Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Rahasia Terbesar Cakra Buana


__ADS_3

Seketika raut wajah Cakra Buana langsung berubah. Dadanya berdebar-debar, hatinya seolah berkata bahwa rahasia itu buruk. Tapi entahlah, dia pun belum yakin benar terhadap kata hatinya itu.


Cakra Buana masih belum menjawab. Kerongkongannya terasa kering, segera dia menelan saliva. Setelah merasa bisa bicara, maka Cakra Buana segera menjawab perkataan ki Wayang tersebut.


"Silahkan eyang. Aku siap mendengarkan tentang apapun itu," kata Cakra Buana berusaha memantapkan hatinya.


"Baiklah. Cakra cucuku, sebelumnya apakah gurumu Resi Patok Pati pernah bercerita kepadamu tentang siapa kedua orang tuamu?"


"Pernah eyang, sewaktu aku berusia lima belas tahun,"


"Apa kata dia?"


"Kata eyang Resi, kedua orang tuaku merupakan sepasang pendekar. Mereka gugur didalam pertarungan membela kerajaan,"


"Hemmm … apakah kau percaya bahwa kedua orang tuamu sepasang pendekar?"


"Tentu saja aku percaya eyang. Memangnya apa yang ingin eyang bicarakan?"


"Sebenarnya kedua orang tuamu bukan sepasang pendekar bisa Cakra,"

__ADS_1


"Ma-maksud eyang?"


"Yahhh … begitulah. Maksudku kedua orang tuamu bukan sepasang pendekar seperti kebanyakan, melainkan mereka adalah sepasang pendekar yang sangat dihormati diseluruh tanah Pasundan. Karena sebenarnya orang tuamu adalah … sepasang raja dan ratu pada zaman kejayaan kerajaan Kawasenan dulu,"


"Deggg …"


Jantung Cakra Buana seperti hendak copot. Keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuhnya. Jadi … selama ini? Dia sudah dibohongi oleh Eyang Resi Patok Pati? Jadi sebenarnya dia bukan anak dari sepasang pendekar biasa, melainkan sepasang pendekar yang kemudian menjadi raja dan ratu diseluruh tanah Pasundan? Berarti … dia … seorang pangeran? Berbagai pertanyaan muncul dibenak Cakra Buana.


Meskipun kabar ini memang kabar baik, tapi tetap saja dia kaget juga. Sangat kaget. Lalu apa tujuannya menutupi siapa orang tua dia yang sebenarnya?


"Ap-apakah eyang tidak bercanda?" tanya Cakra Buana ragu.


"Apakah kau melihat tanda bahwa aku sedang bercanda dari wajahku? Coba lepas Pedang Pusaka Dewa itu," kata ki Wayang menyuruh Cakra Buana untuk memberikan Pedang Pusaka Dewa kepadanya.


"Aku belum sepenuhnya faham eyang. Tolong jelaskan siapa sebenarnya kedua orang tuaku. Yang dimaksud menjadi raja itu raja dimana? Perguruankah atau dimana? Lalu kenapa Eyang Resi Patok Pati membohongiku selama ini? Dan apakah benar ayah ibuku tewas dalam pertempuran?" Cakra Buana langsung melemparkan pertanyaan sedemikian banyaknya hingga membuat ki Wayang sedikit kebingungan beberapa saat.


Ki Wayang Rupa Sukma Saketi menghela nafas beberapa saat lamanya. Sepertinya dia sedang mengambil ancang-ancang utnuk bercerita panjang lebar terkait kedua orang tua Cakra Buana.


"Cakra, dengarkan aku baik-baik. Kedua orang tuamu memang sepasang pendekar. Tapi seperti yang aku katakan tadi, mereka bukan pendekar biasa. Melainkan sebagai sepasang raja dan ratu yang dulunya menduduki kerajaan Kawasenan. Ketika itu kerajaan Kawasenan aman tentram, karena pemimpinnya bekas sepasang pendekar, maka banyak orang yang segan dan sangat menaruh hormat kepada pemimpin kerajaan Kawasenan, yaitu ayahmu atau juga ibumu. Ketika dalam kepemimpinan orang tuamu, Pasundan terkenal dengan negeri yang subur dan makmur."

__ADS_1


"Akan tetapi setelah hampir tiga puluh tahun memimpin, tiba-tiba kedamaian itu terusik oleh seorang adik seibu dari ayahmu sendiri, yaitu Prabu Geusan Katapang. Diam-diam dia berencana tentang pemberontakan terhadap pemerintahan orang tuamu. Seperti biasanya, jika pemimpin adil pasti akan banyak yang tidak senang. Dalam hal ini ialah mereka yang sudah bersekutu dengan iblis. Termasuk mungkin saudara ayahmu itu."


