Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Masalah Selesai


__ADS_3

Di Perguruan Merpati Wingit, semua murid telah berkumpul di tengah halaman yang cukup luas. Jumlah meraka tak kurang dari tiga puluh lima orang. Termasuk tiga guru dan satu guru besar.


Orang yang tadi ditemui di hutan dan diduga merupakan salah satu guru di perguruan tersebut pun sudah sampai. Pendekar Tangan Seribu tidak mampu mengejarnya.


Karena hal itu, mungkin dia langsung melaporkan kepada semua orang perguruan tentang kedatangan Pendekar Tangan Seribu. Sehingga akibatnya, orang-orang yang ada di sana kini sudah mengelilingi pria serba hitam tersebut.


Berbagai macam senjata sudah tergenggam erat di tangan mereka. Tinggal menunggu perintah dari sang guru, maka semua murid pasti akan bergerak maju.


Tetapi untuk beberapa saat, guru mereka masih juga belum memberikan perintah. Sedangkan Pendekar Tangan Seribu hanya memandangi murid-murid yang mengelilingi dirinya. Dia tidak merasa takut sama sekali.


Bahkan di tengah kerumunan tersebut, Pendekar Tangan Seribu masih mampu untuk tersenyum.


Senyuman memang terkadang dapat mengurangi rasa gentar.


"Sampurasun Eyang Guru …" kata pria serba hitam itu memberi hormat.


"Rampes …" jawabnya hambar.


"Maaf aku berani lagi datang kemari. Sebab aku ingin membersihkan fitnahan yang ditujukan kepada diriku," katanya tenang.


"Bukti apa yang kau punya? Bukankah semuanya sudah jelas? Tidak perlu kau menjelaskan lagi, lebih baik berikanlah nyawamu yang tidak berharga itu," bentak orang yang diduga melakukan pengkhianatan.


"Sumba, kau diamlah. Biarkan dia bicara," ucap sang guru besar menegur muridnya yang bernama asli Sumba.


Dia tampak kesal, tapi tidak berkata lebih lanjut lagi.


"Apa yang ingin kau bicarakan pendekar?" tanya guru besar itu.


"Aku hanya ingin mengatakan bahwa kematian sahabatku itu bukanlah perbuatanku. Dan yang terpenting, orang yang memfitnahku ini sebenarnya mempunyai niat yang lebih busuk lagi. Dia membunuh karena mungkin takut rencananya akan terbongkar. Sebab kunjunganku kemari, memang membahas tentang pengkhianatan tersebut. Tak disangka, orang yang aku maksudkan menguping pembicaraanku. Sehingga dia membunuh dan melemparkan tuduhan kepadaku tanpa dasar,"


"Siapa yang kau maksudkan?"


"Sumba. Murid Eyang Guru," kata Pendekar Tangan Seribu.


Orang tua yang dipanggil Eyang Guru itu melirik sebentar kepada muridnya. Sedangkan yang dilirik, kini justru sedang marah-marah.


"Apa maksudmu itu heh? Bukti apa yang kau punya? Kalau hanya bicara, siapapun dapat melakukannya. Kalau kau memang tidak suka kepadaku, bicara saja terus terang. Selesai," kata orang bernama Sumba dengan nada tinggi.


Pendekar Tangan Seribu masih tetap tenang. Bahkan dia sama sekali tidak mendengarkan ocehan tersebut.


"Aku yakin Eyang Guru bijaksana. Mohon sekiranya lihat siapakah yang benar dan siapa yang salah. Maksudku baik, semua ini demi perguruan dan juga demi membersihkan namaku sendiri,"


"Kalau kau tadi mengatakan Sumba adalah orang yang mengkhianati perguruan. Atas dasar apa dia melakukannya? Lagi pula, apakah kau mempunyai sebauh bukti yang kuat?" tanya Eyang Guru.


"Jujur saja, tadi aku sedang berada di perjalanan untuk menuju kemari bersama rekanku bersama seorang sahabat. Tapi saat tiba di hutan, aku menemukan ada enak orang asing. Dan setelah sahabatku menyelidiki, ternyata Sumba ada di antara orang-orang itu. Dia sedang merencanakan sesuatu,"


"Apa yang mereka rencanakan?"

__ADS_1


"Mereka berencana untuk merebut Kitab Selayang Jagad milik Perguruan Merpati Wingit lewat tangan Sumba. Selain itu, bahkan Sumba mendapatkan tugas lain, dia disuruh untuk memberikan racun dalam makanan yang akan dimakan oleh para guru," kata Pendekar Tangan Seribu.


Si Eyang Guru melirik muridnya lagi. Dan lagi-lagi, Sumba berteriak marah-marah. Bahkan dia mencaci maki dengan ucapan kasar.


"Kalau Eyang Guru tidak percaya. Silahkan periksa kantong bajunya," ujarnya.


"Keparat. Kau sudah keterlaluan menuduhku," bentak Sumba lalu tiba-tiba dia maju menerjang Pendekar Tangan Seribu.


Melihat bahwa orang yang memfitnahnya menyerang, pria bernama Lingga itu tidak takut sama sekali. Justru dia memberikan senyuman mengejek.


Serangan yang datang berupa pukulan keras dan dahsyat. Tetapi yang diserang masih diam seperti patung.


