
Kalau pendekar kelas satu saja mampu dia bunuh, apalagi Kagendra Malawa? Tentu saja sangat bisa. Hanya saja, kali ini dia harus mengukur daya kekuatan yang akan dia keluarkan.
Sebab sebelumnya Cakra Buana sudah berpesan untuk tidak membunuh pemuda tersebut. Entah alasannya karena apa, karena dia sendiri tidak diberi tahu.
"Bidadari Menari di Atas Pelangi …"
"Wushh …"
Bidadari Tak Bersayap langsung melesat ke depan. Kakinya tidak menapak ke tanah dalam jarak satu jengkal. Pedang biru muda yang bernama Pedang Cantik Dari Kahyangan sudah mulai kembali memperlihatkan pamornya.
Kali ini bukan hanya berkelebat sinar putih saat dia menggempur, bahkan sinar biru muda, sesuai warna pedangnya juga nampak. Sinar tersebut membawa pengaruh tersendiri. Di mata lawan, wujud pedang itu seperti menghilang. Yang terlihat hanyalah selariik cahaya biru muda.
Gempuran mulai diberikan oleh Bidadari Tak Bersayap kepada Kagendra Malawa. Pedang Cantik Dari Kahyangan mencecar dengan ganasnya. Ujung pedang itu menusuk-nusuk beberapa titik inti di tubuh. Kadang kala pedangnya berkelebat menyabet sangat cepat.
Kagendra Malawa terpojok. Semua serangan balasan yang ingin dia lancarkan tidak dapat tembus. Sebab pertahanan ataupun serangan yang diberikan gadis cantik itu, sungguh membuatnya kerepotan.
Di saat situasi genting dan nyawanya sudah berada di ujung tanduk, Kagendra Malawa berteriak. Teriakan yang sangat nyaring dan memekakkan telinga.
"Melumpuhkan Dewi Menikam Dewa…"
"Wushh …"
Sebuah jurus andalan yang selama ini dia sembunyikan, pada akhirnya keluar. Keris itu ternyata dua. Hanya saja menempel satu sama lain, sehingga terlihat utuh.
Begitu Kagendra Malawa mengeluarkan jurus Melumpuhkan Dewi Menikam Dewa, kerisnya mendadak dia pisahkan. Sehingga kini, kedua tanganya masing-masing sudah memegang keris pusaka.
Kagendra Malawa kemudian bergerak. Gerakan yang sangat cepat dan serangan yang berbahaya. Karena kalau dia sudah mengeluarkan jurus ini, kekuatannya akan berlipat ganda. Efek serangan yang ditimbulkan pun akan lebih hebat lagi.
Bidadari Tak Bersayap tahu betul bahwa jurus ini merupakan jurus maut. Tanpa sadar, tubuhnya masih terasa segar. Padahal dia sudah bertarung sebanyak tujuh puluh jurus.
Dia tidak tahu bahwa seorang pendekar muda yang sedikit cemburu, sudah memberikan tenaga dalam besar dan murni tanpa sepengetahuan dirinya.
__ADS_1
"Berputar di Udara Merusak di Bumi …"
Jurus yang lebih tinggi daripada Bidadari Menari di Atas Pelangi sudah digelar olehnya. Itu artinya, kekuatan yang dikeluarkan pun sudah hampir mencapai delapan puluh persen.
Kedua pendekar tersebut mulai bertarung sengit beradu jurus demi jurus. Gempuran demi gempuran. Dan tusukan serta sabetan. Keris lawan terus melontarkan sinar hitam. Sedangkan pedang milik Bidadari Tak Bersayap, selalu menebarkan cahaya biru muda.
Suasana menjadi lebih seru dan menegangkan. Percikan bunga api sudah tidak terhitung lagi banyaknya. Pertarungan mereka semakin hebat saat memasuki jurus sembilan puluh.
Dan tepat pads jurus sembilan puluh dua, Pedang Cantik Dari Kahyangan berhasil merobek kedua lengan Kagendra Malawa. Setelah itu, kakinya segera menendang ulu hati murid Dewa Maut tersebut.
Kagendra Malawa terpental hingga menabrak pohon. Dia muntah darah. Semua tubuhnya terasa sangat sakit dan ngilu. Tentu saja dia tidak dapat meneruskan pertarungan lagi.
Walaupun kekesalan masih timbul, tapi apa daya, tubuhnya sudah tidak mampu bergerak lebih jauh lagi.
Bidadari Tak Bersayap menyarungkan pedang kembali. Setelah itu, dia memperhatikan pertarungan Cakra Buana yang lebih hebat.
