
Kelimanya mulai memberikan serangan kepada Cakra Buana. Sinar-sinar perak terlihat semakin banyak memenuhi langit yang kelam. Tapi Cakra Buana masih merasa bisa menghadapi keenam musuhnya.
Benturan senjata terdengar tiada henti. Hembusan angin dingin membawa surat kematian, menghujani Cakra Buana dari segala sisi. Keenam pendekar itu tidak membiarkan Cakra Buana tenang. Setiap detik nyawanya jadi taruhan.
Andai kata dia kehilangan konsentrasi sedikit saja, maka sudah dapa dipastikan tubuhnya akan menjadi santapan senjata-senjata yang haus darah itu.
Di sisi lain, Ling Zhi kaget saat melihat kelima pendekar itu membantu Eyang Batara Bodas. Walaupun dia yakin bahwa Cakra Buana bisa menghadapi keenam musuhnya, tapi itu sudah pasti harus mengeluarkan tenaga yang tidak sedikit.
Ling Zhi bertekad untuk membantu meringankan beban kekasihnya, tapi sayangnya sebelum dia menuju ke sana, tiba-tiba dari arah kiri ada desiran angin dingin yang melesat ke wajahnya.
Ling Zhi bukanlah pendekar kelas bawah, walaupun desiran angin itu terbilang cepat dan tidak bisa dihindari, tapi siapa sangka, wanita blasteran itu justru bisa menangkapnya dengan cara memutarkan tubuh terlebih dahulu.
"Jarum perak beracun …" desis Ling Zhi lali matanya memandang ke arah datangnya jarum tersebut.
"Tidak tahu siapa kau yang menyerang, tapi kalau memang ada nyali, jangan bersembunyi seperti seorang pengecut," katanya lalu melemparkan senjata rahasia tadi.
Begitu senjata rahasia hampir kembali ke tempat asalnya, tiba-tiba dari balik reruntuha bangunan kerajaan ada sebuah bayangan ungu yang melompat lalu mendarat tepat tiga tombak di hadapan Ling Zhi.
"Siapa kau?" tanya Ling Zhi.
"Hemm, orang-orang dunia persilatan biasa menyebutku Dewi Penakluk Pria," jawab wanita tersebut.
Wajah wanita itu sangat cantik. Tubuhnya sedang tapi berisi. Pakaiannya warna merah muda dan ketat sehingga buah dadanya yang sekal terlihat sangat menonjol. Alis matanya jentik dengan bibir merah merona. Rambutnya panjang di kepang dua di belitkan ke depan. Sepasang kakinya mulus, bentuk bokongnya sangat menggoda lawan jenis.
Tidak berlebihan kalau dia mendapat julukan seperti itu.
"Apa maksudmu menyerang dengan senjata rahasia heh?" Ling Zhi langsung naik pitam.
"Tentu saja ingin membunuhmu. Siapa suruh kau ikut menghancurkan kerajaan ini,"
"Oh, ternyata kau bagian dari semua iblis yang ada di sini. Pantas saja wajahmu seperti iblis," kata Ling Zhi memancing amarah lawan.
Dan pancingannya berhasil. Dewi Penakluk Pria seketika merah besar. Wajahnya langsung dipenuhi hawa ingin membunuh yang besar.
"Aku sarankan kau tarik lagi ucapanmu barusan sebelum aku kehilangan kesabaran," katanya masih menahan emosi.
__ADS_1
"Tapi sayangnya aku tidak butuh saranmu. Selain itu, aku juga tidak ingin menarik kembali ucapanku," ucap Ling Zhi dengan santai.
"Keparat …"
"Wuttt …"
Serangkum sinar perak kembali melesat ke arah Ling Zhi. Datangnya sinar tersebut selain sangat cepat, juga menimbulkan suara mendesing seperti ribuah lebah.
Ling Zhi menggerakan tangannya lalu meruntuhkan serangan senjata rahasia tersebut. Tapi begitu dirinya mematahkan serangan jarum perak tadi, Dewi Penakluk Pria langsung maju memberikan serangannya.
Pertarungan dua bidadari yang tiada duanya ini tak dapat dihindari lagi. Mereka saat ini sudah mulai melancarkan serangan demi serangan ke titik tertentu pada tubuh lawannya masing-masing.
Waktu semakin berlalu. Pertarungan mencapai puncak. Pata pendekar yang dipimpin Cakra Buana, sudah banyak yang menyelsaikan tugas mereka. Sebagian lagi masih berusaha menyelesaikan tugasnya secepat mungkin karena ingin melihat dua pertarungan hebat Cakra Buana dan Ling Zhi.
Di tempat Cakra Buana, semua lawannya masih menyerang dengan jurus-jurus maut. Sinar perak menutupi langit yang kelam. Mereka bertarung sekuat tenaga, sebiss mungkin untuk segera menyelesaikan pertarungan ini.
