
Setelah mengerahkan sedikit tenaga dalam, akhirnya pemuda serba putih itu bisa bangkit berdiri lagi. Segera dia mengusut darah yang keluar lalu menyalurkan hawa murni ke seluruh tubuhnya.
"Nyai Dewi, kenapa kau menyerangku bersungguh-sungguh? Bukankah tadi Nyai Dewi sendiri yang menyuruhku untuk mengeluarkan seluruh kemampuanku?" tanya Cakra Buana yang berusaha untuk menahan amarahnya.
"Perduli setan. Siapa suruh kau berbohong, tadi kau bilang tidak mempunyai kepandaian tinggi. Tapi buktinya? Kau bahkan bisa menahan ilmu Tapak Kawah Bulan milikku," kata nenek tua tersebut dengan nada marah.
"Itu karena kau benar-benar berniat membunuhku. Maka tentu saja aku akan membela diri. Sekarang aku pamit undur diri, aku tidak punya urusan denganmu. Biarkan aku pergi," ucap Cakra Buana yang berniat untuk melangkahkan kakinya.
Akan tetapi si nenek tua itu tidak membiarkan Cakra Buana pergi begitu saja.
"Enak saja. Hadapi aku dengan segenap kemampuanmu bocah," kata nenek tua itu lalu tiba-tiba dia menyerang kembali Cakra Buana menggunakan tongkat berkepala bulan sabit miliknya.
Murid Eyang Resi Patok Pati itu menghentikan langkah kakinya dan langsung berbalik ketika merasakan adanya serbuan angin yang berderu kencang ke arahnya.
Bertepatan dengan berbaliknya Langlang Cakra Buana, saat itu pula Dewi Bulan sudah dekat dengannya. Nenek tua itu memukulkan tongkatnya menuju ke ubun-ubun Cakra Buana.
Pemuda serba putih itu kaget. Buru-buru dia menghindari serangan tersebut dengan cara membantingkan tubuhnya ke samping.
"Jangan berlagak sombong didepanku anak muda. Kau rasakan kemarahan Dewi Bulan," katanya sambil memandang Cakra Buana dengan tajam.
"Nyai Dewi, aku sudah pamit undur diri baik-baik, tapi kau menghalangiku. Dan malah kau membokongku, jadi maafkan aku jika berlaku kejam padamu. Kau sendiri yang memaksa," kata Cakra Buana sambil mencabut Pedang Pusaka Dewa.
"Sringgg …"
Pedang Pusaka Dewa tercabut. Sinarnya menyilaukan mata ketika dibawah teriknya matahari yang mulai meninggi.
"Pedang Pusaka Dewa …" seru Dewi Bulan yang ternyata mengenali juga pedang pusaka itu.
"Dari mana kau mendapatkan pedang pusaka itu anak muda?" tanya Dewi Bulan dengan tatapan mata penuh selidik.
"Dari mana aku mendapatkan pedang ini bukanlau urusanmu. Sekarang jika kau masih berniat untuk melanjutkan pertarungan, mari kita mulai. Aku tidak akan segan-segan lagi," tutur Cakra Buana sambil memasang kuda-kuda.
"Cihhh … jangan mengira bahwa aku akan takut padamu karena Pedang Pusaka Dewa pemuda sombong. Rasakan ini …"
"Haittt …"
Dewi Bulan menyerang lagi. Tongkatnya sudah diputar-putar dengan cepat mengincar leher Cakra Buana.
Tapi kali ini dia sudah berniat untuk serius, sehingga Cakra Buana tak tinggal diam ketika tongkat itu sudah dekat dengan lehernya.
"Trakkk …"
__ADS_1
Kedua pusaka beradu. Kedua tangan pendekar itu bergetar. Cakra Buana mementalkan tongkat bulan sabit milik Dewi Bulan. Kemudian dia maju menyerang.
"Pedang Tanpa Bayangan …"
Cakra Buana langsung mengeluarkan jurus dari Kitab Dewa Bermain Pedang. Gerakannya cepat bukan main.
Seolah Pedang Pusaka Dewa itu bergerak tanpa memiliki bayangan. Sehingga setiap gerakannya berat dan mematikan.
Dewi Bulan cukup kaget juga ketika melihat permainan pedang pemuda serba putih itu. Buru-buru dia juga mengeluarkan jurus tongkat miliknya.
"Menahan Gelombang Banjir …"
Dia memutarkan tongkatnya dengan cepat diatas kepala lalu diputarkan ke depan tanpa berhenti.
