Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Jurus Pedang Bayangan Sukma


__ADS_3

Pertarungan sudah berjalan lebih dari tiga jam. Rembulan sudah bergeser condong ke barat. Ini artinya, tak berapa lama lagi fajar akan segera tiba.


Rencana Cakra Buana adalah sebelum sampai fajar terbit pertarungan harus sudah selesai. Jadi sebisa mungkin, dia harus segera menyelesaikan pertarungan ini.


Kali ini Cakra Buana telah dihadang tak kurang dari empat puluh prajurit dan lima orang pendekar kelas pilih tanding.


Cakra Buana menyadari bahwa jika tidak mengeluarkan kekuatan besar, rasanya mustahil untuk bisa mengalahkan empat puluh orang tersebut. Maka tanpa banyak bicara lagi, dia mulai bertarung lebih serius lagi.


"Kau tidak akan bisa lari lagi bocah tengik," kata seorang pendekar tua yang diduga pemimpin dari mereka semua.


"Memangnya yang berniat kabur siapa? Kau kira aku takut? Jangan mimpi," ucap Cakra Buana.


"Benar-benar mulut yang berani,"


"Tentu saja. Apa kau takut?"


"Hemm, dengan jumlah sebanyak ini, kami masih takut? Bahkan jika ada dua orang sepertimu lagi pun, kamu tidak akan mundur," katanya.


"Bagus. Memang itu yang aku inginkan,"


"Serang …"


Kata pemimpin itu memberikan perintah kepada empat puluh orang prajurit. Serentak keempat puluhnya maju membentuk barisan sebelum menyerang Cakra Buana. Mereka terlebih dahulu mengurung Pendekar Maung Kulon dengan rapat.


Tidak ada celah untuk menghindar. Sepertinya barisan ini bukan barisan biasa, dan memang tebakannya benar. Karena tak lama seorang pemimpin berbicara lantang.


"Kalau kau memang hebat. Coba hadapi Barisan Mengurung Harimau ini," ucapnya dengan lantang.


"Barisan Mengurung Harimau? Hemm, nama yang cukup bagus. Baik, kalau begitu, kita mulai," kata Cakra Buana.


Dia masih berdiri dengan tenang. Matanya menyapu ke segala penjuru. Dia tersenyum sinis penuh arti.


Cakra Buana lalu mengambil bungkusan kain putih yang di soren di punggungnya.


"Sringg …"


Pedang Pusaka Dewa!


Benar, pedang pusaka itu telah keluar dari sarungnya. Tangan kanan menggenggam erat patang pedang. Sedangkan tangan kiri menggengam sarung pedang.


"Terima ini …" teriak Cakra Buana.

__ADS_1


"Langkah Dewa Angin …"


"Pedang Seribu Bayangan …"


"Wushh …"


Cakra Buana memulai serangannya. Serangan pertama, dia langsung mengeluarkan dua jurus kelima dan keenam dari Kitab Dewa Bermain Pedang. Tubuhnya melesat secepat angin. Setiap langkahnya begitu ringan seperti tidak menapak pada tanah.


Pedang Pusaka Dewa mulai berkelebat di udara. Setiap sabetannya menebarkan hawa membunuh yang kental. Hawa pedang terasa sangat menekan. Batang pedang mengepulkan asap hitam yang pekat.


Pamor Pedang Pusaka Dewa keluar.


Dalam satu kali tebasan, satu orang lawan telah tewas. Tapi barisan itu memang cukup tangguh. Satu menyerang satu bertahan. Sebelah kiri terdesak, maka barisan sebelah kanan akan maju menyerang Cakra Buana. Keadaan ini terus-menerus terulang hingga beberapa kali.


Walaupun terbilang tangguh, tapi barisan ini jelas tidak mampu menahan seorang Cakra Buana.


Di mana setiap kakinya melangkah, penuh dengan niat membunuh lawan. Tangan kanannya memainkan Pedang Pusaka Dewa dengan lincah. Bahkan di mata musuh, pedang tersebut seperti berubah menjadi seribu banyaknya.


Nama jurus Pedang Seribu Bayangan rasanya memang tidak berlebihan.


Semua lawan kewalahan. Dalam waktu kurang dari lima menit, sepuluh orang telah tewas dengan darah yang terus merembes keluar.


Semuanya masih memainkan Barisan Mengurung Harimau. Puluhan sinar perak bergerak mengarah ke seluruh tubuh Cakra Buana. Tapi tak ada satupun serangan yang berhasil mengenai dirinya.


Seolah Cakra Buana ini tembus senjata apapun. Mereka merasa telah mengenai sasaran, tidak tahunya malah mengenai udara kosong.


