Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Perang Besar IV


__ADS_3

Di bagian lain, Gagak Bodas dan Jalak Putih juga sedang bertarung dengan sengit. Kedua orang tua itu sedang menghadapi sepuluh pendekar pilih tanding yang memihak kepada Kerajaan Kawasenan.


Walaupun usia mereka sudah tidak muda lagi, tapi kegesitan dan kecepatannya dalam bertarung, dapat mengimbangi para generasi muda saat ini. Keduanya seperti sepasang harimau ganas, mereka menerkam dan mencakar siapa saja yang berani mengusiknya.


Kipas dan pedang dari kedua kakek tua itu bersaing dengan sepuluh senjata milik musuh. Tubuh mereka lenyap berada di balik gulungan sinar senjata. Gagak Bodas membentak nyaring, pedang pusakanya bergerak menusuk lima lawan.


Sekali menggebrak, dua jurus sudah dia keluarkan dengan mantap. Kelima pendekar itu menyatukan kekuatannya, mereka bersatu menahan serangan Gagak Bodas yang dahsyat bagaikan ombak di lepas pantai.


Suara bergemuruh membarengi serangan dahsyat pedangnya. Tusukan pedang datang bergulung-gulung. Kelima pendekar membentak nyaring sambil menyambut serangan itu.


"Trangg …"


"Trangg …"


Gagak Bodas memutarkan tubuhnya sambil terus menyerang. Pedangnya menusuk masuk di antara gulungan sinar kelima pendekar. Gagak Bodas cerdik, begitu ada sebuah senjata yang menusuk bagian pinggangnya, dia berputar kembali. Dengan gerakan cepat, senjata lawan dia benturkan dengan pedangnya yang sudah di aliri tenaga dalam.


"Trangg …"


Senjata lawannya terpental. Sekali lagi Gagak Bodas membenturkan senjatanya sehingga membuat senjata lawan menjadi berubah arah. Senjata itu justru berubah arah lalu menusuk rekannya sendiri.


Rekannya tersentak kaget, dia berniat untuk nenghindar, tapi terlambat karena pusaka itu lebih dulu menusuk pinggangnya.


"Slebb …"


"Ahh …"


Si pendekar tersebut meringis menahan sakit. Dia langsung roboh ke tanah sambil memegangi lukanya. Detik berikutnya, dia telah tewas.


"Pendekar yang kejam. Rekan sendiri bahkan dibunuhnya," kata Gagak Bodas sambil tersenyum mengejek.


"Kau …" gertak pendekar yang tidak sengaja membunuh rekannya itu.

__ADS_1


"Hari ini kalau bukan aku, maka kau yang akan tewas," katanya lalu menerjang Gagak Bodas.


Gerakan pendekar itu bertambah cepat. Sepertinya dia sudah mengarahkan seluruh kemampuannya. Sehingga serangan yang dihasilkan pun bertambah dahsyat.


Tak lama, tiga orang lainnya pun menyusulnya dari belakang. Gagak Bodas kembali menghadapi hujan serangan. Tapi dia masih terlihat sempat tersenyum.


Tubuhnya mencelat ke depan menerjang serangan lawan. Dengan kekuatan dahsyat, Gagak Bodas pun mengeluarkan seluruh kemampuannya.


Pertarungan menjadi sengit lagi. Keempat pendekar bertukar jurus dahsyat selama beberapa waktu. Tubuh mereka berkelebat ke sana kemari mencari celah pada lawan. Empat pendekar tersebut menyerang dari empat sisi.


Gagak Bodas merasa sedikit kewalahan. Tapi itu hanya sekejap saja, karena detik berikutnya dia mulai membalikan keadaan. Pedangnya menusuk lalu menyabet empat pendekar. Jurus pedang tertinggi yang dia miliki, mulai dikeluarkan.


Dalam sekejap saja, keadaan benar-benar berbalik. Keempat pendekar tidak mampu menahan gempuran serangan balasan dari Gagak Bodas. Lewat empat puluh jurus, satu persatu dari mereka mulai merasakan bahwa dirinya tidak mampu bertahan lebih lama lagi. Dan ternyata firasatnya terbukti.


Setelah lebih dari lima jurus baru, satu persatu dari mereka menemui ajalnya di bawah siksaan serangan Gagak Bodas. Teriakan kematian terdengar keluar dari mulut mereka saling bersahutan. Detik selanjutnya, keempat pendekar tersebut telah tewas di tangan seorang pendekar tua bernama Gagak Bodas.


