Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Gerombolan Semut Rangrang


__ADS_3

Pendekar kelas atas itu tewas membawa rasa penasaran ke alam baka. Siapa pemuda yang menjadi lawannya? Atas dasar apa dia menyerangnya?


Masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang belum diketahui jawabannya sampai dia menghembuskan nafas terkahir.


Setelah kematian lawannya, Cakra Buana langsung duduk bersandar di bawah pohon asem berukuran cukup besar. Dia sama sekali tidak berniat untuk membantu kekasihnya.


Bukan karena Cakra Buana tidak peduli. Tetapi karena pemuda itu ingin tahu sampai di mana kemampuan kekasihnya sekarang setelah mendapatkan beberapa jurus darinya.


Tidak terlalu jauh di depan sana, Bidadari Tak Bersayap sedang bertarung serius menghadapi seorang pendekar kelas atas Organisasi Tengkorak Maut. Pertarungan gadis tersebut sedikit lebih lama dari pada Cakra Buana, alasannya karena tentu kemampuan si gadis masih cukup jauh jika dibandingkan dengan kekasih hatinya.


Bidadari Tak Bersayap saat ini sedang berada dalam posisi bertahan. Si pendekar yang menjadi lawannya terus berusaha mendesak gadis cantik itu dengan serangkaian jurus pukulan dan tendangan.


Sama seperti Pendekar Tanpa Nama, Bidadari Tak Bersayap bukan kalah dalam hal kemampuan. Dia hanya kalah karena pengalaman saja. Apalagi, gadis itu baru satu atau dua tahun saja terjun di rimba hijau.


Si pendekar mencecar Bidadari Tak Bersayap dengan jurus-jurus mautnya. Berbagai macam gaya serangan dan jurus berbahaya sudah dia keluarkan sampai ke titik maksimal.


Hanya saja dia merasa heran sebab pendekar wanita muda itu, ternyata mampu menahan semua serangannya. Bahkan sesekali dia balas menyerang dengan jurus yang tidak kalah hebat dan berbahayanya.


Empat puluh lima jurus sudah mereka lewati. Puluhan jurus dan serangan, mulai dari yang biasa hingga luar biasa, sudah masing-masing mereka keluarkan.


Hanya saja, sampai detik ini belum juga terlihat siapa yang menang dan siapa yang kalah. Bidadari Tak Bersayap sendiri sudah mulai bingung.


Jurus apalagi yang dia gunakan? Menggunakan jurus terlarang yang diwariskan gurunya? Rasanya itu bukan jalan yang tepat. Lagi pula, dia harus menyempurnakan beberapa jurus pamungkas warisan gurunya.


Untuk diketahui, sebenarnya Bidadari Tak Bersayap lebih ahli dalam menggunakan pedang dari pada tangan kosong. Sebab sebenarnya, guru dari wanita cantik itu, merupakan pendekar pedang yang terkenal pada zamannya.


Hanya saja, dia menyembunyikan identitas karena beberapa alasan.


Di saat sedang melamun terkait jurus apa lagi, tiba-tiba saja sebuah pukulan keras dengan telak menghantam pangkal engan kirinya.


Akibatnya Bidadari Tak Bersayap terdorong empat langkah ke belakang. Dia terhuyung-huyung beberapa saat dan lengan itu terasa lumpuh.


Untungnya, gadis tersebut mampu untuk segera menguasai dirinya kembali.


"Gunakan Jurus Tangan Bidadari Mencabut Nyawa. Hanya itu yang dapat mengalahkan dia,"


Sebuah bisikan terdengar mesra di telinganya.

__ADS_1


Pendekar Tanpa Nama.


Sang kekasih memberitahukan jalan keluarnya lewat ilmu mengirimkan suara jarak jauh.


Bidadari Tak Bersayap baru tersadar bahwa dia telah menguasai jurus tersebut hampir mencapai tahap sempurna.


Tanpa berlama-lama lagi, gadis itu langsung menggelarnya. Jurus paling berbahaya segera dia gelar.


"Tangan Maut Bidadari …"


Jurus ketiga langsung keluar. Dia berteriak lalu sebisa mungkin membalas serangan lawan.


Tubuhnya bergerak cepat sekali mengitari lawan. Kedua tangannya mulai dimainkan dengan gerakan tertentu. Hujan pukulan dan serangan mulai menerpa lawan.


Pendekar kelas atas itu mulai kelimpungan. Dia tidak mampu melihat semua gerakan Bidadari Tak Bersayap karena saking cepatnya.


Akibatnya, puluhan serangan berhasil bersarang di tubuhnya.