Saat serangan itu hampir tiba, Pendekar Tangan Seribu langsung mengangkat kedua tangannya untuk menangkis.


Benturan empat tangan terdengar keras. Sumba terpental dua langkah. Dia merasakan kedua tangannya ngilu dan mati rasa.


Sedangkan Pendekar Tangan Seribu masih tetap berdiri. Kakinya tidak bergeser walau sejengkal pun.


Menyadari bahwa lawannya lebih kuat, Sumba lalu mengeluarkan jurusnya. Serangan yang datang terasa membawa angin dingin menembus kulit. Serangannya belum datang, anginnya sudah menerjang.


Pendekar Tangan Seribu melompat ke atas lalu turun sambil memberikan serangan balasan. Benturan kembali terjadi.


Namun kali ini keduanya tidak terpental. Mereka justru mulai bertarung adu pukulan dan tendangan. Serangan Sumba lumayan cepat. Tapi sayangnya belum cukup untuk melebihi kecepatan Pendekar Tangan Seribu.


Pria itu justru mampu bergerak lebih cepat lagi. Kedua tangannya yang sudah menggemparkan dunia persilatan mulai memberikan ancaman. Dua tangan itu mengepulkan asap tipis saat dilayangkan untuk memukul.


Di saat mencapai sepuluh jurus, keadaan Sumba mulai di bawah angin. Tangan dan kakinya tidak dapat bergerak bebas sebab Pendekar Tangan Seribu selalu berhasil mematahkan setiap jurusnya.


Dia terlempar empat langkah. Mulutnya segera memuntahkan darah segar.


"Keparat. Serang manusia itu," teriaknya menyuruh semua murid untuk menyerang Pendekar Tangan Seribu.


Tetapi tepat pada saat itu, sebuah suara terdengar membahana di udara.


"Tahan!!"


Suaranya menggelegar bagaikan guntur. Tanpa sadar semua murid tidak melanjutkan serangannya.


Selang sesaat, dari arah depan muncul seorang pendekar berpakain serba putih yang sedang menenteng seseorang.


"Sampurasun. Salam hormat untuk semuanya," kata pendekar itu penuh kesopanan.


"Rampes …" jawab orang-orang serempak.


"Sipakah pendekar ini?" tanya Eyang Guru.


"Saya hanyalah pendekar kecil. Mohon maaf kalau telah lancang. Kedatanganku kemari untuk membantu masalah yang sedang dihadapi Pendekar Tangan Seribu," kata pendekar itu yang tak lain adalah Cakra Buana.

__ADS_1


"Oh, ternyata bukan orang lain," kata si Eyang Guru.


"Apakah ada yang ingin dibicarakan oleh pendekar?"


"Aku rasa semuanya sudah dibicarakan oleh sahabatku. Sekarang, biarkan orang ini yang menjawabnya," kata Cakra Buana lalu melemparkan pendekar tua ke tengah-tengah.


Sementara itu di sisi lain, Sumba berniat untuk melarikan diri. Namun hal itu segera diketahui oleh Pendekar Tangan Seribu. Hanya dengan lemparan kerikil kecil, orang tersebut langsung jatuh ke tanah karena merasa tubuhnya kaku.


"Apakah benar bahwa muridku yang bernama Sumba merupakan pengkhianat perguruan?" tanya Eyang Guru kepada pendekar tua.


"Be-benar,"


"Hemm, apakah kau yang memerintahnya?"


"Be-benar,"


"Apa yang kalian inginkan?"


"Ka-kami mencari Kitab Selayang Jagad dan ingin menguasai perguruan ini. Sehingga kami berkomplot untuk melangsungkan rencana,"


"Hemm, Sumba, kemari kau," bentak maha guru itu.


Tak lama yang dipanggil datang ditenteng oleh Pendekar Tangan Seribu. Dia melemparkannya juga sehingga berdampingan dengan pendekar tua.


"Apa yang dikatakan oleh orang ini benar?"


Sumba tidak menjawab. Dia hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam.


"Jawab!!" bentak maha guru itu sangat marah.


"Be-benar guru,"


"Plakk …" sebuah tamparan mendarat telak di pipi kanannya. Seketika darah langsung keluar dari sudut bibir.


"Bawa kedua orang ini. Berikan hukuman yang sesuai dengan aturan," perintahnya.


Dua orang murid segera membawa keduanya setelah mendapatkan perintah. Entah hukuman apa yang akan mereka terima.


"Pendekar, mohon maaf atas kejadian memalukan ini. Sungguh, aku tidak menyangka sama sekali hal seperti ini akan terjadi," ucap maha guru itu kepada Pendekar Tangan Seribu.


"Tidak mengapa Eyang Guru. Anggap saja hal ini tidak pernah terjadi,"


"Terimakasih atas kemuarah hati pendekar,"


"Eyang Guru tidak perlu sungkan. Kita bukan orang yang baru kenal. Sekarang, karena masalahnya sudah selesai, kami berdua pamit undur diri," kata Pendekar Tangan Seribu.


"Baik pendekar, silahkan. Kalau suatu hari lewat, mampirlah kemari. Kami akan selalu menyambut kalian," katanya.

__ADS_1


"Terimakasih Eyang Guru. Kami pamit. Sampurasun …"


"Rempes …" jawabnya dengan sopan.


__ADS_2