Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Ketegangan


__ADS_3

Perang melawan Kerajaan Kawasan tiga hari lagi akan segera terjadi. Pertumpahan darah atau mungkin banjir darah, akan segera berlangsung. Dua kerajaan merasa ketegangan yang teramat sangat.


Baik di Kerajaan Kawasenan maupun di Kerajaan Tungglis, semuanya sama-sama tegang. Sebab mereka tahu, korban yang akan berjatuhan tidak sedikit. Bahkan mungkin mencapai puluhan atau ratusan ribu.


Perang melawan Kerajaan Kawasenan tiga hari lagi, itu artinya, perang melawan kerajaan kecil di bawah kaki Kerajaan Kawasenan yang dulunya jadi wilayah Kerajaan Sindang Haji, akan berlangsung esok hari.


Pihak Kerajaan Kawasenan sendiri tidak sadar betul-betul terkait hal ini. Mereka lebih berfokus kepada perang utamanya saja. Oleh sebab itu, Kerajaan Tunggilis sudah menang satu langkah.


Andai kata kerajaan kecil tersebut berhasil dikalahkan, maka menyatukan Tanah Pasundan tinggal selangkah lagi. Selain persiapan yang sangat matang, keberuntungan juga menentukan.


Walaupun kerajaan kecil itu tidak sekuat Kerajaan Kawasenan, tapi harus di akui bahwa kekuatannya tidak berada jauh di bawah Kerajaan Tungglis. Di sana juga terdapat para pendekar kelas pilih tanding. Selain itu, ada juga Eyang Batara Bodas.


Di mana orang tua itu termasuk dalam pendekar tua yang memiliki kekuatan sukar untuk di ukur.


Saat ini di Kerajaan Tunggulis, beberapa pendekar penting dari masing-masing wakil kelompok pendekar yang sebelumnya sudah dibagi oleh Gagak Bodas, sedang berkumpul di ruang rapat istana.


Ada sekitar dua puluh pendekar yang hadir dalam rapat tersebut. Semua itu merupakan orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi. Nama mereka sudah terkenal di dunia persilatan.


Para pendekar tersebut sedang membicarakan kembali startegi yang cocok untuk melakukan penyerangan. Gagak Bodas mengusulkan bahwa penyerangan lebih baik dilakukan saat malam hari.


Sebab pada saat itu, pihak musuh pasti sedang istirahat. Selain itu, penjagaan pun akan lebih longgar. Dan hal ini, merupakan keuntungan bagi Kerajaan Tunggilis.


"Tapi tuan, bukankah menyerang diam-diam adalah merupakan hal memalukan?" tanya seorang pendekar saat Gagak Bodas menjelaskan bahwa pihaknya akan menyerang saat malam hari.

__ADS_1


"Memang betul, tapi terhadap mereka yang mirip seperti binatang ini, untuk apa memakai aturan dunia persilatan? Tidak akan gunanya saja. Toh perang ini melibatkan semua pendekar. Sudah pasti mereka paham atas apa yang aku katakan," kata Gagak Bodas menjelaskan.


Pendekar tersebut dan yang lainnya mengangguk setuju. Mereka baru sadar akan hal ini. Setelah itu, maka penolakan atas rencana yang sudah dibuat oleh Gagak Bodas pun tak ada lagi yang berani menolak. Sebab mereka juga sudah tahu bagaimana kecerdasan Gagak Bodas.


Gagak Bodas menjelaskan bahwa yang akan menyerang kerajaan kecil itu, cukup mereka para pendekar yang berilmu tinggi saja. Jumlahnya cukup seratus orang.


Dengan kekuatan seratus orang ini, bahkan bisa menyamai dua ribu sampai tiga ribu kekuatan pendekar biasa.


Langkah ini, merupakan langkah yang tepat. Sisanya, Gagak Bodas menyuruh segera bersiap di sekitar Kerajaan Kawasenan. Dia telah membagi tugas kepada para kelompok pendekar tersebut.


Dia sendiri memilih untuk langsung terjun ke peperangan utama saja. Yaitu nanti saat melawan Kerajaan Kawasenan.


Ling Zhi ditunjuk untuk turun tangan dalam penyerangan ke kerajaan kecil ini. Bahkan kalau dia masih mampu, Gagak Bodas menyuruhnya untuk ikut terjun dalam perang utama.


Semua orang sudah mendapatkan tugas dari Gagak Bodas dan Prabu Katapangan. Saat ini, tatapan orang tua itu mengarah kepada Cakra Buana yang sedari tadi diam saja.