"Singkat cerita, terjadilah perang "saudara" itu. Ayahmu memimpin pasukan istana kerajaan sekaligus juga ibumu. Ditambah lagi para pendekar lainnya. Sedangkan Geusan Katapang sendiri memimpin para pasukan pemberontak. Perang yang tadinya akan dimenangkan oleh pihak kerajaan segera berbalik setelah menyadari bahwa pihak pemberontak ternyata mempunyai pasukan lain yang merupakan para pendekar dari daerah lain. Pertarungan itu hampir berjalan selama satu hari satu malam hingga akhirnya kedua orang tuamu tewas ditangan Geusan Katapang sendiri."


"Waktu kejadian itu, kau baru berusia paling baru tiga tahun Cakra. Kau dititipkan oleh ibumu kepada Resi Patok Pati dengan syarat supaya resi itu tidak memberitahukam siapa orang tuamu jika belum waktunya. Ibumu juga membekali Pedang Pusaka Dewa ini. Asalkan kau tahu saja, Pedang Pusaka Dewa ini merupakan lambang kejayaan kerajaan. Kerajaan manapun jika memegang pusaka ini, maka kerajaan itu akan berjaya. Karena itulah banyak yang mengincar pedang pusaka ini, bahkan Pedang Pusaka Dewa pernah menggetarkan dunia persilatan."


"Nah, setelah kejadian perang saudara itu selesai, akhirnya kerajaan Kawasenan berhasil di ambil alih oleh Geusan Katapang. Tapi ketika dia memimpin, keadaan sangat jauh berbeda dengan ketika masih dipimpin oleh ayahmu. Geusan Katapang memimpin sesuka hatinya. Rakyat dibebani upeti yang besar, pekerjaan tiap harinya hanyalah bermain dengan selir-selir muda. Mabuk, dan berfoya-foya lainnya. Dan sifat itu bukan hanya terdapat pada Geusan Katapang saja, melainkan kepada keluarganya juga. Akibatnya rakyat menjadi terlantar dan kejahatan mulai terjadi dimana-mana. Dari saat itulah Pasundan yang sekarang dipandang sebelah mata oleh kerajaan lain, bahkan seperti yang kau ketahui, Pasundan sudah terpecah belah."


"Karena itulah semua pendekar yang masih selamat setelah perang saudara itu, berharap suatu saat bahwa tanah Pasundan akan bersatu kembali. Harapanku dan Resi Patok Pati pun sama. Dan aku rasa hanya kau lah yang mampu mewujudkan impian ini. Hanya kau Cakra. Kau adalah seorang pangeran, seorang putera raja. Berjuanglah demi kembali menegakkan keadilan."


"Untuk kau ketahui cu, Geusan Katapang sendiri adalah ayah dari Ajiraga Wijaya Kusuma. Artinya dialah anak pelaku pembunuh kedua orang tuamu. Atas dasar itulah Ajiraga membujuk gurumu, Eyang Resi Patok Pati supaya tinggal di istana dengan alasan menjadi penasihat. Padahal dia sedang diracun secara perlahan-lahan."


Ki Wayang Rupa Sukma Saketi berhenti bercerita, kakek tua itu memperhatikan wajah Cakra Buana yang daritadi selalu berubah-ubah. Seperti sekarang, wajahnya sudah memerah, bahkan matanya pun seperti menyala.


Memang Cakra Buana merasakan sesuatu yang luar bisa sekali. Dadanya bergejolak, berdebur keras bagaikan deru ombak yang menggempur batu karang. Nafasnya naik turun dengan cepat, matanya berkilat dan giginya gemerutuk.


"Eyang, jika semua yang eyang guru katakan itu benar adanya, maka aku bersumpah, atas nama langit dan bumi, aku akan berusaha mewujudkan impian eyang guru dan yang lainnya untuk kembali menyatukan tanah Pasundan. Aku akan berjuang hingga titik darah penghabisan. Aku bersumpah …" Cakra Buana berteriak bahkan sampai-sampai goa pun bergetar beberapa saat.


"Memang itu yang harus kau lakukan cucuku. Sekarang kau beristirahatlah, persiapkan dirimu untuk perjalanan besok pagi," kata ki Wayang menyuruh Cakra Buana untuk segera tidur.

__ADS_1


"Baik eyang. Aku mendengarkan perintah eyang guru."


Cakra Buana langsung berlalu. Entah apa yang sedang dia rasakan saat ini, semua rasa bercampur jadi satu. Rasa sedih, bangga, dan marah yang meluap-luap.


__ADS_2