedangnya dengan pedang lawan, mendadak dari arah kiri dan kanan terasa ada kesiur angin dingin yang menerpanya.


Sebuah gada hitam melayang dari atas ke bawah. Sedangkan satu lagi berupa tusukan tombak yang memecah kegelapan. Kalau Cakra Buana sampai terlambat menyadari hal ini, sudah tentu tubuhnya akan terkoyak.


Tapi Pendekar Tanpa Nama sudah menunjukkan kekuatannya. Dengan kemampuan yang dia miliki sekarang, semua indera di tubuhnya peka sampai titik maksimal. Suara sekecil apapun mampu dia dengar. Apalagi dengan dibantu jurus Ajian Dewa Saptapanguru.


Sekelompok ibu-ibu yang bergosip saat arisan pun dapat dia dengar obrolannya.


Cakra Buana melompat mundur sambil berusaha untuk terus memberikan serangan kepada pendekar yang jaraknya dekat. Saking cepatnya gerakan Cakra Buana, dua orang tokoh tidak mampu menghindarkan diri dari sabetan Pedang Naga dan Harimau.


Namun sayangnya, dia juga harus merelakan pangkal lengan kirinya tergores oleh pinggiran tombak.


Darah segar segera keluar bersamaan dengan megucurnya darah lawan akibat sabetan pedang pusaka yang dia genggam.


Tapi walaupun begitu, pertarungan hebat tetap terus berlangsung, arena yang mereka gunakan semakin lama semakin melebar. Hal ini terjadi karena arena pertarungan sebelumnya sudah hancur tidak karuan akibat jurus mengerikan yang masing-masing mereka keluarkan.


Puluhan batang pohon sudah roboh. Ada yang remuk akibat hantaman gada. Bolong akibat tusukan tombak dan pisau. Bahkan ada juga yang roboh akibat sabetan pedang.


Cakra Buana masih dikepung dari segala sisi. Walaupun pedangnya terus bergerak memberikan serangan kilat yang menggelegar, tapi kali ini lawan sudah tahu untuk menangkis jurus dahsyat tersebut.

__ADS_1


Telinga mereka bahkan tubuhnya sudah dilindungi oleh tenaga sakti. Sehingga sihir yang terkandung di dalam jurus Hujan Kilat Sejuta Pedang tidak terlalu berpengaruh bagi keenam tokoh yang menjadi lawannya tersebut.


Pendekar Tanpa Nama melompat tinggi ke udara. Begitu turun, dia memberikan serangan dengan posisi kepala di bawah. Pedang Naga dan Harimau berputar membentuk sebuah pusaran yang mengandung tenaga dalam dahsyat.


Cahaya kilat akibat sabetan dan tusukan pedang pusaka Cakra Buana menutupi pemandangan semua orang.


Para pendekar yang selamat dari maut sebelumnya, hanya mampu menyaksikan kelebatan bayangan yang bertarung. Sebab mata mereka tidak bisa menangkap semua pergerakan yang teramat cepat seperti itu.


Di saat Cakra Buana sudah menggempur kembali, dia menggeram lalu membentak nyaring.


Serangan dengan menggunakan Pedang Naga dan Harimau semakin cepat. Bahkan lebih cepat dua kali lipat. Kakinya mengikuti gerakan irama tangan.


Pedang itu menangkis semua senjata yang mengincar tubuh. Di saat berbarengan, bahkan Pedang Naga dan Harimau mampu untuk memberikan serangan balasan pula.


Andai kata ada beberapa tokoh lagi yang menyaksikan pertempuran dahsyat ini, sudah pasti mereka tidak akan percaya.


Pertarungan sudah mencapai seratus jurus lebih. Enam tokoh mulai bisa membalikan keadaan. Jurus simpanan mereka sudah dikeluarkan dengan pengerahan tenaga tingkat tinggi.


Sinar yang keluar dari setiap serangan masing-masing tokoh itu semakin besar dan memberikan tekanan hebat. Untuk saat ini Cakra Buana berada di posisi sedikit terdesak.