Memasuki jurus keenam puluh, gerakan pendekar tersebut mulai melemah. Noda darah telah membasahi seluruh pakaian bercampur dengan keringat.


Bidadari Tak Bersayap berteriak kencang. Berbarengan dengan itu, tangan kanannya di ayunkan mengirimkan serangan tapak yang dengan telak menghantam dada.


"Bukkk …"


"Heuggh …" suara pendekar tua itu tertahan di kerongkongan.


Dia terpental sepuluh langkah ke belakang. Seketika itu juga seluruh tenaganya langsung lenyap. Organ dalamnya terguncang keras.


"Si-siapa kalian sebenarnya?" tanya si pendekar tua susah payah karena ajalnya akan segera tiba.


"Hemm, baiklah aku beritahu. Aku adalah Bidadari Tak Bersayap, dan pemuda itu, Pendekar Tanpa Nama," ucapnya memberitahu karena merasa iba kepada pendekar tersebut.


Pendekar yang sudah tua itu membelalakan matanya. Seolah dia sedang melihat setan di siang bolong. Kalau mata itu tidak ada urat-urat, mungkin saat ini matanya sudah menggelinding saking tidak menyangkanya.


Dia seperti ingin berkata lebih jauh lagi. Sayangnya, Sang Hyang Widhi tidak memberi izin.


Dia tewas membawa rasa terkejut ke alam baka.

__ADS_1


Cakra Buana langsung menghampiri kekasihnya setelah pertarungan itu selesai.


"Sinta, mari kita segera pergi menyusul yang lain. Aku yakin, mereka sudah menunggu kita," kata Cakra Buana serius.


"Baik kakang, aku juga merasakan hal yang sama," kata Bidadari Tak Bersayap menyetujui perkataan Cakra Buana.


Kedua pasangan tersebut segera melesat ke dalam hutan dengan tujuan menyusul rombongan. Tidak sulit bagi keduanya untuk menyusul, sebab Nyai Tangan Racun Hati Suci telah memberikan tanda sesuai permintaan Cakra Buana agar mempermudah jalannya.


Di dalam hutan, rombongan yang dipimpin oleh Nyai Tangan Racun Hati Suci mengalami satu kejadian. Mereka terkepung oleh pihak anggota Organisasi Tengkorak Maut.


Sepertinya kedatangan rombongan sudah diketahui oleh pihak musuh. Sehingga atasan mereka mengirimkan pasukan untuk menghalaunya.


Tak kurang dari tujuh puluh orang telah mengepung dari segala penjuru. Untungnya orang-orang tersebut hanya merupakan pendekar kelas bawah dan menengah saja.


Sehingga pihak Nyai Tangan Racun Hati Suci tidak merasa gentar sekalipun. Bahkan dengan beraninya dia maju ke depan seorang diri.


"Kalian ingin menghalangi jalan kami? Apakah sudah tidak sayang kepada nyawa kalian?" tanya Nyai Tangan Racun Hati Suci sambil bertolak pinggang.


Suaranya cukup untuk menggetarkan sukma karena dibarengi dengan pengerahan hawa sakti. Tak lama, dua orang pria sepuh maju dan berdiri di samping wanita tua itu.


Raja Tombak Emas dari Utara dan Kakek Sakti Alis Tebal.


Kedua sepuh tersebut berniat untuk menghadapi semut di hadapannya saat ini.


"Kalian diam saja. Biarkan kami yang tua melemaskan otot untuk beberapa waktu. Sudah lama juga kami belum berolahraga," kata Kakek Sakti Alis Tebal.


Puluhan orang yang mengepung sudah mengacungkan senjata mereka masing-masing. Ada golok, pedang, tombak, bahkan cangkul.


Tetapi walaupun puluhan senjata sudah diacungkan, belum ada kepastian bahwa senjata-senjata itu mampu menembus tiga tokoh tua yang kini siap untuk beraksi.


"Heh gerombolan semut rangrang, kalau memang kalian tidak ingin melihat matahari besok pagi, silahkan maju sekarang juga. Kami akan mengabulkan permintaan kalian," kata Raja Tombak Emas dari Utara sambil tertawa.


Puluhan anggota Organisasi Tengkorak Maut geram. Mereka tidak terima disebut gerombolan semut rangrang.


Walaupun orang-orang tersebut tahu bahwa tiga orang tua itu bukan tokoh sembarangan, tapi mereka telah disumpah untuk menjalankan semua perintah atasannya apapun yang terjadi.


Karena itu, beberapa saat kemudian, puluhan orang tersebut sudah mulai maju menyerang secara serempak.

__ADS_1


__ADS_2