"Dan untuk pangeran, aku meminta supaya kau tidak turun tangan dalam kedua perang besar ini. Cukup pinjamkan saja Pedang Pusaka Dewa kepada Baginda Raja," kata Gagak Bodas.


Semua orang yang ada di ruangan tersebut kaget. Mereka tidak mengerti maksud dari ucapan Gagak Bodas. Mata mereka seolah bicara, tentu semua pendekar merasa penasaran. Tidak terkecuali Cakra Buana sendiri.


Sebab menurut mereka, orang seperti Cakra Buana ini sangat dibutuhkan dalam sebuah perang besar. Karena kepandaiannya yang sangat tinggi sekali.


"Maaf, maksud paman apa? Kenapa aku tidak boleh ikut turun tangan?" tanya Cakra Buana keheranan.

__ADS_1


Hal tersebut mendapatkan anggukan dari yang lainnya. Semua orang berharap bahwa Gagak Bodas menjawab pertanyaan Cakra Buana itu dengan jujur.


Sebelum menjawab pertanyaan Cakra Buana barusan, kakek tua itu sempat memperlihatkan senyumannya terlebih dahulu. Kemudian sambil mengelus-elus jenggot, dia pun mulai berkata dengan tenang.


"Tentu saja tidak boleh, sebab pangeran adalah orang yang dibutuhkan semua rakyat. Oleh karena itu, pangeran jangan ikut berperang. Sebab aku dan mungkin yang lainnya, khawatir bahwa pangeran akan terluka. Walaupun aku tahu betul bahwa kepandaian pendekar sangat tinggi sekali, tapi di atas langit masih ada langit," kata Gagak Bodas.


"Tapi paman, apa kata rakyat nanti kalau aku tidak ikut andil dalam perang ini? Apa juga yang akan dikatakan para pendekar di saat mereka tahu bahwa aku tidak berperang? Bukankah ini sangat memalukan? Mereka sedikit banyaknya bertarung hanya untuk mewujudkan cita-cita yang dibebankan kepadaku. Lalu di saat orang lain berjuang dan aku hanya diam berpangku tangan, apakah itu pantas?"


Kembali para pendekar yang hadir menganggukkan kepalanya tanda setuju. Perkataan Gagak Bodas sebelumnya tidaklah salah. Dari ucapannya saja, jelas bahwa kakek tua itu sudah memperhitungkan semuanya dengan detail.


Karena jika musuh mengetahui siapa Cakra Buana, bukan saja dia mungkin akan terluka. Tapi bisa juga, merenggut nyawanya.


Akan tetapi, para pendekar pun tidak menyalahkan perkataan Cakra Buana. Sebab apa yang ia katakan memang benar. Bahkan mereka diam-diam memuji kepribadian Cakra Buana yang senang membantu dan memikirkan orang lain.


"Aku tahu maksud baik pangeran. Semua yang kau ucapkan itu memang benar. Hanya saja, aku sungguh tidak mau perjuangan ini akan menuai hasil hampa. Sebab menurut analisisku, semua pihak Kerajaan Kawasenan, akan mengincar orang-orang penting di pihak musuh. Dan kau sendiri, jelas sangat termasuk dalam daftar orang-orang ini," jelas Gagak Bodas.


Pembicaraan itu tidak ada yang berani ikut campur. Selain menghormati Gagak Bodas, para pendekar juga menghormati Cakra Buana. Sehingga sedari tadi yang berbicara hanya dua orang itu saja.


"Paman, aku tetap tidak akan berdiam diri berpangku tangan. Bagaimanapun caranya, aku tetap harus ikut berperang. Apapun yang terjadi, aku sudah bertekad untuk turut andil dalam peperangan. Selain karena kewajiban sebagai pendekar, aku juga ingin berniat membalaskan kematian guruku Eyang Resi Patok Pati yang di racun oleh mereka," kata Cakra Buana, wajahnya berubah menjadi serius.


"Hemm, jadi maksudmu kau menolak permintaanku kali ini?"


"Tapi bukan karena aku tidak mau mendengarkan ucapan paman, semua ucapan paman sebelumnya, selalu aku dengar. Tapi untuk masalah seperti sekarang ini, mungkin aku tetap tidak tinggal diam. Sekalipun Baginda Raja sendiri menahanku, aku akan tetap mengatakan hal yang sama," ucap Cakra Buana dingin.

__ADS_1


Semua orang terdiam. Andai saja jarum jatuh, pasti akan terdengar oleh siapapun di ruangan tersebut.


__ADS_2