Pertarungan kedua orang tersebut sudah memasuki jurus kesembilan puluh lima. Cakra Buana terkejut karena menyadari bahwa Dewa Maut memang benar-benar sangat berbahaya.
Sebab Dewa Maut telah menggelegar jurus terakhirnya. Jurus tersebut diberi nama Malaikat Iblis Pencabut Nyawa.
Seperti juga nama jurusnya. Dia bergerak secepat kilat, bergerak tanpa kesulitan. Menyerang tanpa kenal lelah. Setiap serangannya datang, maka dia akan mengincar nyawa. Semua serangan hebat dan inti dari jurusnya, sudah dia lebur bersama jurus ini.
Jadi, bisa dibayangkan bagaimana mengerikannya jurus Malaikat Iblis Pencabut Nyawa ini.
Namun Cakra Buana juga tidak mau kalah. Sekarang Pendekar Tanpa Nama itu tidak lagi menggunakan rangkaian jurus Kitab Maung Mega Mendung.
Sebaliknya, jurus kedua dari rangkaian 7 Jurus Naga dan Harimau sudah keluar.
Kalau sudah seperti ini, maka Pendekar Tanpa Nama itu sudah benar-benar berlak serius. Sebab jika Cakra Buana menggunakan jurus barunya, maka jangan pernah berharap untuk dapat keluar hidup-hidup. Bagaimanapun, lawannya harus tewas. Atau kalau tidak, minimal harus terluka parah dan kalau bisa cacat seumur hidup.
Alasannya tentu saja bukan karena dia berhati kejam. Tapi karena jurusnya sendiri itulah. Sebab jurus-jurus sakti tersebut akan dikeluarkan kalau nyawanya berada dalam bahaya. Kalau nyawa bahaya, sudah tentu dia harus membunuh lebih dulu sebelum dia sendiri yang dibunuh.
__ADS_1
Jurus Naga Terbang di Angkasa mulai memberikan gempuran kepada lawan. Dewa Maut juga tidak pernah menyangka bahwa pemuda yang mempunyai julukan Pendekar Tanpa Nama itu, benar-benar mempunyai kepandaian sangat tinggi.
Sekarang kakek tua tersebut percaya dengan berita yang tersebar bahwa si pemuda lawannya ini, memang benar-benar sakti.
Pertarungan keduanya hampir mencapai seratus jurus. Dewa Maut mengeluarkan jurus Malaikat Iblis Pencabut Nyawa sampai ke tahapan tertinggi. Begitupun dengan Cakra Buana.
Jurus Naga Terbang di Angkasa sudah mencapai taraf puncak. Pemuda itu berubah bagaikan seekor naga yang sedang marah di angkasa. Setiap pukulan dan tendangan yang dia berikan selalu menimbulkan bunyi ledakan keras dan kekuatan hebat.
Dewa Maut mulai keteteran. Gerakannya sedikit melambat karena tenaganya sudah mulai berkurang drastis. Berbeda dengan Cakra Buana yang masih terlihat tenang dalam helaan nafasnya.
Mencapai seratus lima jurus, Cakra Buana menggempur. Gempuran yang terkahir berupa hantaman dahsyat yang sangat telak mengenai ulu hati Dewa Maut.
Tubuh tua renta itu seketika terlontar jauh ke belakang. Dia bergulingan di tanah sambil terus memuntahkan darah segar. Begitu tubuhnya terhenti, kakek tua itu sudah berada dalam keadaan sekarat.
Cakra Buana segera menghampirinya.
"Apakah ada permintaanmu lagi?" tanyanya kepada Dewa Maut.
"To-tolong bawa kemari muridku," ucapnya dengan susah payah.
Cakra Buana mengangguk. Kemudian dia menyuruh Bidadari Tak Bersayap untuk membawa Kagendra Malawa. Hanya dalam sekejap, orang yang dimaksud sudah tiba.
Kagendra Malawa sangat sedih saat melihat kondisi gurunya yang sudah pasti tidak akan tertolong lagi.
"Mu-muridku, guru akan segera pergi. Ka-kau jagalah diri baik-baik. Ubahlah jalan hidupmu, jangan membalas dendam. Ka-kau harus tetap hidup …"
Begitu ucapannya selesai, saat itu pula nyawanya lepas dari raga. Perjalanan Dewa Maut menemui akhir. Dia tewas di tangan seorang pendekar muda.
Namun walaupun demikian, kakek tua itu seperti tidak menyesal. Bahkan meninggalnya pun sedikit tersenyum. Tanda bahwa dia tewas dengan bahagia.
###
__ADS_1
Tolong bantu naikin rate bintang ya kakanh, nyai😄kalo engga, nanti Cakra Buana bisa marah😜