Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Bocah keparat, Tunggu Pembalasanku Nanti


__ADS_3

Mendengar ucapan Cakra Buana, Ki Laya semakin marah. Jika di lihat lebih teliti lagi, ada asap putih tipis yang mengepul keluar dari tubuh Ki Laya.


Tapi disaat dia mau menyerang Cakra Buana, Surajaya sudah berdiri kembali dan berjalan mendekati gurunya seraya berkata, "Guru, biar aku saja yang menghajar pemuda keparat itu. Aku masih sanggup mengalahkannya," kata Surajaya dengan marah.


"Pulihkan dulu lukamu. Jangan anggap enteng lawan, kesalahan inilah yang sering kau lakukan, sehingga hari ini kau bisa dilukai dengan mudah," kata Ki Laya kepada muridnya.


Surajaya tidak menjawab. Dia hanya terdiam seperti menahan rasa kesal. Entah kepada gurunya ataupun kepada Cakra Buana.


Dan memang begitulah, Surajaya selalu menganggap enteng lawan. Dia selalu menganggap dirinya sudah berilmu tinggi. Padahal, di luar sana masih banyak orang-orang yang lebih tinggi daripada dirinya.


Begitupun dalam hidup. Jangan menganggap bahwa kau pintar. Kau pintar dalam satu bidang, tapi kau belum tentu pintar dalam bidang lain. Di dunia ini, tidak ada orang yang pintar dalam segala keilmuan.


Jika ada yang mengatakan kau pintar, maka lebih baik menjawab: Tidak, aku bukan orang pintar. Hanya saja, aku adalah orang yang mau berpikir. Selesai. Dan salah satu fitrah manusia adalah berpikir.


Setelah melihat bahwa Surajaya kembali lalu duduk di atas bebatuan hitam untuk bermeditasi, Ki Laya lalu melanjutkan niat menyerang Cakra Buana yang tadi sempat tertunda.


"Tahan serangan …"


"Wuttt …"


Kakek tua itu menerjang, memulai serangannya. Tangan kanannya membentuk cakar. Sedangkan tangan kiri mengepal keras. Serangan pertama Ki Laya ini mengincar leher Cakra Buana.


Agaknya dia memang tidak berminat untuk bermain-main lagi. Pula, dari serangan pertama saja sudah terlihat bahwa dia sama sekali tidak menganggap enteng lawan. Apalagi setelah tadi melihat kejadian senjata pusaka muridnya dibuat terbelah dengan mudah.


Kesiur angin yang tajam datang lebih dulu menerpa Cakra Buana sebelum serangan Ki Laya tiba. Hal ini menandakan bahwa serangan kakek tua itu dibarengi dengan tenaga dalam yang lumayan.


Cakra Buana bergerak dengan cepat, tubuhnya di condongkan ke belakang untuk menghindari serangan.


"Wuttt …"


Cakra Buana balas menyerang Ki Laya dengan kaki kiri yang dia angkat mengincar dagu. Ki Laya kaget, buru-buru dia menarik kembali tubuhnya ke belakang. Sebab jika dipaksakan, maka dagunya akan lebih dahulu terkena serangan balasan lawan.


"Wuttt …"


"Wuttt …"


Keduanya sudah melompat menyerang. Pertarungan di pinggir sungai, tak dapat di hindari lagi. Karena melihat lawan sudah serius, maka Cakra Buana pun langsung mengeluarkan jurus-jurusnya.


Ki Laya menyerang Cakra Buana secara membabi buta. Setiap serangannya terisi tenaga dalam yang besar serta dendam membara. Di sisi lain, Cakra Buana pun sama halnya, dia turut mengerahkan kemampuannya. Hanya saja dia tidak menyelipkan dendam apapun dalam pertarungan ini, kecuali sebatas membela diri saja.


Lima belas jurus sudah berlalu. Selama itu, keduanya sudah saling serang dan saling tangkis. Walaupun sudah tua, tapi tenryata Ki Laya masih memiliki kecepatan dan kelincahan yang luhur.


"Pukulan Pembelah Bukit …"


"Wuttt …"

__ADS_1


Ki Laya memberikan sebuah serangan jurus yang hebat. Tangan kanannya di julurkan ke depan. Kemudian ada gelombang angin besar yang menerjang Cakra Buana.


Tapi meskipun serangan itu hebat, Cakra Buana tetap bisa menghindarinya dengan cara bersalto di udara sebanyak tiga kali.


Begitu mendarat, dia langsung menjejak batu hitam lalu meluncur dengan deras ke arah Ki Laya.


"Pukulan Penghancur Sukma …"


"Wuttt …"


"Benteng Istana Buaya …"


"Blarrr …"


Dua jurus tingkat tinggi bertemu, Cakra Buana dengan serangannya yang berbahaya, Ki Laya dengan pertahanannya yang kokoh.


Benturan dua jurus tersebut menimbulkan suara ledakan yang cukup besar. Akibatnya tanah bergetar sedikit, kedua orang tersebut sama-sama terpental.


