Kisah Pendekar Maung Kulon

Kisah Pendekar Maung Kulon
Taman Kerajaan


__ADS_3

Di dalam Kerajaan Tunggilis, terdapat beberapa taman bunga yang indah dan mempesona. Ada tiga taman di dalam kerajaan tersebut. Setiap taman mempunyai nama, yaitu Taman Sawargaloka, Taman Khayangan, dan satu lagi Taman Sorga.


Ketiga taman itu sama-sama indah. Bahkan memiliki keunikan dan keanehan yang menjadi ciri khas tersendiri. Taman Sawargaloka hanya boleh dimasuki para keluarga kerajaan. Taman Khayangan diperuntukkan bagi tamu-tamu penting atau pun orang penting dalam kerajaan. Sedangkan Taman Sorga, diperuntukkan bagi tamu biasa atau pun orang-orang kerajaan dengan jabatan tertentu.


Saat ini, Sepasang Kakek dan Nenek Sakti sedang menunggu kehadiran Cakra Buana di Taman Khayangan. Keduanya duduk pada sebuah kursi yang mirip gumpalan awan. Hebatnya, kursi itu bahkan mengapung. Sama sekali tidak menapak ke bumi. Entah bagaimana caranya, tapi begitulah kenyataannya. Taman Khayangan sangat indah, berbagai macam bunga langka tumbuh di sana dengan subur dan beraneka warna.


Di sebelah kanan ada kolam ikan berukuran cukup besar yang di isi oleh ikan-ikan cantik. Salah satunya adalah ikan dewa dewi. Ikan dewa dewi ini termasuk jenis ikan yang langka. Mereka akan muncul sesukanya dan lenyap semaunya. Selain itu, di kolam tersebut juga terdapat air mancur buatan.


Air mancur itu terkesan aneh dan unik. Sebab air itu tidak jatuh ke bawah. Melainkan ke atas. Dan setelah itu, air pun lenyap entah ke mana. Terus seperti itu tiada hentinya.


Sepasang Kakek dan Nenek Sakti masih menunggu Cakra Buana di sana. Tak ada orang lain kecuali mereka berdua. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya orang yang ditunggu pun datang juga.


Cakra Buana berjalan santai ke arah Sepasang Kakek dan Nenek Sakti. Kali ini pemuda serba putih itu nampak lebih segar dan lebih tampan setelah membersihkan diri. Meskipun dirinya sudah di nobatkan sebagai seorang pangeran yang kelak akan menjadi raja di seluruh tanah Pasundan, tapi Cakra Buana tetap berpenampilan sederhana.


Cakra Buana memakai pakaian serba putih tanpa lengan. Celananya di bawah lutut sedikit. Di punggung tetap tersoren sebatang pedang yang di bungkus dengan kain putih. Itulah Pedang Pusaka Dewa. Benda pusaka yang dipercaya melambangkan kejayaan bagi setiap kerajaan yang memilikinya.


"Maaf membuat kakek dan nenek menunggu lama," ucap Cakra Buana begitu tiba di hadapan Sepasang Kakek dan Nenek Sakti.

__ADS_1


"Tidak masalah pangeran. Seharian pun akan kami tunggu," jawab Nenek Sakti.


Cakra Buana lalu duduk di hadapan dua tokoh tua itu. Nenek Sakti memanggil pelayan istana untuk mengantarkan makanan dan minuman ke tempat mereka. Setelah makanan datang, dan mencicipi, ketiga wajah itu pun langsung berubah serius.


Cakra Buana mulai menceritakan semua kejadian yang semalam ia hadapi bersama Ling Zhi. Dia menceritakan semuanya mulai dari permasalahan awal di Dewa Waluh sampai kepada ia bertarung hingga membunuh Penguasa Gunung Waluh beserta dua murid kesayangannya.


"Lalu bagaimana cara pangeran menghilangkan racun yang ada dalam tubuh? Membebaskan racun yang ada dalam diri sendiri bukanlah hal mudah. Kami pun belum bisa melakukan hal seperti itu. Apalagi, Penguasa Gunung Waluh merupakan pendekar yang sudah mempunyai nama. Pastinya racun yang ia miliki pun racun ganas," kata Kakek Sakti.


