
Langlang Cakra Buana sekarang ini tengah bertarung melawan pria berkumis bagai kumis lele tersebut. Keduanya masih bertarung diatas genteng. Serangan pria kumis lele itu lumayan cepat, tapi dimata Pendekar Maung Kulon tidaklah berarti.
Pukulan dan tendangan sudah beberapa puluh kali digencarkan oleh pria kumis lele itu. Tapi sayangnya semua serangan yang dia lancarkan hanyalah mengenai udara kosong saja. Langlang Cakra Buana menghindari setiap serangan dengan mudahnya.
Dengan tubuh ringan bagai kapas, dia bisa berpindah tempat kesana kemari. Mulai bosan di posisi bertahan, pemuda serba putih itu perlahan maju menyerang menggunakan pukulan biasa tapi mengandung tenaga dalam.
Langlang Cakra Buana melancarkan pukulannya dengan mengarah ke bagian dada pria kumis lele itu, karena gerakannya cepat dan tak terlihat karena malam hari, hanya beberapa gebrakan saja pria itu sudah terkena pukulan Langlang Cakra Buana.
"Ughhh …"
Dia terkena pukulan dibagian dada sehingga terpental menabrak dinding atap yang lebih tinggi lagi. Tanpa banyak bicara, pria berkumis lele langsung turun ke bawah dan melaporkan kejadian ini kepada pemimpinnya.
Pria berkumis lele berlari kalang kabut lalu masuk ke ruangan dimana semua rekan dan pimpinannya berada. Ketika sampai didalam, nafasnya terengah-engah tidak karuan bagaikan anjing yang kecapean. Lidahnya bahkan menjulur keluar.
"Kau kenapa heh? Seperti sudah melihat hantu saja," kata pria pendek berumur sekitar enam puluh tahun.
"Di-disana, a-ada penyusup. Di-dia masih muda ki," kata pria berkumis lele melaporkan tentang adanya penyusup.
"Disana dimana? Bicara yang betul … dasar belegug (Bodoh)," kata pria pendek itu.
"Di-diatas genteng ki. Dia mencari masalah dengan kita. Mungkin pemuda itu belum tahu kehebatan kelompok Ucing Hideung (Kucing Hitam) ini ki," ucap pria berkumis lele tersebut.
Sontak saja semua orang-orang yang berada disana langsung keluar secara bersamaan. Mereka meninggalkan wanita dan juga arak yang sedang mereka nikmati. Jumlahnya cukup banyak, ada sekitar lima belas orang termasuk tiga pemimpin.
__ADS_1
Pria pendek tadi langsung saja menengok ke atas ketika sudah dihalaman luar. Dan benar saja, diatas sana ada seorang pendekar muda berpakaian serba putih sedang duduk bersila sambil nanggeuy gado (menahan dagu) dengan santainya.
"Turun siah budak (Bocah), arek babadog (mau maling) heh?" tanya pria pendek tadi dengan nada membentak kepada Langlang Cakra Buana.
Langlang Cakra Buana langsung turun setelah dikata demikian. Pemuda itu menghadapi lima belas orang itu dengan santai dan tenangnya. Dia melipatkan tangannya di dada lalu melangkah maju ke depan.
"Sampurasun …" kata Langlang Cakra Buana sambil tersenyum ramah.
"Tidak usah banyak bicara, katakan apa tujuanmu sebenarnya bocah tengik?" bentak pria pendek.
"Hemmm … tentunya ingin membunuh kepala desa yang berwatak bagaikan penjajah itu," ucap Langlang Cakra Buana.
"Keparat … jaga mulutmu bocah,"
"Daritadi aku menjaga mulut, sebab itulah mulutku tidak kabur," jawab Langlang Cakra Buana dengan senyum mengejek.
Mendengar komando dari pemimpinnya, dua belas bawahan pria pendek tersebut langsung mengepung Langlang Cakra Buana. Kesemua bawahan itu langsung saja mencabut goloknya yang dia simpan di pinggang.
"Hemmm … kau pikir bisa menangkapku dengan tikus-tikus ini?" tantang Langlang Cakra Buana.
Tanpa dikomando lagi, kedua belas bawahan tersebut langsung menyerang dengan bersamaan. Tapi di sisi lain, Pendekar Maung Kulon itu masih berdiri dengan santainya untuk menyambut serangan yang datang.
Dua belas sinar putih berkilau yang berasal dari golok yang tajam mulai menyambar Langlang Cakra Buana secara bersamaan. Mereka sudah yakin jika diserang secara bersama maka pemuda itu tidak akan bisa lari ataupun selamat daripadanya.
__ADS_1
Tapi tiba-tiba saja, ketika golok-golok itu sudsh siap untuk mencincang Langlang Cakra Buana, pemuda itu dengan secara tiba-tiba langsung menunduk dan berputar dengan kaki menjulur menyambar kaki para bawahan.
"BUKK …"
"BUKK …"
"BUKK …"
Suara tendangan pemuda itu begitu nyaring dan tepat mengenai tulang kering para bawahan. Tentu saja para bawahan itu tak jadi menyerang, yang ada mereka malah kesakitan dan memegangi tulang keringnya.
Tak berhenti sampai disitu, Langlang Cakra Buana langsung menghentakkan kakinya disertai tenaga dalam yang cukup besar.
"Haaa …"
Tiba-tiba saja kedua belas bawahan pria pendek itu merasa ada angin kencang yang menyambar mereka dengan tiba-tiba. Kedua belas bawahan tersebut langsung terpental tidak karuan. Seketika itu juga mereka pingsan dan tidak sanggup untuk bangun kembali.
"Segini saja? Cihhh … memalukan," ejek Langlang Cakra Buana.
"Bocah sombong. Apa kau belum tahu kehebatan kelompok Ucing Hideung heh? Baik. Mari kita buktikan, sebelumnya perkenalkan dulu namamu. Jangan sampai kau mati tanpa nama," kata pria yang agak gemuk. Mungkin dia bagian dari ketiga pemimpin itu.
"Aku Langlang Cakra Buana," jawabnya singkat.
"Aku Kala Wira, mari kita mulai …"
__ADS_1
"Hiyaa …"
Pria agak gemuk bernama Kala Wira itu langsung menyerang Langlang Cakra Buana dengan ganasnya. Ternyata meskipun agak gemuk, gerakannya lumayan cepat juga si Kala Wira itu. Dia langsung memberikan serangan yang cukup lumayan berbahaya kepada Langlang Cakra Buana.