Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Empat Datuk Dunia Persilatan


__ADS_3

Setelah merasa tubuhnya segar bugar, Cakra Buana segera menyudahi mandinya itu. Dia mulai memakai kembali pakaiannya yang di taruh di atas bebatuan hitam.


Hari ternyata sudah mulai sore. Ini artinya, berarti Cakra Buana sudah lama berendam di dalam sungai tersebut. Padahal, dia sendiri merasakan bahwa baru saja dirinya menceburkan diri ke sungai.


Entah, kadang ada saja seseorang yang seperti itu. Akan selalu saja ada seseorang yang merasakan nyaman dan tenang dalam kesendirian sehingga mereka tidak merasakan bahwa waktu terus berjalan cepat. Biasanya, mereka adalah orang-orang yang sebenarnya memiliki sesuatu yang belum tentu dimiliki oleh manusia pada umumnya.


Orang itu akan merasakan bahwa kesendirian lebih menyenangkan. Mereka merasa bahwa kesepian adalah keramaian, dan keramaian adalah kesepian. Mungkin mereka melakukan itu karena merasa sudah tidak ada lagi orang yang mengerti tentang dirinya.


Apakah kalian termasuk orang yang senang dalam kesendirian daripada keramaian?


###


Sebulan dari kejadian "malapetaka" di Kadipaten Ciporoan sudah terlewati. Selama sebulan itu, semakin banyak terjadi kekacauan di berbagai daerah tatar Pasundan. Baik itu perampokan, pemerkosaan, penculikan, dan lain sebagainya. Dimana sebenarnya semua perbuatan itu sama sekali tidak mencerminkan tingkah laku manusia. Bahkan lebih pantas disebut sebagai tingkah laku binatang.


Tapi begitulah fakta yang sebenarnya. Bahkan semua kejadian tersebut sudah menjadi "tradisi turun-temurun" di bumi ini. Mereka yang melakukannya adalah sekawanan setan yang menjelma dalam bentuk manusia.


Seperti pepatah mengatakan, ada siang ada malam. Begitupun dalam dunia persilatan. Di setiap terjadi kekacauan, selalu saja ada para pendekar berhati mulia yang membebaskan rakyat dari petaka. Pendekar itu selalu membantu mereka yang lemah dan tertindas tanpa pamrih.


Sehingga mereka memiliki nama yang harum di mata rakyat. Sebaliknya, sedangkan para penguasa memiliki citra yang buruk di mata rakyatnya sendiri. Hal ini terjadi karena rakyat menganggap bahwa para penguasa tidak bisa menjamin kesejahteraan rakyat.


Bahkan mereka lebih mementingkan diri sendiri daripada rakyatnya. Dari hari ke hari, gejolak yang terjadi di tatar Pasundan semakin membesar.


Tapi yang paling menghebohkan adalah berita tentang menyebarnya Pedang Pusaka Dewa yang kini di pegang oleh seorang pendekar muda bernama Cakra Buana.

__ADS_1


Berita itu terus terdengar sampai ke pelosok-pelosok negeri. Bahkan, nama Cakra Buana saat ini bisa disebut sebagai buronan seluruh negeri. Karena beberapa waktu lalu, Prabu Ajiraga Wijaya Kusuma menyebarkan pengumuman sayembara ke pelosok Pasundan.


"Siapapun orangnya, bagi dia yang berhasil merebut Pedang Pusaka Dewa dan sekaligus membawa pemiliknya yang bernama Cakra Buana, hidup atau mati, maka orang tersebut akan mendapatkan hadiah 10.000 keping emas. Selain itu, dia juga akan diberikan beberapa hadiah lainnya semisal jabatan kekuasaan,"


Kira-kira begitulah isi surat pengumuman sayembara yang dibuat oleh Prabu Ajiraga Wijaya Kusuma yang kemudian disebar luaskan oleh para prajurit Kerajaan Kawasenan.


Akibat dari sayembara itu sungguh hebat. Bukan hanya mereka para pendekar yang bergerak, bahkan tak sedikit pula orang-orang biasa yang ingin mencoba mengikuti sayembara tersebut.


Sehingga setiap hari, bahkan setiap saat, Cakra Buana harus selalu waspada. Dia harus selalu memasang telinganya dengan tajam. Sebab kapan pun dan di mana pun, nyawanya bisa saja terancam.


Untungnya, selama sebulan belakangan ini, yang mencoba untuk membunuh Cakra Buana adalah mereka para pendekar yang memiliki kepandaian menengah ke bawah, sehingga tidak terlalu sulit untuk melawan mereka semua.