"Ternyata kekuatan Ki Laya jauh lebih luhur daripada Ki Baya," gumam Cakra Buana sambil melompat ke gelanggang pertarungan kembali.


"Pemuda ini sungguh hebat. Pantas saja Adi Baya bisa tewas ditangannya. Kalau begitu, aku harus lebih serius kali ini," kata Ki Laya yang turut melompat pula.


Dua pendekar tua dan muda sudah berhadapan kembali. Keringat mulai membasahi tubuh mereka. Terlebih Ki Laya, nafasnya sudah terengah-engah karena telah mengeluarkan tenaga dalam dengan jumlah tidak sedikit.


"Ki Laya, mari kita selesaikan dengan segera. Aku sudah tidak ingin bermain-main lagi," kata Cakra Buana.


"Harimau Mencabut Nyawa …"


"Rrrggghhh …"


"Wuttt …"


Angin menyambar dengan kencang mengiringi gerakkan Cakra Buana. Pemuda serba putih itu menyerang seperti seekor harimau yang sudah benar-benar marah.


Kedua tangannya di lebarkan membentuk cakar. Gerakan kakinya selaras dengan gerakan tangan. Gesit, lincah, dan sangat bertenaga.


Di sisi lain, Ki Laya pun tak mau kalah. Dia berniat untuk mengeluarkan ajian pamungkasnya.


"Ajian Buaya Hideung …"


"Wuttt …"


Tubuh Ki Laya tiba-tiba dipenuhi sisik buaya. Matanya pun berkilat tajam.


Dengan gerakan mantap dan ajian yang hebat, dia siap menahan serangan Cakra Buana.

__ADS_1


"Wuttt …"


"Plakkk …"


"Bukkk …"


Keduanya kembali bertarung. Pukulan dan tendangan sudah tidak bisa terhitung lagi. Pertarungan mereka berjalan dengan sangat cepat, mustahil jika orang biasa mampu melihat pertarungan itu dengan jelas.


Bahkan, Surajaya yang kini masih duduk bersila pun hanya samar-samar melihatnya.


Kedua orang itu tertutup sinar-sinar yang dihasilkan dari serangan masing-masing. Suara kedua kaki tangan bertemu, terdengar tiada hentinya. Hampir dua puluh jurus mereka bertarung tanpa jeda. Tapi belum ada yang mampu keluar sebagai pemenang.


Hingga pada akhirnya Cakra Buana dibuat semakin marah, karena kemarahan itulah Pendekar Maung Kulon mengeluarkan seluruh tenaganya. Sehingga perlahan tapi pasti, Ki Laya mulai terlihat kewalahan.


"Bukkk …"


"Hugghh …"


Kakek tua itu terpental akibat sebuah pukulan Cakra Buana yang berhasil mengenai ulu hatinya. Untuk beberapa saat Ki Laya terdiam, dia merasakan betapa sesak dadanya.


Tanpa diduga-duga, Surajaya tiba-tiba saja memberikan serangan jarak jauh kepada Cakra Buana.


Sebuah pukulan bergelombang mengarah kepada Pendekar Maung Kulon tersebut. Tapi karena kemarahannya sudah memuncak, Cakra Buana langsung menahan pukulan itu tanpa berpikir dua kali.


"Haaa …"


Dia membalas pukulan jarak jauh Surajaya dengan pukulan yang jauh lebih hebat dan bertenaga.


Sinar putih terlihat keluar dari pukulan yang dilancarkan oleh Cakra Buana. Akibatnya hebat, pukulan Surajaya yang tadi sudah mencapai tengah-tengah, kini menjadi berbalik dan kembali menyerang dirinya sendiri.


"Blarrr …"


"Ahhh…"


Murid Ki Laya itu terpental kembali dan menabrak batu hitam. Tapi kali ini lebih keras daripada sebelumnya. Sehingga tak ayal lagi, Surajaya harus rela kehilangan nyawa dengan kepala remuk karena menghantam bebatuan sungai.


"Tidakkk … Surajaya …"


Ki Laya berteriak keras ketika mengetahui murid kesayangannya tewas. Dia langsung menghampiri Surajaya lalu meratapi kematian muridnya tersebut.


"Dasar murid bodoh. Aku sudah bilang jangan menganggap enteng lawan, kenapa kau tidak mendengar perkataanku ini," gumamnya sambil mengangkat tubuh Surajaya.


"Bocah keparat, tunggu pembalasanku nanti," ucap Ki Laya kepada Cakra Buana.


Setelah berkata demikian, dia langsung pergi sambil membawa muridnya yang sudah tewas.

__ADS_1


Cakra Buana tidak berniat untuk mengejarnya. Dia bisa melihat rasa kasih sayang tulus dari kakek tua tersebut kepada muridnya, sayangnya mereka berada di jalan yang salah.


"Hahhh … semoga Sang Hyang Widhi mengampuni segala kesalahannya," gumam Cakra Buana lalu memilih melucuti pakaiannya untuk membersihkan diri.


__ADS_2