
Dalam hati, Sepasang Kakek dan Nenek Sakti sebenarnya mengkhawatirkan Cakra Buana. Meskipun pemuda serba putih itu memiliki kemampuan yang sangat tinggi, namun di atas langit masih ada langit. Bahkan tokoh-tokoh hebat dunia persilatan yang diyakini mampu mengalahkan Cakra Buana pun terhitung banyak. Hanya saja mereka belum menampakkan dirinya kembali.
"Sekali pun beritanya terus berlaku, aku tidak akan merasa takut. Aku akan mencoba menghadapi semua rintangan dengan segenap kemampuanku. Demi tugas dari orang-orang yang sudah mempercayakanku, maka aku takkan menyia-nyiakan kepercayaan itu. Akan aku lindungi kepercayaan itu dengan nyawaku," kata Cakra Buana, matanya sambil menerawang jauh ke depan.
Sepasang Kakek dan Nenek Sakti semakin kagum kepada pendekar muda itu. Dalam usia yang bahkan belum menginjak umur tiga puluh tahun, ternyata Cakra Buana sudah memiliki jiwa kepemimpinan dan tanggungjawab yang jarang dimiliki orang lain.
"Bagus, kami akan selalu menjagamu pangeran, bahkan dengan nyawa kami sendiri. Untuk ke depannya, berhati-hatilah dalam setiap langkah. Aku yakin, kabar tentang munculnya dirimu lagi tak lama akan tersebar luas dalam dunia persilatan," ucap Kakek Sakti mengingatkan Cakra Buana.
"Terimakasih karena sudah mengingatkan kek," jawab Cakra Buana.
Ketiganya terdiam untuk beberapa saat. Mereka mencicipi suguhan yang sedari tadi sudah tersaji di depannya. Setelah terang tanah, Sepasang Kakek dan Nenek Sakti serta Cakra Buana, lalu meninggal Taman Khayangan.
###
Matahari sudah condong ke arah barat. Lembayung senja menghiasai bumi. Berbagai macam binatang beriringan kembali ke sarangnya setelah mencari nafkah seharian untuk keluarga mereka. Burung-burung terbang menghiasi cakrawala.
Alangkah indahnya senja saat ini. Cakra Buana duduk di sebuah bukit wilayah Kerajaan Tunggilis bersama dengan Ling Zhi yang baru saja disembuhkan oleh tabib istana. Keduanya duduk berdampingan. Mata mereka terus mengamati langit yang maha tinggi dan terbentang luas itu.
Di bukit tersebut, kita bisa melihat Pantai Pangandaran yang indah. Deburan ombak menghantam batu karang, samar-samar suara deburan itu sampai ke telinga Cakra Buana dan Ling Zhi karena suasananya sangat hening.
Jarak Kerajaan Tunggilis ke Pantai Pangandaran memang tidak begitu jauh. Sehingga suara ombaknya kadang kala mampu terdengar.
__ADS_1
"Kakang, maafkan aku," kata Ling Zhi memulai percakapan.
"Maaf kenapa Ling Zhi?"
"Karena aku tidak mampu membantumu menghancurkan Perguruan Gunung Waluh,"
"Justru yang harusnya meminta maaf kepadamu. Kalau kau tidak ada di sampingku, sudah pasti aku tewas di tangan para murid perguruan itu,"
"Tidak kakang. Memang akunya saja yang terlalu lemah," kata Ling Zhi. Ada raut wajah penyesalan dalam ucapannya barusan. 'Andai aku sekuat kakang Cakra Buana, pasti aku tidak akan merepotkannya,' batin Ling Zhi.
"Sudahlah. Tak ada yang salah dalam hal ini," kata Cakra Buana menyudahi percakapan mereka. Tangannya lalu merangkul kepala Ling Zhi. Dia menyenderkan kepala gadis itu ke pundak kanannya lalu diciumnya kening lembut gadis blasteran itu.
Ling Zhi tidak menolak, dia pasrah jika sudah begini. Memang hal seperti ini yang selalu Ling Zhi harapkan. Karena dengan begitu, dia bisa menenangkan diri dalam kenyamanan.
Perasaan seorang wanita memang kadang lemah. Mereka terkadang diliputi rasa takut, terlebih dalam hal percintaan. Entah takut ditinggalkan begitu saja atau bagaimana, yang jelas memang seperti itulah wanita. Namun hebatnya, wanita mampu, bahkan sangat-sangat mampu untuk menutupi semua rasa takut dan rasa sakit di hati. Tapi sayangnya, seorang wanita terkadang tak mampu menahan rasa kecemburuan.
