Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Mencoba Ajian Rengkah Gunung


__ADS_3

Serangan dari tiga orang anggota Lima Setan Darah yaitu Kedung Reja, Cukrak Luta, dan Gombang sudah hampir tiba mengenai Cakra Buana. Mereka menyerang dari tiga sisi yang berbeda.


Kecepatan ketiganya tidak kalah daripada Sugriwa, Cakra Buana yang sudah mengetahui kekuatan lawan, kali ini ia tidak mau bermain-main lagi. Pemuda serba putih itu berniat untuk mengeluarkan tangan kejam kepada mereka.


Karena bagaimanapun juga, Lima Setan Darah ini adalah sekelompok orang-orang yang memiliki prilaku bagaikan iblis.


"Wuttt …"


"Wuttt …"


"Wuttt …"


Tiga sambaran senjata tajam dari tiga sisi menimbulkan hembusan angin yang tajam disamping cepat.


"Haaa …"


"Trangg … trangg … trangg …"


Golok, trsiula dan pedang pendek dari masing-masing lawannya tertahan setengah langkah didepan Cakra Buana. Ketiga senjata itu menimbulkan bunyi yang amat nyaring. Seolah ketiga senjata tersebut berbenturan dengan perisai baja yang tak kasat mata.


Beberapa saat tiga anggota dari Lima Setan Darah itu tertahan bersama senjata mereka masing-masing. Seolah keempatnya sedang mengadu kekuatan.


Sedangkan Cakra Buana hanya diam saja sambil mendorongkan kedua tangannya ke depan. Cakra Buana memang sengaja tidak mau mengeluarkan Pedang Pusaka Dewa. Dia sudah berjanji jika keadaan tidak memaksa, maka dirinya tidak akan mengggunakan senjata itu setelah tahu sejarah pedang pusaka tersebut.


Sebaliknya, Cakra Buana hanya menggunakan sebuah perisai ghaib yang diajarkan oleh ki Wayang Rupa Sukma Saketi yang diberi nama "Ajian Benteng Dewa". Sebuah perisai ghaib yang sulit ditembus jika kekuatan lawan sangat rendah.


"Haaa …"


Cakra Buana membentak nyaring. Akibatnya adalah ketiga orang tersebut langsung terhuyung beberapa tombak ke belakang. Padahal dorongan yang ia berikan tidaklah kencang, tapi karena Cakra Buana mulai serius, maka hasilnya beda lagi.


Melihat serangan gabungan sekaligus yang pertama gagal, Kedung Reja dan dua rekannya semakin geram sekaligus penasaran. Bagaimanapun juga, umur lawan mereka saat ini jauh lebih muda. Tentu saja mereka tidak percaya jika tidak sanggup mengalahkan pemuda itu.


"Haittt …"


"Hiyaaa …"

__ADS_1


"Awasss …"


Tiga orang itu kembali menyerang, akan tetapi gerakannya kali ini berubah. Serangan senjata mereka menjadi lebih cepat, tajam dan teratur dengan baik.


Desiran angin tajam yang mengandung hawa kematian pun mulai terasa. Cakra Buana tidak diam saja, dia bergerak untuk menyambut dan menghindari setiap serangan ketiga musuhnya.


Gerakan pemuda itu amat lincah dan tangkas. Setiap kali sambaran senjata lawan hampir mengenai tubuhnya, Cakra Buana sudah berhasil menghindari serangan tersebut. Akibatnya kini mereka sudah bertarung dengan sengit.


Dentingan senjata semakin terdengar. Angin kematian semakin terasa, jika lawannya bukan Cakra Buana, bisa dipastikan bahwa lawan itu sudah terdesak hebat, bahkan mungkin sudah terluka.


Tapi kali ini lawan mereka adalah Cakra Buana, seorang pendekar muda yang sudah mendapatkan gemblengan keras. Dengan mudahnya dia selalu menghindari semua serangan menusuk ataupun membacok itu. Kadang kala Cakra Buana melompat ke samping, kadang juga dia bersalto di udara untuk menghindari maupun membalas serangan.


Baru beberapa saat saja, pertarungan sudah semakin menegangkan. Daun-daun kering beterbangan. Dahan pohon yang berukuran kecil banyak yang patah terkena efek dari tenaga orang-orang tersebut.


Langit berubah warna dari yang tadinya jingga perlahan menjadi gelap. Senja sebentar lagi hilang, dan matahari sebentar lagi akan lenyap dibalik bebukitan. Dua puluh jurus terlewati, akan tetapi sampai sejauh ini, belum pernah sama sekali ketiga orang itu mampu melukai Cakra Buana.


