
Setelah melihat bahwa lawan sudah benar-benar tewas, Cakra Buana pun langsung menyarungkan kembali Pedang Pusaka Dewa. Dia tidak menghampiri Ayu Pertiwi, melainkan hanya berdiri saja disitu.
"Ah … kau menang. Hebat …" tiba-tiba Ayu Pertiwi berteriak sambil berlari dan langsung memeluk tubuhnya.
Seketika itu juga Cakra Buana merasakan bahwa jantungnya berdetak tidak karuan. Bahkan wajahnya terlihat kebingungan. Tubuhnya sedikit bergetar karena saking gugupnya. Bagaimana tidak, ini pertama kalinya dia dipeluk oleh seorang wanita cantik seperti Ayu Pertiwi.
"Ehemmm … terimakasih Ayu," kata Cakra Buana sambil mendehem sedikit.
Ayu Pertiwi langsung melepas pelukannya. Seolah dia baru sadar dan terbangun dari mimpi indahnya. Wajah yang tadinya bahagia itu, mendadak memerah seperti tomat. Dia langsung menundukkan kepalanya. Tidak berani bicara lebih, apalagi memandang wajah Cakra Buana.
"Ma-maaf. Aku … aku tidak sengaja. Sungguh, saking senangnya sehingga aku jadi lupa diri," kata Ayu Pertiwi dengan suara lirih.
Cakra Buana kebingungan. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Apakah kembali merangkul lalu memeluknya? Atau … mendiamkannya saja?
Setelah memikirkan beberapa saat, akhirnya Cakra Buana menjawab. "Tidak mengapa Ayu," katanya sambil tersenyum.
Ayu Pertiwi yang sedang tertunduk itu tiba-tiba mengangkat wajahnya kembali secara perlahan. Terlihat wajahnya yang memerah dan pandang matanya yang sayu. Wajah cantiknya seolah hilang beberapa persen. Tapi manisnya masih tergambar jelas.
"Kau tidak marah?" tanya Ayu Pertiwi keheranan.
"Kenapa harus marah?" tanya balik Cakra Buana.
"Karena … karena aku sudah tidak sengaja memelukmu,"
"Aku tidak marah. Lagi pula itu tidak sengaja bukan? Dan meskipun sengaja … aku … tetap tidak marah," kata Cakra Buana sedikit ragu-ragu.
"Sungguh?"
"Tentu,"
"Kenapa kau tidak marah?"
"Karena aku … aku … nyaman. Emmpphh," tiba-tiba Cakra Buana langsung menutup mulutnya sendiri.
Dalam hati, dia memaki dirinya sendiri. Betapa bodohnya dia. Betapa lancang mulutnya itu. Bagaimana kalau dia disangka pria kurang ajar?
"Ehhh … kau … kau nyaman?" tanya Ayu Pertiwi sedikit membelalakkan matanya. Tapi tidak ada sinar kemarahan. Justru wajah itu semakin memerah.
"Emmm …"
"Seorang yang baik adalah dia yang selalu jujur," kata Ayu Pertiwi memotong Cakra Buana.
__ADS_1
"I-iya. Ak-aku … nyaman," ucap Cakra Buana sambil malu-malu.
Ingin rasanya Ayu Pertiwi melompat kegirangan. Tapi dia mencoba untuk menahan diri. Begitupun dengan Cakra Buana, ingin rasanya dia memeluk kembali wanita itu. Tapi tentu saja dia bukan seorang yang bodoh. Bagaimana kalau Ayu Pertiwi menolaknya? Pasti rasa sakitnya lebih perih tersayat pedang sekalipun.
"Emmm … Ayu, maafkan aku soal tadi," kata Cakra Buana secara tiba-tiba.
"Maafkan soal apa?"
"Soal aku yang mengaku sebagai kekasihmu. Aku berkata seperti itu supaya bisa membantumu," katanya.
"Tidak mengapa. Bahkan aku senang," jawab Ayu Pertiwi.
"Hahhh? Kau … kau senang?" kali ini giliran Cakra yang terkejut.
"I-iya,"
"Memangnya kenapa?"
"Karena aku … aku … ci-cinta kepadamu," jawabnya sedikit gugup.
Bukan main girangnya hati Cakra Buana. Ingin dia berteriak sekeras mungkin. Ternyata tanpa dia sadari, cintanya dibalas. Ternyata wanita itu sama-sama mencintainya.
Saat terjadi hal seperti ini, saat kau mencintai seseorang dan ternyata dia mencintaimu juga, rasanya saat-saat seperti itulah yang paling berbahagia.
"Sungguh …"
"Kalau begitu kita memiliki perasaan yang sama,"
"Maksudmu?" tanya Ayu Pertiwi.
"Aku juga mencintaimu," ucap Cakra Buana.
Mendadak Ayu Pertiwi membelalakan matanya lagi. Kini dua pasang mata bertemu dan saling pandang. Hati mereka seperti berbunga-bunga. Wajah mereka mengambarkan rasa kebahagiaan yang tiada tara.
