
Puas dalam posisi bertahan, sang raja mulai mengubah gaya bertarungnya. Kedua kakinya mulai bergerak ke sana kemari sesuai irama tangan. Gerakannya terlihat tidak bertenaga, tapi sesungguhnya ada tenaga besar di dalam setiap serangan tersebut.
"Bukkk …"
"Plakkk …"
"Heughh …"
Ketiga anak muda itu terpundur dua langkah akibat pukulan dan tamparan Prabu Katapangan Kresna. Gerakan yang tadinya lambat, tiba-tiba berubah cepat saat hampir mengenai sasaran. Bahkan serangan prabu barusan, sama sekali tidak diduga oleh ketiganya.
"Ayo kerahkan semua hasil keringat kalian kemarin. Jangan kecewakan aku," seru Prabu Katapangan memberikan semangat kepada Cakra Buana dan dua orang muda lainnya.
"Baik," jawab mereka serempak.
"Maaf ayah, izinkan kami bicara sebentar," kata Raden Kalacakra Mangkubumi.
"Silahkan," jawabnya santai.
Ketiganya lalu berunding merencanakan serangan-serangan yang akan dilancarkan. Sebab menurut mereka, kalau menyerang tanpa ada rencana maka akan percuma. Apalagi yang mereka hadapi saat ini merupakan seorang raja. Sudah pasti kepandaiannya hampir setara atau bahkan memang setara dengan datuk dunia persilatan.
"Kakang, kau punya rencana apa?" tanya Ling Zhi.
"Hemmm … kita ubah posisi. Ling Zhi, kau menyerang dari tengah. Sebab jurus Pedang Bayangan Sukma lebih cocok dan lebih leluasa jika bertarung berhadapan dengan lawan. Raden, kau menyerang dari sisi sebalah kanan, kerahkan semua jurus Dua Naga Menggempur Lawan. Dan aku sendiri akan menyerang dari belakang dengan Dua Tapak Menghisap Matahari. Pertama Ling Zhi menyerang lebih dulu, jika dia mulai terdesak maka Raden Kalacakra harus segera membantu. Otomatis prabu akan cukup repot, nah di saat ia repot, giliranku yang menyerang dari belakang. Bagaimana?" tanya Cakra Buana meminta penilaian atas rencananya.
"Ide yang bagus kakang. Aku setuju," jawab Ling Zhi.
"Aku juga," kata Raden Kalacakra.
"Baik, kalau begitu kita mulai," ucao Cakra Buana.
"Hiatt …"
"Hiyaa …"
__ADS_1
"Mulai …"
Tanpa menunda waktu, Ling Zhi mulai menyerang kembali. Kali ini dia lebih ganas daripada tadi. Rangkaian jurus Pedang Bayangan Sukma langsung ia lancarkan. Agaknya Pedang Bunga memang cocok di padukan dengan jurus ini.
Pedang gadis itu berkelebat dari atas mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki. Semakin lama semakin cepat. Sinar-dinar merah terus berkelebat mengurung Prabu Katapangan Kresna. Tapi raja itu terlihat masih bisa menyeimbangi gerakan gesit Ling Zhi.
Namun tanpa dia sangka, tiba-tiba Raden Kalacakra Mangkubumi menyerang lagi dari sisi kanan.
"Hiattt …"
"Wushh …"
Dia melesat sangat cepat bagai luncuran anak panah. Kedua tangannya dia kepalkan dan di julurkan ke depan. Begitu tiba dan jaraknya semakin dekat, pemuda tampan itu langsung menghujani ayahnya dengan pukulan maut dari jurus Dua Naga Menggempur lawan. Sinar-sinar hijau sebesar kepalan tangan berkelebat bercampur dengan sinar merah.
Dugaan Cakra Buana tepat, Prabu Katapangan Kresna terlihat mulai sedikit kerepotan karena Raden Kalacakra dan Ling Zhi menyerang tanpa kenal lelah. Keduanya tidak memberikan kesempatan bagi sang raja untuk membalas serangan.
Tepat pada saat itu, Cakra Buana juga melesat dari arah belakang. Telapak tangan kanan ia julurkan ke depan. Sedangkan yang kiri mengiringinya dari belakang.
"Hiyaaa …"
Dia tidak panik. Sebaliknya justru malah tersenyum. Prabu Katapangan seolah tidak memperdulikan serangan yang akan diberikan oleh Cakra Buana. Bahkan ketiga orang muda itu menganggap rencananya berhasil.
Siapa sangka, begitu jarak Cakra Buana tinggal satu langkah lagi, Prabu Katapangan melenting tinggi ke atas. Dia bersalto dua kali sebelum akhirnya menukik turun.