Saat ini, Pendekar Maung Kulon alias Cakra Buana, sedang duduk di bawah sebatang pohon kiara yang berukuran cukup besar di pinggiran jurang yang terdapat di sebuah bukit bernama Pasir Luhur. Hari masih pagi, sehingga sangat cocok sekali untuk menikmati keindahan matahari terbit dari atas bukit Pasir Luhur ini.


Pandangan Cakra Buana memandang jauh ke depan. Menembus mega sampai sejauh-jauhnya. Pikirannya terus berkecamuk, kejadian-kejadian yang sudah dia lewati selama sebulan belakangan ini, selalu membekas dalam benaknya.


Cakra Buana bergumam sendiri. Dia bertanya-tanya atas apa yang belakangan ini terjadi. Pemuda serba putih itu sudah merasa banyak sekali melukai mereka yang tak berdosa. Meskipun dia jarang membunuh orang-orang biasa yang mengikuti sayembara, namun jika dia sering melukai, apa bedanya?


Mau bagaimanapun juga, Cakra Buana adalah seorang manusia. Hatinya menjerit ketika setiap kali harus membunuh orang lain. Meskipun hal itu merupakan salah satu kewajiban seorang pendekar, tetap saja membunuh itu merupakan perbuatan yang dilarang.


Andai kata dia mampu, sudah pasti Cakra Buana akan meninggalkan dunia persilatan saat ini juga. Atau bahkan dia akan membuang Pedang Pusaka Dewa begitu saja. Sehingga dia tidak perlu mengkhawatirkan akan dirinya yang selalu di incar orang.


Jika bisa, dia akan lebih memilih hidup menjadi orang biasa. Menjadi seorang petani misalnya. Sehingga dia bisa lebih menikmati dan menghayati betapa indahnya hidup ini.

__ADS_1


Namun sayangnya, keinginan itu sangat mustahil akan terlaksana, setidaknya untuk saat ini.


Takdir berkata lain. Tuhan sudah menuliskan ketentuan untuk hidup Cakra Buana.


Mau tidak mau, suka tidak suka, dia harus menerima takdir sebagai seorang pendekar.


"Hahhh …" Cakra Buana menghela nafas berat.


"Biarlah, mungkin ini memang jalan hidupku. Jalan hidup yang dipenuhi dengan pertarungan hidup dan mati, atau mungkin jalan hidup yang selalu penuh warna darah," gumamnya sendiri.


Pada akhirnya, setelah merenung beberapa waktu hingga tak terasa sinar mentari pagi sudah menerpa tubuhnya, Cakra Buana memutuskan untuk tidak menyesali apa yang sudah dia lakukan selama ini.


Toh, dia melakukan semuanya atas dasar niat yang baik. Dia tidak akan membunuh jika dirinya tidak terancam dibunuh. Dia tidak akan mengganggu jika tidak diganggu. Pula, dia melakukan semuanya hanya demi satu tujuan. Yaitu demi mencapai bersatunya tanah Pasundan.


Cakra Buana lalu bangkit berdiri. Ia berniat untuk melanjutkan perjalanan kembali. Pemuda serba putih itu ingin sesegera mungkin sampai ke Kerajaan Tunggilis.


Dia sudah tidak tahan melihat rakyat jadi korban kebusukan para penguasa. Rasanya, Cakra Buana ingin sekali mencabik-cabik atau bahkan menghancurkan Kerajaan Kawasenan seorang diri. Sayangnya hal itu tidak mudah, atau bahkan tidak mungkin.


Akan tetapi sebelum Cakra Buana melangkahkan kakinya, tiba-tiba saja, enam orang tak dikenal bermunculan dari balik semak-semak.


Tak lama berselang, muncul kembali empat orang yang sudah berusia tua. Saat ini, jumlah orang yang menghadang Cakra Buana ada sepuluh orang. Semuanya berpakaian seperti pendekar.


Pendekar Maung Kulon itu merasa tertekan oleh aura yang keluar dari keempat pendekar atau tokoh tua. Terlebih dari pakaian yang mereka kenakan, Cakra Buana seolah mengenali siapa keempat tokoh tua tersebut.

__ADS_1


Ketika beberapa saat mengingat-ingat, semakin terkejut lah ia saat sudah tahu siapa keempat tokoh tua tersebut.


"Empat datuk dunia persilatan. Gawat. Kalau begini caranya, aku bisa mati di sini," gumam Cakra Buana. Dia menjadi sangat gentar ketika menyadari siapa empat tokoh tua.


__ADS_2