Ayu Pertiwi lalu mencoba untuk berkata lagi. "Kakang, katamu tadi nyaman saat dipeluk bukan?"
Kakang? Tidak salah dengarkah telinganya? Tapi itu memang nyata. Kembali Cakra Buana dibuat gugup karenanya.
"Benar, aku nyaman saat dipeluk,"
"Lalu … kenapa sekarang kau tidak memelukku lahi?"
__ADS_1
"Menangnya boleh?"
"Kenapa tidak?"
Tanpa banyak kata-kata lagi. Cakra Buana langsung saja memeluk Ayu Pertiwi dengan erat. Bahkan dia mengangkatnya lalu berputar-putar saking bahagia hatinya. Cintanya dibalas, hati siapa yang tidak bahagia?
Setelah dirasa cukup untuk "merayakan" kebahagiaan itu, Cakra Buana melepas kembali Ayu Pertiwi. Mereka berniat untuk segera melanjutkan perjalanannya lagi. Tapi kali ini dengan rasa yang berbeda dan dengan sebutan yang berbeda.
Cakra Buana menyebut Ayu Pertiwi dengan sebutan diajeng (adik perempuan). Sedangkan Ayu Pertiwi menyebut Cakra Buana dengan sebutan kakang (kakak laki-laki).
Keduanya melanjutkan perjalanan dengan canda dan tawa. Tak lupa juga mereka selalu bergandengan tangan. Perjalanan menuju kediaman guru Ayu Pertiwi itu semakin terasa menyenangkan saja rasanya.
Bahkan tanpa mereka sadari, waktu terus berjalanan dan setengah hari lagi, mereka akan segera tiba ditempat tujuannya.
Setelah kejadian pertarungan antara Cakra Buana melawan Jagal Patenggang si Raja Biruang di pinggir hutan dekat sungai itu, tidak ada kejadian lain lagi yang menghambat keduanya.
Seolah perjalanan mereka direstui oleh Sang Hyang Widhi. Seolah langit memberikan waktu berbahagia bagi keduanya setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang.
Tak terasa, tempat kediaman guru Ayu Pertiwi sudah terlihat dari kejauhan. Kedua pasangan baru itu segera mempercepat langkah mereka.
Beberapa saat kemudian, tibalah keduanya ditempat tujuan akhir. Disana terlihat ada sebuah pondok sederhana. Letaknya diatas sebuah bukit. Pondok itu dikelilingi oleh pohon-pohon jati yang menjulang tinggi.
Di pinggir sebelah kanan ada sebuah pemandian dan sumur yang terlihat sudah tua. Sedangkan dipinggir sebuah kiri ada sebuah halaman yang lumayan luas. Kiranya halaman itu tempat mereka berlatih.
Sepertinya disana ada tamu, karena terlihat ada seorang pria didalamnya sedang berbincang-bincang dengan guru Ayu Pertiwi.
"Sampurasun …" kata Ayu Pertiwi.
"Rampes, ah kau sudah pulang muridku. Bagaimana? Apakah tugasmu berhasil dijalankan dengan baik?" tanya guru Ayu Pertiwi.
"Sudah guru. Ini," kata Ayu Pertiwi sambil memberikan selendang pusaka milik gurunya.
Selendang itu berwarna merah. Sekilas terlihat seperti selendang biasa, tapi justru dibalik kata "biasa" itulah ada hal yang mengerikan.
Guru Ayu Pertiwi bernama Ratna Rahayu dan mempunyai julukan Nyai Kembang Ros Beureum (Bunga Mawar Merah) karena itulah bajunya berwarna merah dan ada gambar bunga mawar merah juga.
Usianya hampir empat puluh lima tahun. Tapi wajahnya masih terlihat cantik. Bahkan seperti baru usia tiga puluh tahun. Tubuhnya ramping dan padat berisi. Karena pakaiannya selalu ketat, maka lekukan tubuh itu sangat terlihat dengan jelas. Kalau tersenyum, indahnya seperti bunga mawar yang baru mekar. Senyumannya memikat setiap pria yang memikatnya, bahkan terbilang genit.
Ternyata Ayu Pertiwi juga mempunyai dua orang adik perguruan yang sama-sama wanita. Usia mereka tidak berbeda jauh darinya. Paling keduanya berumur sekitar delapan belas dan sembilan belas tahun.
Yang satu bernama Citra Kirana dan satu lagi bernama Dyah Rengganis. Keduanya sama-sama cantik, tak kalah cantik dengan Ayu Pertiwi. Hanya saja mereka sedikit lebih pendek dibandingkan kakak seperguruannya itu.
__ADS_1
"Ah … terimakasih Ayu. Kau memang murid berbakti. Ini … siapa?" tanya Nyai Kembang Ros Bereum sambil melirik Cakra Buana dengan sorot pandang lain.