"Kena kalian …" teriaknya
"Haaa …"
Sinar biru keluar dari telapak tangan raja itu. Ada hawa dingin di balik telapak gangan tersebut.
'Celaka,' batin Cakra Buana.
Pendekar Maung Kulon itu mengubah posisi. Dia menjejak tanah sekali lalu turut melenting menyambut serangan Prabu Katapangan Kresna. Tak ayal lagi, akhirnya kedua telapak tangan mereka bertemu di udara.
__ADS_1
"Desss …"
Adu tenaga dalam tak dapat dihindari lagi. Cakra Buana bertahan dengan posisi kedua kaki lurus ke bawah tapi tidak menapak tanah. Sedangkan Prabu Katapangan, bertahan dengan posisi menukiknya. Kaki kirinya iya tarik sampai lutut.
Keduanya bertahan dalam posisi tersebut untuk beberapa saat. Ling Zhi dan Raden Kalacakra sempat tertegun melihat kejadian itu. Keduanya tidak menyangka bahwa Cakra Buana mampu bertahan cukup lama beradu tenaga dalam. Padahal ia hanya mengandalkan jurus yang baru saja dikuasainya.
Detik berikutnya Ling Zhi seperti tersadar dari lamunan. Gadis itu lalu menjejakan kakinya ke tanah. Dia melesat ke atas dengan posisi pedang mengacung ke atas. Tak lama Raden Kalacakra pun mengikuti dari sisi sebelah kanan.
Prabu Katapangan berada dalam posisi terdesak saat ini. Dia sempat bingung harus mengambil tindakan bagaimana. Namun tak lama, senyuman tersungging di bibirnya. Tapi tiba-tiba, raja itu seperti lepas kontrol. Dia menarik nafas dalam-dalam lalu berteriak sekencang mungkin.
"Ggrrhh …"
Prabu Katapangan Kresna mengaum dengan keras. Suaranya mirip auman singa sang raja hutan saat sedang marah. Otomatis ketiga orang muda itu merasa tidak tahan sebab ada gelombang tenaga dalam pada auman tersebut. Mereka jatuh berbarengan lalu bergulingan dan mulai menutup telinga.
Beberapa pohon-pohon hutan tumbang. Terutama pohon yang kecil. Bebatuan remuk dan tanah bergetar. Cakra Buana, Ling Zhi dan Raden Kalacakra masih saja bergulingan sambil menutup telinga. Kemudian mereka menyalurkan tenaga dalamnya masing-masing untuk melindungi indera pendengarannya.
Auman yang di keluarkan oleh Prabu Katapangan cukup lama. Sehingga kerusakan hutan pun lumayan parah. Setelah auman itu reda, barulah ketiga orang muda itu mulai berhenti bergulingan.
Sang raja turun bagaikan dewa dari langit. Ia mendarat dengan anggun. Pakaian mewahnya berkibar di hempas angin. Cakra Buana dan dua lainnya langsung lemas. Sebah mereka baru saja mengerahkan tenaga dalam dengan jumlah besar.
"Maafkan aku anak-anak. Aku … aku sungguh tidak sengaja. Tadi hanya refleks diriku sendiri. Kalau kalian ingin menghukumku, hukumlah sesuka kalian," ucap Prabu Katapangan Kresna merasa bersalah.
"Tidak paman, kau tidak bersalah. Ini hanya kami saja yang kurang hati-hati, sehingga tidak melindungi seluruh bagian tubuh dengan tenaga dalam," kata Cakra Buana sambil berusaha untuk berdiri. Tak lama Ling Zhi dan Raden Kalacakra pun turut berdiri.
"Ah … aku sungguh tidak enak. Hampir saja aku melukai kalian,"
"Sudahlah paman. Tak perlu merasa bersalah seperti itu. Setidaknya ini jadi peringatan kami bahwa bahwa sebelum bertarung harus melindungi seluruh tubuh dengan tenaga dalam," kata Cakra Buana.
"Baiklah kalau begitu. Terimakasih atas kemurahan hati kalian," ucap Prabu.
Mereka lalu duduk di batu hitam. Pertama-tama yang dilakukan adalah menghimpun kembali tenaga dalam yang baru saja terkuras. Setelah selesai, Cakra Buana mengajukan pertanyaan kepada sang prabu.
"Paman maaf, kalau aku tidak salah lihat, apakah benar barusan itu adalah Jurus Auman Raja Singa?" tanya Cakra Buana.
__ADS_1
"Benar Cakra. Ba-bagaimana kau bisa tahu tentang jurus ini? Padahal di zaman sekarang sangat jarang sekali yang mempunyai Jurus Auman Raja Singa," tanya Prabu Katapangan yang sedikit terkejut karena ternyata Cakra Buana mengetahui jurusnya.