Tak jauh darinya, Jalak Putih pun sedang bertarung melawan lima pendekar juga. Kipas pusaka dimainkan memberikan deru angin yang memburu. Ke mana mereka pergi, hembusan angin tajam dari kipas tersebut selalu mengejarnya.


Kelima lawannya menggempur mengerahkan jurus andalan mereka. Kilatan senjata mengeluarkan bunyi bergemuruh yang menyeramkan. Jalak Putih masih saja menyerang, walaupun keempat lawan menerjang bersamaan, Jalak Putih tidak mau mundur walau hanya satu langkah.


Tubuh kakek tua itu berkelit lincah bagaikan seekor rusa yang menghindari pengeroyokan dari serigala. Setiap senjata lawan yang hampir mengenai tubuhnya, selalu gagal di tengah jalan.


Mencapai jurus ketiga puluh tujuh, kelima pendekar merasa berputus asa. Amarah mereka semakin memuncak. Serangannya jadi tidak karuan sehingga mereka tidak lagi memikirkan benteng pertahanan.


Jalak Putih melihat kesempatan emas ini, dia membentak nyaring lalu mengeluarkan jurus terkuat dari permainan kipasnya. Kipas itu tiba-tiba menghilang dari pandangan, kelima pendekar hanya merasakan adanya hembusan angin dingin dari berbagai penjuru.


Sebisa mungkin kelimanya menghindari angin dingin tersebut, sayangnya hal itu tidak mudah. Mereka harus menghadapi kesulitan terlebih dahulu sebelum bisa menghindari angin itu.


Jalak Putih merasa salut karena lawannya bisa menghindari jurus yang ini. Tidak terasa dia mulutnya berkata kepada kelima lawan.


"Bagus. Aku salut, tapi sekarang coba jurus yang ini," katanya lalu mengubah pola serangan.

__ADS_1


"Kipas Menerbangkan Ribuan Pohon …"


"Wushh …"


Jalak Putih mengibaskan kipasnya dari kanan ke kiri. Setiap kali kibasannya mengandung tenaga yang sangat besar. Kalau kelima lawannya tidak mempunyai kemampuan tinggi, pasti tubuh mereka sudah terbang bagaikan dedaunan kering.


"Menebas Batang Pohon …"


"Wushh …"


Jalak Putih kembali mengubah jurusnya. Kipas pusaka yang dia genggam tiba-tiba mengeras seperti baja. Ujung kipas mengeluarkan bunyi mendengung seperti ribuan lebah. Kilatan kipas memenuhi arena pertarungan.


Gerakannya sangat cepat, lebih cepat dari satu tarikan nafas. Perlahan tapi pasti, lima pendekar merasa semakin terpojok. Keadaan mereka saat ini bagaikan telur di ujung tanduk.


Detik berikutnya, terdengar suara kain robek tanpa henti. Ternyata tubuh kelima pendekar tersebut sudah terkena sayatan dari kipas milik Jalak Putih. Darah segera mengalir dengan deras. Gerakan mereka melambat dan semakin tidak karuan.


"Tebasan Dewa Kipas …"


"Wushh …"


"Crashh …"


Kipas Jalak Putih mengeluarkan sinar putih yang menyilaukan. Begitu sinar tersebut lenyap, kelima pendekar pun sudah tewas seketika. Kepala mereka menggelinding ke segala arah. Darah menyembur dari leher yang kini tanpa kepala tersebut.


Jalak Putih menghela nafas panjang sesaat sambil melihat lima lawannya. Setelah itu, dia kembali berkelebat ke tempat lain untuk mencari lawan berikutnya.


Tak jauh dari pertarungan Gagak Bodas dan Jalak Putih, ada Pendekar Tangan Seribu yang kini sedang menghadapi lima lawan. Pria serba hitam dengan sabuk merah itu berada di bawah angin.


Semua serangan tangannya berhasil di patahkan oleh kelima pendekar tersebut. Beberapa luka terlukis di berbagai bagian tubuh Pendekar Tangan Seribu. Walaupun semua luka itu tidak terlalu dalam, tapi tetap mempengaruhi gerakannya karena junlah yang cukup banyak.


Akan tetapi Pendekar Tangan Seribu bukanlah orang yang gampang menyerah. Semakin nyawanya terancam, maka semakin mengerikan juga semangatnya. Seperti saat ini, dia justru bertarung semakin ganas di bawah gempuran senjata lawan.

__ADS_1


Tubuhnya melesat memberikan pukulan dan tendangan dahsyat. Jurus-jurusnya semakin hebat, sehingga sedikit demi sedikit, dia mulai bisa membalikan keadaan.


__ADS_2