Bau anyir tercium ke mana-mana. Harum semerbak bunga di malam hari, tertutup oleh bau anyir yang berasal dari darah semua korban.


Semakin lama, Cakra Buana semakin bergerak cepat. Jurus demi jurus sudah dia keluarkan. Tusukan dan sabetan dia lancarkan tiada hentinya. Perlahan namun pasti, barisan mulai goyah.


Sekarang tinggal lima belas lawan yang masih tersisa. Itupun dalam keadaan takut tiada tara. Wajah mereka memucat, keringat dingin sebesar jagung keluar deras membasahi seluruh tubuh.


"Dewa Pedang Mengoyak Gunung …"


"Wushh …"


Pedang Pusaka Dewa berubah gerakannya. Kali ini Cakra Buana memainkan pedang itu secara rumit. Sinar hitam berkelebat ke kanan dan kiri lalu kadang-kadang memutar. Tak ada yang mampu melihat dengan jelas gerakan itu.


Kelima pemimpin melompat ke arena pertarungan. Mereka berniat untuk mengeroyok Cakra Buana. Sayang, sebelum kelimanya memberikan serangan bersama, Pendekar Maung Kulon lebih dahulu mendahuluinya.


Lima belas orang itu telah tewas berlumur darah tanpa kepala. Kelimanya menjadi bergidik ngeri. Tapi itu tak lama, karena detik berikutnya lima macam senjata telah mengurung Cakra Buana.

__ADS_1


Di sisi lain pertarungan Ling Zhi melawan dua pemimpin tadi juga berjalan dengan sengit. Ketiganya sudah masing-masing mengeluarkan jurus ampuhnya. Pertarungan sudah lewat dari dua puluh jurus, tapi belum ada yang terluka diantara ketiganya.


Dalam hati, Ling Zhi merasa bersyukur karena beberapa waktu belakangan dirinya rajin berlatih. Hasil latihannya dia rasakan sekarang ini. Tenaga dalam semakin meningkat drastis. Bahkan semua jurusnya sudah hampir mencapai tahap sempurna.


Kalau dia tidak latihan, mungkin dirinya sudah terluka sejak perang belum berjalan lama.


Pertarungan berhenti beberapa saat. Ketiga pendekar itu mengambil kesempatan ini untuk mengumpulkan kembali tenaga dalam disamping memperhatikan sampai di mana tingkat kekuatan lawan.


"Pedang Bayangan Sukma …"


"Wushh …"


Jurus pamungkas Ling Zhi sudah keluar. Dia berpikir bahwa ini adalah jalan satu-satunya untuk membuat pertarungannya menjadi singkat. Inilah jurus yang di ajarkan oleh Prabu Katapangan beberapa waktu lalu.


Sekarang, Ling Zhi akan mencoba untuk yang pertama kalinya.


Ujung Pedang Bunga tiba-tiba bergetar hebat. Tubuh Ling Zhi sendiri telah menerjang cepat dengan posisi pedang di julurkan ke depan sambil terus digetarkan ujungnya.


Dua lawannya tersentak saat melihat gerakan wanita itu. Rasanya baru kali ini mereka melihat jurus pedang seperti yang Ling Zhi mainkan saat ini. Bagi keduanya, jurus itu terlihat sangat aneh.


Tapi tanpa banyak bicara, mereka pun turut mengeluarkan jurus terbaiknya.


Keduanya menyambut serangan Ling Zhi dengan perasaan campur aduk. Hal itu disebabkan karena serangan Ling Zhi membawa aura yang sangat menekan.


Serangan datang. Keduanya menyambut dengan membenturkan senjata mereka. Siapa sangka, begitu dibenturkan justru senjata mereka malah bergetar lebih hebat. Bahkan tubuhnya ikut bergetar dan lengannya terasa sangat nyeri.


Semua itu tidak lepas dari perhatian Ling Zhi. Maka begitu mengetahui musuh kewalahan, dia menambah tenaga dalam serangan tersebut.


Detik berikutnya, tubuh Ling Zhi tertutup oleh sinar merah dari sabetan pedangnya sendiri. Kedua lawan tidak mampu melihat gerakan wanita itu dengan jelas. Ada hal lain yang dirasakan dalam tubuh keduanya.


Kehebatan jurus Pedang Bayangan Sukma adalah lawan akan merasakan hal berbeda dari dalam dirinya.


"Srett …"


"Crashhh …"


"Ahhh …"


Hanya dalam belasan jurus saja, Ling Zhi sudah mampu membunuh mereka berdua. Hal ini disebabkan karena Ling Zhi mengerahkan seluruh sisa tenaganya dalam jurus Pedang Bayangan Sukma.


Jurus pedang yang mengerikan.

__ADS_1


__ADS_2