
"Hahahaha …"
Perkataan Tengkorak Muka Putih hanya di balas dengan sebuah tawa yang menggema di seluruh hutan tersebut. Suara tawa itu terdengar dekat jaraknya dengan mereka, tapi tidak ada satupun yang tahu siapa pelakunya.
Sebab, suara tersebut terus terdengar tanpa ada wujud. Hal ini membuat empat datuk dunia persilatan menjadi geram. Mereka sadar, jika orang yang memaki itu hanya terdengar suaranya saja, berarti pelakunya memiliki kekuatan luhur. Bahkan mungkin setara dengan keempatnya.
"Wuttt …"
"Wuttt …"
Sambaran gelombang angin besar melesat ke arah empat datuk dunia persilatan. Mereka menghindari serangan tersebut dengan cara melompat tinggi, ada juga yang menahannya dengan kekuatan yang dimiliki.
Jika datuk dunia persilatan saja bertindak, maka bisa dipastikan gelombang angin tersebut sangat berbahaya kalau sampai mengenai mereka.
"Blarrr …"
"Blarrr …"
Gelombang angin itu gagal mengenai empat datuk, yang ada justru malah mengenai pepohonan sekitar. Tak tanggung-tanggung, sekitar sepuluh pohon berukuran besar langsung hancur berkeping-keping.
"Setan alas. Keluar kau jika memang punya nyali. Tunjukan siapa dirimu!" kali ini giliran Dewi Maut yang angkat bicara.
Wanita tua itu dibuat sangat marah. Dewi Maut menggertakan giginya cukup keras. Urat-urat mendadak terlihat menonjol.
"Hei wanita tua. Jangan banyak bertingkah. Nanti punggungmu sakit baru tahu rasa kau. Hahahah …"
Kali ini giliran suara wanita yang terdengar mengejek. Tapi ditujukan jelas kepada Dewi Maut. Suara itu tidak terdengar seperti wanita tua, bahkan terdengar seperti suara seorang wanita muda.
__ADS_1
"Curut busuk. Pengecut!!!" Dewi Maut membalas makian yang membuat panas telinganya.
"Blarrr …"
Tiba-tiba, gelombang energi yang mengandung kekuatan besar menghantam dirinya dari arah kanan. Untung saja Dewi Maut dan Kera Gila berhasil menghindar. Tapi sayangnya, Danuarta dan Magenda tidak berhasil menghindari serangan dadakan tersebut.
Akibatnya dua pendekar muda itu harus rela kehilangan nyawanya dengan tubuh gosong.
Debu mengepul tinggi. Hembusan angin terasa panas akibat dari serangan barusan. Suasana di hutan itu, benar-benar dibuat mencekam. Bahkan Cakra Buana pun merasa kebingungan.
Sedari tadi dia hanya terdiam mematung menyaksikan kejadian-kejadian yang terjadi di depan matanya. Dan kini, Cakra Buana dibuat lebih terkejut ketika menyaksikan ada empat orang yang bertengger di atas dahan pohon. Satu orang kakek tua dengan wanita yang masih muda dan jelita. Sedangkan dua lagi, seorang nenek tua dengan seorang wanita muda pula.
Mata Pendekar Maung Kulon itu langsung mengamati satu-persatu orang tersebut. Cakra Buana dibuat lebih kaget ketika dia menyadari siapa wanita muda yang bersama seorang nenek tua.
"Ir-irma Su-sulastri …" Cakra Buana bergumam sendiri. Dia mengucek matanya beberapa kali untuk memastikan apakah ini mimpi atau bukan. Ah … tapi bukan mimpi, sebab dia sadar betul bahwa ini memang nyata.
"Eyang Rembang Mangkurat Mangku Jagat …" gumam empat datuk secara bersamaan.
Suara mereka pelan, tapi suara itu bisa terdengar jelas oleh orang yang dimaksud dan juga oleh Cakra Buana. Dia pun dibuat kaget lagi, sebab Pendekar Maung Kulon tersebut pernah mendengar nama itu.
Menurut keterangan Ki Wayang Rupa Sukma Saketi, Eyang Rembang Mangkurat Mangku Jagat dulunya adalah seorang pendekar pembela kebenaran. Namanya sudah tersohor di mana-mana, bahkan dia sendiri segan kepadanya.