Jurus Hujan Kilat Sejuta Pedang walaupun masih dia lancarkan, tetapi tidak seganas tadi. Bukan berarti karen Cakra Buana kalah atau kehabisan tenaga.


Alasannya karena dia dikepung dari segala sisi. Semua celah di tutup dengan rapat. Bahkan enam jurus lawan menyerang secara bersamaan.


Siapa yang mampu membebaskan diri dengan mudah dari posisi seperti Cakra Buana sekarang? Sekalipun yang dikepung adalah harimau, tetap saja dia akan merasa kesulitan untuk melepaskan dirinya dari gempuran tersebut.


Di saat situasi yang menentukan itulah terdengar sebuah teriakan nyaring. Teriakan tersebut memang keras, tapi suaranya sangat lembut dan merdu sekali. Bagaikan suara bidadari yang cantik tiada duanya.


"Enam tokoh tidak tahu malu. Beraninya hanya main keroyokan," teriak seseorang yang baru datang tersebut.

__ADS_1


Baik enam tokoh tua ataupun Cakra Buana, semuanya merasa kekagetan yang sama. Apalagi setelah mereka melihat bahwa yang berkata barusan merupakan seorang gadis muda.


Bahkan umurnya hanya sedikit di bawah Cakra Buana. Paling sedikit gadis tersebut baru berusia mencapai dua puluh tiga tahun.


Yang membuat semua pendekar lebih terkejut lagi adalah entah sejak kapan dan bagaimana caranya si gadis tiba-tiba sudah ada di tengah-tengah arena pertarungan dahsyat tersebut.


Entah suatu kebetulan atau memang diakibatkan karena kekuatan si gadis yang baru datang itu, mendadak pertempuran dahsyat berhenti.


Enam senjata yang tadi menggempur Cakra Buana, kini sudah diam di dalam genggaman pemiliknya masing-masing.


Semua orang yang hadir di sana tertegun saat melihat sosok gadis itu dengan jelas. Wajahnya benar-benar sangat cantik. Bulu matanya lentik dengan bola mata yang jernih bagaikan air danau.


Lesung pipinya ada dua. Tingginya di bawah Cakra Buana sedikit, perawakannya mampu membuat semua pria tergoda. Dengan pakaian merah muda yang ringkas, penampilan gadis asing tersebut benar-benar membuat jantung terasa copot.


Akibat pakaian yang terbilang ketat, bahkan lekuk tubuhnya tampak terlihat dengan jelas. Siapapun pasti akan tertegun melihat bidadari yang baru turun ini.


Di punggungnya tersoren sebatang pedang dengan sarung berwarna biru muda dan penuh manik-manik indah. Sama indah seperti pemiliknya


"Maaf, siapakah nona ini? Kenapa tiba-tiba menghentikan pertarungan kami?" tanya seorang tokoh yang menggenggam pedang.


Suara yang tadinya kasar, kini berubah menjadi lembut. Sikap yang kurang ajar pun mendadak berubah sopan. Tapi tatapan matanya, tidak mampu menyembunyikan sifat liarnya.


"Namaku Sinta Putri Wulansari. Tetapi orang-orang biasa memanggilku Bidadari Tak Bersayap," katanya dengan suara yang lembut penuh pesona.


Senyumannya bahkan mampu membuat dewi kahyangan iri. Apalagi sikap lembutnya. Kecantikan di dunia nampaknya berada di seluruh tubuh gadis ini. Jangankan wajahnya, telapak kakinya pun mungkin bisa dibilang cantik.


Apalagi di dukung dengan kulitnya yang lembut seperti suaranya.


Tetapi setelah si gadis memperkenalkan nama dan julukan barusan, keenam tokoh segera berubah raut wajahnya. Mereka yang tadinya tenang, kini berubah menjadi khawatir. Terlihat jelas dari reaksi mereka saat mendengar nama tadi.

__ADS_1


__ADS_2