Kalau wanita sudah merasa cemburu, maka ceritanya lain lagi. Yang tadinya lembut bisa jadi keras. Jika dia berani, dia mungkin akan menerkammu. Tapi jika ia takut padamu, ia akan menangis dan terus menangis sampai kecemburuan dalam hatinya lenyap.
Bukankah begitu para wanita?
"Kau ini bicara apa Ling Zhi? Mana mungkin aku akan membuangmu. Aku bukan tipe pria yang seperti itu. Percayalah, aku akan tetap bersamamu walau apa pun yang terjadi nanti. Aku akan selalu di sisimu, sampai maut memisahkan," kata Cakra Buana.
__ADS_1
Ling Zhi langsung memeluk kekasih hatinya itu semakin erat. Dia tidak mau melepaskannya. Seolah Ling Zhi merasa sangat takut bahwa Cakra Buana berhasil di rebut oleh wanita lain. Pendekar Maung Kulon itu pun mengerti maksud Ling Zhi. Dia tidak keberatan walau nafasnya agak sesak karena pelukan itu. Sebaliknya, dia membalas pelukan Ling Zhi.
Harus kau tahu, jika seorang wanita memelukmu dengan erat, jangan pernah kau lepaskan. Karena itu artinya, wanita tersebut benar-benar takut kehilanganmu. Ia tak mau kau menjadi milik wanita lain, ia hanya ingin kau menjadi miliknya. Percayalah.
Sekilas wanita memang rumit. Sangat rumit. Iya bisa jadi tidak, dan tidak bisa jadi iya. Tapi kalau kau sudah menguasai ilmu bagaimana cara memahami seorang wanita, maka kerumitan itu akan hilang dengan sendirinya.
Ling Zhi masih tetap memeluk Cakra Buana sampai matahari benar-benar tenggelam dan hilang dari pandangan mata. Tanpa sadar, gadis itu justru tertidur dalam pelukan pria impiannya. Dia tertidur dengan senyuman yang tersungging bagaikan bunga mawar merekah. Penuh kebahagiaan. Penuh kenyamanan, dan penuh keindahan.
Mengetahui bahwa kekasihnya tertidur pulas, Cakra Buana tidak membangunkannya. Justru ia membawa Ling Zhi dengan hati-hati untuk kembali ke istana kerajaan. Dia bahkan mengantar gadis itu sampai ke kamarnya.
###
Tak terasa, hari terus berjalan tanpa di sadari. Dua hari sudah berlalu semenjak kejadian hancurnya Perguruan Gunung Waluh oleh seorang pendekar muda bernama Cakra Buana. Selama dua hari belakangan, tempat yang tadinya digunakan sebagai perguruan itu, banyak di kunjungi oleh orang-orang. Mulai dari warga setempat, bahkan sampai kalangan pendekar.
Berita tentang bagaimana sepak terjang Cakra Buana menghancurkan perguruan itu mulai tersebar dari mulut ke mulut. Bahkan cerita tentang seorang wanita cantik yang membantai puluhan murid Perguruan Gunung Waluh pun semakin di bicarakan orang seiring bertambah luasnya berita Cakra Buana.
Sehingga sebagian orang-orang dunia persilatan, memberikan julukan tersendiri kepada Ling Zhi. Mereka menjuluki gadis blasteran Pasundan-Tiongkok itu dengan sebutan Bidadari Penebar Maut. Sekilas terlihat buruk, tapi begitulah faktanya.
Karena mengingat, saat terjadi pembantaian terhadap semua murid Perguruan Gunung Waluh, Ling Zhi lebih mirip seperti iblis. Iblis yang cantik bak bidadari. Makanya julukan Bidadari Penebar Maut, sepertinya tidak terlalu buruk. Justru ada kesan mengerikannya.
Tapi selain banyaknya orang yang mengagumi sepak terjang kedua pendekar muda itu, tak sedikit juga para pendekar dunia persilatan yang mengincar dan menginginkan kematian Cakra Buana dan Ling Zhi.
__ADS_1
Terlebih mereka para pendekar aliran hitam. Karena menurut mereka, kedua pendekar muda ini ada bahan akan menjadi penghalang yang sangat merepotkan di kemudian hari jika tidak segera di lenyapkan sekarang.