
"Sringg …"
Pedang Pusaka Dewa sudah dicabut. Pedang itu mengkilap dibawah kegelapan malam. Melihat ini, lawannya sedikit kaget. Karena dia bisa merasakan ada aura yang tidak bisa keluar dari pedang itu.
Cakra Buana siap melakukan serangan. Begitupun dengan pimpinan itu. Keduanya sama-sama siap.
Tanpa menunggu waktu lebih lama, Langlang Cakra Buana maju menyerang dengan Pedang Pusaka Dewa. Gerakannya tiba-tiba bertambah cepat.
Serangan datang, pedangnya mulai menusuk ke bagian ulu hati lawan. Untungnya pimpinan itu sudah siap, sehingga dia bisa menghindari tusukan pedang yang berbahaya tersebut.
Pimpinan pengkhianat itu mundur beberapa langkah, kemudian dia mulai mengayunkan Keris Jati Kelabu, sinar-sinar berwarna kelabu keluar menyambar-nyambar setiap kali dia mengayunkannya.
Langlang Cakra Buana tidak gentar, dengan mudahnya dia melompat dan kadang bersalto di udara untuk menghindari serangan jarak jauh tersebut.
Musuhnya terus mengayunkan Keris Jati Kelabu tanpa henti. Cakra Buana juga terus berusaha menghindari sambil berusaha mendekat.
Setelah dekat, dia mulai memberikan serangan dengan Pedang Pusaka Dewa lagi.
"Wuttt …"
"Wuttt …"
Angin menderu tajam seiring diayunkannya pedang pusaka tersebut.
"Trangg …"
"Trangg …"
Kedua pusaka itu beradu hingga menimbulkan percikan kembang api. Pemimpin pengkhianat itu kaget, karena tangannya bergetar ketika kerisnya beradu dengan pedang Cakra Buana.
__ADS_1
Pendekar Maung Kulon itu tak mau kalah. Dia terus menambah kekuatan daya serangannya hingga menjadi lebih hebat lagi.
"Brettt …"
"Ahhh …"
Dada lawannya terkoyak hebat ketika Pedang Pusaka Dewa berhasil mengenainya. Dengan jurus Pedang Tanpa Bayangan, lawannya tersebut langsung roboh tak bergerak lagi. Mati.
Setelah lawannya dipastikan tewas, Langlang Cakra Buana pergi dari tempat itu untuk menuju ke markas Walanda kembali.
Hanya beberapa tarikan nafas, pemuda serba putih itu sudah tiba didepan markas Walanda. Tanpa membuang wakti, Cakra Buana langsung saja menyerang dua penjaga gerbang hingga mereka tewas saat itu juga.
Dia mulai masuk ke dalam markas. Dengan gerakan halus tanpa mengeluarkan bunyi, Cakra Buana hampir tiba di penjara tempat para pribumi ditawan.
Melihat ada seseorang yang akan menyelamatkan mereka, tentu saja para pribumi itu sangat senang. Tapi buru-buru tawanan yang berpenampilan seperti pendekar memberikan kode supaya tidak berisik.
Sayang, belum sempat bergerak lebih jauh, keberadaan Langlang Cakra Buana diketahui pihak musuh.
Hanya sebentar saja, puluhan tentara Walanda sudah keluar mengepung Cakra Buana. Mengetahui hal ini, dia langsung berlari dan berhenti ditengah-tengah lapangan yang luas.
Pendekar Maung Kulon itu dikelilingi oleh para pasukan Organisasi Golok Setan. Jumlah mereka tak kurang dari tiga puluh orang. Bahkan pimpinan mereka pun sudah turut mengepung.
Ada juga dua orang berpenampilan pendekar dengan ciri-ciri wajah pribumi. Mereka tak lain adalah para pengkhianat bangsa yang menjadi antek-antek penjajah.
"Siapa kamu?" tanya pemimpin Organisasi Golok Setan dengan geram.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku. Sebaliknya, kau siapa?" tanya balik Langlang Cakra Buana.
"Aku pemimpin disini. Aku biasa disebut Darma Loka, sebaiknya kau menyerah dan menjadi anggota kami. Kau sudah dikepung anak muda," kata pemimpin yang mengaku bernama Darma Loka itu.
__ADS_1
"Tak sudi aku harus menjadi anggota penjajah busuk seperti kalian. Hanya anjing-anjing pribumi kelaparan saja yang mau menjadi antek-antek kalian," kata Langlang Cakra Buana.
Mendengar ucapan itu, mereka para pendekar pribumi yang menjadi antek-antek sangat geram, mereka sempat berniat menyerang. Tapi segera ditahan oleh Darma Loka.
"Tahan!" serunya.
"Anak muda, sekali lagi aku peringatkan, menyerah dan menjadi anggota kami. Hidupmu akan terjamin, kau akan aku beri pangkat menjadi pemimpin pasukan," ucap Darma Loka membujuk Cakra Buana.
"Sekali aku bilang tidak sudi, maka sampai seribu kali pun kau bicara, jawabannya tetap sama," kata Cakra Buana dengan tegas.
"Prajurit, bersiap!!!" katanya memberi perintah.
Ketiga puluh tentara bersiap. Panah yang ada ditangan mereka masing-masing, sudah ditodongkan ke arah Langlang Cakra Buana. Agaknya panah itu siap menghujani tubuhnya.
Langlang Cakra Buana melihat kesemuanya dengan tatapan mata tajam. Tangan kanannya sudah memegang Pedang Pusaka Dewa untuk dicabut.
"Tembak!!"
"Wushh …"
Suara desiran anak panah menggema memecah telinga menghujani Cakra Buana. Berbarengan dengan seruan tadi, pemuda serba putih itu sudah begerak cepat dengan mengggunakan ilmu Saifi Angin dan jurus Dewa Mengoyak Gunung.
Tahu-tahu, satu-persatu para pasukan organisasi itu sudah tewas dengan luka di lehernya masing-masing hingga membuat leher itu hampir putus.
Para pasukan lain tentu saja gentar. Tembakan mereka mulai kacau balau ke segala arah. Bahkan ada beberapa tembakan yang mengenai kawan mereka sendiri.
Seiring berjalannya waktu, pasukan itu semakin berkurang hingga akhirnya semua tentara tewas dengan luka yang sama.
Kejadian ini membuat Darma Loka dan dua pendekar sedikit tidak percaya. Jika yang melakukannya pendekar tua, mereka mungkin tidak terlalu terkejut.
__ADS_1
Tapi ini? Yang melakukannya pendekar yang masih sangat muda. Bahkan umurnya baru sekitar dua puluh dua tahun saja.
Ketiganya tercengang bercampur marah kepada Langlang Cakra Buana. Sedangkan pemuda itu, hanya berdiri dengan pedang yang sudah disarungkan lagi. Bahkan sambil tersenyum.