Di saat gempuran serangan memaksa dirinya untuk berada di posisi bertahan, tiba-tiba Cakra Buana membentak nyaring. Tubuhnya langsung meluncur deras dengan posisi pedang di julurkan ke depan dan digetarkan ujungnya.
Ujung pedang terlihat menjadi beberapa puluh bagian. Pendekar Maung Kulon mengincar pendekar terlemah di antara semua musuhnya. Yaitu orang yang tadi sudah terluka.
Pendekar tersebut merasa sangat terkejut. Dengan kondisinya yang sedang mengalami luka berat, tentu saja sangat kesulitan untuk menahan serangan Cakra Buana. Apalagi serangan tersebut datangnya sangat cepat laksana halilintar menyambar bumi.
"Trangg …"
"Slebb …"
"Ahhh …" mati.
Benturan pedang terdengar keras satu kali sebelum akhirnya Cakra Buana berhasil menusukan Pedang Pusaka Dewa tepat di jantung lawan.
Otomatis semua rekannya semakin marah. Mereka berteriak bagaikan orang kesurupan lalu menerjang Cakra Buana dengan serempak. Tak lama Eyang Batara Bodas mengikutinya dari sisi lain.
Hujan serangan kembali datang. Kali ini karena serangan tersebut dibarengi dengan kemarahan yang memuncak, otomatis tenaganya berlipat ganda.
Cakra Buana sadar, kalau dia masih menahan diri, pasti dia akan terluka. Maka tanpa berpikir dua kali, Pendekar Maung Kulon pun menyalurkan tenaga dalamnya lebih besar lagi.
__ADS_1
Begitu semua serangan datang, dia sudah menghunuskan pedangnya.
"Trangg …"
"Trangg …"
Terdengar beberapa kalo benturan keras saat Cakra Buana membenturkan Pedang Pusaka Dewa ke senjata semua lawannya. Kelima lawan tercekat, dia tidak melihat bagaimana kecepatan Cakra Buana.
Yang mereka rasakan hanyalah ada sebuah gelombang besar menghantam pusaka mereka. Wajah kelima orang itu berubah hebat. Hatinya semakin gentar kepada Cakra Buana.
Walaupun Eyang Batara Bodas masih bisa menahan diri saat pusakanya berbenturan dengan Pedang Pusaka Dewa, tapi tak urung dia juga merasa gentar. Sebab dalam benturan barusan, dirinya dibuat mundur dua langkah. Sedangkan Cakra Buana hanya satu langkah.
'Kekuatannya sehebat ini. Siapa guru dia sebenarnya?' batin Eyang Batara Bodas bertanya-tanya karena merasa sangat terkejut melihat kekuatan Cakra Buana.
Sesaat pertarungan berhenti untuk sekedar mengambil nafas. Setelah itu, pertarungan hidup dan mati pun dilanjutkan kembali. Kali ini Cakra Buana memilih untuk menyerang lebih dulu.
Pendekar Maung Kulon langsung menentukan sasarannya. Dia mengincar lima pemimpin. Sebab menurutnya, mereka hanya mengganggu pertarungannya saja.
"Langkah Dewa Angin …"
"Langit Terbelah Dua …"
"Wushh …"
Tubuhnya menghilang dari pandangan. Detik berikutnya, dia sudah tiba di hadapan kelima lawan.
Sekali menyerang, dia langsung mengeluarkan dua jurus mautnya.
Belum sempat kelimanya bersiap, Cakra Buana sudah menghujani mereka dengan serangan mematikan. Sinar pedang berkelebat memanjang seperti akan membelah langit. Setiap sabetan pedang menebarkan kengerian tersendiri.
Lawan di buat mati kutu. Menghindar tidak bisa, mengadu serangan sama saja mengantarkan nyawa. Cakra Buana hanya memberikan dua pilihan kepada lawannya.
Di samping, Eyang Batara Bodas pun tidak mampu memberikan bantuan lebih. Sebab dirinya tidak menemukan celah yang cocok untuk menyerang. Apalagi gulungan sinar pedang Cakra Buana bergerak tanpa jeda.
Maka dengan nekad, kelima lawannya memilih pilihan yang kedua. Mengadu serangan, mungkin itu jalan yang terbaik.
__ADS_1
Sinar berbagai pusaka kembali melesat memecah kegelapan malam. Benturan demi benturan memerickan kembali bunga api. Detik berikutnya, tahu-tahu satu orang telah terpental dengan darah menyembur dari lehernya. Dia jatuh berguligan lalu akhirnya diam tidak bergerak. Mati.
Pertarungan terus berlangsung tanpa henti. Malam yang tenang, kini dihiasi dengan kilatan senjata yang memenuhi langit.