Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Adipati Surya Wilaloni


__ADS_3

Ternyata ketika dia sampai di Kadipaten Priangan, hari menunjukan sudah pagi. Burung-burung sudah beterbangan mencari makan untuk keluarganya ataupun dirinya.


Suara riuh para penduduk kadipaten mulai berhasutan. Para pedagang mulai membuka lapak dan menjajalkan barang dagangan mereka.


Cakra Buana menyusuri kembali pelosok Kadipaten Priangan untuk mencari pria tua yang sempat dia tanya kemarin.


Setelah bertanya-tanya kepada para penduduk lainnya, akhirnya pemuda serba putih itu berhasil menemukan dan mengetahui siapa kakek tua kemarin. Ternyata kakek tua itu merupakan sesepuh disitu.


Langlang Cakra Buana pun segera menuju ke rumah kakek itu setelah menanyakan kepada beberapa orang.


"Sampurasun …"


Cakra Buana memberikan salam khas pasundan ketika dia tiba disebuah rumah bilik. Rumah itu sama seperti rumah lain, hampir bobrok dan banyak tiang-tiang kayu yang mulai dimakan rayap. Didepan rumah bilik ada dipan (bangku panjang rendah untuk duduk atau berbaring) yang terbuat dari bambu kuning yang sudah digeprek dan dihaluskan.


Setelah lumayan lama berdiri, akhirnya terdengar ada suara yang menyaut dari dalam.


"Rampes … tunggu sebentar." suara itu serak parau dan terdengar seperti suara orang tua.


Tak salah lagi, beberapa saat kemudian terlihat ada pria tua keluar dari dalam. Kakek yang kemarin ditanyakan oleh Cakra Buana.


"Ah kau … ada keperluan apa aden datang kesini?" tanya kakek tua itu sambil memandang Cakra Buana dari atas sampai bawah.


"Mas silahkan duduk." katanya mempersilahkan duduk setelah memandangi Cakra Buana.


"Terimakasih paman."


Keduanya lalu duduk di dipan itu. Tidak mewah, tapi mampu memberikan kenyamanan.


"Aku kesini tidak ada keperluan apa-apa paman. Hanya ingin bertanya saja," ucapnya.


"Tentang apakah itu den?"

__ADS_1


"Tentang kadipaten ini," jawab Cakra Buana.


Sejenak kakek tua itu diam membisu. Kepalanya celingak-celinguk memastikan keadaan.


"Mari masuk saja den," katanya.


Akhirnya mereka pun masuk ke dalam lalu duduk pada sebuah kursi dari bambu pula. Didepannya ada meja yang terbuat dari kayu sederhana.


"Memangnya aden ini siapa dan kenapa sepertinya ingin mengetahui sekali keadaan disini,"


"Seperti yang saya jelaskan kemarin paman. Nama saya Cakra Buana dan saya seorang pengembara. Saya melihat adanya keganjilan disini, banyak sekali. Terutama tentang kondisinya, yang saya ketahui adalah biasanya sebuah kadipaten selalu subur dan rakyat hidup senang. Akan tetapi yang saya lihat disini malah sebaliknya, itulah yang membuat saya ingin bertanya lebih kepada paman," kata Cakda Buana menjelaskan maksud dan tujuan yang sebenarnya.


"Aku tidak berani bercerita den. Takut ada mata-mata adipati, kalau ketahuan bisa bahaya," ucapnya dengan serius.


"Tenanglah paman. Aku akan bertanggungjawab jika terjadi sesuatu padamu. Percayalah," jawab Cakra Buana berusaha meyakinkan.


"Hemmm … baiklah. Aku akan menceritakan sedikit tentang Kadipaten Priangan ini," ujar kakek tua itu.


"Kadipaten Priangan ini dikuasi oleh seorang adipati bernama Surya Wilaloni. Dia adalah utusan dari kerajaan untuk ditempatkan disini. Awalnya memang dia menjaga dan memperhatikan kehidupan rakyat, akan tetapi setelah lewat dari tiga bulan, barulah dia memperlihatkan sifat aslinya. Ternyata adipati Surya Wilaloni tak jauh berbeda dengan junjungannya. Dia sewenang-wenang, bahkan tidak peduli keadaan rakyat yang semakin sengsara sekalipun."