Hasilnya adalah semua serangan pedang Cakra Buana bisa ditahannya dengan mudah meskipun sebenarnya dia cukup kewalahan dan selalu merasa tangannya bergetar ketika menahan semua serangan itu.
Cakra Buana menyerang tiada henti. Dia menggerakan Pedang Pusaka Dewa sedemikian rupa sehingga membuat lawan lebih kerepotan lagi.
Sedangkan Dewi Bulan sejauh ini hanya bisa bertahan dan menghindari serangan saja.
"Trakkk … trakkk …"
Beberapa kali kedua senjata pusaka itu beradu hingga menimbulkan suara ledakan kecil.
Sehingga baru beberapa saat saja, Cakra Buana dan Dewi Bulan sudah terlibat dalan pertarungan yang seru sekaligus menegangkan.
Keduanya sama-sama memiliki gerakan cepat dan serangan yang berbahaya. Adu senjata pusaka pun sudah beradu tanpa henti selama jalannya pertarungan mereka.
Daun-daun kering disekitar arena pertarungan beterbangan ke udara. Suara pohon bambu yang berdecit bergesekan menambah kesan tersendiri pertarungan itu.
Cakra Buana melompat mundur ke belakang karena daritadi serangannya tidak ada yang berarti bagi nenek tua itu. Dia berniat untuk mengubah jurusnya.
"Sang Dewa Memburu Iblis …"
"Wuttt …"
Cakra Buana kembali melesat dengan kecepatan tinggi. Pedang Pusaka Dewa miliknya digenggam erat sambil diayunkan kesana kemari untuk melancarkan serangan.
Pedang itu mengarah ke bagian pinggang Dewi Bulan, buru-buru dia menghindari serangan yang cepat itu. Nenek tua tersebut membantingkan tubuhnya dan berguling di atas tanah beberapa saat lamanya.
Dewi Bulan sudah berdiri dengan normal lagi, hampir saja pinggangnya menjadi sasaran Pedang Pusaka Dewa. Jika itu bukan dirinya, tentu saja sudah dipastikan akan tewas sejak tadi.
__ADS_1
"Keparat …" Dewi Bulan memaki Cakra Buana yang kini masih berdiri dengan tenang.
Kemudian dia memutar-mutar kepala tongkatnya lalu menembakan tongkat itu ke arah Cakra Buana.
"Haaa …"
"Wutttt …"
Ada beberapa sinar kuning yang keluar dari tongkat bulan sabit dan begerak dengan cepat mengarah kepada Cakra Buana.
Pemuda serba putih itu melompat ke pinggir untuk menghindari serangan yang datang dengan cepat tersebut.
"Darrr …"
"Darrr …"
Beberapa pohon dibelakang Cakra Buana hancur berkeping-keping ketika sinar kuning itu mengenainya.
Serangan jarak jauh tongkat bulan sabit milik nenek tua itu gagal mengenai serangan. Dia semakin geram dibuatnya.
"Hattt …"
Kembali dia mengarahkan tongkatnya dari jarak jauh. Akan tetapi kali ini tenaga yang dikerahkan oleh Dewi Bulan lebih besar. Sehingga energi yang dihasilkan pin lebih hebat lagi.
"Wuttt …"
Sinar kuning meluncur deras. Cakra Buana tak berniat untuk menghindar lagi kali ini. Dia menyalurkan tenaga dalamnya ke Pedang Pusaka Dewa untuk menahan serangan jarak jauh itu.
"Haaa …"
"Duarrr …"
Dua buah energi beradu hingga menimbulkan ledakan. Dewi Bulan terpental ke belakang menabrak sebatang pohong yang agak besar.
Dari mulutnya keluar darah agak kehitaman yang cukup banyak. Ini menandakan bahwa dia kalah ketika mengadu tenaga dalam barusan.
Sedangkan Cakra Buana hanya terhuyung-huyung lima langkah ke belakang. Buru-buru dia menyalurkan hawa murni untuk mengusir hawa panas dari efek serangan Dewi Bulan.
"Nah, kau sudah kalah nenek tua. Kali ini jangan halangi aku lagi, aku pamit," kata Cakra Buana lali pergi dari tempat tersebut.
Dewi Bulan hanya bisa memandangi kepergian pemuda serba putih itu. Dia tidak berusaha untuk menahannya lagi karena lika dalamnya cukup parah.
__ADS_1
Sebenarnya bisa saja menang, akan tetapi tak disangkanya bahwa pemuda itu demikian hebat sehingga dia tidak berlaku hati-hati.
"******* sialan. Aku akan mencarimu lagi bocah sombong," maki Dewi Bulan sambil berusaha berdiri.