Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Seorang Yang Menguping


__ADS_3

Tak terasa satu minggu telah berlalu. Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu sudah sadar tiga hari lalu. Hanya saja mereka masih belum bisa bergerak semaunya. Sebab luka dalam yang diderita, masih belum pulih total.


Selama seminggu itu, Jalak Putih dan Gagak Bodas mengurus mereka dengan sabar. Seperti layaknya seorang sahabat lama, padahal bertemu saja baru kali ini.


Perhitungan Gagak Bodas tidaklah salah, ia mengatakan kepada Jalak Putih bahwa 'pasiennya' akan sembuh dalam waktu seminggu. Dan itu memang benar. Sekarang Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu sudah bebeas bergerak. Meskipun kadang tubuh mereka terasa ngilu karena terlalu lama terbaring.


Waktu menunjukkan malam hari. Rembulan menggantung di cakrawala dengan indah. Bintang-bintang berkelipan menambah keindahan. Hawa sejuk terasa dari pegunungan yang dekat dengan kediaman Gagak Bodas dan Jalak Putih.


Suara binatang malam seperti kelelawar terdengar berdecit sahut menyahut bersama suara jangkrik. Semilir angin lembut membelai keempat orang yang kini sedang duduk di bale-bale bambu.


Di depan mereka ada singkong rebus, ubis rebus dan juga teh manis hangat. Keduanya saling melengkapi satu sama lain. Sangat cocok kalau dinikmati saat cuaca seperti sekarang ini.


Mereka tidak bicara cukup lama. Keempatnya melamun membayangkan kejadian-kejadian di masa silam. Namun pada akhirnya, Cakra Buana memecah keheningan.


"Sebelumnya kami ucapkan terimakasih untuk paman berdua. Kalau tidak ada kalian, mungkin aku dan pamanku ini sudah tewas," ucap Cakra Buana dengan sopan.


"Sesama manusia memang diwajibkan untuk tolong menolong. Ki dulur tidak perlu sungkan, kalau kita ingin ditolong orang, maka kita juga harus menolong orang," kata Gagak Bodas bijaksana.


"Paman benar. Sepertinya Sang Hyang Widhi sengaja mempertemukan kita," ujar Cakra Buana.


"Maaf ki dulur, kalau boleh tahu, siapakah kalian berdua?" tanya Jalak Putih.


Dua saudara seperguruan itu memang belum mengetahui siapa pasien mereka. Sebab beberapa hari terakhir, mereka tidak banyak bicara dengannya.


"Aishh, betapa tidak sopannya aku ini. Maafkan kami ki dulur. Perkenalkan, saya biasa dipanggil Pendekar Tangan Serubu. Dan ini rekan saya Jagat Sukma Pati," kata pria serba hitam itu memperkenalkan dirinya. Ia sengaja memberikan nama samaran Cakra Buana, sebab dia sendiri belum mengetahui secara pasti siapa orang yang ada di hadapannya saat ini.


Jalak Putih dan Gagak Bodas sedikit kaget. Ia tentu tahu siapa itu Pendekar Tangan Seribu.


"Ah, ternyata seorang pendekar besar. Maafkan aku yang sudah tua ini sehingga tidak mengenali suara Pendekar Tangan Seribu," ucap Gagak Bodas sedikit membungkuk.


"Paman terlalu berlebihan. Aku hanyalah seorang pendekar biasa yang mengabdi di Kerajaan Tunggilis," katanya.


Cakra Buana hanya diam saja sambil menikmati hidangan yang ada. Ia merasa tidak perlu ikut campur. Dia tidak akan 'nimbrung' dalam percakapan tokoh tua tersebut. Karena baginya, itu tidak sopan.

__ADS_1


"Maaf sebelumnya, tapi aku merasa belum pernah mendengar nama Jagat Sukma Pati dalam dunia persilatan," ucap Jalal Putih sambil menatap Cakra Buana..


"Euu …, dia masih hijau paman. Jadi mungkin paman sekalian belum mendengar namanya," kata Pendekar Tangan Seribu.


"Baiklah kalau kau memang tidak mau memperkenalkan siapa dia, tidak masalah. Yang terpenting aku merasa bersyukur karena sudah menolong orang-orang Kerajaan Tunggilis," kata Jalak Putih.


pendekar Tangan Seribu sedikit bingung. Sepertinya kedua orang tua itu tahu bahwa mereka dibohongi. Jadi mau tidak mau, Pendekar Tangan Seribu memberitahu siapa itu Jagat Sukma Pati.


"Maafkan atas kelancanganku ini," katanya.


"Maksudmu?"