Sebaliknya, Kedung Reja, Gombang dan Cukrak Luta sudah beberapa kali terkena serangan jarak dekat maupun jauh yang dilancarkan Cakra Buana.


"Wuttt …"


"Wuttt …"


Pedang pendek milik Cukrak Luta berhasil dipatahkan oleh Cakra Buana. Entah bagaimana caranya pemuda itu bisa mematahkan pedang tersebut. Padahal pedang itu merupakan senjata pusaka yang paling dibanggakan olehnya, tapi hari ini, Cukrak Luta harus menerima kenyataan bahwa senjata pusaka tersebut berhasil dipatahkan menjadi dua bagian oleh seorang pendekar muda.


"Keparat. Iblis. Curut buduk. Kecoa busuk. ****** kau …"


"Haittt …"


Cukrak Luta melayangkan ucapan sumpah serapah kepada Cakra Buana. Tentu saja, siapa orangnya yang akan menerima begitu saja jika pusaka mereka dipatahkan?


Dia menerjang Cakra Buana dengan jurus-jurus tangan kosong miliknya. Bahkan serangannya semakin lincah. Kedua rekannya menjadi tertegun beberapa saat melihat kejadian ini. Sehingga yang kini menyerang Cakra Buana hanyalah Cukrak Luta seorang.


Akan tetapi karena dia sudah dikuasi amarah yang besar, semua serangannya menjadi tidak teratur. Meskipun kekuatan yang dikeluarkan beberapa kali lebih hebat, tapi karena tidak beraturan, tetap saja percuma.


Sebaliknya, Cakra Buana pun merasa banyak kesempatan melihat bahwa lawan sudah dikuasai oleh amarah. Dengan mudahnya dia menghindari semua serangan Cukrak Luta.

__ADS_1


Pemuda serba putih itu melompat ke belakang beberapa langkah. Untuk beberapa saat, waktu seperti terhenti.


Cakra Buana mengambil posisi kuda-kuda. Kaki kiri ditarik ke belakang, kemudian kedua kakinya ditekuk setengah lutut dengan posisi kaki kanan didepan. Kemudian dia berkonsentrasi, matanya menatap tajam ke depan.


Lalu dengan gerakan yang cepat dan mantap, Cakra Buana mencoba mengeluarkan ajian yang mengerikan.


"Ajian Rengkah Gunung …" berbarengan dengan teriakannya tersebut, telapak tangan kanannya di hentakkan ke tanah.


"Wuttt … werrr …"


Sukma Cakra Buana melesat secepat kilat ke arah Cukrak Luta. Kemudian sukma Cakra Buana memberikan serangan tapak ke arah dada.


"Darrr …"


Sebuah ledakan cukup besar terdengar. Menulis ini cukup lama, tapi kejadian Cakra Buana mengeluarkan ajian itu begitu cepat.


Seketika itu juga, tubuh Cukrak Luta langsung gosong. Bahkan kulitnya melepuh mengerikan. Dia tewas dengan kondisi mengenaskan dalam masih keadaan berdiri.


Sementara itu, Ajian Rengkah Gunung yang dikeluarkan Cakra Buana bukan hanya mengenai Cukrak Luta saja, tetapi Kedung Reja dan Gombang juga terkena, meskipun itu hanya terkena imbasnya saja.


Tapi karena keduanya tidak dalam keadaan siap, maka mereka pun terluka dalam hingga mengalami muntah darah.


"Raiii …" teriak Munding Aji yang langsung menghampiri Cukrak Luta dan menahan supaya tubuh itu tidak jatuh.


"******* …" kata Sugriwa berniat menyerang kembali, tapi dia segera ditahan oleh Munding Aji. "Tahan rai, lebih baik sekarang kita pergi dari sini," katanya sambil berbisik.


"Tapi kakang …"


"Ikuti saja apa kataku. Masih banyak waktu untuk membalas dendam,"


"Baiklah …" kata Sugriwa yang langsung pula menghampiri Kedung Reja dan Gombang.


Munding Aji tiba-tiba melemparkan sebuah benda sebesar telur ayam kepada Cakra Buana. Pendekar muda yang masih dalam keadaan mengagumi kehebatan ajiannya tersebut, tentu saja sangat kaget sekali. Maka secepat kilat Cakra Buana melompat ketika benda itu mengeluarkan asap putih tebal.


Kepulan asap itu cukup lama. Dan ketika asapnya hilang, betapa kagetnya dia ketika melihat Lima Setan Darah sudah tidak ada disitu. Mereka sudah pergi entah kemana.

__ADS_1


"Keparat …" maki Cakra Buana.


__ADS_2