"Semua orang tahu akan hal itu. Tapi siapa yang berani melawannya? Dia orang sakti, lagi pula dibelakangnya ada raja, bahkan ada tokoh-tokoh yang tak beda jauh dengannya. Karena keadaan itulah maka kehidupan rakyat menjadi sengsara lahir batin. Selain itu, perampokan dan kejahatan terjadi setiap waktu. Ujung-ujungnya kami rakyat bawah juga yang menjadi korban. Memang jika dilihat dari luar kadipaten ini seperti aman tenteram, tapi jika dilihat kedalamnya. Ya seperti yang aden saksikan ini."


"Kami sudah tidak tahu harus bagaimana. Tidak ada yang berani menentang kesewenang-wenangan ini. Al hasil … mau tidak mau kami harus menjalankan semuanya dengan lapang dada," kata kakek tua itu menjelaskan secara ringkas tentang Kadipaten Priangan.


Selama kakek tua itu bicara, Cakra Buana tidak memotongnya. Dia hanya menjadi pendengar yang baik saja.


Hatinya terasa perih ketika kakek itu menceritakan Kadipaten Priangan ini. Jiwa kependekarannya berkobar laksana api yang membara.


Keadaan tanah airnya sungguh sudah bobrok. Orang-orang yang menjabat tidak bisa diandalkan lagi. Semuanya tidak ada yang bisa diharapkan.


Mereka hanya bersenang-senang tanpa memikirkan bagaimana nasib rakyat. Para pemangku jabatan setiap hari memuaskan nafsunya, hidup dengan bergelimang harta kekayaan.

__ADS_1


Sedangkan rakyat mereka dibiarkan mati kelaparan dan hidup dalam kesengsaraan.


Begitulah jika manusia sudah dikuasai oleh nafsu. Mereka hanya akan memikirkan dirinya sendiri. Tentang orang lain, masa bodo. Selama dia senang, dia tidak peduli kepada manusia lain.


Beberapa kali Cakra Buana hanya menghela nafas berat sekedar untuk melapangkan dadanya yang mulai terasa sesak.


"Iblis dalam wujud manusia. Aku berjanji akan memberikan pelajaran kepada adipati Surya Wilaloni itu paman," tegas Langlang Cakra Buana.


"Jangan den. Adipati Surya merupakan orang sakti. Nanti dirimu akan celaka," kata kakek tua itu memberi peringatan kepada Cakra Buana.


"Tidak masalah paman. Jika aku ditakdirkan mati pun, aku tidak takut jika mati dalam membela rakyat. Membela mereka yang tertindas, melawan keangkaramurkaan yang terjadi di negeri Pasundan ini," ucap Cakra Buana dengan sorot mata yang tajam.


Dalam hati, kakek tua itu memuji keberanian dan tekad kuat pemuda yang kini dihadapannya. Baru kali ini ada seorang pendekar muda yang seperti dirinya.


"Jika kau tetap pada pendirianmu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali hanya mendoakan yang terbaik untukmu," katanya.


"Terimakasih paman. Kalau begitu, aku pamit. Sampurasun,"


"Rampes …"


Langlang Cakra Buana pergi dari rumah kakek itu dengan perasaan yang campur aduk. Hidupnya takkan bisa tenang jika membiarkan keangkaramurkaan yang terjadi didepan matanya.


Saat itu juga, dengan langkau buru-buru, dia berniat untuk mencari keberadaan adipati Surya Wilaloni.


Karena dia belum mengisi perut dari kemarin, saat ini perutnya sudah merengek minta diisi.


Cakra Buana memutuskan singgah dulu disebuah kedai makan yang tak jauh didepan sana.


Meskipun masih pagi, kedai makan itu ternyata sudah ramai. Cakra Buana segera memesan makanan dengan lauk sederhana saja.


Setelah selesai makan dan membayar biaya, maka pemuda serba putih itu langsung pergi dari kedai makan itu.

__ADS_1


Akan tetapi ketika dia memasiki jalanan pinggir hutan, telinganya yang selalu menggunakan Ajian Sapta Pangurungu mendengar ada suara pertarungan.


Suara itu berasal dari dalam hutan.


__ADS_2