"Aku bukannya tidak ingin memperkenalkan siapa dia sebenarnya. Tapi aku hanya takut saja, sebab pemuda ini sangat penting bagi Kerajaan Tunggilis bahkan mungkin bagi semua rakyat,"


"Aku mengerti. Apakah dia anak Prabu Katapangan?"


"Bukan," jawab Pendekar Tangan Seribu.


Yang ditanya hanya menggeleng pelan lalu menyeruput teh nya.


"Aku Gagak Bodas. Dan ini adik seperguruanku, dialah si Jalak Putih," katanya memperkenalkan diri.


Pendekar Tangan Seribu langsung tersedak ubi rebus yang sedang ia kunyah. Ia buru-buru minum lagi, setelah minum, dia berniat untuk memberikan hormat. Namun segera di tahan oleh Gagak Bodas.


"Jangan seperti ini. Aku tidak suka tatakrama semacam itu," katanya.


"Ma-maafkam aku. Sungguh, aku orang yang kurang ajar sehingga tidak mengenali kalian," ucap Pendekar Tangan Seribu. Dia berhenti sebentar kemudian melanjutkan lagi bicaranya. "Jujur saja aku tidak menyebutkan siapa pemuda ini karena takut, aku takut kalian bukan orang yang ada di pihak kami,"


"Kalau memang kau tidak mau memberitahu kami, kami tidak akan memaksa," ucap Jalak Putih.


"Sekarang aku sudah tahu siapa kalian. Jadi untuk apa di tutupi lagi? Nama pemuda ini yang sebenarnya adalah Cakra Buana, dalam dunia persilatan ia dijuluki Pendekar Maung Kulon," kata Pendekar Tangan Seribu menjelaskan sambil memegangi pundak Cakra Buana.


Sedangkan orangnya hanya diam saja, dia terus menikmati hidangan yang sudah disuguhkan.

__ADS_1


Selesai Pendekar Tangan Seribu berkata, kini gantian, yang terkejut adalah Jalak Putih dan Gagak Bodas.


"Jadi … dia …, pemuda yang saat ini memegang Pedang Pusaka Dewa?" tanya Gagak Bodas masih sedikit tidak percaya.


"Benar ki dulur. Dialah orang yang saat ini sedang dicari oleh kalangan dunia persilatan,"


"Sebelumnya mohon maaf atas kekurang ajaranku, tapi bisakah aku melihat pedang pusaka itu?"


Jalak Putih dan Gagak Bodas memang sudah sejak lama ingin melihat senjata pusaka itu secara langsung. Sebab selama ini, keduanya hanya mendengar dari mulut ke mulut saja.


"Tentu saja boleh. Suatu kehormatan bagiku kalau paman berdua mau melihat pedang ini," kata Cakra Buana tiba-tiba bicara.


Kemudian ia membuka kain putih yang membungkus Pedang Pusaka Dewa. Setelah di buka seluruhnya, dia segera menyerahkan kepada Gagak Bodas.


"Terimakasih," jawabnya sambil menerima pedang.


Gagak Bodas dan Jalak Putih lalu mrlihat pedang itu dengan seksama. Ada hawa lain yang terpancar dari pedang pusaka tersebut. Kedua tangan Gagak Bodas terasa bergetar saat memegangnya.


"Boleh aku mencabutnya?" tanyanya kepada Cakra Buana.


Cakra Buana mengangguk. Gagak Bodas lalu mencabut Pedang Pusaka Dewa dari sarungnya.


"Pedang yang sangat bagus. Dia mempunyai aura besar dan sangat kuat," katanya.


Setelah puas melihat dan memegang Pedang Pusaka Dewa, tiba-tiba Gagak Bodas menyabetkan pedang tersebut mengarah ke sebatang pohon di sebelah pinggir kanan. Jaraknya ke pohon tersebut terpaut sekitar sepuluh langkah.


"Wushh …"


Cahaya putih berkelebat secepat kilat menyambar pohon tersebut. Detik berikutnya, bukan pohon yang tumbang. Melainkan ada seseorang yang jatuh berdebum dari atas dahan.


Cakra Buana dan Pendekar Tangan Seribu kaget, tak disangkanya ada orang yang berani menguping pembicaraan mereka.


Orang yang jatuh itu langsung terkapar tewas. Ada luka sayatan di dadanya. Bahkan dada orang itu menganga. Jalak Putih bergerak. Tiba-tiba ia sudah ada di dekat mayat tersebut. Tak lama, kakek tua itu sudah kembali ke tempat semula. Namun kali ini, ada seroang mayat di belakangnya.

__ADS_1


__ADS_2