Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Menuju Perguruan Merpati Wingit


__ADS_3

Golok sudah berkelebat dari arah samping kanan. Bacokan itu tepat mengarah ke punggung Cakra Buana. Cahaya perak berkilau di tengah hutan.


Cakra Buana bukanlah pendekar ecek-ecek. Ketika dia sudah merasa adanya angin dingin, maka pemuda itu sudah bersiap.


Saat golok hampir tiba di punggungnya, Cakra Buana sudah menarik diri ke samping kiri. Sabetan golok gagal, si orang tua tampak semakin gusar.


Dengan bentakan keras, dia kembali menyerang Pendekar Maung Kulon. Bacokan dan sabetan goloknya sangat bertenaga dan berbahaya.


Orang tua itu terlihat cekatan dalam memainkan goloknya. Sepertinya dia memang pandai bermain ilmu golok. Orang tua itu terus memburu Cakra Buana. Gerakannya semakin lama semakin lincah.


Sinar perak terus berkilau di bawah gelap malam. Cakra Buana masih tampak tenang. Untuk beberapa saat dia belum memberikan perlawanan sebab ingin memahami dulu sampai di mana kemampuan lawan.


Enam jurus sudah berlalu. Melihat bahwa semua serangannya gagal, pendekar tua semakin geram. Dia membentak lebih nyaring lalu tubuhnya melesat menerjang kembai Cakra Buana.


Golok berkelebat tepat di depan wajah Cakra Buana. Pemuda itu menarik sedikit kepalanya sehingga serangan lawan kembali gagal. Tapi seperti si orang tua sudah tahu kalau serangannya tidak berhasil, oleh sebab itu ketika tebakannya benar, dia kembali mengubah gaya serangnya.


Golok berubah sasaran. Kali ini justru turun ke paha kanan. Saaat hampir tiba, kembali sasarannya berubah. Cakra Buana mulai kebingungan sebab semua serangan lawan hanya tipuan belaka.


Di saat seperti itulah si orang tua menemukan celah. Dia melompat ke atas lalu mengarahkan goloknya ke leher. Mendapat serangan seperti itu, Cakra Buana menunduk.


Tapi sayang, lagi-lagi itu hanya tipuan belaka. Karena sasaran yang sebenarnya adalah punggung.


"Srett …".


Suara kain robek terdengar membelah malam. Untung bahwa pemuda itu cepat menghindari serangan, sehingga yang robek hanya kainnya saja. Tidak bersama kulitnya.


Pertarungan berhenti sebentar. Kedua pendekar berhadapan dengan rasa dendam mendalam. Kedua mata mereka beradu pandang.


Di lihat dari kenyataan ini, mau tidak mau masing-masing dari mereka harus mengakui bahwa lawan yang di hadapi kini mempunyai kekuatan yang seimbang.


Cakra Buana yang menyadari bahwa orang itu bukan lawan mudah, dia memutuskan untuk mencabut pedangnya.

__ADS_1


"Sringg …"


Pedang telah keluar. Dari batang pedang menyeruak sinar biru tua.


Pedang Pencabut Nyawa.


Dari namanya saja sudah jelas, andai kata dia sudah mencabut pedang itu, bisa dipastikan bahwa pertarungan ini akan selesai jika ada yang tewas di antara keduanya.


Kedua orang itu masih tidak bergerak. Semuanya diam dalam keheningan. Tapi di dalam hati si pendekar tua, dia cukup terkejut juga ketika melihat cahaya yang keluar dari pedang tersebut.


Tak terasa perasaan gentar muncul dari dalam dirinya. Dia mulai yakin bahwa pendekar yang menjadi lawannya kini bukanlah pendekar sembarangan.


"Mari kita selesaikan masalah ini dengan segera," kata Cakra Buana dengan nada dingin.


"Baik. Lebih cepat, lebih bagus. Aku ingin tahu sampai di mana kemampuan orang sepertimu," ucap pendekar tua itu sambil berusaha menghilangkan perasaan gentar.


"Sebaliknya, aku juga ingin melihat bagaimana jurus maut dari orang tua busuk sepertimu," kata Cakra Buana memancing emosi lawan.


Sinar golok kembali terlihat membelah udara. Gerakan yang dilancarkan si orang tua lebih hebat daripada sebelumnya. Jurus yang keluar pun semakin dahsyat.