Membebaskan racun sendiri memang tidak mudah. Ibarat kata seorang tabib, dia mampu mengobati pasien. Tapi belum tentu ia dapat mengobati dirinya sendiri. Hal inilah yang masih dibingungkan oleh Sepasang Kakek dan Nenek Sakti. Jika benar Cakra Buana mampu melakukannya, itu artinya pemuda serba putih tersebut memiliki kepandaian yang sukar di ukur, dan selama ini dia selalu menyembunyikan kekuatan yang sebenarnya.


"Aku di ajarkan salah satu cara membebaskan racun dalam diri saat belajar kepada guruku. Memang memerlukan waktu sedikit lama. Karena semakin ganas racunnya, semakin lama pula cara mengobatinya. Dan tenaga dalam yang dibutuhkan pun semakin besar," jelas Cakra Buana.


"Benar. Aku tidak bisa sekaligus seperti itu. Bahkan aku harus menghimpun tenaga dalam dulu jika sudah selesai mengobati. Yang menjagaku selama itu adalah Ling Zhi. Dia melawan mati-matian semua murid Perguruan Gunung Waluh. Bahkan dia rela mengorbankan nyawa hanya untuk melindungiku. Karena itulah Ling Zhi terluka dan tenaga dalamnya habis,"


"Maafkan kami pangeran. Andai kata kami tahu dan diperbolehkan untuk ikut, sudah pasti kami pun akan melakukan seperti yang Ling Zhi lakukan," ucap Kakek Sakti dengan nada penyesalan.


"Tidak perlu seperti itu kepadaku kakek. Lagi pula ini masalahku dan Ling Zhi. Sudah sepatutnya kami hadapi mereka tanpa melibatkan orang lain,"

__ADS_1


Sepasang Kakek dan Nenek Sakti langsung terdiam. Ada rasa penyesalan dalam hati mereka karena tidak bisa membantu Cakra Buana. Tapi di balik itu, ada juga rasa bangga padanya. Ternyata Cakra Buana memang seorang pendekar yang penuh tanggungjawab serta memiliki sifat baik.


Rasanya tidak salah kalau dia memang pantas terpilih menjadi seorang pendekar yang memegang Pedang Pusaka Dewa dan menjadi raja di seluruh tanah Pasundan.


"Ah iya, tadi kau menyebutkan ada beberapa orang yang mengintai dari pohon. Pangeran tahu siapa kira-kira mereka itu?" tanya Kakek Sakti saat mengingat Cakra Buana bercerita ada orang mengintai.


"Aku tidak tahu siapa mereka. Aku pun merasa baru melihatnya pertama kali. Tapi yang jelas, mereka berjumlah tiga orang. Satu memakai pakaian merah dengan senjata tongkat berukir kepala kambing, satu memakai pakaian berwarna cokelat tanpa lengan dan memakai senjata dua pisau belati, dan satu lagi berpakaian putih bersenjata bambu kuning. Kalau aku tidak salah dengar, mereka dikenal dengan julukan Tiga Pembunuh Sadis," ucap Cakra Buana.


"Tiga Pembunuh Sadis?" Sepasang Kakek dan Nenek Sakti sedikit terperanjat saat mendengar nama itu.


"Benar. Kenapa kalian seperti segan seperti itu, kalian kenal?" tanya balik Cakra Buana.


"Tentu kami mengenalnya. Nama mereka berkibar sekitar dua tahun lalu, tapi konon kabarnya mereka menghilang beberapa waktu. Tak disangka Tiga Pembunuh Sadis berani menampakkan diri lagi,"


"Apa mereka sekuat itu kek?"


"Kekuatan mereka yang sekarang aku tidak tahu pangeran. Tapi yang jelas, ketika dulu nama mereka berkibar, bahkan ketiganya sempat membunuh satu orang datuk rimba persilatan,"

__ADS_1


"Hemmm … ternyata begitu. Pantas lemparan kerikilku tidak mengenai mereka. Aku rasa, Tiga Pembunuh Sadis sudah mendengar kabar tentang kepalaku yang berhadiah puluhan ribu keping emas dan Pedang Pusaka Dewa. Karena alasan itulah ketiganya berani kembali menampakkan diri,"


"Masuk akal. Kita lihat saja ke depannya. Apakah berita itu akan semakin tersebar atau malah lenyap bagai ditelan bumi," kata Kakek Sakti.


__ADS_2