Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Rencana Perang Besar


__ADS_3

"Cukup muridku! Tenangkan kembali dirimu kembali," kata Eyang Resi Patok Pati.


Langlang Cakra Buana pun nurut, dia langsung mencoba menenangkan dirinya dan berusaha untuk mengambil kendali dirinya lagi setelah tadi hampir saja dikendalikan oleh Ajian Tiwikrama.


"Selamat muridku. Kau sudah berhasil menguasai Ajian Tiwikrama. Aku yakin, jika perang nanti terjadi, maka kau akan memberikan bantuan yang besar kepada Kerajaan Kawasenan. Dan tentu saja kau akan mendapatkan sebuah penghormatan dari Prabu Ajiraga Wijaya Kusuma," ucap Eyang Resi Patok Pati.


"Maaf eyang, ti luhur sausap rambut ti handap sadampal suku. Ampun paralun (dari atas satu usap rambut, dari bawah satu usap telapak kaki). (Maaf yang sebesar-besarnya) seujung kuku pun aku tidak mengharapkan pujian ataupun penghormatan besar jika benar aku akan memberikan bantuan paling besar saat perang nanti. Aku melakukan semuanya tak lain sebagai bakti kepada tanah kelahiran dan juga bakti kepada eyang," kata Langlang Cakra Buana sambil memberi hormat kepada gurunya itu.


Mendengar jawaban murid semata wayangnya ini tentu saja Eyang Resi Patok Pati amat bahagia. Memang jawaban seperti inilah yang dia harapkan keluar dari mulut Langlang Cakra Buana sendiri.


Adapun tadi dia mengatakan hal itu tak lain hanyalah menguji semata. Apakah setelah melakukan pengembaraan tabiat muridnya itu berubah atau tidak. Ternyata tidak sama sekali, dia masih sama seperti yang dulu. Dimana selalu mempunyai sifat rendah dan juga tidak suka pujian.


Setelah guru dan murid itu bercakap-cakap ringan sebentar, keduanya langsung kembali ke ruangan untuk melakukan istirahat dengan perasaan gembira. Terlebih bagi Langlang Cakra Buana sendiri, karena akhirnya dia bisa menguasai sebuah ajian yang begitu mengerikan.


###

__ADS_1


Hari mulai pagi. Mentari pagi memberikan sinarnya ke bumi dengan terang. Sinar itu seolah bisa membangkitkan semangat yang terpendam dalam jiwa. Burung-burung bernyanyi riang.


Hamparan awan putih di langit sana menambah keindahan dipagi hari. Situasi disekitar Kerajaan Kawasenan sudah ramai. Banyak orang-orang yang sudah melakukan aktivitasnya, terutama mereka para pedagang.


Sekilas situasi ini begitu aman tentram dan damai. Padahal dibalik semua ini ada sebuah ketegangan, dimana seminggu lagi atau tepat pada bulan purnama nanti, Kerajaan Kawasenan akan melakukan penyerangan ke Kerajaan Sindang Haji.


Disebuah ruangan rapat khusus, terlihat ada beberapa orang penting yang sedang melakukan pembicaraan serius. Mereka adalah Prabu Ajiraga, Eyang Resi Patok Pati, Langlang Cakra Buana, dan juga Adipati Rangga Kencana.


Tak lupa juga ada tamu agung yaitu Prabu Karta Kajayaan Pasundan bersama beberapa petinggi Kerajaan Galunggung Sukma lainnya.


"Eyang, bagaimana pendapat dan juga rencana yang akan eyang lakukan untuk penyerangan nanti. Semua aku serahkan kepada eyang, karena aku tahu eyang sudah beberapa kali menghadapi pertempuran yang besar. Kami sangat butuh masukan dari eyang. Mohon wejanganya eyang," kata Prabu Karta Kajayaan Pasundan lalu disetujui oleh Prabu Ajiraga dan yang lainnya.


Hal ini memang tepat sekali, terlebih karena Eyang Resi Patok Pati adalah sosok yang begitu disegani juga ditakuti. Dimana orang tua itu sudah mengalami pertempuran baik besar maupun kecil yang sudah tidak sedikit lagi jumlahnya.


Tentu saja karena banyaknya pengalaman yang didapat maka seseorang bisa melakukan suatu hal yang lebih baik daripada orang yang belum mempunyai pengalaman sama sekali.

__ADS_1


"Baiklah, terimakasih karena prabu dan saudara sekalian sudah mempercayai orang tua ini. Menurutku, ada baiknya kita menyerang ketika malam hari dan tepat saat bulan sudah tepat diatas kepala. Selain itu, kita harus membagi pasukan menjadi empat bagian. Setiap pasukan harus dipimpin oleh seorang pendekar yang memiliki kepandaian tinggi."


"Biarlah dibagian tengah nanti yang akan memimpin aku sendiri dan juga muridku ini. Sisanya aku serahkan kepada kebijakan Prabu Ajiraga dan juga Prabu Karta. Jika semuanya bisa berjalan sesuai apa yang aku bicarakan, aku yakin kita akan mampu memenangi perang besar nanti. Harap bawa saja pasukan pilihan, jangan terlalu banyak membawa pasukan karena itu akan menjadi bebam untuk kita nantinya," kata Eyang Resi Patok Pati menjelaskan rencana awalnya.


"Untuk rencana selanjutnya, biarkan kita bicarakan nanti saja. Yang terpenting sekarang adalah kita harus benar-benar melakukan persiapan matang dan jangan ada kesalahan supaya tidak berakibat fatal," lanjut Eyang Resi.


Semua orang yang ada disana hanya mengangguk setuju. Karena bagaimana pun juga apa yang diucapkan oleh orang tua itu ada benarnya. Jika menyerang dari empat penjuru, maka tentu saja musuh tidak akan bisa kabur dari medan pertempuran.


Setelah membicarakan hal penting terkait rencana perang nanti, ke semua orang-orang itu lalu membahas hal-hal lain yang berhubungan dengan jalannua pemerintahan baik yang sekarang maupun yang akan datang.


Tak lupa juga kedua raja melakukan kesepakatan jika perang besar nanti berhasil mereka menangkan. Tentunya dengan membagi kekuasaan dan juga rampasan perang dengan adil.


###


Jika ada yang kurang silahkan sampaikan di komentar dengan baik. Karena saya hanyalah author pemula yang masih banyak membutuhkan kritik dan saran dari para pembaca🙏

__ADS_1


__ADS_2