Cakra Buana tidak mau membuang waktu lebih lama lagi. Pedang Pencabut Nyawa sudah dia getarkan. Sekilas pedang itu seperti berubah menjadi beberapa bagian. Sinar biru tuanya memancar menebarkan hawa kematian.


Dia bergerak. Gerakan yang luwes dan penuh perhitungan matang. Pedang itu berkelebat melibas serangan lawan. Dua senjata pusaka berbenturan di tengah jalan.


Kedua pendekar terpental dua langkah. Begitu mendapat posisi, mereka kembali menyerbu ke depan lagi. Cakra Buana menebas dengan kekuatannya yang dahsyat. Pendekar tua tak mau kalah, dia menyalurkan tenaga dalam ke golok pusakanya.


"Trangg …" percikan bunga api terlihat indah.


Si orang tua kaget sebab tangannya terasa kesemutan dan nyeri sampai ke sikut.


Melihat kesempatan baik ini, Cakra Buana tidak menyia-nyiakannya. Dia langsung memberikan serangan susulan berupa sabetan dan tusukan maut. Sekali bergerak, dua jurus dahsyat sudah keluar.

__ADS_1


Pedangnya terus memburu ke mana pun perginya musuh. Pedang Pencabut Nyawa terlihat seperti mempunyai mata sendiri. Setiap sabetan dan tusukannya membuat nyali lawan ciut.


Si pendekar tua tidak mau kalah. Goloknya ia gerakan dengan jurus-jurusnya yang mematikan. Pertarungan mulai berjalan dengan seru.


Kedua pendekar mulai menggelar jurus dahsyat yang mereka miliki. Kilatan cahaya pedang dan golok mulai menyatu dalam satu gerakan. Seiring berjalannya waktu, gerakan kedua orang itu semakin cepat dan dahsyat.


Saat memasuki jurus kedua puluh tiga, si pendekar tua mulai terdesak hebat. Semua jurus yang dia keluarkan lewat golok pusakanya patah di tengah jalan akibat Pedang Pengejar Nyawa. Pedang itu tetap berkelebat tanpa berhenti. Semakin lama batang pedangnya seperti hilang.


Yang terlihat hanyalah kilatan biru memancar memberikan ancaman kematian.


Melihat keadaan lawan, Cakra Buana semakin mempercepat serangannya. Tepat pada saar jurus ketiga puluh satu, Pedang Pengejar Nyawa berhasil memberikan sebuah luka robekan memanjang pada paha si pendekar tua.


Dia langsung jatuh terduduk bertumpu dengan goloknya. Darah segar segera muncrat keluar.


Melihat ini, Cakra Buana pun segera menyarungkan kembali pedangnya. Setelah itu dia langsung menotok beberapa jalan darah si pendekar tua.


Totokan itu bukanlah totokan biasa. Sebab totokan yang dilancarkan oleh Cakra Buana mampu menghancurkan ilmu silat lawan.


Begitu terkena totokan, orang tua itu langsung ambruk ke tanah. Tubuhnya saat ini tak lebih dari sebuah kapas terkena air. Jangankan untuk melarikan diri, untuk berdiri pun dia harus susah payah.


Untuk ke depannya, dia sudah tak beda jauh seperti orang-orang pada umumnya.


Bagi para pendekar, hal ini justru lebih menyeramkan daripada sebuah kematian. Ilmu yang sudah mereka latih puluhan tahun, harus bilang dalam sekejap mata.


Cakra Buana juga menotok empat orang lainnya. Untuk beberapa waktu, dia akan tetap tertidur seperti orang mati.


"Kali ini aku membuat pengecualian tidak membunuhmu. Tapi kau harus ikut aku ke Perguruan Merpati Wingit. Apa yang kau lakukan, maka harus berani dipertanggungjawabkan," kata Cakra Buana lalu menenteng orang tua itu.


Si orang tua hanya diam saja. Tak ada kata yang dia ucapkan. Bahkan tenaga pun terasa hilang seluruhnya. Andai kata tenaganya masih ada, dia pasti lebih memilih untuk bunuh diri. Namun sayangnya hal itu hanya impian kosong belaka.


Cakra Buana sudah mulai menuju ke Perguruan Merpati Wingit sambil tetap menenteng orang tua tersebut. Dengan ilmu meringankan tubuhnya yang hebat, tak perlu waktu lama untuk mencapai ke perguruan itu.

__ADS_1


__ADS_2