Mereka satu generasi, hanya saja, nama Ki Wayang dahulu lebih terkenal. Sehingga orang beranggapan bahwa dialah pendekar terkuat pada zaman dahulu. Padahal dia sendiri tidak yakin, sebab jika teringat nama Eyang Rembang Mangkurat Mangku Jagat, hatinya selalu bergetar.
"Baguslah kalau kalian masih ingat namaku. Aku tidak menyangka bahwa orang tua seperti kalian masih saja mengurusi hal-hal duniawi. Seharusnya, kalian itu sadar diri. Usia kalian sudah tidak muda, lebih baik perbaiki diri dengan melakukan perbuatan mulia. Bukan sebaliknya," kata Eyang Rembang memberikan petuah.
Suaranya terdengar begitu lembut dan memberikan rasa nyaman. Dia mengenakan pakaian serba putih, mirip seperti seorang resi. Padahal bukan, tapi semua orang beranggapan bahwa dia memang seorang resi. Sebab dari semua tutur kata yang keluar dari mulutnnya, akan selalu membuat siapapun seperti terhipnotis.
__ADS_1
Seperti sekarang, semua orang yang ada di sana terdiam mematung. Bahkan empat datuk pun seperti itu. Di sadari atau tidak, sebenarnya setiap ucapan Eyang Rembang Mangkurat Mangku Jagat, mengandung kekuatan wibawa yang amat besar.
"Maaf Eyang Rembang, kami tidak mempunyai urusan dengan anjeun (kamu). Jadi kami mohon, jangan ikut campur masalah ini," kata Kera Gila.
Dia bicara dengan nada seperti segan. Padahal, semua orang tahu bahwa Kera Gila terbiasa dengan kata-kata yang angkuh. Tapi di hadapan Eyang Rembang, keangkuhan itu seolah sirna. Tergantikan dengan rasa hormat.
"Ketahuilah Kera Gila, aku pun sebenarnya tidak ingin mencampuri urusan ini. Aku tidak ingin mengotori lagi tanganku, tapi mau bagaimana lagi. Aku tidak bisa membiarkan keadaan Pasundan menjadi lebih kacau," kata Eyang Rembang.
"Aihhh … sudahlah Eyang. Tidak perlu banyak bicara dengan iblis-iblis ini. Kita berikan mereka pelajaran supaya sadar dari kesalahannya," kata seorang wanita muda yang berdiri di pinggirnya.
Wanita itu paling baru berumur dua puluh tiga tahun. Kulitnya putih bersih, matanya agak sipit. Dua lesung pipinya menambah kecantikan wanita muda itu. Di lihat dari bentuk muka, sepertinya dia bukan keturuan asli Pasundan.
"Kau tidak boleh bicara seperti itu Ling Zhi, mereka manusia seperti kita. Hanya saja memilih jalan yang sama seperti halnya iblis. Kau diam saja, jangan bertindak sebelum ada perintah," kata Eyang Rembang kepada wanita muda yang dipanggil Ling Zhi.
"Maaf Eyang. Baiklah, Ling Zhi menuruti perkataan Eyang," katanya sambil menundukkan kepala.
"Bagaimana? Apakah kalian akan merubah pikiran, atau akan tetap seperti ini?" tanya Eyang Rembang, masih dengan suara yang tenang.
"Kami sudah terlanjur Eyang. Mohon maaf, kali ini kami tidak akan mundur," kata Tengkorak Muka Putih sambil menatap Eyang Rembang Mangkurat Mangku Jagat.
"Baiklah kalau itu jawaban kalian. Aku harap penyesalan tidak menghampiri,"
Setelah berkata demikian, Eyang Rembang melayan turun diikuti yang lainnya. Mereka sama-sama mendarat di pinggir Cakra Buana.
Pemuda serba putih itu merasakan hal lain ketika dia berdiri berdampingan dengan dua wanita muda dan cantik jelita. Entah perasaan apa, yang jelas dia seperti gugup. Tapi dibalik itu, Cakra Buana pun meras aneh dengan sikap Irma Sulastri. Wanita itu menjadi dingin sikapnya, bahkan seperti tidak mengenal Cakra Buana sama sekali.
Berbeda dengan sikap Ling Zhi, ketika mendarat, wanita itu langsung melemparkan senyuman semanis madu.
__ADS_1
Dua pihak sudah berhadapan. Keadaan sunyi sepi. Seolah tidak ada kehidupan di hutan tersebut. Padahal faktanya, kesunyian itu hanyalah sesaat sebelum sesuatu yang mengerikan akan terjadi.